"Duh kesiangan!" Airish bangun lalu melepas pelukan Alvaro yang melilit tubuhnya. Mereka masih berada di ruang tengah, tidur berdua di sana satu selimut. Tentu saja dengan Airish yang berada di dalam dekapan suaminya sampai pagi. "Om, gak bangun? Ngantor!" Airish menggocangkan tubuh lelaki yang masih pulas. Kali ini bukan akting, tapi benar-benar pulas tertidur. Alvaro hanya bergumam lirih. Satu matanya terbuka, ketika melihat Airish yang duduk di sebelahnya, dia menarik lagi gadis itu ke dalam pelukannya. Tubuh Airish kembali lagi dipeluk suaminya. "Sudah jam delapan, Om." "Biarin! Sekali-kali gak masuk kantor!" Lelaki itu menghirup aroma tubuh Airish. Tenang dan nyaman. "Tapi aku ada kelas jam tujuh, Om!" Airish berusaha melepaskan diri. "Sudah telat!" Gadis itu pasrah. Dia diam

