"Makasih, Om!" Airish turun dari mobil suaminya. "Jangan lupa utang ceritanya, nanti setelah pulang kuliah aku tagih!" Dia menyerigai.
Airish merapikan dandanannya lagi. Hari ini dia memakai celana jins panjang dan kemeja kotak-kotak berwarna hijau daun. Meski terlihat biasa saja, tapi harga dari outfit yang dia pakai lebih dari sepuluh juta. Belum tas dan sepatu barunya juga.
Alvaro mendesah resah. "Memang kamu belum percaya kalau saya di sana hanya kebetulan?"
"Tentu belum. Jangan ngada-ngada deh. Mana ada kebetulan sudah sedia jaket juga." Mereka berbincang dengan posisi Airish di luar mobil, dan Alvaro masih duduk di dalam. Airish mengedipkan sebelah mata. "Ingat, aku tagih sampai Om Varo jujur!"
Lelaki itu mengangguk, ada benarnya juga perkataan Airish, tapi haruskah dia bilang kalau selama ini sudah menyewa orang untuk memata-matai Airish? Bahkan sejak sebelum menikah.
Sepertinya tidak! Yang ada gadis itu akan semakin gencar menuduhnya penguntit dan Om-om c***l seperti sebelumnya.
"Oke ... oke. Sekarang saya kasih tahu kamu, ada saudara yang ngelihat kamu duduk di sana berjam-jam sendiri, dia ngasih tahu saya! Dah itu saja!" Setelah memutar otak, Alvaro berhasil mencari alasan yang tepat untuk Airish agar gadis itu tidak curiga. Dan yang terlintas hanya itu.
Alvaro belum bisa mengatakan bahwa dia selalu dan akan tetap selamanya menjaga Airish, meski dari jauh dan tidak terlihat.
"Kok bisa dia tahu aku istri Om Varo?" Keningnya berkerut.
"Kan kemarin datang pas kita nikah. Saudara dekat, anaknya Om Firman."
Airish menganggukkan kepala. Bisa diterima sih alasan dari Alvaro. Ini menjadi masalah baru lagi, kalau saudara Alvaro sudah tahu siapa dirinya, jadi Airish tidak bisa seenaknya pergi bersama lelaki lain, bisa dapat cap gadis tidak benar nanti. Itu bukan apa-apa, yang lebih parahnya, keluarga Alvaro mengadukan pada keluarganya. Perang dunia pasti.
Lalu kebersamaannya dengan Dhenis? Tentu saja juga tidak sebebas biasanya.
Eh, bukannya selama ini dia jarang juga ketemu sama lelaki itu? Jadi gak masalah juga sih, toh lagian entah kapan bisa bersama Dhenis saja dia tidak tahu.
"Habis ini Om mau ke kantor, kan? Nanti aku pulang telat dikit, ya. Mau nongkrong sama teman-teman dulu!"
Alvaro mengiyakan. Satu lagi kemajuan dari Airish, gadis itu sudah membiasakan diri untuk meminta izin darinya. Meskipun tanpa Airish izin dia juga pasti tahu nantinya.
" Om makasih hape barunya, tapi nanti aku tetap beli android. Firur ios aku belum terlalu bisa."
"Oke. Nanti saya belii."
"Atau yang ini dituker aja, Om!"
Dia berbicang sebentar dengan Alvaro setelah turun dari mobil, Airish melanjutkan langkahnya masuk ke gerbang kampus. Dia terlebih dahulu menghubungi kedua temannya yang kuliah di sana.
Kalian di mana? Gue udah masuk nih! Send.
Dia menunggu balasan dari orang yang dikirim pesan.
Baru jalan mau ke kantin. Posisi lo di mana?
Airish tidak membalasnya. Dia kemudian berbelok ke kanan dan memotong jalan, supaya cepat bertemu dengan dua temannya.
