"Tanya adik kesayanganmu apa yang dia ambil dari rumahku?" balas Sukma dengan suara bergetar. Rasanya dar4hnya mendidih menahan amar4h.
"Maksudmu apa? Kamu kenapa sih nggak suka adikku tinggal di sini? Padahal dia berkunjung sesekali, tapi sikapmu selalu ketus padanya."
"Karena adikmu tidak tahu diri!" seru Sukma keras. Sepertinya Yudi sudah buta hingga tak melihat prilaku adiknya yang tidak tahu adap.
Yudi menggeleng pelan. Dia tidak mengerti kenapa Sukma sangat membenci adik-adiknya. Dia tahu mereka kelewatan, tapi keluarga tetaplah keluarga.
"Di mana Rani sekarang?" tanya Sukma lagi dengan wajah garang.
"Sikapmu yang seperti ini bikin Rani nggak hormat. Aku antar ke terminal. Dia bilang anak-anak nggak betah di sini, jadi dia pulang ke rumahnya sore tadi. Emangnya kenapa sih?"
Sukma tertawa sinis.. " Rani pulang bukan karena nggak betah, tapi untuk menghilangkan jejak!"
Dahi Yudi berkerut. Dia semakin tidak mengerti arah pembicaraan Sukma.
"Cincin kawin kita hilang, Mas! Uang simpananku juga hilang dua juta. Lemari diacak-acak! Siapa lagi yang bisa melakukannya? Rumah kita dikunci dari luar, nggak mungkin ada orang lain masuk."
Yudi tertawa kecil, meskipun jelas ada nada ketegangan di baliknya. "Sukma, kamu asal ngomong! Rani itu manja, iya, tapi dia bukan pencuri. Kamu nggak bisa seenaknya nuduh dia kayak gitu."
Sukma tercekat mendengar jawaban Yudi. "Asal ngomong? Kamu pikir aku bohong? Kamu pikir aku sengaja bikin drama? Apa kamu nggak lihat sendiri lemari rusak! Barang-barang berserakan! Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Jangan karena kamu nggak suka sama Rani kamu fitnah dia." Yudi bersikukuh membela adiknya. Di pikirannya untuk apa Rani mencur1? Hidup adiknya itu cukup mapan.
Sukma terperangah melihat reaksi Yudi. Dadanya nyeri mendengar suami yang selama ini dia bela malah menuduhnya seburuk itu.
"Lihat ini!" Sukma menunjuk lemari yang terbuka. "Kamu mau bilang ini kerjaan siapa kalau bukan adikmu?"
Yudi hanya menatap lemari itu dengan wajah datar. "Kamu terlalu cepat menuduh, Sukma. Adikku nggak mungkin berbuat serendah itu."
Kata-kata Yudi seperti menyiram bensin ke api yang sudah menyala di hati Sukma. "Manja? Itu alasanmu? Selalu ada alasan buat membelanya, kan? Padahal dia sudah jelas-jelas seenaknya di sini. Sekarang barangku hilang,dan kamu masih saja membelanya? Dia itu parasit, Mas. Kamu tahu apa itu parasit? Menghisap segala yang dia bisa tanpa peduli sama orang lain, keluargamu benalu!"
Wajah Yudi mengeras mendengar ucapan itu. "Jaga mulutmu, Sukma. Kamu nggak punya hak buat bilang keluargaku parasit."
"Memangnya salah? Kamu tahu, Mas? Sejak Rani datang, dia bersikap seperti ratu. Perintah ini, suruh itu. Aku masih menahan diri, tapi dia seperti nggak punya adab. Main stock makananku tanpa ijin. Anak-anaknya berantakin rumah aku yang membersihkan Sekarang barangku hilang, kamu masih ngotot membela dia? Kamu nggak pernah berpikir gimana rasanya jadi aku, kan? Kamu cuma peduli sama adikmu, keluargamu, tapi aku? Aku ini siapa buat kamu?" Sukma tidak memberi Yudi kesempatan bicara. Percuma selama ini bersabar kalau suami sendiri tak bisa menghargainya.
