Pagi hari kembali menyambut sepasang suami istri. Sang istri yang saat ini tengah bersiap di kamarnya untuk berangkat kerja. Sedangkan sang suami? Sang suami nampak ada di dapur saat ini. Tentu saja untuk membuat sarapan. Mereka adalah Arcel dan Kaila.
Padahal tadi Kaila sudah melarang Arcel untuk membuat sarapan, karena dirinya saja yang membuat sarapan, Tapi suaminya itu malah tak mau dan mengatakan jika dirinya saja yang membuat sarapan. Apalagi alasannya yang lain sungguh membuatnya malu. Arcel mengatakan jika dirinya pasti sangat lelah akibat kegiatan mereka yang semalam.
Mau tak mau Kaila akhirnya pasrah membiarkan Arcel melakukan hal itu. Kaila telah selesai bersiap-siap. Setelah mengenakan make up tipisnya, ia pun segera keluar dari kamar.
Saat ia berjalan mendekati meja makan, ia melihat sang suami yang baru saja habis menaruh semua nampan di atas meja.
"Hai, kau sudah selesai bersiap?" sapa Arcel dengan senyuman lebar.
Kaila menganggukkan kepalanya pelan.
"Iyah. Apa kau akan berangkat ke kampus hari ini?" tanya Kaila sambil duduk di kursi.
Arcel menganggukkan kepalanya. "Iyah! Aku punya beberapa kelas nanti. Ayp kita sarapan," jawab Arcel
Kaila mengangguk sekali. Ia pun segera memakan makanan yang dibuat oleh Arcel. Seperti biasa, ia akan sangat menyukai masakan buatan suaminya itu.
Selepas sarapan, Arcel pergi mengantar Kaila menuju ke tempat kerja. Lagi dan lagi Arcel yang memaksanya. Sebenarnya Kaila tak ingin Arcel mengantarnya. Karena ia tak mau merepotkan Arcel. Meskipun Arcel adalah suaminya sendiri.
"Kau hati-hati di jalan yah. Jangan lupa makan siang," ucap Kaila saat keduanya telah sampai di depan Skylight Group.
Arcel menganggukkan kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya pada Kaila dan mencium dengan pelan kening istrinya itu.
"Iyah, kau juga yah. Jangan lupa makan siang. Oh ya, jika mereka datang, kau harus menelponku yah. Apalagi jika mereka memintamu untuk datang," jelas Arcel sambil mengelus dengan pelan rambut Kaila.
Kaila menganggukkan kepalanya pelan.
"Tentu. Kau tenang saja akan hal itu. Aku bisa mengatasinya," timpal Kaila
Arcel tersenyum tipis. Ia menangkupkan wajah Kaila dengan kedua tangannya.
"Iyah, istriku ini emang sangat kuat. Tentu saja aku mempercayaimu," balas Arcel
"Ya udah, kau pergi sana. Yang ada para mahasiswa itu akan kesal karena belum melihat dosen tampannya ini," ujar Kaila
Arcel terkekeh pelan. "Iyah, aku pergi dulu yah. Sampai jumpa," ucap Arcel sambil melambaikan tangannya pada Kaila.
"Hati-hati!" sahut Kaila sambil melambaikan tangannya pada Arcel juga.
Setelah mobil yang membawa Arcel sudah menghilang dari pandangannya, Kaila pun segera masuk ke dalam Skylight Group. Saat ia sudah duduk di kursinya, nampak seorang karyawan menghampirinya. Ia adalah teman Kaila selama di sini, Alecia Patricia.
"Hai, kawan. Sepertinya kau sangat senang saat ini. Oh, aku tau. Pasti karena kau habis diantar oleh suami tercintamu itu kan," celetuk Alecia dengan senyum yang menggoda Kaila.
Kaila langsung saja terkejut dengan perkataan Alecia. "Ihh, Al. Kau ini sangat suka menggodaku," keluh Kaila dengan pipi yang ia gembungkan.
Alecia langsung terkekeh pelan melihat Kaila yang jadi salah tingkah. "Uhh, kau ini emang lucu yah. Aku enggak tau jika kau adalah wanita yang sudah berumur dua puluh tahun lebih jika sikapmu seperti ini," timpal Alecia
"Sudahlah! Sebaiknya kita kerja aja saat ini. Kau enggak mau kan Tuan Alfred malah datang dan menegur kita," balas Kaila
"Iyah, kau benar juga. Sebaiknya kita segera bekerja," ujar Alecia seraya kembali ke meja kerjanya.
Kaila menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Alecia yang selalu menggodanya. Di perusahaan itu, ia tak dapat berteman dengan banyak karyawan, hanya bersama Alecia ia bisa bebas berekspresi.
***
"Arcel! Arcel tunggu! Arcelio Xavier!"
Arcel menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah Tony yang sedari tadi memanggil namanya. Jika sahabat sekaligus dokter pribadinya itu memanggilnya dengan nama lengkapnya, pastinya pria itu sudah marah dengannya.
"Ada apa lagi? Kalau kau hanya mau mengatakan hal yang sama, maaf saja aku enggak akan mendengarkannya lagi. Sudah cukup Tony," tukas Arcel dengan tatapan serius.
Tony menghela napas kasar. Ia sudah menjelaskannya dengan sangat baik. Tapi sahabatnya itu tak mau mengerti dengan apa yang ia katakan.
"Arcel, kau tau sendiri kan aku mengatakan semua ini untukmu. Aku ini sangat mengkhawatirkanmu tau. Kau tau sendiri bagaimana kondisi tubuhmu saat ini. Tapi kau terlalu memaksakan keadaan. Kau Itu enggak kuat lagi kayak dulu, Arcel," protes Tony dengan wajah yang mulai emosi.
"Aku tau bagaimana kondisi tubuhku saat ini. Tapi aku akan berusaha untuk tetap bertahan. Aku enggak meninggalkan Kaila. Kami baru saja akan memulai hidup bahagia bersama," jelas Arcel sambil berdiri di atas balkon kamarnya.
Tapi itu bukanlah kamarnya yang ada di apartemennya bersama Kaila. Melainkan rumah Arcel yang sebenarnya. Rumah tempat dimensinya yang sebenarnya.
Iyah, tadi ia hampir sempat pingsan saat ia hampir memasuki kampus. Untung saja Tony ada di sana untuk membantunya dan membawa pria itu balik ke dimensi yang sebenarnya.
"Kau sudah terlalu banyak membantu Kaila, Arcel. Tapi kau sama sekali enggak memikirkan dirimu sendiri. Kau sudah menyerahkan kekuatanmu pada Kaila," geram Tony
Arcel menatap tajam pada Tony. Ia membalikkan tubuhnya menatap pria itu.
"Yang aku lakukan enggak salah. Aku melakukan itu untuk menyelamatkannya. Lagipula aku sudah pernah diselamatkan bukan? Bahkan nyawaku sekalipun akan aku berikan pada istriku. Aku sangat mencintainya," jelas Arcel dengan tatapan serius.
Tony kembali menghela napas kasar.
"Kau tau kan waktumu enggak bisa terlalu lama ada di sana. Kita berbeda dimensi Arcel. Jika saja kau masih memiliki kekuatanmu itu, kau tak akan mengalami hal ini. Kau tau kan, jika kau terus ada di sana, nyawamu akan terancam," tegas Tony
Arcel mengeraskan rahangnya. "Aku udah bilang, kalau aku enggak peduli dengan nyawaku demi bersama dengan Kaila. Aku sangat mencintainya, Tony. Aku enggak bisa meninggalkannya. Kaila pasti akan sedih saat aku enggak ada. Aku enggak bisa Tony. Kau tentu bisa menolongku bukan, kau bisa membuatku tetap bersama dengan Kaila," pinta Arcel dengan tatapan memohon.
Tony jadi memandang sendu pada sahabatnya itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Maaf Arcel. Untuk hal ini aku enggak bisa. Aku emang seorang dokter, tapi aku enggak bisa melakukan hal ini. Kau sudah memberikan kekuatan itu pada Kaila. Jadi kau enggak akan bisa sebebas dulu. Lagipula, kita memang berasal dari dimensi lain. Kita berada di masa depan. Pada akhirnya kau harus siap untuk berpisah dengan Kaila. Karena ini kenyataannya dan ini sudah aturannya," papar Tony memegang kedua bahu Arcel untuk membuat sahabatnya itu mengerti.
Seketika Arcel melepaskan pegangan tangan Tony pada kedua bahunya.
