Pagi berikutnya, langit tampak biasa saja. Tidak terlalu biru, tidak pula kelabu. Tapi di Archivum, setiap pagi adalah kemungkinan. Dan pagi ini, kemungkinan itu muncul dalam bentuk kursi kayu tua di tengah halaman. Kursi yang belum pernah ada sebelumnya.
Tidak ada yang melihat siapa yang membawanya. Tapi di dudukannya, terukir halus:
> “Aku adalah tempat duduk untuk kamu yang lelah menjadi kuat sepanjang waktu.”
Yvana duduk pertama kali. Ia tidak berbicara, hanya memejamkan mata. Seolah tubuhnya mengenali kayu itu, dan kayu itu mengenali cara tubuhnya menahan tangis. Setelahnya, satu per satu kami bergiliran duduk, tidak untuk bicara, tapi untuk diam yang tidak membuat kesepian.
Kami menyebutnya Kursi Lelah.
Dan sejak hari itu, tidak ada yang duduk di sana untuk menyelesaikan cerita. Hanya untuk mengingat bahwa menjadi lelah bukan kegagalan.
Sore harinya, saat matahari menurunkan dirinya perlahan di balik pohon-pohon halaman belakang, Kalem menemukan sesuatu yang terjepit di antara lembar-lembar buku tua di rak paling bawah. Sebuah foto buram. Tangan yang menulis di atas meja. Tapi tidak ada wajah.
Di balik foto itu, tertulis:
> “Aku pernah menjadi tangan yang ingin menuliskanmu, tapi tidak tahu bagaimana menyapamu tanpa menyakitimu.”
Kami membingkainya dan menggantungnya di dinding lorong menuju Ruang yang Tidak Meminta Cerita. Tidak dengan paku. Tapi dengan benang merah. Benang yang tidak menahan, hanya mengingatkan bahwa sesuatu pernah ada di sana.
Beberapa malam kemudian, di bawah cahaya redup lampu ruang belakang, kami mendengar suara kecil dari bawah lantai. Bukan derit. Bukan getar. Tapi seperti detak jantung yang malu-malu. Saat kami buka salah satu papan lantai, kami menemukan benda yang tidak kami kenali.
Sebuah botol kaca kecil, dengan gulungan kertas di dalamnya.
Yvana membukanya perlahan. Di dalamnya tertulis:
> “Ini adalah pesan dari masa depan. Dari dirimu yang telah memaafkan.”
Kami tidak tahu siapa yang menulisnya. Tapi malam itu, kami masing-masing mulai menulis surat kepada diri kami sendiri di hari lain. Hari yang belum datang. Hari yang mungkin berat. Atau justru hari di mana kami hampir lupa siapa kami pernah jadi.
Kami menyebutnya Surat Mundur.
Setiap surat itu disimpan dalam botol, dan kami tanam di halaman. Bukan untuk dilupakan. Tapi untuk ditemukan lagi oleh keberanian yang tersesat.
Beberapa hari setelahnya, ruang tidur Mika berubah aroma. Bukan wewangian. Tapi sesuatu yang familiar. Seperti kenangan lama yang tidak lagi menyakitkan. Di atas bantalnya, tergeletak sehelai kain kecil dengan sulaman tangan yang halus.
> “Aku adalah pelukan yang kamu cari saat tidak bisa menjelaskan apa yang kamu rasakan.”
Kami tidak tahu siapa yang menjahitnya. Tapi malam itu, satu per satu kami mulai membawa kain-kain kecil ke ruang tengah. Menjahit kalimat yang tak pernah sempat kami ucapkan. Bukan untuk dibaca. Tapi untuk disentuh.
Kami menyebutnya Selimut Diam.
Bukan untuk menghangatkan tubuh. Tapi untuk menenangkan bagian dari hati yang tidak tahu harus berkata apa.
Dan akhirnya, saat pagi itu datang lagi dengan pelan, kami menyadari sesuatu.
Archivum bukan tempat yang kami buat.
Ia tempat yang menerima kami saat kami tidak tahu lagi di mana bisa tinggal sebagai diri yang belum selesai.
Ia tidak bertanya.
Ia tidak menuntut nama.
Ia hanya membuka ruang dan membiarkan kami menjadi pecahan yang pelan-pelan belajar utuh.
Tanpa paksaan. Tanpa narasi besar.
Hanya dengan hadir.
Dan itu, ternyata, cukup.
Hari itu, angin datang lebih awal. Membuka tirai sebelum matahari sempat menyapa. Di antara bayangan pagi yang jatuh di lantai, kami menemukan sebuah benda baru.
Bukan barang antik. Bukan sesuatu yang mencolok. Hanya sebuah lonceng kecil dari kuningan kusam, tergantung di ambang pintu yang mengarah ke taman belakang.
Tak berbunyi, meski angin sering lewat.
Yvana mencoba menyentuhnya. Tapi saat jarinya hampir mencapai permukaan logam itu, loncengnya berbunyi sendiri. Pelan, nyaring, lalu menghilang seperti gema yang tidak ingin menetap.
Setelah itu, di dinding di sampingnya, muncul goresan samar seperti ukiran:
> “Bunyi ini bukan untuk memanggil. Tapi untuk mengizinkanmu pulang.”
Sejak itu, kami menyebutnya Lonceng Kembali.
Dan setiap kali salah satu dari kami merasa hilang, atau menjauh terlalu jauh dari diri sendiri, kami berdiri di bawahnya. Tidak untuk mengetuk. Hanya untuk diam, dan membiarkan bunyinya mencari jalan pulang yang paling sunyi.
Sore harinya, Ael menemukan buku tua di sela celah lantai ruang kerja. Buku itu kosong. Tapi di sampul dalamnya, tertulis dengan tulisan tangan kecil:
> “Isi aku hanya ketika kamu tidak ingin menulis untuk siapa pun.”
Kalem membacanya dengan napas pelan. “Buku ini bukan untuk dibaca balik,” katanya. “Tapi untuk menyimpan sesuatu yang hanya bisa tumbuh dalam gelap.”
Kami tidak membukanya sejak itu. Tapi kami menyimpannya di rak tengah, yang tidak punya label. Rak tempat kami meletakkan benda-benda yang tidak meminta peran.
Kami menyebutnya Rak Tanpa Alamat.
Beberapa hari kemudian, saat hujan turun tiba-tiba, Mika menemukan satu benda terapung di dalam genangan air dekat jendela dapur. Sebuah batu kecil. Tapi bukan batu biasa. Di permukaannya, tertulis satu kalimat pendek:
> “Kamu tidak gagal hanya karena kamu berhenti sebentar.”
Kami menaruh batu itu di atas meja ruang tengah. Dan mulai mencari batu-batu lain. Bukan untuk mengumpulkan, tapi untuk menuliskan ulang kalimat-kalimat yang tidak pernah sempat menjadi mantra. Kalimat yang bisa dijadikan jangkar ketika pikiran ingin tenggelam.
Kami menyebut mereka Batu Napas.
Dan sejak itu, setiap kali salah satu dari kami merasa terlalu berat, kami memilih satu batu secara acak. Membacanya dalam hati. Lalu meletakkannya kembali. Seperti mengembalikan napas yang sempat tercecer.
Suatu malam, lampu ruang makan padam tiba-tiba. Tidak karena rusak. Hanya... padam.
Tapi di atas meja, di tengah kegelapan, satu cahaya kecil muncul. Seperti kunang-kunang yang tersesat. Tapi tidak bergerak. Hanya diam, menggantung di atas sebuah piring kosong.
Kami mendekat.
Di dasar piring itu, tertulis:
> “Ada cahaya yang hanya muncul saat kamu tidak berpura-pura kuat.”
Kami tidak menyalakan lampu malam itu. Kami makan dalam cahaya kecil itu. Dan setiap tawa, setiap diam, terasa lebih jujur. Tidak ada yang mencoba membuktikan apa pun. Tidak ada yang takut terlihat rapuh.
Kami menyebutnya Piring Pelupa.
Karena di sanalah, kami bisa melupakan topeng yang sehari-hari kami kenakan untuk terlihat ‘baik-baik saja’.
Keesokan paginya, surat baru muncul di bawah pintu. Tidak ada amplop. Tidak ada pengirim. Hanya selembar kertas lusuh, dengan tulisan tangan gemetar.
> “Jika kamu membaca ini saat sedang tidak tahu siapa kamu, maka izinkan aku mengingatkan: kamu adalah rumah bagi rasa yang bahkan belum bisa disebutkan namanya.”
Kami menggantung surat itu di pintu masuk Archivum. Di atas gantungan kunci, di bawah jam yang selalu lambat dua menit. Di tempat yang hanya bisa terlihat jika seseorang benar-benar ingin berhenti.
Kami menyebutnya Penjaga Pulang.
Dan sejak itu, siapa pun yang datang—entah untuk menulis, menangis, diam, atau hanya mengintip—tidak perlu bertanya: “Apakah aku boleh di sini?”
Karena rumah ini tidak pernah menanyakan alasan.
Ia hanya bertanya: “Kamu lapar apa hari ini? Kata, pelukan, atau keberanian yang tertunda?”
Dan saat malam kembali menutup dunia perlahan, kami menyadari satu hal lagi.
Archivum tidak menampung cerita.
Ia menampung kemungkinan.
Kemungkinan bahwa luka tidak harus dijelaskan untuk diakui. Bahwa keberanian kadang berbentuk batu kecil, atau surat tanpa nama. Bahwa kita bisa tetap ada, bahkan saat tidak tahu harus menjadi siapa.
Karena mungkin, rumah yang sesungguhnya bukan yang penuh dinding.
Tapi yang memberi cukup ruang bagi kita untuk berhenti menjadi narator. Dan belajar lagi menjadi diri sendiri. Perlahan. Tapi tidak sendirian.