Siap Mengantar Istri Bertemu Pacarnya

1300 Kata
"Om ngapain ke sini?" Airish ingin mengusir Alvaro sebelum orang tuanya melihat lelaki si mantu idaman itu. Tapi terlambat, mamanya sudah berjalan dan menyambut suami pura-puranya. Sumpah. Airih mengumpat keras-keras dalam hati ketika melihat Alvaro mengerling dengan tatapan mengejek. "Berkunjung ke tempat mertua!" Alvaro menjawab tenang. Dia menyunggingkan senyum tipis, lalu berjalan melewati Airish. "Sekalian nginap di sini, nemenin kamu!" "What?" Jika bisa, detik ini juga Airish ingin menghilang dari peredaran mahluk bernama Alvaro. Aroma parfum yang ditinggalkan suaminya tercium hidung, tapi jika sebelumnya Airish akan menikmati aroma tersebut, kali ini dia ingin mengusir atau jika bisa membuang aroma badan lelaki seksi dan tampan itu sejauh mungkin, sekalian dengan pemiliknya tentu saja. Rencananya seketika bubar, ketika dengan santainya lelaki yang sudah menikahinya beberapa hari lalu itu melenggang masuk ke rumahnya. Dia menyerahkan buah tangan kepada orang tuanya. "Kok gak kasih kabar kalau mau ke sini? Kan Mama bisa masak dulu tadi." Ariyanti mengandeng menatunya dan mempersilahkan duduk di kursi, di samping suaminya. "Lupa, Ma." Alvaro melepas jas, dan menyampirkan di lengan. "Sehat, Pa?" Dia menyalami mertua laki-lakinya. Airish ingin pingsan. Dia ingin terkapar saja sekarang, agar kebohongan tidak terbongkar. "Gimana ini?" Sherin berbisik. "Aku lagi mikir caranya keluar ini!" Airish melihat arloji yang berada di tangan, waktunya sudah mepet. Dhenis pasti sudah menunggunya sekarang. Tapi bagaimana dia bisa keluar dari jeratan Alvaro dan mamanya. Jika tadi Airish sempat bersyukur bisa lolos pemeriksaan orang tua killer dengan alasan menginap di rumah Sherin, sekarang dia harus memikirkan ulang alasan lain. Sherin tidak berkutik, dia akan pergi meninggalkan Airish sebelum ketahuan kalau berbohong, tapi dengan cepat tangan Airish mencekal pergelangannya. "Jangan ninggalin aku!" "Sialan! Aku gak mau kalau sampai kena seprot mama kamu!" Sherin mencuri pandang ke Ariyanti dan Alvaro yang sedang berbincang hangat. "Lagian ada-ada saja pakai mau nginep sama Dhenis juga kamu ish. Bikin aku kena imbas deh!" "Gak! Kamu harus bantuin aku keluar dari sini! Jam dan tas baru. Ingat! Lima juta lebih harganya!" "No! Aku lebih baik gak dapat tas dan jam baru dari pada mendengar omelan mama kamu. Serius!" Wajah Sherin memucat, dia belum bisa membayangkan bagaimana rasanya kena omel mama sahabatnya, mengingat Airish saja kalau sudah mengomel bisa tidak berhenti tujuh hari sembilan malam. "Please, Beb. Aku butuh banget!" Airish mengeluarkan wajah memelasnya. "No! Aku gak mau berbohong lagi, cukup tadi saja aku mengatakan kebohongan pada orang yang lebih tua." Sherin sudah melangkahkan kaki hampir menyentuh pintu masuk, ketika suara Alvaro terdengar. "Jadi mau nginep di rumah Sherin, Sayang?" Alvaro menekan kata sayang yang berada di ujung kalimatnya. Shering menghentikan langkah. Dia memukul keningnya. Mampus sudah dia sekarang. Tamat sudah riwayatnya kali ini. Dia harus gimana? "Kata Mama kamu mau nginep di rumah Sherin, kalau gitu ayo antar kalian!" Alvaro mengambil jas lalu memakainya. Dia terlihat biasa saja, meski tahu yang sebenarnya. Airish terdiam mematung. Sherin bertambah pucat. Matilah! "Loh, baru datang sudah mau pergi?" Bagaskoro memutar kursi rodanya. "Mau ngantar Irish dulu, Pa. Nanti balik lagi ke sini!" Alvaro menyalami kedua mertuanya, lalu dengan tetap menyunggingkan senyum manis, dia berjalan mendekat dan mengamit lengan Airish. "Yuk, berangkat!" Sherin tidak tahan lagi, dia harus mengatakan yang sebenarnya agar tidak larut dalam kebohongan dan menciptakan kebohongan baru. Ini semua rencana Airish, dia hanya mengikuti saja apa yanh dikatakan gadis itu. Dan jika ada apa-apa, dia tidak mau ikut terlibat. "Gak perlu, Om. Aku sama Sherin bisa berangkat sendiri. Ya kan, Beb?" Airish melempar tatapan mengancam. "Saya tidak bisa membiarkan istri saya dijalanan sendiri tanpa perlindungan. Jadi kalau hanya mengantar ke rumah Sherin saya tidak keberatan." Alvaro kembali menyunggingkan senyum termanisnya. 