Jika saja dia bisa, sekarang pasti sudah menceritakan semuanya pada mereka. Sayangnya, hanya Sherin yang bisa dia ajak bicara serius, bukan berarti yang lainnya tidak.
Sherin memang sahabat paling mengerti Airish, sayangnya gadis itu dua tahun lebih tua darinya, jadi sudah lebih dulu wisuda dari pada Airish. Setelah Sherin lulus, Airish dekat dua orang dari fakultas yang sama dengan dirinya.
Terlihat dari kejauhan gadis yang dicarinya berjalan berdua sambil tertawa-tawa. Kalau seperti itu, dia sudah bisa menduga pasti ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
"Woy, Na! Gak kangen gue lo!" Airish berteriak dari bawah pohon. Dia melebarkan senyum dan menunggu dua gadis yang sama sengkleknya dengan dirinya itu menghampirinya.
Orang yang dipanggil Na mengeryitkan dahi, lalu sedetik kemudian dia berlari menuju arah Airish.
"Kutiiiiil, gue kangen banget!" Viana langsung menubruk tubuh Airish.
Airish tertawa. Tiga hari dia izin karena menikah, meski dia membawa surat dokter sih. Tentu saja setelah akting sakit bulanan yang membuatnya mendapatkan surat sakit. Kok beruntungnya, si dokter percaya jika dia benar-benar kesakitan karena haid.
"Lo udah sehat? Duh, syukurlah. Gue kira rabies!"
Satu jitakan mendarat di kepala Viana. "Kalian sehat, kan? Ada kabar apa nih di kampus? Gue melewatkan gosip apaan?"
Elni, gadis yang bersana Viana sampai di tempat mereka berpelukan. Dia membuka tas dan mengeluarkan secarik kertas. "Nih yang lo lewatkan!" Dia menyodorkan kertas dengan warna merah jambu ke arah Airish.
Airish mengambilnya, lalu melihat dengan bingung benda di depannya. Surat? Dia dapat surat (lagi)?
"Heran gue, mau ngasih ke elo tapi masukinnya di loker gue, kan aneh, yak?"
Viana mengangguk. "Lagian nih, kalau emang suka mah tinggal bilang aja. Ngapain pakai surat-suratan kek jaman penjajahan aja!"
Airish melihat pengirim yang tertulis di sana. Orang yang mengagumimu. Dia mulas, seperti mendapat teror kalau sudah datang surat ini.
Dia bukan sekali dua kali mendapat surat serupa, bahkan setiap bulan selalu saja dapat. Dulu, surat itu selalu masuk di lokernya, tapi setelah dia memutuskan untuk tidak lagi menggunakan dan membuka loker, surat itu pindah ke loker Elni. Dan sampai juga kepadanya.
"Penasaran gue, sebenarnya, siapa sih yang ngirim ini? Gabut banget perasaan. Namanya gak dicantumkan, tapi berharap Airish membalas cintanya. Kan aneh kuadrat!" Viana memberikan opininya.
"Dah lupain aja. Kalau lo mau simpen di tas, kalau gak buang di tong sampah!" Elni menarik tangan dua temannya. "Sekarang ke kantin dulu, yuk! Laper!"
Airish melempar surat itu ke dalam tong sampah berwarna kuning tanpa dibaca terlebih dahulu Setelah itu, dia pura-pura tidak mendapat apa-apa dan kembali ceria.
Tidak dia tahu, di sudut lain yang tak jauh dari tempat mereka, seseorang mengepalkan tangan setelah melihat surat merah jambunya berakhir di tong sampah lagi.
**
"Pulang aku antar, yuk!" Dhenis menjemput Airish di kampusnya sore itu. Dia membawa seikat bunga mawar kuning dan menunggu kekasihnya di luar gerbang kampus.
Airish melengos, dia mengamit kedua lengan sahabatnya.
"Iya, aku salah. Aku minta maaf. Tapi kamu kan tahu semua yang aku lakukan untuk kebaikan kita besok!" Dhenis mendekat, dia berlutut di depan Airish.
