Baikan

1072 Kata
Di rumah ibunya, Sukma terduduk di sofa kecil ruang tamu, wajahnya sembab karena tangis yang belum juga reda. Sang ibu duduk di sebelahnya, memegang tangan putrinya dengan lembut. “Sudahlah, Nak. Kamu di sini dulu. Tenangkan pikiranmu. Jangan ambil keputusan apa-apa saat hati masih panas,” ucap ibunya dengan lembut. Sukma mengangguk walau hatinya masih gelisah. “Tapi, Bu, apa gunanya bertahan? Aku mencintai Yudi, tapi dia tidak pernah berpihak padaku. Kalau begini terus, aku capek. Aku nggak sanggup.” Ibunya mengusap punggung Sukma dengan penuh kasih. “Ibu tahu kamu cinta sama dia, tapi pernikahan itu bukan cuma soal cinta, Nak. Kalau kamu terus terluka, itu bukan cinta lagi namanya. Kamu istirahat dulu, ya. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang meny4kitkan.” Sukma lagi-lagi mengangguk pelan. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena kurang tidur, tetapi juga karena beban emosional yang tak kunjung hilang. Belakangan ini dia juga sering merasa mual dan pusing, mungkin efek masalah dalam rumah tangganya. Satu minggu berlalu. Selama tinggal di rumah ibunya, Sukma mulai merasa sedikit lebih tenang. Dia memilih fokus dengan bisnis onliennya. Bukan tidak pernah bersedih memikirkan Yudi yang seolah-olah tak peduli. Tidak ada usaha untuk meminta maaf, tidak ada langkah untuk memperbaiki rumah tangga mereka dari pria itu, lalu dia bisa apa? Dia cukup tahu diri untuk tidak memaksakan hati. Oleh karena itu, Sukma menyiapkan diri untuk hal terburuk. Pernikahan yang hanya mendatangkan luk4 tidak layak untuk diperjuangkan, meskipun hatinya masih menyimpan cinta. "Ternyata benar kamu masih tinggal di sini." Suara bariton membuyarkan lamunan Sukma. Dia menoleh melihat seorang proa berdiri di depan pintu. “Arman?” Sukma memandang pria itu dengan ragu. Beneran ini kamu?" "Iya, ini aku, Arman." Si pria tertawa kecil. "Astaga, aku sampai pangling. Ayo masuk." Sukma berdiri mempersilahkan Arman duduk di depannya. "Kamu ke mana aja?" Arman tersenyum. “Aku baru pulang dari luar negeri. Aku dengar kamu tinggal di sini, jadi aku mampir. Apa kabar?” Sukma menghela napas, mencoba tersenyum meski hatinya masih kalut. "Aku baik, kamu nggak perlu ditanya kayaknya." Arma lagi-lagi tertawa. Keduanya bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas. Bahkan, kuliah pun di tempat yang sama, hanya saja setelah lulus Sukma kehilangan kontak dengan sahabatnya itu. "Aku cari-cari info kamu ke teman-teman kita dulu, tapi nggak ada yang tahu. Kenapa sih nggak ngomong mau ke luar negeri?" Sukma bertanya. "Kamu nyari aku? Merasa kehilangan?" Mata Arman berbinar menatap Sukma. "Ya iyalah. Sahabat macam apa kamu pergi nggak ngabarin. Aku sampai heran, biasanya apa-apa kamu cerita ke aku. Padahal mau ngantar undangan nikah aku." Raut Arman seketika berubah. "Nikah? Kamu udah nikah?" Belum sempat Sukma menjawab, tiba-tiba Yudi muncul di ambang pintu, wajahnya merah padam melihat kehadiran pria lain di rumah sang istri. “Sukma!” seru Yudi keras, sorot matanya tajam menatap Sukma dan Arman bergantian. Sukma terkejut, bangkit dari duduknya. “Mas?" Yudi melangkah masuk. "Jadi ini alasan kamu ninggalin rumah? Karena kamu selingkuh sama dia?” Arman mengernyit, bingung. “Maaf, Mas. Saya cuma teman Sukma. Kami nggak ada hubungan apa-apa. Lagipula ...." “Diam!” Yudi memb3ntak, membuat Arman terdiam. “Kamu pikir aku bod0h? Aku tahu kenapa kamu nggak mau pulang. Ternyata sudah punya laki-laki lain!” "Mas!” Sukma membentak balik, matanya memanas, lagi-lagi Yudi tega melontarkan perkataan buruk