Yudi mendekati Sukma, suaranya semakin keras. "Kamu pikir aku nggak peduli? Aku ini kerja banting tulang setiap hari buat kalian! Dan sekarang kamu nuduh adikku pencuri? Itu keterlaluan, Sukma!"
Sukma tersenyum sinis. "Kerja banting tulang buat siapa, Mas? Buat aku? Buat rumah ini? Jangan bercanda! Kamu bahkan nggak pernah memberi nafkah dengan layak. Aku yang harus cari uang sendiri! Aku yang harus bayar keperluan dan kontrakan rumah ini! Uang yang hilang itu uangku, Mas. Uangku yang kudapat dengan susah payah.
Yudi terdiam sejenak, dia tahu Sukma berjualan online, dari sanalah istrinya mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka, tapi egonya tak mau direndahkan membuat akal sehatnya menyangkal. "Uangmu? Baru jualan online, berapa sih yang kamu dapat? Baru uang dua juta hilang ributnya seperti ratusan juta. Nanti aku ganti."
Ucapan Yudi seperti pukulan keras bagi Sukma. Sampai hati Yudi menyepelekan usahanya. "Tidak besar katamu? Sekarang aku tanya, berapa kamu kasih aku uang belanja sebulan? Kalau menurutmu kecil, kenapa aku harus susah payah menutupi kebutuhan di rumah? Ke mana kamu saat yang punya kontrakan minta uang sewa? Aku harap kamu jangan amnesia, Mas! Uangmu lebih banyak habis untuk keluargamu yang serakah itu!"
Sukma tahu dia keterlaluan menghina keluarga Yudi, tapi itulah kenyataannya. Rasa kesal yang bertumpuk-tumpuk menjadi b0m waktu yang akhirnya mel3d4k.
Yudi tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia melangkah mendekat, tubuhnya gemetar karena am4rah. "Berhenti menghina keluargaku, Sukma! Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma seorang istri yang tugasnya ngurus rumah! Jangan sok bicara seolah kamu lebih dari itu!"
Sukma mendongak, menatap Yudi dengan mata yang mulai basah, meski sakit hati suaminya tidak berpihak padanya, dia tak ingin mengalah, sabarnya telah sampai di ambang batas.. "Ngurus rumah? Kamu pikir itu yang aku lakukan? Aku ngurus rumah, ngurus kamu, ngurus Ibumu, dan sekarang aku juga harus ngurus adikmu yang seenaknya. Kamu bilang aku istri? Kalau begitu kenapa kamu nggak pernah bertindak seperti seorang suami? Kenapa kamu biarkan aku berjuang sendirian?"
Yudi mendengus, wajahnya merah padam. "Aku sudah cukup bersabar, Sukma, kamu terlalu jauh."
Sebelum Sukma menjawab, tangan Yudi melayang ke pipi kirinya. Suara tampa4ran itu menciptakan keheningan di antara mereka. Sukma terjatuh ke lantai, memegangi pipinya yang memerah. Matanya melebar, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Ruangan terasa begitu sunyi setelah itu. Yudi terlihat terkejut dengan tindakannya sendiri, tapi tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya. Dia hanya menatap Sukma dengan tatapan kosong. Sukma bangkit perlahan, hatinya sakit bukan karena tamp4ran Yudi, tetapi karena tidak dipercaya oleh suaminya. Dari tadi menahan air mata akhirnya luruh juga. Tatapannya dingin, penuh dengan luk4 yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Kamu nggak cuma membiarkan keluargamu menggerogoti rumah tangga kita, Mas," bisiknya pelan. "Kamu juga mengh4ncurkannya. Aku nggak akan lupa apa yang baru saja kamu lakukan."
Sukma melangkah ke pintu kamar. "Keluar, aku nggak mau lihat kamu."
"Sukma, aku minta maaf, aku ...."
"Keluar." Suara Sukma terdengar pelan, tapi tegas, membuat Yudi terhenyak, istri yang biasanya lemah lembut kini berubah bering4s.