Kecewa Kesekian Kalinya

1383 Kata
Aku sudah diangkat jadi pemimpin perusahaan sekarang, Sayang. Maaf tadi gak sempat datang. Karena meeting pengangkatan mendadak. Besok baru acara resminya. Airish membanting ponselnya ke lantai. Dalam sekejap, android yang semula menyala normal itu mati, layarnya hitam tanpa tampilan. Ambyar. Tiga jam lebih dia menunggu Dhenis di kafe itu, berharap lelaki itu datang meski hanya sebentar, tapi ternyata semua sia-sia. Semua tidak ada gunanya, dia merasa kecewa lagi dan lagi. Sialnya, Dhenis yang membuat kekecewaannya menumpuk akhir-akhir ini. Tatapan aneh dari orang-orang pengunjung kafe tidak dia hiraukan, yang ada di pikirannya hanya ingkar janjinya Dhenis yang kesekian kalinya. Jika saja bisa, dia ingin mengulang waktu dan tidak akan pernah mau mengenal bahkan jatuh cinta dengan lelaki bernama Dhenis Van Djoyo. Sialan! Airish menenggelamkan kepalanya dalam lekukan tangannya di meja. Isak lirih keluar dari bibirnya. Jika bukan karena lelaki itu, dia tidak akan sekecewa ini. Sangat jarang dia menangis, seberat apa pun masalahnya, tapi ternyata kekecewaan kali ini membuat hatinya lebur dan hancur. "Aku menyesal sudah mencintaimu, Dhenis!" ujar Airish lirik. Sangat lirih, hingga hanya dia sendiri yang mendengar. "Mbak, hape-nya!" Salah satu pelayan kafe mengambilkan ponselnya dan ditaruh di meja. Dia khawatir kalau benda itu terkena injakan kaki para pengunjung yang lewat. Meski mereka juga tahu ada ponsel di sana. Karena saat ini, satu-satunya yang menjadi perhatian adalah Airish. "Buang aja deh, Mas!" Airish tidak mau menerima android yang baru saja dihancurkan. Dia mengusap kasar air mata. Pelayan kafe tidak menuruti perkataan Airish, dia meletakkannya di meja lalu pergi meninggalkan gadis itu untuk kembali bekerja. Tatapan prihatin dia layangkan sebelum akhirnya menyibukkan diri dengan pekerjaan. Di tempat lain, Alvaro mengkhawatirkan istrinya. Dia memantau dari rumah dan mengetahui jika Airish masih di kafe itu. Gila sih menurutnya, lebih dari lima jam berada di sana menunggu Dhenis tanpa berniat beranjak, padahal setahu Alvaro, Dhenis langsung pergi begitu meeting mereka selesai. Tidak sendiri, tapi bersama salah satu pegawai kantornya. Dia jadi penasaran, secinta apa sih Airish Alenka kepada seorang Dhenis Van Djoyo? Alvaro mengambil jaket, lalu memakaikan ditubuhnya dan menyusul istrinya yang masih tetap di kafe itu. Tak lupa dia membawakan Airish jaket juga, untuk menghalau dinginnya angin malam. Tidak butuh waktu lama untuknya sampai di kafe tersebut. Sopir pribadi Alvaro cukup lihai untuk membawa mobilnya menyusuri jalanan kota Jakarta. Bahkan mencari jalan alternatif adalah hobinya. Dari luar kafe, terlihat wanita itu masih duduk dan menenggelamkan kepalanya dalam lekukan tangan. Alvaro menghela napas kasar. Dia sampai langsung masuk dan menuju meja Airish ketika sampai. Jaket yang tadi dibawanya, dia tutupkan ke tubuh dan kepala Airish. "Ayo pulang!" Kedua tangannya mencengkeram lembut bahu Airish, lalu membawanya berdiri dan berjalan keluar dari sana. Sopir yang tadi disuruhnya untuk membayar tagihan segera mengambil barang-barang Airish di meja tempat dia menunggu Dhenis tadi. "Itu hape Mbaknya yang tadi. Rusak parah sih, mati paling. Karena tadi dibanting sama dia!" Pelayan kafe yang tadi mengambilkan ponsel Airish mengatakan pada sopir Alvaro. Maman mengangguk dan mengucapkan terima kasih, setelahnya dia menyusul tuannya ke mobil dan segera membawa mereka pergi dari sana. Tanpa bertanya ada apa atau kenapa, Maman langsung memperlihatkan keahliannya lagi, menyelip dan membawa roda empat itu membelah jalanan kota Jakarta. Airish masih membisu, dia tidak berniat sama sekali untuk sekedar bicara atau menanyakan bagaimana Alvaro tahu dirinya ada di sana. Otaknya masih dipenuhi dengan kekecewaan terhadap Dhenis. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah. Airish turun dari mobil dan berlari langsung berlari masuk kamar. Dengan masih memakai jaket yang dibawakan Alvaro, dia merebahkan diri di sofa. Bahkan ketika Alvaro menyusul dan duduk di belakangnya, dia tidak membalikkan badan. Alvaro menghela napas, dia membiarkan istrinya tenang lebih dulu. Tidak berniat juga bertanya ada apa dan kenapa untuk menunjukkan perhatiannya, meski dia sudah tahu. "Ini barang-barang Nyonya, Tuan!" Maman menyodorkan tas dan ponsel Airish yang hancur. Alvaro melihat benda itu, lalu mengambil simcard-nya. "Buang saja yang itu!" Maman mengangguk, lalu keluar untuk melempar ponsel rusak itu ke tong sampah. Simcard di tangannya dia lihat berulang-ulang kali, setelah itu, Alvaro membuka ponsel dan mencari pengganti yang cocok untuk komunikasi oleh Airish di marketplace. Dia menemukan iphone keluaran terbaru, tanpa berpikir panjang, Alvaro membelinya dan menyuruh seller untuk mengantarkan ke rumah malam itu juga. ** "Pagi, Om!" Airish keluar dari kamar dengan mata sembab. "Makasih selimutnya semalam!" Alvaro menoleh. "Makasih untuk selimut doang? Lainnya?" Dia cukup senang melihat semangat Airish kembali lagi pagi ini. Padahal dia kira gadis itu akan terus meratapi nasib seharian di kamar, tidak mau makan, tidak mau bicara, dan banyak lagi. Bukannya biasanya cewek kalau sedang patah hati kecewa seperti itu? "Ya udah makasih buat semuanya!" Airish mengambil satu potong roti tawar di depan suaminya, lalu menggigitnya. "Enak, Om!" Dia menjejalkan lagi dan lagi makanan itu Alvaro mengelengkan kepala, dia menyuruh pembantunya untuk membuatkan lagi sarapan untuknya, karena punya dia sudah masuk ke mulut Airish semua. "Om, gak ngantor?" Airish duduk di samping suaminya, dia melihat laptop yang menyala dan menampilkan gambar yang tidak dia mengerti. "Saya ngantor dari rumah. Ambil kotak di meja kamar sana!" "Kotak apaan?" "Ambil aja dulu!" Alvaro memberi kode dengan kerlingan mata. Airish ingin bertanya lagi, tapi dia mengurungkannya dan memilih naik kembali ke lantai atas untuk melihat kotak apa yang dimaksud Alvaro. Ketika membuka pintu, dia melirik jam kecil di meja samping sofa tempatnya tidur. Pukul delapan pagi, masih ada waktu dua jam untuk bersantai, dia ada kelas nanti jam sebelas. Gadis itu mencari kotak yang dimaksud Alavaro, netranya tertumbuk pada kotak dengan warna biru muda dan dihiasi pita. Airish mengeryitkan dahi, dia membuka kotak itu pelan-pelan. Ketika semua terbuka, dia menutup mulut dengan telapak tangan. Iphone keluaran terbaru yang harganya masih di atas lima belas juta ada di depannya. Tangannya bergetar ketika terulur hendal mengambil benda itu. Dia mendapatkannya, lalu mulai mengotak atik dan paham kalau simcard-nya sudah terpasang di sana. "Uwuwu, keren sekali!" Dia memeluk benda dengan logo apel krowak tersebut. Setelah puas memeluk dan menciumi iphone barunya, Airish turun ke bawah dan langsung masuk ruang kerja Avaro. "Makasih Om!" Dia memeluk lelaki itu dari belakang. "Gak nyangka Om Varo seperhatian ini!" Dia terkekeh. Alvaro melempar tatapan kesal. Jika tidak perhatian, mana mungkin dia menjemput Airish dan membawanya pulang, padahal dia tahu jika gadis itu tengah menunggu kedatangan pacarnya. "Om gak bangkrut beliin aku barang-barang mahal? Udah gitu kasih credit card tanpa limit pula!" "Hanya segitu belum bisa membuat saya bangkrut, kalau kamu mau bahkan saya bisa membelikan yang lebih. "Alvaro menghentikan sejenak pekerjaan yang sedang dia kerjakan." Kamu mau apa lagi?" Dia menatap istrinya. Mau apa lagi? Airish berubah muram kembali, dia melepas tangan yang semula melingkari tubuh suaminya. Jika ditanya apa yang paling dia mau, hanya satu jawabannya. Bertemu Dhenis. Sudah itu saja. Dia perlu penjelasan lebih, kenapa tidak bisa sedikit saja meluangkan waktu untuk dirinya. Padahal bagi Airish, lima menit saja sudah cukup, yang penting bisa ketemu dan melihat wajah lelaki itu secara langsung. Tapi harapannya sia-sia. Kerja dan masa depan menjadi alasan Dhenis. Padahal dia tidak membutuhkan itu. Harta bisa mereka cari bersama-sama, tapi waktu yang terlewat tanpa meninggalkan kesan di hati tidak akan bisa dicari. "Airish, kenapa?" Alvaro memutar kursi dan memperhatikan wajah istrinya. "Gak, Om." Dia mencoba menyunggingkan senyum manis yang mengatakan aku baik-baik saja, meski dia yakin kalau tampilan senyumnya lebih mirip menyerigai. "Kuliah jam berapa? Saya antar, ya!" Alvaro menyudahi kerjanya. Dia menutup laptop perlahan. Airish mengangguk. "Jam sebelas, Om. Memang Om gak kerja beneran?" "Ini saya lagi kerja." "Maksudnya ke kantor." "Gak, nanti cuma datang di acara peresmian pemimpin perusahaan anak cabang yang baru, kalau kerjaan lain bisa saya kerjakan di rumah." Airish melamun lagi. Pemimpin perusahaan yang baru? Pasti itu Dhenis. "Memang yang lama ke mana, Om? Trus yang gantiin siapa?" Dia bertanya untuk memastikan lagi. "Ada pokoknya. Kamu mau ikut saya?" Airish menggeleng cepat. Ikut Alvaro ke kantor Dhenis? Tidak mungkin. Yang ada nanti ketahuan lagi kalau dia istri dari pemilik perusahaan tempat Dhenis bekerja. "Lain kali aja, Om. Lagian nanti ada janji sama teman-teman sepulang kuliah." Alvaro mengangguk. "Oke!" Dia kembali memutar kursinya dan mencoba fokus ke pekerjaan. Satu tangannya mengambil kopi yang masih mengepulkan asap di meja. Gadis di belakangnya berpikir sejenak setelah dia mengingat kejadian semalam. Sepertinya ada yang aneh. "Om Varo tahu dari mana semalam aku di kafe itu? Kok bisa langsung ke sana? Jangan-jangan Om memata-mataiku, ya!" Uhuk! Kopi yang diseruput Alvaro masuk ke hidung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN