Om-om Perut Buncit Calon Suami

1130 Kata
"Jaman android masih ada, ya, perjodohan?" Airish menggelengkan kepala tak mengerti. Bagaimana bisa, ia yang baru berumur dua puluh tahun sudah disuruh menikah dengan Om-om lima belas tahun lebih tua darinya, dari hasil perjodohan pula. Mengelikan sekali. Siti Nurbaya saja kalah sepertinya dengan nasib hidup Airish Alenka. "Tapi memang itu kenyataannya, Sayang! Semua fasilitas yang kamu nikmati saat ini, adalah hasil dari pemberian calon suami kamu." Sang mama bukannya membela Airish dengan menolak perjodohan, malah mendukungnya. Gadis itu belingsatan, ingin sekali kabur dan menghilang. Agar perjodohan yang sudah direncanakan dan hampir dilaksanakan batal. Ya kali, seorang Airish Alenka dijodohkan! Seolah dia tak laku saja. Padahal, jika saja orang tuanya tahu, puluhan cowok mengantri untuk menjadi kekasihnya. Sayang, hatinya hanya terpaut pada Dhenis, lelaki tampan, ramah dan berhasil membuat seluruh pusat perhatiannya hanya terfokus pada lelaki itu "Ma, aku sudah punya pacar!" Airish masih berusaha menolaknya. "Pacar? Dhenis itu? Lalu kapan dia datang menyatakan keseriusan sama kamu? Sudah bertahun-tahun hubungan kalian terjalin, tapi sampai sekarang apa ada kemajuan? Tidak, kan?" Ayahnya menatap tajam. "Kalau memang pacar kamu serius, suruh dia ke sini dan melamar kamu, baru perjodohan ini kan dipertimbangkan ulang!" Lelaki paruh baya itu bangkit berdiri dari kursinya. Tubuh yang semakin ringkih membuatnya tidak bisa berbuat banyak, apa lagi separuh kaki kanan Bagaskoro diamputasi karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Seluruh biaya hidup mereka bertiga plus uang pendidikan Airish semua berasal dari calon suami anaknya. Bukan Bagaskoro tidak tahu jika anak gadis semata wayangnya telah mempunyai kekasih, tapi ia tahu jika lelaki yang lima tahun lebih tua dari Airish itu bukan orang baik-baik. Ia beberapa kali memergoki jika Dhenis bermesraan dengan gadis lain. Tapi, tidak sekalipun ia mengatakan pada Airish, karena takut jika anaknya anak sakit hati ketika mengetahuinya. Yang lebih ia takutkan, Airish akan membencinya jika mengatakan hal jelek tentang pacar kesayangan gadis itu. "Pa! Tapi Irish gak mau nikah dulu. Baru juga semester empat." Ia membanting ranselnya ke sofa. Menikah jika dengan Dhenis ia mau, tapi kalau yang lainnya, big no! "Papa tidak menerima alasan apa pun. Opsi kamu hanya dua, panggil pacar kamu untuk melamar kamu dan perjodohan ini dibatalkan, atau tetap melanjutkan menikah dengan Pak Varo!" Terdengar suara terbatuk di akhir kalimat Bawaskoro. Ia berjalan pincang masuk ke dalam kamar, meninggalkan Airish dan mamanya. Kampret! Airish uring-uringan seharian. Ia berkali-kali menghubungi Dhenis, tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Bahkan diangkat saja tidak. Ingin sekali rasanya ia berteriak dan memukulkan kepalanya ke tembok. Biar amnesia sekalian. Ia memikirkan cara yang paling ampuh untuk membatalkan perjodohan itu. Tapi semua cara yang terlintas di otaknya tidak akan berguna sama sekali kalau Dhenis tidak datang ke sini dan melamarnya. "Dimana sih kamu! Selalu ga ada di saat seperti ini!" Airish menjambak rambutnya. "Memang susahnya mengangkat telepon apa sih?" Kini gadis itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Tinggal besok waktunya. Itu juga sebelum malam hari ia harus bisa membawa Dhenis ke rumah dan melamarnya. Kalau sampai gagal, maka jurang neraka terdampar di hadapannya. Menikah dengan Om-om tua. Arrrrrgh! ** "Sialan! Masa aku harus menikah dengan Om-om gendut, kumisan brewokan dan botak sih!" Airish mengeluhkan pilihan suami dari orang tuanya. Ia tengah duduk di Colombia Kafe bersama sahabat dari oroknya, Sherin. Satu gelas flavoured soda sudah ia habiskan, dan Airish memesan satu gelas lagi. Segarnya minuman itu tidak bisa membuat pikirannya ikut segar. "Emang kamu tahu dari mana kalau si Alvaro itu Om-om berperut buncit? Emang udah pernah ketemu?" tanya Sherin penasaran. "Belum. Tapi aku yakin dia pasti jelek. Kalau gak, mana mungkin sampai umur segitu belum nikah. Apa lagi dia kaya." "Hmm. Iya juga sih!" Sherin menganggukkan kepala. "Tapi ... siapa tahu dia belum nikah karena memang sengaja menunggu kamu!" Irish tertawa. Menunggu dia? Tidak mungkin! Memang siapa dia yang harus ditunggu selama itu? Lagi pula kalau memang menunggunya, harusnya lelaki itu menikahinya minimal setelah lulus kuliah. Lah ini? Belum juga skripsi. Kalau menurut dia, lelaki ini malah lebih pantas disebut pedof, penyuka anak-anak. Dan sialnya, Airish adalah anak-anak yang diincarnya. "Kalau menurutku, mending kamu ketemu dulu deh sama orang itu. Dari pada menduga-duga wajahnya." Gadis dua puluh tahun itu memikirkan ucapan Sherin. Ada benarnya juga sih! Lebih baik dia bertemu terlebih dahulu dengan lelaki calon suaminya. Wait, apa katanya tadi? Calon suami? Airish memukul kepalanya dengan tangan. Sejak kapan dia mengklaim bahwa Alvaro adalah calon suaminya? Tidak ... tidak! Ia harus tetap pada pendiriannya, menolak perjodohan itu dan memaksa Dhenis untuk datang melamarnya bagaimanpun caranya! Empat tahunnya bersama Dhenis tidak akan berakhir seperti ini saja. Harus happy ending. Setelah selesai mencurahkan isi hatinya pada Sherin, Airish beranjak dari Columbia Kafe. Ia ingin menemui Dhenis di kantornya, karena ini satu-satunya cara untuk ia bisa menemui sang kekasih. Dhenis terlalu sibuk akhir-akhir ini, ada saja alasannya untuk menolak pertemuan. Yang lembur, meeting, sampai Airish bosan mendengarnya. Memang Dhenis dicalonkan sebagai manager lapangan yang baru, tapi bukan berarti harus mengacuhkan Airish juga. Biar bagaimanapun, hubungan mereka sama pentingnya dengan karir Dhenis. Sesampainya di kantor Dhenis, Airish masih harus menunggu lagi. Sang kekasih sibuk meeting dan enggan menemuinya. Entah enggan atau memang tidak niat. Yang jelas, sampai jam jam menunjukkan pukul delapan malam, Airish masih belum bertemu dengan Dhenis. "Hei, ngapain?" Suara seorang lelaki membangunkan tidur Airish. Sekretarisnya memang memberi tahu jika ada tamu untuknya tadi, tapi dia tidak mengira jika tamu yang dimaksud adalah Airish. Gadis yang selama empat tahun berlabel pacar seorang Dhenis Van Djoyo. "Eh, Sayang!" Airish mengumpulkan kesadarannya. Gadis itu tidak tahu sejak kapan tertidur di sofa yang ada di lobi kantor Dhenis. "Kenapa bandel, sih? Aku udah bilang kalau lagi sibuk." "Sayang!" Airish menggosok mata. "Aku nunggu kamu!" Dhenis menghela napas. "Ini sudah larut, besok aja kita bicara lagi!" "Gak ada waktu lagi karena besok aku mau dijodohin!" Dengan sekali menarik napas Airish mengatakan alasan menunggu kekasihnya sampai selarut ini. "Dan orang tuaku meminta kamu untuk ke rumah. Melamarku!" Dhenis tersedak ludahnya sendiri. "What? Gak mungkinlah!" Ia tertawa samar. "Besok aku ada meeting dengan pimpinan cabang." Dia memang mencintai Airish, tapi untuk melangkah ke jenjang selanjutnya, dia belum siap. Masih banyak cita-cita yang harus dicapainya. Selain itu, Dhenis juga tidak mau pesona ketampanannya hanya untuk Airish seorang, tebar pesona adalah hobinya. Dan jika dia menikah saat ini, maka para wanita yang mengelilinginya pasti akan menjaga jarak. "Tapi ...." Lelaki itu memegang kedua pundak Airish. "Sayang, aku lakukan semua ini demi masa depan kita. Kalau karirku bagus, nanti kamu juga yang akan menikmatinya. Tapi, untuk sekarang kamu sabar dulu. Setelah semua selesai, aku pasti akan melamar kamu!" "Kapan? Dari dua tahun lalu kamu janji terus. Dan sekarang? Janji lagi yang aku dapat?" "Kali ini yang terakhir, Sayang. Setelah jabatanku naik, pasti aku akan melamar kamu." "Kamu janji?" Dhenis mengangguk. "Yuk, aku antar pulang, sudah malam." Lelaki itu merengkuh Airish dan ingin mengecup keningnya. Namun, Airish mendorong tubuh kekasihnya. "Jangan ish, belum sah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN