"Bangun, Irish! Sudah jam sembilan pagi." Alvaro menggoyang tubuh istrinya yang masih sembunyi di balik selimut. Hatinya lega, lebih dari lega malahan, karena akhirnya gadis itu menyerahkan dirinya. Seingatnya, ini hari paling bahagia dalam delapan tahun terakhir, selain berhasil mempersunting Airish tentu saja. "Jam berapa?" Airish memaksakan diri. membuka mata, meski rasanya seolah lem seember tumpah dan merapatkan kelopak bawah dan atas matanya. Ngantul tingkat dewa. Biasanya dia dengan cepat bangun dan segera pergi ketika Alvaro lebih duluan bangun. Tapi kali ini, rasanya dia ingin kembali tidur ... bersama Alvaro. "Sembilan!" Sedikit keras Alvaro mengatakamnya. "Aku telat ke kampus!" Gadis itu langsung bangun begitu saja. Matanya mengerjab dan mencari kesadaran yang sempat h

