Ini Pilihanku

1122 Kata
Sukma berdiri membelakangi Yudi sembari memegangi pipinya yang terasa kebas. Sejak menikah ini pertama kalinya Yudi melukai fisiknya dan untuk Sukma tindakan tadi adalah puncak dari segala luka yang selama ini dia pendam. Cukup sudah kesabarannya, selama ini dia bertahan berharap Yudi sadar telah bersikap tidak adil padanya. Tak jemu merajut doa di setiap sujud agar pria itu melihat pengabdiannya. Namun, semua sia-sia, ternyata berjuang sendiri itu melelahkan. Sementara itu Yudi masih berdiri di ambang pintu kamar, dia berusaha mendinginkan hati Sukma yang membara. “Sukma, aku minta maaf,” ucap Yudi dengan suara bergetar. Dia menyesali perbuatannya, melihat pipi Sukma bekas tangannya di pipi bersih Sukma menyakiti hatinya juga. Dia merasa gagal sebagai suami. “Aku khilaf. Aku nggak sengaja. Aku—” “Pergi!” Sukma menjawab tegas, suaranya meninggi. “Kamu pikir maaf bisa memperbaiki semuanya? Kamu pikir aku akan melupakan begitu saja apa yang baru saja kamu lakukan?” Yudi terdiam, matanya memanas.. “Aku nggak bermaksud menyakiti kamu. Aku emosi, aku nggak tahu harus gimana." “Emosi?” Sukma memotong, dia berbalik menantang mata suaminya, nada suaranya penuh kemarahan. “Kamu puk-ul aku karena bicara kebenaran tentang adikmu? Bagimu aku nggak ada artinya. Tanya hatimu, apa benar aku bisa memfitnah orang hanya karena tidak suka? Sehina itukah aku di matamu?" “Sukma, aku nggak akan ngulangin ini lagi, aku janji,” Yudi mencoba mendekat lagi, kali ini dengan niat memeluknya, tapi Sukma menghindar. “Keluar!” Sukma menunjuk pintu dengan tangan gemetar. “Keluar dari kamar ini. Aku nggak mau lihat muka kamu sekarang.” Yudi berdiri mematung. “Sukma, dengarkan aku dulu.” “Keluar!” Sukma berteriak, air matanya mengalir deras. “Tolong, Mas, beri aku waktu sendiri.” Sukma mendorong Yudi lalu menutup pintu dengan keras. Sayup terdengar tangisan Sukma dari dalam kamar. Yudi mengalah, dia menghabiskan malam itu di ruang tamu, duduk termenung sambil memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam rumah tangganya. Dia tahu Sukma tidak pernah berdusta, tapi tidak mungkin pula Rani berani mencuri. Yudi mengembuskan napas berat, nyeri kembali mengh4ntam kepalanya akhir-akhir ini, dia takut penyakit di masa lalu kembali kambuh. * Pagi-pagi sekali, Sukma sudah bangun. Matanya sembab. Setelah berpikir semalaman, mempertimbangkan baik-buruknya, dia mantap mengambil keputusan. Ini bukan lagi soal siapa yang benar atau salah. Ini soal bagaimana dia tidak bisa lagi bertahan dalam hubungan yang penuh dengan luk4. Sukma mulai memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia memastikan semua barang miliknya masuk, termasuk dokumen-dokumen penting. Tidak ada lagi yang ingin dia tinggalkan di rumah ini. Hatinya terlalu sakit untuk kembali ke sini. Kejadian semalam masih membayang di pelupuk, mungkin sampai mati tidak akan pernah bisa dia lupakan. Yudi terbangun mendengar suara koper yang ditarik. Dia bergegas ke bangun dan melihat Sukma sudah bersiap untuk pergi. “Sukma, kamu mau ke mana?” tanya Yudi dengan nada panik. Sukma tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan menuju pintu. “Sukma, aku tanya, kamu mau ke mana?” suara Yudi meninggi. Dia berdiri di depan pintu, menghalangi jalan keluar sang istri. “Aku mau pulang ke rumah Ibuku,” jawab Sukma dingin. “Aku sudah nggak bisa tinggal di sini lagi, Mas.” Yudi menatap Sukma dengan raut tak percaya. “Pulang ke rumah Ibumu? Buat apa? Sukma, kita ini suami istri. Kita harus bisa menyelesaikan masalah ini. Jangan kabur kayak gini!” Sukma