Tubuh Kaila dengan cepat diangkat ala bridal style oleh Arcel.
"Ahh, Arcel!" pekik Kaila yang cukup terkejut dengan tubuhnya yang tiba-tiba terangkat.
Arcel terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut dari istrinya itu. Ia mengecup pipi Kaila dengan pelan.
"Istriku ini lucu yah," ucap Arcel
Setelah mengatakan itu, Arcel berjalan menaiki tangga menuju ke dalam kamar mereka. Dengan pelan ia menurunkan tubuh Kaila ke atas ranjang. Keduanya saling tatap dengan gairah yang mereka miliki.
Arcel mengelus dengan lembut wajah istrinya itu. "Kau sangat cantik, sayang. Aku mencintaimu," ucap Arcel dengan suara yang rendah.
"Aku juga mencintaimu, Arcel. Sangat," balas Kaila dengan senyum tipis.
Arcel tersenyum lebar mendengar hal itu. Dengan cepat ia mendaratkan bibirnya pada bibir Kaila. Kaila agak terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu. Ia pun mengimbangi kecepatan bibir Arcel yang dengan lihai melumat bibir tipisnya itu.
Arcel menuntun kedua tangan Kaila untuk dikalungkan pada lehernya. Kaila pun mengusak rambut Arcel dengan tak beraturan untuk melampiaskan hasrat yang ia terima.
"Hmm, Arcel!" lirih Kaila saat lidah Arcel menelusup masuk ke dalam mulutnya.
Arcel mengabsen tiap sudut rongga mulut Kaila yang hangat. Hingga saat pasokan udara itu habis, ciuman antara keduanya pun terlepas. Benang saliva terlihat saat bibir mereka terlepas. Napas terengah dari keduanya saling bersahutan.
"Kemampuanmu semakin meningkat saja," ucap Arcel dengan nada rendah sambil tersenyum menggoda pada Kaila.
Kaila langsung mengulum senyum malu setelah Arcel mengatakan hal itu. "Bukankah kau yang mengajarkan istrimu ini selalu?" timpal Kaila dengan senyum yang menggoda Arcel balik.
Arcel langsung mengeluarkan smirk-nya atas godaan balik itu. "Biarkan aku mengajarkanmu hal yang lainnya yah sayangku," tutur Arcel seraya memajukan kembali kepalanya pada Kaila.
"Ahh, Arcel! Geli tau!" pekik Kaila saat Arcel malah menelunsupkan kepalanya ke dalam ceruk lehernya.
Arcel meniup dengan pelan telinga Kaila hingga membuat wanita itu langsung bergelinjang.
"Ahh!"
Arcel terkekeh pelan melihat reaksi dari Kaila. Ia kembali pada leher putih yang jenjang itu. Arcel mengecupnya dengan perlahan. Kaila semakin terangsang ketika bibir hangat itu mencium lehernya.
Arcel mengecup leher itu berulang kali. Bukan hanya mengecupnya. Bahkan ia menjilat leher putih itu. Hingga ia mengigitnya, meninggalkan bekas kemerahan di leher Kaila.
Leher Kaila yang sangat putih, membuat bekas kissmark itu nampak kontras.
"You're mine, baby," lirih Arcel
Kaila bergelinjang di tempatnya. "Hmm, yes. I'm yours!" ucap Kaila dengan mata yang tertutup karena kenikmatan.
Arcel menatap penuh puja pada istrinya itu. Ia menundukkan kepalanya dan mengecup bagian d**a yang terlihat menyembul itu.
"Hmm, Arcel!" pekik Kaila saat bibir yang dingin itu tiba-tiba menyentuh bagian dadanya.
Arcel menarik kaus yang dipakai oleh Kaila hingga terpampanglah dua buah d**a yang masih terbungkus oleh bra hitam itu. Kaila menundukkan wajahnya karena malu. Bahkan wajahnya saat ini terlihat memerah karena rasa malunya.
Melihat hal itu membutuhkan Arcel tersenyum lebar seraya terkekeh pelan.
"Kenapa menundukkan wajahmu sayang?" tanya Arcel seraya mengangkat perlahan wajah Kaila agar menatap padanya.
Kaila mengulum senyum malu. "Aku hanya malu saja," cicit Kaila sambil mengusap dengan pelan bagian d**a Arcel.
