"Pak Amer terlihat terakhir kali di bandara, Tuan. Dari pantauan kami, dia sengaja terbang memakai paspor orang lain dan menyogok petugas bandara agar diloloskan pemeriksaan!" Lelaki tegap dengan pakaian hitam-hitam di depannya memberi informasi yang diketahuinya.
Alvaro memijat keningnya. Kalau benar pamannya bekerja sama dengan petugas bandara, otomatis mereka akan terseret juga dalam kasus ini. Dan ancaman dikeluarkan dari pekerjaan mereka semakin besar karena secara tidak langsung menyelundupkan narapidana.
Dia sempat kasihan jika nantinya petugas yang membantu Amer melarikan diri tertangkap, maka keluarganya akan kehilangan mata percaharian. Tapi bukankah seharusnya setiap perbuatan akan ada konsekuensi yang harus ditanggungnya?
"Dia ikut penerbangan ke mana?" tanya Alvaro. Satu tangannya memijat kening.
"Canada. Tapi entah di sana transit saja atau memang tujuannya ke sana."
"Cari tahu! Saya ingin secepatnya dia ditemukan!" Dengan tegas, Alvaro memberi perintah. "Saya ingin dalam seminggu sudah mendapat kabar yang tidak mengecewakan!" Dia memberi kode dengan tangan agar orang itu meninggalkannya.
"Tapi orang yang membantunya ...."
"Tangkap semua sampai ke akar-akarnya!"
Anak buah Alvaro segera meninggalkan ruangannya setelah mendapat perintah. Dia mengambil ponsel dan menghubungi semua bawahannya untuk segera menemukan paman tuannya.
Sepeninggalan anak buahnya, Alvaro kembali memijat keningnya. Dia belum memberi tahu keluarga tentang kasus yang dialami Amer. Selain belum mendapatkan bukti yang lebih banyak, juga karena lelaki itu masih berada di entah belahan bumi yang mana.
Dia menunggu hari itu, hari di mana Amer mengakui semua dosanya di hadapan keluarga besar Geraldo. Juga satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kematian kakeknya.
"Jangan kira aku kalah, Paman! Kamu hanya beruntung saja belum bisa kudapatkan saat ini! Kalau sampai nanti sudah kembali ke Indonesia, penjara akan menjadi satu-satunya tempat untukmu melalui siang dan malam!"
Setelah memastikan dia akan segera mendapatkan lelaki itu hidup-hidup, Alvaro menghubungi pengacaranya agar kasus Amer bisa dimenangkan, dan pamannya itu mendapat hukuman yang paling berat. Penjahat harus mendapat balasan atas semua yang dilakukan!
Dia baru saja selesai berdiskusi dengan pengacaranya, saat ponselnya berbunyi. Dengan sudut matanya, Alvaro melirik siapa yang menghubunginya.
Istri Kecil.
Senyum mengembang di bibirnya, jarang-jarang Airish menghubunginya seperti sekarang. Biasanya dia yang lebih dulu menghubungi gadis itu.
Entah dapat ide dari mana hingga memberi nama Airish dengan Istri Kecil di kontaknya. Yang dia paham, Airish memang mungil dibanding dengannya yang seratus delapan puluh sembilan centi meter.
"Ya!" Dia mengangkat teleponnya.
"Om Varo pulang jam berapa? Aku mau ke rumah Mama boleh?" Ada nada penuh harapan di salam suara Airish.
Lelaki itu sedikit terkejut, tidak biasanya Airish meminta izin kepadanya ke mana akan pergi. Tapi kali ini beda, gadis itu bilang kepadanya ke mana akan pergi. Setelah kemarin meminta izin pertama kali, lalu kemudian berhari-hari sama sekali tidak izin, sekarang gadis itu kembali meminta izin. Aneh!
"Oke! Nanti pulangnya saja jemput!" Dia memutuskan.
"Eh, gak perlu. Aku mau nginep di rumah Mama kok." Suara Airish di telepon terdengar panik.
Alvaro mengiyakan meski rasa penasaran masih terus hinggap di hatinya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan istrinya kali ini.
Dan nanti, dia sendiri yang akan mencari tahu sekaligus mengagalkannya kalau wanita itu berniat menemui Dhenis. Bagaimana juga, Dhenis tidak pantas untuk Airish. Lelaki itu hanya mempermainkan wanitanya.
Alvaro memberi perintah anak buahnya untuk mengawasi Airish.
Jangan sampai istri saya tahu kalau saya mengirim kalian! Send.
Lelaki itu kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan setelah sambungan telepon dari Airish putus dan mengirimkan pesan kepada anak buahnya. Dia rencana anak menyusul gadis itu sepulang kerja.
Baru beberapa puluh menit berlalu, Alvaro kembali mendapat panggilan di ponselnya. Salah satu anak buah yang mengikuti Airish memberi laporan kepadanya.
"Nyonya ingin keluar dengan pemimpin baru perusahaan cabang kita, Tuan!"
Tepat sekali dengan apa yang dia khawatirkan.
Alvaro mengepalkan tangan. Ternyata ini yang disembunyikan Airish darinya. Rasa cemburu langsung melingkupi seluruh hati dan pikirannya. Biar bagaimana juga, Airish tidak boleh keluar dengan lelaki lain selain dirinya. Gadis itu sudah sah menjadi istrinya, jadi sangat memalukan kalau sampai di luar kepergok jalan dengan lelaki lain.
Setelah kemarin Alvaro tidak datang ke kafe, sekarang Airish masih tetap ingin menemui lelaki itu? Benar-benar bukan cinta biasa sepertinya.
"Ke mana mereka?" tanya Alvaro.
"Kalau dari info yang saya dapatkan, mereka akan menginap di villa."
Anak buahnya juga mengatakan rencana Dhenis untuk membawa Airish ke villa bukan sesuatu yang baik.
"Apa?"
Alvaro mengambil kunci mobil, lalu menutup laptop dan memberi pesan kepada sekretarisnya untuk menginfokan kalau ada yang mencarinya, bilang sedang ada urusan penting.
Setelah melihat sekretarisnya menganggukkan kepala, Alvaro pergi dengan tergesa ke rumah mertuanya.
Dia tidak akan membiarkan Airish hanya berdua bersama Dhenis saja. Emosnya langsung naik ke ubun-ubun.
**
"Serius kamu mau ke villa itu bersama Dhenis?" Sherin kembali memastikan. Dia bukan ingin menghalangi niat sahabatnya, tapi meminta Airish untuk memikirkan ulang tentang menginap bareng kali ini.
Dia percaya jika dulu Airish bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh dengan Dhenis, tapi untuk kali ini dia tidak yakin. Mengingat betapa tergila-gilanya sahabatnya itu dengan Dhenis Van Djoyo.
Padahal Airish sudah mempunyai suami, lebih kaya, lebih tampan dan lebih segala-galanya dari Dhenis. Tapi kenapa masih saja tetap berpihak pada lelaki yang bahkan janjinya sendiri saja tidak bisa ditepati itu.
"Kamu tenang aja, Beb. Tugasmu hanya membawaku keluar dari sini, bilang kepada Mama Papa kalau aku menginap. di rumahmu." Airish memasukan carger dan kaos kaki ke dalam ransel kecilnya.Tak lupa skincare juga dibawanya.
"Tapi bagaimana kalau sampai Om Varo tahu? Kalau dia mencari ke rumahku dan kamu gak ada di sana, bisa mati aku!" Sherin bergidik ngeri.
"Tidak mungkin. Tadi pas aku telpon saja dia cuek kok. Gak mungkin lah ke sini dan nyariin aku." Airish menyambar minyak kayu putih, kali saja di sana nanti masuk angin, kan lebih baik siap-siap.
Airish cukup yakin, jika suami pura-puranya tidak akan mencari dia. Buat apa? Toh mereka hanya menikah di atas perjanjian, kan? Jadi cukup tenang saat Dhenis mengajaknya ke villa untuk merayakan pengangkatan jabatannya seminggu yang lalu.
Ternyata benar janji Dhenis, setelah dia mendapat posisi yang bagus, lelaki itu lebih banyak waktu untuk Airish. Meski hanya menemuinya sepuluh menit sebelum jam masuk kelas dimulai. Namun itu lebih dari cukup untuknya.
Airish terlalu percaya, jika memang Dhenis lelaki terbaik di dalam hidupnya.
"Yuk berangkat!" Airish menarik tangan Sherin.
"Beb, aku ...."
"Boba, pizza dan tiket nonton!" Airish tersenyum manis.
"Ah, gak. Kali ini aku gak bisa disogok. Enak saja!" Sherin memalingkan wajahnya. Tidak untuk kebohongan!
"Tas baru dan jam tangan yang kemarin di mall." Airish terus menyebutkan barang yang ingin dimiliki Sherin.
"Oke deal!" Sherin menjabat tangan sahabatnya. Kalau tas dan jam tangan siapa yang bisa nolak? Harganya saja sebulan gajinya ditambah lembur, dan kali ini akan dia dapatkan hanya dengan bilang kalau Airish ingin menginap di rumahnya.
Hanya itu!
Ya, hanya itu saja untuk mendapatkan benda impiannya. Ah, mudah sekali jika jadi orang kaya. Pengen apa-apa tinggal kedip mata.
Dengan terus berdoa memohon ampun karena sudah berbohong, Sherin meminta izin kepada orang tua Airish agar anak mereka diizinkan menginap di rumahnya. Dia meyakinkan mereka untuk tidak khawatir, karena biasanya Airish juga sering menginap di rumahnya.
"Semalam? Sudah bilang sama Varo belum?" tanya mamanya Airish.
Airish mengangguk cepat.
"Tapi beneran mau ke rumah Sherin, kan?" Papanya menatap curiga.
"Ya elah, Pa. Emang ke mana lagi aku pergi? Kabur? Gak mungkin lah." Airish tertawa kecil, menyembunyikan gugupnya. Lelaki cinta pertamanya ini paling bisa menangkap sinyal kebohongan.
Sherin gantian yang mengangguk. Keringat dingin keluar dari pelipis dan telapak tangannya. Jangan ketahuan! Jangan ketahuan! Dia berkali-kali mengatakan kalimat itu.
"Ya udah boleh. Tapi jangan lupa tetap. kasih kabar ke Alvaro!" Papanya berpesan sambil memberikan izinnya.
Ingin sekali Airish melompat ke atas ketika mendapat izin keluar dari rumah. Dia sangat bahagia, melebihi bahagianya mendapat mobil baru dari Alvaro kemarin.
Sherin menghembuskan napas lega. Akhirnya kebohongannya di acc. Meski dia harus terus meminta ampun karena hal ini. Semua demi tas dan jam baru.
'Sesekali bohong gak apa-apa, deh!' Pikir Sherin.
Setelah berbasa-basi sebentar, dua gadis itu segera berpamitan dan berjalan ke arah pintu keluar. Baru dapat lima langkah, terdengar suara bariton seksi dari depan pintu.
"Permisi, Ma, Pa. Varo datang!"
Mampus! Sekarang rasanya Airish ingin mengumpat.