"Sialan!" Airish membanting tas yang dibawanya ke ranjang. "Dia lebih mementingkan pekerjaan dari pada aku? Benar-benar bukan lelaki yang bisa diharapkan!"
Sherin ikut geregetan dengan Dhenis. Ia paham sebesar apa perasaan sahabatnya pada lelaki itu. Dari dulu sampai detik ini, tidak ada laki-laki lain yang bisa menyentuh hati Irish selain Dhenis.
Namun apa yang Airish dapatkan? Hanya janji palsu.
"Jadi aku harus bagimana, Beb?" Airish menenggelamkan kepala di bantal. "Sudahlah, mungkin memang takdirku harus menikah dulu dengan Om-om berperut buncit tersebut.
"Ya udah, kamu iyain aja. Mungkin memang dia jodoh kamu!"
"Arrrg!" Airish menjambak rambutnya frustasi.
Dua sahabat itu menghabiskan malam dengan bertukar cerita, terlebih Airish yang merasa ini adalah malam terakhir kebebasannya. Karena besok, mungkin saja ia akan berada di kandang buaya jelek.
Irish bergidik jijik, membayangkan malam pertamanya dengan Om-om gendut.
No no. Tidak akan! Dia harus bertemu Dhenis sekali lagi, syukur-syukur lelaki itu bersedia untuk langsung melamarnya. Semoga!
Pagi harinya, Airish bersiap pergi ke kantor Dhenis. Mata pandanya sengaja tidak disembunyikan dengan make up. Airish ingin agar kekasihnya tahu jika dirinya sangat mencintai Dhenis dan hanya lelaki itu yang diharapkan akan bersanding dengannya di pelaminan, bukan Om-om tua itu.
Motor matic keluaran terbaru milik Sherin dia bawa. Mengindari kemacetan yang biasa terjadi di setiap jam kerja, Airish memilih sedikit memutar jalan agar lekas sampai di perusahaan sang pacar.
Sesampainya di kantor, dia langsung memarkirkan motornya di tempat yang kosong.
"Hei, Mbak, pindahkan motor kamu!" Seseorang berteriak dari belakang Airish.
Gadis itu menoleh, dilihatnya laki-laki yang duduk di belakang kemudi tengah menunggunya memindahkan motor matic tersebut. Airish hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Gadis itu tidak mau memindahkan kendaraannya, Tuan!" Sang sopir menoleh ke kursi belakang. "Apa saya panggil satpam saja biar motornya digotong pindah dari situ?"
"Tidak perlu. Turunkan saya di depan lobi saja. Kamu cari tempat parkir lain!"
Sopir mengangguk, lalu mengijak pedal gas dan melajukan mobilnya pelan ke depan lobi. Alpard itu melewati gadis yang memarkirkan motornya di tempat parkir khusus tersebut.
Dari dalam mobil, Alvaro tersenyum tipis. Dia tidak tahu untuk apa calon istrinya ke kantor cabangnya ini, tapi yang jelas, dirinya merasa mood-nya naik setelah melihat wajah Airish pagi ini. Padahal, sejak semalam emosinya memuncak ketika tahu cabang perusahaannya yang di sini tengah bermasalah. Ada yang menggelapkan dana perusahaan, yang mengakibatkan pembayaran gaji ke karyawan terlambat selama beberapa bulan.
"Kamu tidak perlu turun, saya bisa buka pintu sendiri!" Alvaro segera mengambil tas kerjanya dan membuka pintu mobil. Di saat yang bersamaan, Airish sudah sampai di depan lobi.
Pandangan mereka bersiborok, Alvaro melihat Airish yang masih bersungut-sungut. Mungkin karena tadi disuruh memindahkan motornya.
"Selamat pagi, Pak!" Satpam yang berjaga menyapanya dan menundukkan kepala.
Alvaro hanya mengangguk.
Gadis yang dua meter darinya mengeryitkan dahi, lalu satu sudut bibirnya diangkatnya ke atas. "Dasar orang kaya, seenaknya saja menyuruhku pindah parkir. Mentang-mentang cuma pake motor dan dia mobil mewah. Untung ganteng!"
Meski lirih, gerutuan Airish terdegar sampai ke telinga Alvaro.
Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. Kemudian berjalan dengan sedikit angkuh. Cukup sudah mengagumi sang calon istri pagi ini, dan sekarang, waktunya dia membereskan kekacauan yang terjadi di sini.
Orang kepercayaannya memberi informasi yang cukup valid tentang kasus yang sedang terjadi. Dan Alvaro harus turun tangan sendiri untuk membuang tikus-tikus yang akan membuat perusahaannya pailit.
Sesampainya di ruangan kepala cabang, Alvaro langsung menerobos masuk ke dalam tanpa salam. Kebiasaannya ketika sedang emosi. Dilihatnya lelaki yang dipanggil paman itu sedang duduk santai di belakang meja, sedangkan seorang wanita berpakaian cukup berani tengah berada di pangkuannya.
"Oh, ini yang dilakukan paman ketika di kantor?" Alvaro menghempaskan pantatnya ke sofa. Dia lalu menyilangkan kakinya dan menatap sang paman. "Padahal masih pagi. Dan dengan jijiknya, aku harus melihat sepasang orang tak punya malu."
Wanita di pangkuan Amer turun dan merapikan rok mini di atas lututnya. Dia berdiri menunduk dan memainkan ujung kemejanya.
"Eh, ponakan Paman. Kenapa datang tidak memberi kabar dulu?" Amer berdiri gelagapan. Dia mengancingkan kemeja atasnya.
"Oh, pengennya sih memberi kabar, tapi nanti Paman bisa sembunyi dan bersiap-siap melempar kesalahan."
"Maksud kamu apa?" Amer dengan tampang sok polosnya mengeryitkan dahi.
"Sudahlah, tak perlu akting, kita bukan lagi main sinetron. Oh, iya, dengan terpaksa aku harus mengatakan, kalau file laporan bulanan yang paman sembunyikan sudah sampai di tanganku. Dan tahu, kan apa artinya?"
**
Di luar gedung, Airish masih berdiri sambil menggengam ponselnya. Jam masuk kantor tinggal beberapa menit lagi, tapi Dhenis sampai sekarang belum juga menampakkan batang hidungnya. Apa memang sengaja lelaki itu menghindari Airish karena dipaksa untuk menikahinya?
Sepertinya begitu! Karena sampai pukul delapan lebih, Dhenis belum juga datang. Airish yang bosan memilih untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah. Dia seperti seorang wanita yang terobsesi dengan pria. Dari kemarin mendatangi Dhenis dan memaksanya untuk melamar dirinya. Dan memang kenyataannya begitu. Airish Alenka benar-benar mencintai kekasihnya.
"Sialan." Airirh menedang kerikil di ujung sepatunya, dan dengan cepat, batu kecil itu terlempar ke taman di dekat pagar.
"Mbak, sarapan!" tawar satpam yang sedang membuka bungkusan nasi uduk. Dia dari tadi memperhatikan Airish yang kebingungan dan uring-uringan.
"Makasih, Pak. Jangan tawarkan ke saya, nanti saya habiskan tahu rasa loh!" selorohnya.
Satpam itu tertawa. "Mbak nunggu siapa? Dari tadi saya lihat Mbak celingukan seperti mencari seseorang."
Airish berjalan mendekat. Dia duduk di samping kursi panjang itu. "Bapak gak kerja? Kok makan?" tanyanya. "Bapak kenal Dhenis gak? Saya cari dia."
Satpam itu menghentikan suapannya. "Saya shift malam, ini sudah habis jam kerja saya. Dan kebetulan, Pak Dhenis memang sudah berangkat sejak tadi, Mbak. Setengah enam beliau sudah sampai sini."
"What?" Setengah enam ke kantor? Mau apa dia? Airish melipat keningnya, pantas saja dia menunggu sampai jam masuk kantor tidak ketemu.
"Pak Dhenis mau menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda kemarin, gitu katanya."
Airish mengangguk. Dia mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanannya menuju ke motor yang di parkir tak jauh dari sana. Padahal semalam dia juga menunggu sampai larut, tapi sepagi ini, Dhenis sudah kembali ke kantor. Menyebalkan.
Sekarang, pupus sudah harapannya untuk meminta Dhenis menunjukkan keseriusannya di depan sang papa.
Dia baru saja memakai helm ketika sebuah panggilan masuk ke android-nya.
"Halo, Sayang. Aku nunggu kamu di depan kantor dari tadi. Tapi kamu katanya sudah berangkat pagi-pagi sekali!" Airish langsung nyerocos ketika dia tahu panggilan itu dari kekasihnya.
"Maaf, Sayang. Tapi aku benar-benar sesibuk itu. Nanti kalau sudah selesai aku temui kamu!"
"Tapi nanti malam aku nikah!"
"Gak apa-apa. Kan masih bisa cerai. Kalau aku sudah mendapat jabatan yang bagus, aku pasti nikahi kamu!"
Airish berpikir. Satu ide masuk ke otaknya. Dia tersenyum senang atas hal itu. "Oke. Semangat kerja, Sayang. Biar aku atur nanti pernikahan ini. Tapi kamu janji, kan akan menikahiku setelah semua selesai."
"Janji!"