Elni menyenggol lengan Airish. Sayang banget lelaki setampan Dnenis disuruh berlutut di tanah. Meski memang tidak ada yang nenyuruhnya sih.
Viana tersenyum canggung, secara otomatis Dhenis juga berlutut di depannya, kan? Dan dia merasa menjadi pusat perhatian.
Mereka bertiga sedang bergandengan tangan, jadi kalau lelaki itu berlutut di depan Airish, juga sama saja berlutut di depannya. "Kak Dhenis jangan gitu dong! Gak enak dilihat orang."
"Aku akan tetap di sini, sampai Airish memaafkanku." Dhenis dengan keras kepalanya tidak mau berdiri.
Airish memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak bermaksud membuat lelaki itu berlutut dan meminta maafnya, tapi ketika ingat kejadian kemarin, rasa kesal itu masih ada.
"Aku salah, Airish. Maaf." Dhenis menundukkan kepala.
"Oke! Asal jangan mengualanginya lagi!" Dia juga merasa risih, karena melihat sekitar orang-orang sedang menatap ke arah mereka.
"Terima dulu dong bunganya!" Dhenis mengulurkan lagi mawar kuning itu.
"Gak deh. Aku udah gak suka mawar kuning! Sekarang suka Anggrek Bulan." Dengan santainya, Airish mengajak kedua temannya untuk pergi dari sana.
Mereka bertiga berjalan beriringan entah mau ke mana, yang penting menghindar dulu dari Dhenis. Selain malu, Airish juga masih kesal melihat wajah lelaki tukang ingkar janji tersebut.
Sesampainya di depan Smart Kafe, Airish mengajak dua temannya untuk masuk ke dalam. Dia harus mengembalikan mood dulu sebelum pulang ke rumah.
"Gila lo! Ini mahal-mahal menunya." Elni ingin menolak, bukan ingin, tapi memang menolak untuk masuk ke dalam setelah tahu menu yang dijual di sana.
Viana mengaminkan perkataan Elni. "Kita bisa hidup dua minggu demi membeli makanan ini untuk sekali santap. Cari kafe lain aja, yuk!" Dia menarik tangan Airish.
"Eh, kalian tenang aja. Gue yang bayar, kok!" Airish mengeluarkan credit card miliknya. "Makan sepuas kalian, dan gua yang nanggung semuanya!"
Mata Elni berbinar. "Serius lo?"
Viana terlonjak gembira. Dia memilih beberapa menu paling mahal di kafe itu. Memanfaatkan keadaan, mumpung ada yang membayar makanannya.
"Udah, santai aja. Gue bayar semuanya kok!" Airish ikut memesan beberapa menu, dilanjutkan dengan Elni yang kebingungan ingin makan apa.
Mereka menungu pesanan diantarkan sambil bergosip membicarakan fans berat Airish yang suka mengirim surat, juga tentang kakak tingkat yang ketahuan hamil duluan, sampai dosen killer yang yang sedang mau melangsungkan pernikahan kedua. Semua menjadi topik pembicaraan hangat tiga orang yang tidak bertemu tiga hari tersebut.
Setelah pesanan datang, secara bersama-sama mereka menikmatinya. Bahkan Viana yang paling semangat sudah menghabiskan satu menu ketika Airish baru mendapatkan lima suap. Keren sekali.
"Lo dapat duit dari mana, Til? Sekarang punya Credit Card pula!" Elni bertanya di sela-sela kegiatan makannya.
Kutil adalah panggilan Airish yang diberikan dua orang itu.
"Orang tua gue lah, emang siapa lagi."
Elni tekekeh. "Gue kira lo dapat sugar dady di tiga hari kemarin."
Uhuk!
Makanan Airish yang seharusnya masuk ke kerongkongan nyasar ke hidung setelah mendengar perkataan Elni.