tertawa getir, matanya kembali terasa panas. "Kabur? Kamu pikir ini kabur? Aku ingin melindungi diriku sendiri, Mas. Aku nggak mau jadi wanita yang terus disakiti, baik secara fisik maupun mental." “Aku minta maaf, Sukma,” ucap Yudi, suaranya melembut. “Aku salah. Aku khilaf. Tapi kita bisa perbaiki semuanya. Tolong, jangan pergi.” Sukma menatap Yudi tajam, air matanya mulai menetes satu per satu. “Memperbaiki? Apa yang mau diperbaiki, Mas? Kamu bahkan nggak pernah menghargai pendapatku sebagai istri. Kamu selalu lebih memihak keluargamu. Bahkan sekarang, aku kehilangan cincin kawin kita dan uangku, tapi kamu lebih percaya adikmu daripada aku.” “Karena aku tahu Rani nggak mungkin ngelakuin itu!” Yudi mulai kehilangan kesabarannya. “Dia adikku, Sukma. Aku tahu dia seperti apa.” Sukma menggeleng, air matanya kembali mengalir. “Tahu? Kamu bahkan nggak tahu apa yang terjadi di rumah ini selama kamu kerja. Kamu nggak tahu gimana dia bersikap padaku. Aku yakin pasti dia mengadu yang tidak-tidak padamu. Di matamu adikmu selalu benar aku paling bersalah." “Kamu nggak bisa nuduh Rani tanpa bukti, Sukma. Itu adikku. Dan aku nggak akan biarkan kamu terus menghina dia!” “Bukti?” Sukma menyeka jejak air mata di pipinya. “Lemari rusak, barang hilang, tapi pintu rumah masih aman. Sementara hanya dia yang ada di rumah. Itu belum cukup buat kamu? Atau kamu butuh dia mengaku sendiri baru kamu percaya?” “Dia bukan pencuri!” Yudi berteriak, matanya memerah. Sukma tersenyum pahit. “Tentu saja. Karena buat kamu, keluargamu selalu benar. Aku ini cuma istri, kan? Nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka.” “Sukma, jangan kayak gitu. Aku nggak pernah bilang kamu nggak penting,” Yudi mencoba meraih tangan Sukma, tapi Sukma menepisnya. “Kalau aku penting, kenapa kamu lebih percaya mereka daripada aku? Kenapa kamu nggak pernah ada di pihakku?” Sukma nyaris hilang kendali, dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. “Sudahlah, Mas. Aku nggak mau debat lagi. Aku mau pergi. Kita akhiri saja semuanya.” “Akhiri?” Yudi terbelalak. “Kamu mau cerai? Sukma, ini cuma salah paham. Jangan gegabah!” “Salah paham?” Sukma menatap Yudi dengan pandangan penuh luka, dia tersenyum getir. “Pukulan kamu tadi malam itu juga salah paham? Semua kata-kata kamu semalam juga salah paham? Aku nggak gegabah, Mas. Sekarang aku sadar percuma bertahan bersama laki-laki plin-plan." Yudi terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Saat Sukma menarik kopernya lagi, dia mencengkeram lengan Sukma." “Kalau kamu keluar dari rumah ini, Sukma, jangan harap aku akan jemput kamu lagi. Kamu sendiri yang pilih pergi,” ucap Yudi dingin. Sukma menatap Yudi lama. “Bagus kalau kamu bilang begitu. Aku memang nggak berencana kembali. Aku nggak butuh kamu untuk jemput aku kalau kamu lebih memilih keluargamu daripada pernikahan kita, ya sudah, kembali saja ke mereka.” Sukma melepaskan tangan Yudi di lengannya lalu menarik kopernya, mendorong Yudi yang masih berdiri di depan pintu. “Permisi.” Yudi akhirnya melangkah mundur, membiarkan Sukma pergi. Namun sebelum Sukma benar-benar keluar, dia berkata dengan suara yang hampir berbisik, “Aku nggak pernah mau ini terjadi, Sukma.” Sukma berhenti sejenak di depan pintu, tetapi dia tidak menoleh. “Aku juga nggak pernah mau, Mas, tapi kamu yang membuat aku harus pergi.” Sukma melangkah keluar, meninggalkan rumah yang selama ini dia sebut surga. Di belakangnya, Yudi hanya bisa berdiri kaku, menatap punggung Sukma yang menjauh bersama sepeda motornya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN