Telinga Sukma berdenging ketika mendengar suara nyaring ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu melangkah masuk ke rumah tanpa permisi, langsung duduk di kursi ruang tamu seolah rumah ini miliknya. Wajahnya yang penuh kerutan tampak masam, pandangannya tajam dan sinis ke arah Sukma. "Oh, baru ingat pulang. Dasar wanita nggak benar!" suara ketus itu keluar dari mulut ibu Yudi, membuat Sukma yang duduk di kursi seberang hanya mampu menghela napas panjang. Sukma diam, mencoba menahan emosi yang meluap-luap dalam dadanya. Dia tahu, berdebat dengan ibu Yudi hanya akan memperpanjang masalah. Dia melirik Yudi yang berjalan ke kamar mandi. "Seharusnya kamu bersyukur, Sukma. Anakku itu terlalu baik sama kamu. Kalau aku jadi dia, sudah lama kamu aku tinggalkan! Mana ada laki-laki yang mau bertahan s

