"Om, jangan lupa sarapannya dihabiskan!" Dari balik meja dapur, Airish berteriak. Dia sudah sibuk dengan peralatan masak sedari subuh tadi. Alvaro mengeryitkan dahi. Ini hari ke lima Airish terjun ke dapur untuk membuatkannya sarapan. Kemarin dia sempat melarang, bahkan mengancam siapa saja yang membiarkan istrinya menyentuh peralatan masak. Tapi ternyata ancamannya dikalahkan oleh rayuan Airish. Pembantu di rumahnya lebih memilih tunduk kepada gadis itu dari pada dengannya. "Aku buatkan makan siang untuk bekal nanti ke kantor, ya, Om. Meski sederhana tapi aku jamin ini endes!" Airish mengangkat kedua jempolnya sambil mengedipkan mata ke kepada suaminya. Jika beberapa hari kemarin Alvaro hanya diam tanpa berkomentar terlalu banyak, Airish yakin kalau besok atau besoknya pasti lelaki it