Arcel mengelus dengan pelan wajah cantik istrinya itu. "Untuk apa malu, hmm? Kita sudah sering melakukannya bukan? Harusnya kau udah terbiasa dengan hal ini," timpal Arcel dengan nada lembut.
Kaila menganggukkan kepalanya dengan lucu. "I-Iya, kau benar juga. Hmm, aku ingin mengusap perutmu itu," pinta Kaila dengan kerjapan mata yang lucu.
Arcel menganggukkan kepalanya. Sekali gerakan ia membuka kaus yang ia kenakan dan terlihatlah perut yang kuat itu hingga terbentuk enam kotak di sana. Arcel meraih tangan Kaila dan mengarahkannya pada perutnya itu.
"Kau sangat menyukai perutku ini yah, hmm?" tanya Arcel
Kaila menganggukkan kepalanya pelan. Ia bangkit dari tidurnya, ia menundukkan kepalanya dan mencium dengan pelan bagian perut keras itu.
"H-Hmm, Kaila," lirih Arcel yang langsung merasa terangsang hanya karena sebuah kecupan ringan di perutnya itu.
Kaila jadi terkekeh pelan karena melihat Arcel yang nampak kesenangan dengan apa yang ia lakukan. Ia jadi semakin gencar untuk menggoda suaminya itu. Karena biasanya Arcel yang akan menggodanya setiap hari.
Kaila semakin gencar mencium perut rata itu. Ia bahkan menggigit kecil bagian perut itu. Bukan hanya itu saja, ia duduk di atas paha Arcel dan mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya itu. Ia memiringkan kepalanya dan mengecup pelan leher itu.
"H-Hmm, K-Kai. I-Ituuu...."
Wajah Arcel bahkan saat ini menjadi merah karena hasratnya itu. Kaila melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Arcel tadi. Menjilat dan membuat tanda kissmark di leher suaminya itu.
Arcel membuka matanya dan melihat sang istri yang tersenyum lebar padanya. Dengan cepat ia membaringkan tubuh Kaila kembali ke atas ranjang.
"Kau memang sudah sangat berbakat sayang. Aku bangga padamu. Kau bisa melakukannya sendiri. Nah, sekarang biar suamimu ini yang bertindak yah," jelas Arcel
Kaila menganggukkan kepalanya.
Arcel membuka kaitan bra pada Kaila. Hingga dua buah d**a itu nampak mengkal di depannya. Membuat Arcel tak sabar untuk merasakannya. Ia pun langsung menundukkan wajahnya dan mulai merasakan kelembutan itu.
Kaila bergelinjang hebat di tempatnya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas karena rasa nikmat itu. Hingga keduanya akhirnya melepaskan seluruh pakaian di tubuh mereka. Tubuh polos keduanya saling terlihat, hingga hawa panas menyelubungi keduanya malam itu.
Erangan dan desahan saling bersahutan antara keduanya. Lenguhan indah dari Kaila membuat Arcel semakin membuatnya dirinya sangat terangsang. Ia kembali mencium bibir Kaila dengan menggebu. Membuat Kaila jadi harus bisa mengimbangi permainan bibir Arcel.
Sekitar dua jam, permainan panas itu akhirnya selesai juga. Saat ini keduanya sedang berendam di dalam bath up. Kaila menyandarkan tubuhnya di d**a Arcel.
"Apa kau lelah sayang?" tanya Arcel mencium bahu Kaila dengan pelan.
Kaila menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak terlalu kok. Aku seneng sih melakukan hal ini denganmu. Aku ingin segera memiliki seorang anak denganmu," jelas Kaila dengan senyuman lebar.
Arcel jadi ikutan tersenyum lebar. "Iyah, kau benar juga. Aku ingin sekali melihat anak kita nanti. Tapi aku enggak memaksamu melakukan itu semua. Biarlah semuanya berjalan dengan semestinya yah," timpal Arcel mengelus dengan pelan kepala istrinya itu.
Kaila menganggukkan kepalanya pelan.
"Iyah, kau benar juga. Oh ya, apa kau mau anak laki-laki atau anak perempuan?" tanya Kaila melirik ke arah Arcel.
Arcel seperti berpikir sejenak. "Hmm, aku sih apa-apa aja. Yang penting dia anak kita bukan?" timpal Arcel kembali melirik ke arah Kaila.
Kaila tersenyum lebar. "Iyah! Aku sependapat denganmu. Membicarakan tentang anak, aku jadi agak kepikiran dengan anak yang beberapa waktu lalu aku temui," balas Kaila dengan wajah yang nampak berpikir.
Arcel lang menautkan kedua alisnya. "Hm? Anak kecil mana?" tanya Arcel dengan wajah bingung.
"Itu loh anak kecil yang pernah aku ceritakan padamu. Anak kecil itu pernah aku temui lagi beberapa hari sebelum kita menikah. Tempatnya sama lagi saat aku masuk ke kamar mandi," ungkap Kaila
Wajah Arcel nampak menegang saat mendengar penjelasan dari Kaila. Namun, dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya itu agar Kaila tak curiga padanya.
"E-Ehm, apa sekarang ini kau sering ketemu dengannya?" tanya Arcel dengan hati-hati.
Kaila langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak lagi tuh. Aku udah enggak pernah lagi bertemu dengan anak itu. Awalnya sih aku agak terkejut dengan anak kecil itu, tapi entah mengapa setelah tak bertemu dengannya lagi, aku jadi merindukannya. Aku jadi ingin sekali kembali bertemu dengan anak kecil itu," papar Kaila yang merubah wajahnya menjadi sendu.
Arcel mengusap dengan pelan.
"Enggak apa-apa sayang. Kalau emang udah takdir, kalian pasti akan bertemu kembali. Kau jangan terlalu memikirkannya yah," timpal Arcel
Kaila hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Sehabis membersihkan tubuhnya, Arcel dan Kaila langsung keluar dari kamar mandi. Arcel menggendong tubuh Kaila ala bridal style. Itu semua ia lakukan karena tubuh Kaila yang agak lelah saat bermain dengannya di ranjang.
Walaupun Kaila mengatakan jika dirinya tak lelah sama sekali, ia tahu jika istrinya itu pasti lelah. Bagaimana tidak, lima ronde mereka mainkan. Hasrat dirinya yang sangat besar membuat dirinya menghajar Kaila habis-habisan. Kaila pun seperti pasrah dengan apa yang ia lakukan.
Arcel mendudukkan Kaila di atas ranjang.
"Aku akan mengambilkan pakaian untukmu," ucap Arcel seraya berlalu.
Namun, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Kaila. "Bi-Biar aku aja yang mengganti bajuku sendiri. Kau ganti saja bajumu sendiri," tahan Kaila
Terlihat wajah yang bersemu pada istrinya itu. Hal itu membuat Arcel terkekeh pelan.
"Kau enggak perlu malu, sayang. Kau lupa yah siapa yang mengganti bajumu saat kau kehujanan waktu itu?" tanya Arcel dengan senyum yang menggoda.
Kaila langsung jadi salah tingkah.
"Ihh, udah ah. Cepet ambil baju tidurku," protes Kaila sambil mengalihkan pandangannya.
Arcel kembali terkekeh. Ia pun kembali beranjak untuk mengambil baju tidur istrinya itu. Setelah ia mengenakan baju tidur untuk dirinya, ia baru membantu Kaila untuk menggunakan pakaian tidur itu. Kaila agak canggung saat suaminya itu membantunya mengenakan baju tidurnya.
Walaupun Arcel sudah pernah melakukannya, tapi itu kan saat dirinya tak sadarkan diri.
"Nah, udah selesai! Sekarang kita tidur yah. Besok kau harus berangkat kerja bukan?" timpal Arcel
Kaila menganggukkan kepalanya pelan. Saat Arcel berbaring di atas ranjang, dengan cepat Kaila menelunsupkan kepalanya di d**a Arfel. Mencari kehangatan di sana. Arcel pun dengan senang hati untuk memeluk dengan erat istrinya itu.
"Aku mencintaimu, Arcel. Jangan pernah tinggalkan aku yah," celetuk Kaila dengan nada pelan.
Arcel tersenyum tipis. "Aku juga sangat mencintaimu, sayang," balas Arcel
Jujur, saat ini ia tak tahu harus menjawab apa atas permintaan terakhir dari istrinya itu. Apalagi saat mengingat pembicaraannya dengan Tony beberapa hari yang lalu.
Maafkan aku, sayang. Aku akan usahakan untuk memenuhi permintaanmu yang itu ~ batin Arcel
To be continued....