"Aku sudah beberapa kali bilang hal ini padamu, Tony. Aku tau kau lebih dewasa dariku. Aku tau kau yang paling tau tentang kondisiku. Tapi maaf saja, aku akan langgar semua aturan itu demi bersama dengan Kaila. Aku pergi," timpal Arcel dengan nada serius seraya berlalu dari hadapan Tony.
"Arcel! Arcel!" teriak Tony memanggil sahabatnya itu, namun Arcel sama sekali tak menggubris panggilan itu.
Bantingan pintu yang keras membuat Tony tahu jika sahabatnya itu sangat marah saat ini. Tony menghela napas kasar seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku sungguh enggak mengerti dengan jalan pikiranmu, Arcel. Padahal aku melakukan semua ini untukmu. Kau tak pernah mengerti dengan apa yang aku katakan padamu. Haihh, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mengerti? Dari awal aku sudah memberitahukan padamu jika tak ada masa depan antara dirimu dan Kaila," gumam Tony dengan wajah yang frustrasi.
***
Arcel baru saja sampai di depan perusahaan Skylight Group. Ia sudah menghubungi Kaila kalau dirinya akan menjemput wanita itu pulang. Ia melihat ke arah arlojinya yang menunjukkan pukul lima sore.
Arcel berjalan keluar dari mobil. Baru saja ia menyandarkan tubuhnya pada mobilnya itu, sosok istrinya sudah muncul di hadapannya saat ini.
Tatapan Kaila langsung berbinar ketika melihat sang suami yang menjemputnya. Sungguh, ia merasa sangat spesial. Dengan cepat ia berjalan menghampiri sang suami.
"Arcel! Kau sudah lama nunggu yah?" tanya Kaila saat ia berhenti di depan Arcel.
Arcel menggelengkan kepalanya dengan pelan seraya tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh Kaila dengan erat.
"Aku baru saja sampai kok. Aku kangen denganmu tau," jawab Arcel
Kaila terkekeh pelan. "Aku juga merindukanmu tau. Udah ah, malu nanti ada yang liatin," timpal Kaila seraya mendorong tubuh Arcel dengan pelan.
Arcel ikutan terkekeh pelan. "Kita suami istri tau. Untuk apa malu diliatin oleh orang? Yang ada orang akan iri melihat kemesraan kita," balas Arcel
Kaila mengulum senyum malu. Arcel jadi gemas melihat Kaila yang malu terhadapnya. Persis seperti saat mereka dulu berpacaran.
"Hmm, mau makan es krim denganku enggak?" ajak Arcel dengan alis yang ia naik turunkan.
Tatapan Kaila langsung berubah penuh kebinaran. Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Tentu saja aku mau. Aku juga udah lama enggak makan es krim. Kapan yah terakhir kalinya? Hmm, aku lupa deh," jawab Kaila dengan wajah yang seperti berpikir.
Arcel tersenyum lebar. "Nanti saja kau memikirkan semua itu. Ayo kita pergi," timpal Arcel sambil menarik tangan Kaila menuju ke mobil.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Arcel baru menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan Skylight Group. Selama di perjalanan, Kaila melontarkan banyak cerita pada Arcel tentang kerjanya.
"Jadi kau hanya punya satu teman saja di sana?" tanya Arcel menatap sekilas pada Kaila.
Kaila menganggukkan kepalanya pelan.
"Bukan satu sih, tapo lumayan banyak. Hanya saja yang membuat aku nyaman cuma Alecia saja. Walaupun aku lebih nyaman lagi bersama dengan Davira," jelas Kaila dengan senyuman lebar.
"Hmm, kalau denganku bagaimana? Apakah aku lebih nyaman dari Davira?" tanya Arcel
Kaila agak diam membeo saat pertanyaan itu terlontar. Ia jadi terkekeh pelan.
"Tentu saja denganmu aku merasa lebih nyaman. Bukan hanya nyaman, melainkan aku merasa aman berada di dekatmu. Kau kan suamiku," papar Kaila dengan senyum lebar.
Arcel mengelus dengan pelan rambut Kaila. Kata-kata Kaila membuatnya agak semangat saat ini. Ia jadi melupakan pembicaraannya dengan Tony tadi.
Aku benar-benar akan melanggar peraturan demi Kaila ~ batin Arcel dengan tatap serius.
To be continued....