Perjanjian Sebelum Menikah

1004 Kata
"Aku mau membuat surat perjanjian sebelum menikah!" Airish melipat tangannya di depan Alvaro. Sedikit menyesal karena mengira calon suaminya adalah lelaki tua kumisan berperut gendut. Ternyata yang dihadapannya berbanding terbalik. Alvaro Adinata tidak berkumis, juga tidak buncit. Ah, kalau setampan ini siapa yang nolak. Tapi, ketika mengingat lelaki tiga puluh lima tahun namun belum menikah, Airish jadi berpikir ulang. Jangan-jangan Alvaro mempunyai kelainan. "Perjanjian apa?" tanya Alvaro dingin. Dia tidak paham dengan topik bahasan yang dibicarakan gadis itu. "Iya, perjanjian. Aku tidak ada perasaan sama sekali sama Om, dan mau menikah karena balas budi, ya anggap saja dua tahunku bersama Om sebagai pengganti uang yang sudah Om keluarkan untuk kami!" Alvaro ingin menyemburkan tawa, tapi dia harus menjaga wibawa di depan gadis kecil itu. Jadi, tetap ditampakkannya wajah datar menunggu kelanjutan perkataan Airish. "Dan lagi pula, aku sudah punya pacar. Aku juga tidak mau menghianatinya. Jadi pernikahan kita hanya pura-pura. Intinya itu!" Lelaki tiga puluh lima tahun itu mengangguk. Ya, memang dia sudah tahu siapa kekasih Airish. Dan itu adalah salah satu bawahannya. Sepak terjang pacar Airish pun dia paham betul, tapi memilih diam demi gadis di depannya. Kinerjanya memang bagus, hanya saja soal sifatnya yang suka gonta-ganti pasangan membuat nilai minus di matanya. Tapi, untuk urusan kantor dia tidak peduli dengan sifat Dhenis yang itu. Yang penting kerjanya bisa diandalkan. Lain dengan urusan pribadi. Apa lagi menyangkut Airish, kekasih Dhenis yang menemani dari nol. Dia tidak segan-segan akan pasang badan untuk melindungi gadisnya dari buaya macam Dhenis. Dan itu pula salah satu alasan dia ingin cepat-cepat menikahi Airish. "Oke! Silahkan!" Alvaro menyunggingkan senyum tipis, hampir tidak terlihat kalau dia terseyum. "Deal, ya. Dan ini aku sudah buat surat perjanjian, Om tinggal tanda tangan saja." Alvaro menarik kertas yang disodorkan Airish, dia membaca satu per satu point tersebut dari atas. Ada-ada saja calon istrinya ini. Surat Kontrak Pernikahan Pura-pura 1. Jangka waktu hanya dua tahun dimulai dari ditandatanganinya surat ini. 2. Tidak boleh ada kontak fisik dalam bentuk apa pun. 3. Tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain. Termasuk ingin pergi dan menjalin hubungan dengan siapa. 4. Tidur ranjang terpisah. 5. ... "Bagaimana, Om?" Airish menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia melihat alis Alvaro yang naik turun ketika membaca surat perjanjian tersebut. "Sepertinya harus diganti! Kalau tiba-tiba kamu yang ingin menyentuh saya, bagaimana?" "Dih, ya, gak mungkinlah. Seleraku bukan Om-om, tahu!" "Saya tidak yakin. Coba revisi lagi!" Airish mendengkus, dia merebut kertas tersebut dan membacanya dari atas untuk mengubah isinya. Dia mulai menuliskan di atas kertas, kemudian menyalinnya di kertas yang satunya. Tidak lama kemudian, senyum terbit di bibirnya. "Selesai! Nih, baca, Om! Jangan lupa tanda tangan di atas materai!" Airish Alvaro mengambil kertas itu dengan santai, lalu mulai menekuri satu per satu kalimat di sana. Pihak Pertama: Alvaro Adinata Pihak Kedua: Airish Alenka Dengan surat ini, Pihak Pertama setuju untuk membuat perjanjian pernikahan dengan Pihak Kedua. Selanjutnya Pihak Pertama dan Pihak Kedua menyatakan dengan sesungguhnya dan dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun, bahwa menyetujui semua poin yang tercantum dalam surat perjanjian kerja sama ini. Adapun hal-hal yang menjadi isi dari surat perjanjian ini adalah sebagai berikut: 1. Jangka berlakunya perjanjian ini ditentukan selama dua tahun sejak tanggal surat ini ditanda-tangani. 2. Pihak Pertama dan Pihak Kedua setuju untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain. Termasuk berhubungan dengan siapa. 3. Pihak pertama tidak diperkenankan untuk melakukan kontak fisik terhadap Pihak Kedua, kecuali untuk keperluan meyakinkan keluarga pihak pertama atau atas izin Pihak Kedua sendiri. 4. Pihak Pertama dan Pihak Kedua tidur terpisah dan tidak berada dalam satu ranjang. Demikian surat perjanjian ini dibuat tanpa ada paksaan dari pihak manapun. "Kalau sudah selesai baca, Silakan tanda tangan Om!" Airish menyodorkan pulpen dan materai yang akan ditempel di kertas tersebut. Alvaro merasa dirinya seolah sedang bermain rumah tanggaan seperti ketika dia kecil. Lagi pula, mana ada rumah tangga beneran yang membuat surat perjanjian semacam ini. Namun, demi Airish, dia tetap menandatangani juga surat tersebut. Kini, Airish tersenyum lega. Akhirnya, satu masalah selesai juga. Dia hanya perlu menjalani dua tahunnya bersama Alvaro tanpa adanya kontak fisik, dan setelahnya dia akan menikah dengan Dhenis tanpa ada pertentangan dari orang tuanya lagi. "Ya udah, kertas ini aku yang bawa. Om nanti terima salinannya aja." Airish memasukkan kertas tersebut ke map berwarna biru. Alvaro mengangguk lagi. "Btw, Om. Perasaan dari tadi angguk-angguk mulu! Sakit leher apa?" tanya Airirsh dengan penasaran. "Memang saya harus bagaimana?" "Ya sekali-kali geleng, kek. Atau ngomong apa gitu? Gak mau tanya-tanya dulu sebelum kita menikah?" Kali ini Alvaro menggeleng. "Gak perlu, saya sudah tahu semua tentang kamu!" Bahkan sampai ukuran dalaman kamu! Alvaro menyambung dalam hati. "Oh, iya. Btw, Om yang punya perusahaan tadi, ya?" Airish menekan kata perusahaan. Dia tahu jika Alvaro memang direktur utamanya, tapi untuk meyakinkan, tidak ada salahnya dia bertanya lagi untuk memastikan. Sekali lagi, Alvaro mengangguk. Airish yang kesal segera berpamitan dan pergi dari hadapan lelaki si Tukang Angguk itu. Dari pada lama-lama dia sendiri yang stres. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana kalau nanti menjadi istri Alvaro Adinata. Lelaki dingin yang suka mengangguk itu. Sepulang dari tempat dia menemui calon suami, Airish langsung diseret untuk masuk ke dalam kamar menjalani beberapa perawatan sebelum menikah. Hanya perawatan dasar, tapi cukup membosankan bagi Airish yang tidak bisa diam. Dia terbiasa menggerakkan tubuhnya ke sana ke mari, dan sekarang harus diam di depan kaca. Bikin ngantuk. "Nak, setelah menikah, jangan lupakan kami, ya!" Mama Airish menatap sendu pada anak tunggalnya. Sejak lahir sampai sekarang, Airish selalu bersama mereka, dan malam ini, untuk pertama kalinya, anak gadisnya akan pergi ke rumah lelaki yang sudah sah menjadi suami Airish. "Ma, Airish bisa gak meminta sekali lagi untuk membatalkan pernikahan ini!" Ariyanti menggelengkan kepala. Dia setuju dengan pilihan suaminya, Alvaro yang pantas mendampingi Airish, bukan lelaki bernama Dhenis itu. "Ya, udah deh, doakan saja suami Airish nanti gak suka main tangan, apa lagi suka selingkuh dan main perempuan." Dia mencoba menakut-nakuti mamanya. Kali saja sang mama akan membatalkan perjodohan ini. "Gak mungkin, Pak Varo bukan Dhenis pacar kamu itu!" Bagaskoro menyambar ucapan anaknya. "Maksud Papa apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN