Setelah menemani belanja pakaian dan barang-barang yang diperlukan Airish, Alvaro berencana akan kembali ke kantor. Dia juga tak lupa memberikan kartu kredit untuk istrinya.
Meski hanya pura-pura dan ada perjanjian di atas kertas, tapi Alvaro tetap menganggap Airish adalah belaham jiwanya. Dia juga percaya kalau nantinya, Airish akan luluh dan menganggap semua yang dia lalukan tulus.
"Kalau mau belanja gak usah bilang, kamu tinggal pakai saja!" Alvaro menyerahkan dua kartu.
"Ini limitnya berapa, Om?" tanya Airish. Matanya berbinar melihat satu kartu kredit dan debet di tangannya.
"Lima puluh juta. Di ATM ada dua puluh. Buat jaga-jaga kalau saja kamu butuh uang cash!" Lelaki itu kembali melipat dompet dan mengambalikan ke dalam saku celana. Dia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
"Ada yang mau ditanain lagi gak? Saya harus balik ke kantor."
Airish menggeleng. "Om baik banget! Sayang sudah tua gak laku-laku!"
Alvaro hanya melirik sekilas, lalu pergi meninggalkan istrinya.
Airish mengembangkan senyum. Dengan uang ini, dia bisa membelikan Dhenis hadiah nantinya. Duh, baik hati sekali suami pura-puranya itu. Dia sudah berencana membeli banyak barang dengan uang yang dipunya, bahkan untuk orang tua dan sahabatnya juga ada. Uh, senangnya jadi orang kaya.
Sepeninggalan Alvaro, Airish membuka semua belanjaannya dan mulai menata di almari yang masih kosong. Dia dibantu dua orang asisten yang khusus disewa Alavaro untuk membantunya. Sebenarnya lebih banyak dia mengarahkan saja, selebihnya dua orang itu yang bekerja.
Airish ingin menolak, tapi keputusan lelaki tiga puluh lima tahun tersebut tidak dapat ditolak. Dua orang yang dipekerjakan suami Airish Alenka tersebut sudah sampai di tempat tinggal mereka terlebih dulu.
"Masih ada yang luang gak, Mbak?" tanya Airish. Dia melihat masih ada dua kantong besar pakaian yang dibelinya baru saja.
Jika dulu dia harus berpikir seratus kali untuk membeli sepotong celana jins, kini hampir tiga puluh juta Alvaro keluarkan untuk membelikannya pakaian serta barang-barang kebutuhan wanita; make up, sepatu, tas, baju dalam, sampai peralatan mandinya semua baru.
Seharusnya dia bersyukur saat ini, mempunyai suami yang tidak pusing soal uang. Namun, bagaimana lagi, tidak ada cinta di hatinya untuk lelaki itu. Entah besok atau lusa, tau bahkan tahun depan. Meski tetap Dhenis tidak akan bisa terganti.
"Semua sudah penuh, Nyonya. Mau saya pesankan satu almari lagi?" Sumi, asistennya bertanya.
Airish berpikir sejenak, dia mencari cara agar seluruh pakaiannya bisa masuk ke almari tanpa membeli yang baru. Sayang uang. Dia bisa saja memilih pakaian Alvaro yang jarang digunakan untuk dipindah atau dijual, kan? Atau kalau perlu sisakan beberapa almari saja.
"Gak perlu. Keluarkan saja baju Om Varo yang jarang dipakai!" suruh Airish. Dia mencari situs online jual beli yang bisa digunakan untuk memposting pakaian Alvaro yang sudah tidak dipakai. Pakaian mahal pasti laku lah. Emang pakaiannya, harga saja cuma lima puluh ribu.
Dua asisten yang baru satu jam bekerja di sana itu saling menatap. Mereka mana tahu baju mana yang sering dan tidak pernah dipakai Alvaro. Kerja di situ saja belum ada sehari. Jadi dari mana mana mereka tahu. Memang cenayang, bisa tahu tanpa diucapkan.
Airish sepertinya tidak sadar jika asistennya baru saja dipekerjakan, dia masih sibuk menatap kalung-kalung lucu ke dalam sebuah kotak.
"Nyonya, kami tidak tahu pakaian mana yang jarang dipakai Tuan Alvaro!" Dengan takut-takut satu dari asisten barunya mengatakan kegundahan mereka.
Gadis dua puluh tahun itu menepuk jidatnya. "Sorry. Lupa kalau kalian baru aja kerja. Ya udah, sementara taruh di situ aja dulu, atau kalau ada yang bisa diringkas tolong kasih tempat!"
Mereka mengangguk.
Airish kembali melanjutkan aktifitasnya, kali ini dia menyusun alat make up dan skincare di meja rias. Sedangkan milik Alvaro dia singkirkan dan ditaruh di dekat tembok.
Pernah lihat, kan jika make up wanita mendominasi seluruh meja rias, hampir 90% bahkan. Dan milik lelaki, hanya sisanya, itu juga kalau dikasih, kalau tidak mereka cukup menaruhnya di laci meja.
Dan seperti itulah kondisi meja rias di kamar Alvaro. Berbagai jenis alat make up. ada di sana, juga skincare dan body care milik Airish.
Setelah selesai menata semuanya, gadis dua puluh tahun tersebut membersihkan diri kemudian bersiap untuk keluar menemui Dhenis. Dia sengaja memakai pakaian termahal dan terkeren yang menurutnya pantas untuk dipakai menemui Dhenis.
Dia lebih dulu mampir ke toko jam tangan bermerek untuk membelikan Dhenis hadiah. Dipilihnya warna silver dengan merek cukup terkenal. Sekarang dia tidak. perlu khawatir tentang uang, kartunya no limit, jadi santai saja Airish menggunakannya.
Aku berangkat. Kamu pulang jam berapa?
Airish mengirim pesan pada kekasihnya.
Dia hanya menunggu lima menit, sampai akhirnya balasan dari Dhenis masuk ke ponsel.
Satu jam waktu yang aku punya, kita ketemu di tempat yang dekat-dekat kantor saja, ya?
Gadis itu menurut, baginya yang penting Dhenis bisa meluangkan waktu untuknya. Sudah itu saja. Dia tidak berharap yang terlalu tinggi, karena pasti Dhenis tidak akan bisa mewujudkannya.
Tak berselang lama, Airish sudah sampai di tempat mereka membuat janji. Dia duduk di kursi depan pintu, berharap jika Dhenis datang, lelaki itu bisa langsung melihatnya.
Jantungnya berdegup tidak karuan. Dia tidak sabar bertemu dengan lelaki pujaannya tersebut.
Airish juga tidak lupa untuk memesan beberapa menu kesukaan pacarnya. Itung-itung sebagai ungkapan syukur karena dia berhasil melewati semua rintangan tanpa hambatan sama sekali.
Penikahan pura-puranya lancar juga jatah duit dari Alvaro sangat lancar. Selain itu orang tuanya juga terjamin hidupnya karena Alvaro memberikan mereka rumah tempat tinggal yang layak.
Di mana? Kenapa belum datang?
Dia kembali mengirim pesan pada kekasihnya.
**
"Tuan sepertinya nyonya akan menemui seseorang!" Salah satu anak buahnya melaporkan pada Alvaro.
Lelaki dengan tinggi 184cm tersebut mengangkat wajahnya, dan menunggu kelanjutan kalimat dari orang di depan mejanya. Dia sengaja meminta asisten Airish untuk melaporkan semua yang dilakukan istrinya.
"Menurut orang yang membuntutinya, nyonya sekarang ada di Kafe Mender di dekat kantor cabang."
Alvaro paham, Airish pasti akan menemui Dhenis. Dia harus mengagalkan rencana gadis itu bagaimanapun caranya.
Setelah mendengar laporan dari anak buahnya, Alvaro menyuruh orang untuk dihubungkan dengan Dhenis. Juga mengadakan rapat dadakan di kantor cabang pukul empat sore ini.
Alvaro tersenyum sinis, ingin menemui Dhenis? Tidak bisa. Airiah hanya miliknya.
Selain ingin mengagalkan rencana pertemuan istrinya dan Dhenis, dia juga akan mengangkat lelaki itu menggantikan Amer yang saat ini entah berada di mana.
Alvaro tidak bisa membiarkan perusahaannya terlalu lama terombang-ambing tanpa pemimpin.
"Siapkan mobil! Kita ke kantor cabang!" Alvaro memberi perintah pada bawahannya.
Dia merapikan jas kerja, lalu keluar dari ruangan untuk berangkat ke kantor di mana Dhenis bekerja.
Di saat yang sama pula, Dhenis kebingungan. Dia sudah berjanji akan menemui Airsh, tapi di sisi lain, dia baru saja mendengar kabar jika ada rapat dadakan sekarang.
Dhenis menyiapkan hati terlebih dahulu, dia tidak tahu apakah nantinya Airish akan paham dengan yang dia lakukan, atau malah sebaliknya. Yang jelas, semua yang dia lakukan untuk masa depan mereka, masa depan Airish Alenka.
Jika itu rapat biasa, mungkin dia bisa meninggalkannya. Tapi masalahnya, sekarang adalah rapat untuk mengangkat pemimpin baru, dan dia yang terpilih.
Belum sempat Dhenis memberi kabar pada Airish, Alvaro sudah lebih dulu sampai di kantor. Dia menyambutnya dan masuk ke ruang meeting bersama bos besar tempat dia bekerja.
Alvaro langsung memulai, dia terlebih dahulu meminta yang hadir di sana untuk mematikan ponsel, minimal menyeting agar tidak ada suara ketika meeting berlangsung.
Begitu juga dengan Dhenis, dia memilih menonaktifkan ponselnya dan fokus pada meeting kali ini, biar bagaimana juga, lelaki itu lebih memilih karir dari pada kekasih. Dhenis sudah menanti hari ini dari lama, dia bekerja keras untuk sampai di posisi ini. Dan tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Tunggu aku setelah ini, Airish. Setelah menjadi pemimpin perusahaan, aku akan selalu ada untuk kamu.
Dhenis berjanji dalam hati. Dia cukup sering menyakiti gadis itu, tidak punya waktu untuknya dan sibuk bekerja. Tapi setelah posisi penting di perusahaan dia dapatkan, lelaki itu akan membelikan kekasihnya hadiah yang selama ini belum bisa dia berikan.
Alvaro tersenyum dalam hati, ternyata Dhenis lebih memilih tetap di sini dan mematikan ponselnya, dari pada menemui Airish atau sekedar memberi kabar. Ya, ya, memang dia yang merencanakan, tapi bukankah Dhenis masih punya waktu jika hanya memberi kabar lewat pesan pada kekasihnya? Ternyata memang tidak dilakukan lelaki itu.
Itu berarti, dia menang selangkah.
"Bagaimana Pak Dhenis? Apa siap memimpin perusahaan ini?" Alvaro melempar senyum ke arah pacar istrinya.