padanya. “Kamu nggak punya hak menuduh aku seperti itu. Aku tinggal di sini karena aku butuh waktu untuk sendiri, bukan karena aku punya hubungan sama orang lain!” “Waktu untuk sendiri?” Yudi tertawa sinis. “Jadi ini yang kamu sebut sendiri’? Duduk berdua dengan laki-laki lain di rumah ini? Aku nggak percaya kamu, Sukma.” Hati Sukma terasa seperti dihantam batu. Dia mencoba menahan linangan di pelupuk matanya, tetapi luruh juga. "Berapa lama kamu kenal aku, Mas? Apa kamu nggak mengenal sifat istrimu? Mas Dari awal pernikahan aku selalu mengalah demi keluargamu. Seburuk apa pun keluargamu memperlakukanku aku masih bisa terima. Kemarin kamu nuduh aku fitnah Rani, sekarang selingkuh. Kamu jahat!" “Karena memang itu kebenarannya!” Yudi membentak lagi. “Kamu selalu bilang mau pisah, sekarang aku tahu kenapa. Kamu memang udah nggak butuh aku lagi, kan? Kamu mau cerai? Ya sudah, ayo cerai! Kamu pikir aku nggak bisa dapat wanita lain yang lebih baik?!" Kata-kata itu seperti pis4u yang men4ncap di hati Sukma. Dia mencoba menjawab, tetapi tubuhnya tiba-tiba lemas. Pandangannya berputar, lalu semuanya menjadi gelap. * Sukma terbangun di sebuah ruangan dengan aroma khas rumah sakit. Matanya terasa berat, tetapi dia mencoba membuka perlahan. Dia melihat Yudi berdiri di samping tempat tidur. “Kamu tahu kamu h4mil?” suara Yudi memecah keheningan. Sukma mengernyit, bingung. “H4mil?” “Iya, kamu sedang h4mil." Kalimat itu membuat Sukma tercekat. Dadanya terasa sesak karena bahagia, seperti tak bisa bernapas. Tiga tahun menunggu akhirnya Tuhan percaya menitipkan seorang bayi padanya. "Ini sungguhan, Mas?" Dia bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya. Yudi diam, tersirat keraguan di raut wajahnya. "Kenapa, Mas? Kamu nggak senang dengar kabar ini? Bukannya kamu bilang ingin segera punya anak?" Rasa kecewa menyusup ke d**a Sukma melihat reaksi Yudi seperti tidak suka. Yudi menggeleng. "Bukan, aku hanya ragu apa itu benar-benar dari ben1hku?" Sukma terperangah, pertanyaan Yudi seperti bara yang ditabur di atas hatinya yang mulai mendingin. Pria itu kembali memancing amarahnya. "Maksud kamu nanya seperti itu apa? Belum cukup kamu nuduh aku memfitnah, selingkuh, lalu sekarang berzin4?!" Air mata Sukma berderai. Dia merem4s dadanya, sakit sekali di dalam sana, seolah tangan berduri mencacah hatinya. "Ternyata seburuk itu aku di matamu, Mas!" Yudi salah tingkah, merutuki lidahnya yang lancang bertanya tanpa berpikir. Jelas-jelas dokter mengatakan kalau Sukma hamil enam minggu. Dia juga sangsi kalau istrinya berselingkuh, setahunya Sukma sangat menjaga diri. Tuduhan selingkuh hanya karena dia cemburu melihat wanita itu tertawa bersama pria lain. Dia mengira Sukma hanya berdua saja, tetapi saat pingsan tadi ibu mertuanya keluar dari kamar dengan wajah cemas. Yudi mendekat, dia menggenggam tangan Sukma, tapi ditepis wanita itu. "Maaf, aku terbawa emosi. Maaaf, ya." "Emosi? Selalu itu alibimu. Lalu bagaimana dengan hatiku yang terlanjur sakit karena kata-katamu?" tanya Sukma tanpa menatap Yudi, air matanya tak menemukan cara untuk berhenti. Yudi menunduk sebentar sembari menghela napas berat. "Aku benar-benar minta maaf. Aku janji ini yang terakhir kali aku meluk4i hatimu." Sukma luluh, dia membiarkan Yudi memeluk tubuhnya. Satu hari beristirahat di rumah sakit, Yudi membawa Sukma pulang. Dia mendudukkan sang istri di atas kursi di ruang tamu. Baru saja merasa nyaman tiba-tiba saja suara keras menegurnya. "Oh, baru ingat pulang. Dasar wanita nggak benar!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN