"Om ngapain sih di dalam? Semedi apa pingsan? Lama banget!" Airish mengedor pintu toilet. Perutnya sudah melilit, dia biasanya membuang kotoran di perut setiap pagi sebelum beraktifitas, tapi ketika dia bangun pagi ini, sampai setengah jam pintu toilet belum juga terbuka.
Dia curiga, Alavaro di dalam kejang-kejang terus pingsan, karena dari tadi pintu digedor-gedor masih tidak ada jawaban dari dalam.
Sambil menahan perutnya yang semakin mulas, Airish terus saja menggedor pintu di depannya. Tak lupa rentetan omelan keluar dari mulut gadis itu.
Alvaro menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil handuk dan dililitkan ke pinggang. Hari keduanya menjadi suami Airish sudah seperti ributnya suami istri karena kekurangan uang belanja. Apa lagi kalimat Airish yang panjangnya melebihi rel kereta api Anyer-Panarukan, membuat telinganya penuh dengan kotoran berbentuk kalimat omelan. Belum nada suara gadis itu yang tidak ada nada do re, semua yang diucapkan pakai nada tinggi. Benar-bener keren sekali. Dia jadi semangat membayangkan hari ke depannya bersama Airish, pasti tidak monoton seperti biasanya.
"Om Varooooo!"
Nah, baru diomongin, dia di luar sudah teriak-teriak seolah nonton konser Avril. Masih mending nonton konser teriakkannya bareng-bareng, lah ini, sendirian.
"Woy, Om Varo! Yakin aku ini orang mati di dalam!
Alvaro menggelengkan kepala, bar-bar sekali istrinya ini.
Dia berjalan santai, lalu memutar knop pintu dan berdiri di depan Airish. Menatap kesal gadis ribut di depannya." Kamu aktif sekali, pagi-pagi sudah senam bibir!" Dia tersenyum semanis mungkin.
Airish berdiri mematung, melihat perut kotak-kotak di depannya. Juga bisep yang tersembul di lengan Alvaro. Sempurna sekali! Kalau tidak segera sadar, bisa jadi iler menetes di sudut bibirnya.
Dalam beberapa saat, Airish melupakan tentang perut yang melilit, karena menikmati pemandangan di depannya yang indah. Sayang sekali kalau di lewatkan.
"Masih mau mengagumi badan saya atau masuk ke dalam toilet? Saya bisa buka semua kalau kamu mau!"
Airish tersentak, dia ingat kalau tujuannya menggedor pintu ingin membuang hajatnya. "Gak ada kali yang mengagumi Om. Gak usah kepedean!" Airish mendorong Alvaro lalu masuk ke toilet.
Alvaro yang ikut terdorong masuk ke kamar mandi lagi.
"Lah ngapain sih Om masuk? Belum selesai apa?" Airish memegangi perutnya.
"Kamu yang dorong saya! Saya kira kamu mau ...."
"Aaah, berisik!" Airish kembali mendorong Alvaro, kali ini keluar dari kamar mandi. Setelah suami pura-puranya berada di luar, Airish segera menutup pintu dan menguncinya, dia langsung nongkrong di toilet sambil membayangkan perut dan bisep Alavaro yang barus aja dilihatnya.
Dia bertanya-tanya, tubuh sempurna, wajah apa lagi, belum pekerjaan juga keren, tapi kenapa sampai seusia ini belum juga menikah? Kalau tidak menikahinya, apa Alvaro juga masih melajang sampai besok-besok?
Sebenarnya dia normal gak sih? Atau malah gak suka cewek. Airish bergidik ngeri membayangkannya, tapi kembali lagi, mereka hanya pura-pura menikah. Jadi meski Alvaro suka sesama jenis juga dia tidak peduli, toh nantinya juga mereka akan cerai.
Alvaro mamatut dirinya di depan cermin, lalu membuka laci dan mengambil satu arloji dari dalam sana. Dia menghela napas sebelum memakai jam berwarna silver itu, kenangan saat jam itu diberikan kembali berputar di kepalanya.
Tapi segera dia menepisnya dan tidak larut dalam kenangan menyakitkan tersebut.
"Om, pinjem handuk! Aku mau mandi. Baju-bajuku di mana, ya?" Airish yang sudah selesai dengan ritual paginya menyusul Alavaro ke wardobe room.
"Memang kamu ke sini bawa baju? Sementara kamu bisa pakai baju saya dulu, nanti siang saya belikan kamu pakaian!" Alvaro menunjuk lemari pakaiannya yang lebih dari lima.
Airish tercengang. Sebanyak itu almari pakaian suami pura-puranya? Benar-benar orang kaya. Apa daya dia yang hanya punya pakaian satu almari saja sudah sering kena omel mamanya karena tidak pernah rapi. Lah ini? Sembilan lemari. Gila gila.
Benar-benar sultan suami pura-puranya ini.
"Semua barang-barang di sini kamu pakai saja kalau mau. Ini milik kamu juga!" Alvaro menambahkan.
Gadis itu berjalan beberapa langkah, kalau semalam dia tidak terlalu memperhatikan, sekarang dia baru lihat, kalau ternyata banyak barang mewah di ruangan ini. "Beneran boleh? Dijual juga boleh?"
Mata alvaro melebar mendengar pertanyaan unik dari istrinya. "Memang kamu berniat menjual barang-barang saya?"
"Ya yang sekiranya sudah gak dipakai saja!"
"Buat apa? Memang jatah bulanan kamu masih kurang? Kalau iya saya tambahin!"
Airish berjalan menghampiri suaminya. "Aku?" Dia menunjuk diri sendiri. "Dapat jatah bulanan juga?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja. Seorang suami harus memberikan nafkah kepada istri, kan?"
"Jangan bilang nanti setelah kita cerai ini akan diminta balik lagi!"
Alvaro tertawa. "Ya, gak lah. Memang saya seperhitungan itu? Kalau cuma uang segitu saya bisa mendapatkannya kembali dalam satu hari, jadi gak perlu khawatir kalau akan saya ambil balik!"
Tanpa sadar, Airish memeluk suami pura-puranya, dia mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Pelukan gadis itu membuat Alvaro merasakan jantungnya sudah tidak senormal biasanya. Detaknya lebih kencang dan cepat, seolah ingin melompat keluar dari d**a.
Dia benar-benar jatuh cinta, pada gadis cerewet yang tengah memeluknya.
"Makasih banyak, Om! Btw, uang bulanan saya berapa?"
**
Airish turun ke meja makan dengan kemeja panjang milik suaminya. Kemeja paling cocok yang bisa dipasang di badannya. Dia langsung duduk di samping lelaki itu, lalu mengambil minuman yang berada di depan Alvaro dan meneguknya hingga tandas.
Lelaki di sampingnya hanya melihat, tanpa berniat mengatakan sesuatu.
"Om, gak punya kemeja atau kaos yang lebih kecil apa?" Dia mengambil kentang goreng, lalu dimasukan ke mulutnya.
Alvaro menggeleng. "Baju kamu kemarin suruh bibi dicuci, nanti setelah kering dipakai lagi lalu kita belanja perlengkapan kamu!" Alvaro meminta pembantunya untuk mengisi gelas yang sudah dihabiskan airnya oleh Airish.
"Siap! Ini sarapan belum ada, ya?" Dia celingukan mencari nasi dan lauk, setidaknya sambal.
"Ini kita lagi sarapan!" Alvaro mengambil roti tawat yang sudah dipanggang dan diberikan pada istrinya. "Tapi kalau kamu nyari nasi, belum ada. Bibi biasa menyiapkan sarapan ringan untuk saya."
Airish mendengkus, dia tidak terbiasa makan makanan orang kaya. Apa lagi sarapan hanya roti dan kentang. Bisa pingsan nanti dia. Bagi Airish, kentang dan roti hanya dijadikan cemilan.
Gadis itu beranjak dari kursi, lalu berjalan menuju rice cooker yang berada di atas kitchen set. Masih ada isinya. Tangannya mengambil piring yang ada di sebelah kanan dan mulai meletakkan dua centong nasi ke piring.
"Eh, jangan nyonya! Itu nasi sisa semalam. Kalau mau makan nasi, biar bibi masakin lagi!" Darmi, pembantu Alvaro merebut nasi yang berada di pelukan Airish.
"Gak perlu, Bi. Ini saja. Lagian saya terbiasa makan sisa kemarin, jadi gak perlu khawatir. Oke!" Dia mengambil kembali piringnya.
Darmi melihat ke arah Alvaro meminta persetujuan, ketika tuannya itu mengangguk, dia memberikan pada Airish.
Dengan cekatan, Airish mengambil bawang merah dan putih juga cabai lalu diirisnya sambil memanaskan minyak dan margarin di atas kompor.
Alvaro melihat gadis kecil yang dulu menolongnya dengan kagum. Dia tidak menyangka jika Airish bisa juga memasak. Padahal setahunya, gadis itu sangat maja ketika berada di rumahnya.
Selang lima menit kemudian, aroma nasi goreng ala Airish sudah jadi. Dia tersenyum puas dengan hasilnya. Wajar enak, di sini semua menggunakan bahan kualitas premium. Mana bumbunya lengkap tinggal pilih.
"Mau, Om?" Airish menawarkan masakannya pada Alvaro.
Lelaki itu menggeleng.
"Cobain deh!" Dia menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut suaminya.
"Gak, Irish. Saya gak terbiasa sarapan berat."
"Ini ringan kok, gak ada sekilo! Cepat buka mulut!"
Alvaro tetap menggeleng. Dia menghabiskan sisa air di gelas lalu turun dari kursi tinggi sejenis kursi bar itu. Setelahnya mengancingkan jas dan bersiap pergi.
"Ish, gak menghargai banget sih. Cuma disuruh nyicip aja gak mau!" Airish memajukan bibirnya kesal.
Alvaro menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan kembali berdiri di samping Airish. "Memang apa yang akan saya dapatkan kalau saya incip masakan kamu?"
Airish mengeryitkan dahi. "Maksudnya Om minta imbalan gitu?"
Alvaro mengangguk.
"Emang minta apa?"
Lelaki itu memajukan pipinya.
"Modus aja terus! Cuma incip doang pun. Masa minta imbalan, dasar laki-laki aneh. Ya udah sana pergi!" Airish mendorong suaminya.
Harapan Airish dengan dia pura-pura ngembek, Alvaro akan bersedia mengincipi masakannya, tapi ternyata dugaannya meleset.
Alvaro benar-benar pergi dari dapur tanpa merasakan hasil masakan istrinya.
"Dasar Om-om gak punya perasaan, pantas saja gak laku!"
"Apa kata kamu tadi? Gak laku?" Alvaro melangkah maju, membuat gadis yang memakai kemeja putih itu melangkah mundur untuk menghindarinya.
Airish terpojok, dia sudah tidak bisa lagi mundur karena ada tembok. Kepala celingukan mencari pembantu Alvaro yang tadi berada di sana, tapi sekarang tidak tahu mereka semua pergi ke mana. Kapan perginya juga tidak melihat. Tiba-tiba mereka hanya berdua di sana.
"Coba katakan sekali lagi!" Alvaro mengungkungnya di tembok. "Kenapa diam? Saya ingin dengar lagi, Irish!"
"Gak, Om. Aku ...."
"Kamu apa?" Wajahnya semakin dekat dengan wajah Airish.