'Tapi gue keberatan, Bambang! Lo itu bikin rencana gue dan Dhenis berantakan, tahu!' Airish mengomel dalam hati. Ya jelas, kalau langsung dan didengar Alvaro mana dia berani. Bisa dipecat nanti Dhenis dari kantor suaminya. Padahal impian Dhenis adalah menjadi pemimpin perusahaan seperti sekarang. Mau tidak mau, Sherin ikut masuk ke dalam mobil Alvaro. Dia mencari aman, sebelum semuanya menjadi masalah yang lebih besar. "Loh, Beb." Airish kelimpungan melihat Sherin yang sudah duduk manis di mobil suaminya. "Sorry, Beb. Kali ini aku gak memilih mobil yang bagus!" Dia tertawa ringan. Sekali lagi, Airish ingin mengumpat kasar. What the f**k! "Kasaaaar!" Dia berteriak dan meluapkan emosinya. Alvaro melihat aneh ke arahnya. Sherin tertawa ngakak sambil memegangi perutnya. Dia tahu apa yang ada di benak Airish. Gadis itu sudah cukup paham jika kekesalan di hati Airish sudah sampai pada puncaknya, dia pasti akan mengumpat kasar. Meski yang keluar, ya, tetap kata kasar. Sedangkan Alvaro sendiri masih tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang ajaib. Dengan terpaksa, Airish masuk ke mobil suaminya. Dia juga takut kalau Sherin ember dan menceritakan bahwa dia akan keluar menemui Dhenis. Dan itu tidak akan berdampak baik, untuk Dhenis juga untuk dirinya sendiri. Kalau Dhenis tentu saja jabatannya yang jadi ancaman. Kalau dia, apa lagi kalau bukan omelan tingkat dewa dari sang mama. Dan yang lebih ditakutkan, penarikan credit card dan ATM oleh suaminya. No! Dia belum puas belanja, jadi jangan sampai dua kartu keramat itu ditarik oleh si pemilik. "Rumahnya di daerah mana?" tanya Alvaro. Dia duduk di depan, di samping supir. "Em, anu Om ...." Airish langsung membekap mulut Sherin sebelum dia mengatakan kejujuran yang membuatnya kehilangan sumber duitnya. "Eh, gak Om. Kita sebenarnya bukan mau ke rumah Sherin, tapi ke mall. Iya, kan Beb?" Matanya melotot, meminta Sherin kerja sama dengannya lagi kali ini. Satu kakinya menginjak kaki Sherin. Sherin menggelengkan kepala. Airish menekan lagi kaki sahabatnya. Alvaro tertawa melihat kelakuan istrinya. Padahal dia tahu ke mana tujuan mereka. saat ini." Ya udah, saya antar kalian ke mall." Alvaro membelokkan stir mobilnya ke jalan menuju mall yang akan mereka datangi. "Eh, jangan! Kita mau beli dalaman. Masa Om gak malu ngantar cewek-cewek beli dalaman." Airish membuat alasan yang lain lagi. Otaknya buntu, dia kebingungan harus membuat alasan apa lagi. "Kamu gak lupa, kan kalau beberapa pasang pakaian dalam kamu yang milihin saya!" Alvaro mematahkan alasan Airish. Sherin mendelik. Dia kaget, ternyata sudah sejauh itu hubungan sahabatnya dengan Om tampan tersebut. Sudah begitu masih saja Airish mengejar Dhenis yang notabene di bawah Alvaro jauh. Dasar Airish bego! "Om, gak usah dibahas juga yang itu!" Airish memutar matanya jengah. Dia melempar tatapan galak ketika Sherin menggodanya dengan kedipan mata. "Jadi gak masalah kalau kalian mau belanja baju dalam. Saya akan antar!" "Ya Tuhan, Om. Lama-lama over protektif banget sih. Kan sudah ada di perjanjian kalau kita gak boleh saling mencampuri urusan masing-masing." Airish menggunakan senjatanya lagi. Sudah habis alasan yang dia punya, dan hanya itu yang terpikirkan di otak Airish. "Sepertinya di perjanjian juga tidak dituliskan kalau saya tidak boleh mengantar kamu!" Senyum kemenangan terbit di bibir lelaki 187cm tersebut. Airish kembali diam. Dia pasrah sepertinya memang tidak diizinkan hari ini bertemu dengan Dhenis, mengingat Alvaro selalu saja ingin mengantarkan ke mana dia pergi. Dengan masih menyimpan kesal, Airish melempar tatapannya keluar jendela. Dia melihat deretan pohon yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Juga beberapa pasangan kekasih yang berboncengan mesra di atas motor. Rasa iri dia rasakan, seandainya saja Dhenis seromantis itu. "Jadi kita mau ke mana?" Alvaro mengulang pertanyaannya. "Gak ke mana-mana. Kita pulang aja!" Airish sudah jatuh ke dalam titik mood yang paling jelek. Dia sudah tidak sesemangat tadi untuk bertemu dengan Dhenis. Biar saja nanti lain waktu mereka bertemu lagi, untuk sekarang, Airish hanya ingin meluapkan kekesalannya pada Alvaro di rumah. "Lah, terus aku gimana?" Sherin menunjuk dirinya sendiri. Kalau Alvaro dan Airish pulang, lalu dia harus balik sendiri gitu? Mewek dan mewek. "Kenapa gak jadi pergi? Saya bisa antar kok!" Alvaro melihat Airish dari balik kaca mobilnya. "Om bikin mood aku hancur!" "Oh, tapi nanti setelah ketemu Dhenis pasti mood kamu kembali lagi!" What? Airish tersedak air liur. Kepala Sherin kejedot kaca mobil. "Om ... tahu kalau aku mau ketemu sama ... Dhenis?" Takut-takut Airish bertanya. "Ya, dan saya siap antar kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN