Seorang pria tengah berjalan pada sebuah lorong. Wajahnya nampak sangat datar tapi di dalam hatinya menampilkan kebahagiaan atas keberhasilan rencananya. Dialah Tony, yang baru saja pulang sehabis melakukan kegemparan di Gajendra Group.
Ia membuka pintu ruangan CEO Skylight Group, saat ia masuk terlihatlah sosok Arcel yang tengah berdiri pada sebuah kaca yang besar. Wajahnya nampak sedang memikirkan sesuatu.
Tony mendekati sang sahabat lalu menepuk pelan bahunya itu. "Arcel?" panggil Tony
Arcel nampak terkesiap di tempatnya kala sebuah tepukan pada bahunya. Ia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Tony.
"Oh, Tony? Kau sudah kembali. Bagaimana hasilnya?" tanya Arcel
Tony menampilkan smirk yang lebar.
"Kau sepertinya tak perlu menanyakan hal itu deh. Seharusnya kau sudah tau bagaimana hasil akhirnya. Boom! Satu perusahaan itu sangat gempar ketika aku datang menyampaikan berita itu," jelas Tony
Arcel menganggukkan kepalanya paham. Senyum miring tercetak di wajahnya. Ia kembali menatap ke arah kaca besar itu.
"Itu bagus. Biar dia merasakan bagaimana hancurnya apa yang dia miliki. Siapa suruh mereka berani-beraninya mengganggu istriku. Pake kirim teror segala lagi. Aku enggak akan mengampuni hal itu," desis Arcel dengan tatapan tajam.
Tony mengangguk setuju atas apa yang dikatakan oleh Arcel.
"Apa yang kau lakukan itu sudah benar. Orang itu emang pantas mendapatkan ini semua. Hmm, sepertinya aku tau apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Tony
Arcel terdiam sejenak. "Aku sudah memikirkan cara selanjutnya. Aku jamin mereka enggak akan aku kasih ampun setelah ini. Jangan berpikir setelah ini mereka akan bebas," jawab Arcel dengan senyum misterius.
Tony terkekeh pelan. "Aku memang sudah menduga hal ini. Seorang Arcelio Xavier tak akan mungkin membiarkan musuhnya lepas. Haihh, kalau aku jadi mereka pastinya memilih untuk mengubur diriku hidup-hidup saja," timpal Tony
Arcel tersenyum tipis. Itulah sifat asli dari seorang Arcelio Xavier, bukan Arcel Andhra yang nampak sangat baik pada semua orang.
***
"Aku pulang!" ucap Emran dengan wajah lesu saat memasuki rumahnya.
Wajahnya nampak sangat ditekuk karena masalah yang terjadi di perusahaannya. Hah? Perusahaannya? Apa sekarang ia bisa menyebut Gajendra Group sebagai perusahaannya lagi setelah berita pengakuisisian oleh Skylight Group itu?
"Papa udah pulang ternyata. Lelah yah?" sapa Devi menghampiri sang suami.
Emran menghela napas kasar. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia berjalan masuk ke dalam ruang tengah rumahnya.
Devi memandang bingung pada suaminya itu. Seperti ada masalah yang terjadi. Segera ia berjalan menyusulnya. Devi duduk di samping Emran dan memandangi sang suami yang memijat keningnya.
"Ada apa Pa? Kenapa Papa seperti banyak masalah gini?" tanya Devi
Emran bingung apakah ia harus menjelaskan perihal yang terjadi sebenarnya. Baru saja ia akan membuka mulutnya untuk mengatakan yang sebenarnya, tiba-tiba saja bel rumahnya dibunyikan.
"Eh? Ada tamu kah? Biar Mama bukain dulu," ucap Devi seraya bangkit dari duduknya untuk membuka pintu.
Ia agak terkejut kala melihat banyak orang di depannya.
"Maaf ini siapa yah?" tanya Devi dengan wajah bingung.
"Kami dari pihak bank ingin bertemu dengan Tuan Gajendra. Apa Tuan Gajendra ada di rumah saat ini?" tanyanya
Devi mengangguk dengan kaku. "Tentu. Suami saya ada di rumah saat ini. Tapi ada hal apa yah?" tanya Devi yang terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kami ingin menyita rumah ini karena Tuan Gajendra sudah menunggak peminjaman bank selama tiga bulan ini. Rumah ini harus dikosongkan paling lambat dua hari lagi," jelas pihak bank itu.
Sontak Devi melebarkan matanya atas apa yang telah ia dengar. Ia tak salah dengar bukan?
"A-Apa?! I-Ini enggak mungkin bukan? Suami saya enggak mungkin menunggak selama tiga bulan ini. Pasti ada kesalahan," sanggah Devi dengan tatapan tak percaya.
"Ini benar Nyonya. Silahkan saja lihat surat perintah ini," ujarnya kembali seraya memberikan beberapa surat pada Devi.
Devi segera melihat isi surat itu dan membacanya. Ia kembali terkejut saat yang ia baca ternyata benar jika suaminya itu telah menunggak selama tiga bulan.
"Papa! Papa!" teriak Devi dengan rasa kesalnya.
Emran segera menghampiri sang istri saat mendengar suara teriakan itu.
"Ada apa Ma? Apa yang terjadi?" tanya Emran
"Pa, kenapa Papa menunggak selama tiga bulan pembayaran bank? Papa tau enggak, rumah kita akan disita oleh pihak bank," geram Devi dengan tatapan emosi.
Emran langsung menatapnya dengan tatapan terkejut. "Pak, tolong kasih saya keringanan untuk membayar semuanya. Pasti saya akan melunasinya," ujar Emran pada pihak bank itu.
"Tidak bisa Tuan. Ini sudah ketentuan dari pihak bank. Kami akan datang ke sini lagi dalam dua bulan. Jika rumah ini belum dikosongkan juga, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan. Permisi!"
"Enggak! Mama enggak mau pergi dari rumah ini. Ini rumah kita, Pa. Papa harus cari cara agar rumah kita enggak akan disita," murka Devi
"Iyah, iyah. Papa pasti akan cari cara. Mama yang tenang yah," ujar Emran menenangkan sang istri.
"Apa?! Rumah kita akan disita?!" pekik Dianti yang menuruni tangga dengan wajah yang terkejut.
"Pa, Ma. Itu enggak mungkin kan? Enggak mungkin rumah kita akan disita. Kalau rumah ini disita, di mana kita akan tinggal?" tanya Dianti dengan wajah panik.
"Kita harus cari bantuan untuk masalah ini," sahut Emran
"Emang pada siapa kita bisa minta tolong?" tanya Devi
***
Sebuah mobil berhenti di area parkiran sebuah gedung apartemen. Tak lama kemudian, keluarlah sosok Arcel dari dalam mobil. Di tangannya terdapat sebuah kotak berwarna merah muda dan sebuah buket bunga mawar merah yang segar.
Ia memasuki apartemennya dengan senyum yang lebar.
"Sayang, aku kembali!" teriak Arcel saat ia masuk ke dalam apartemen.
Kaila yang ada di dapur segera berjalan keluar dari sana saat mendengar suara sang suami.
"Arcel? Kau udah pulang. Apa yang kau bawa di belakang tubuhmu?" tanya Kaila yang nampak penasaran.
"Aku membawakanmu ini," ucap Arcel sambil menunjukkan apa yang ia bawa.
Kaila nampak terkejut dengan apa yang dibawa oleh Arcel. "Wah, kenapa kau membawakan aku bunga?" tanya Kaila dengan wajah bingung.
"Hm? Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah hal yang wajar jika pria memberikan bunga pada seorang wanita yang ia sayangi?" timpal Arcel
"Tapi aku enggak pernah menerima bunga. Bahkan saat aku berpacaran dengan Irsyad pun, dia enggak pernah memberikannya," jelas Kaila
"Apa kau enggak suka dengan hal ini?" tanya Arcel dengan wajah sendu.
Kaila dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan kayak gitu kok. Aku sangat menyukai hal ini. Aku sering melihat seorang pria yang memberikan bunga pada wanita. Aku jadi ingin seperti itu. Tapi Irsyad tak pernah mau melakukannya. Ia bahkan mengatakan jika itu adalah hal yang norak," ungkap Kaila dengan tatapan sendu.
Arcel tiba-tiba memeluk Kaila dengan erat.
"Aku akan tetap melakukan banyak hal romantis padamu. Aku bakal melakukan semua yang akan membuat istriku ini semakin mencintaiku," timpal Arcel dengan senyum lebar.
Kaila mengangguk dengan lucu. "Iyah! Aku pasti akan menantikan hal itu. Oh ya, aku udah buatkan makan malam untuk kita. Aku buatkan spesial untukmu. Ayo," ajak Kaila seraya menarik tangan Arcel menuju meja makan.
Arcel memandang penuh kagum pada makanan yang ada di atas meja.
"Wah, makanannya sangat banyak. Apa kau yang membuat semua ini sayang?" tanya Arcel
Kaila terkekeh pelan. "Mestilah. Ini semua aku yang buat. Aku udah bilang kan kalau ini khusus untukmu," timpal Kaila dengan senyum lebar.
Kaila membuka kotak yang dibawa oleh Arcel dan meletakkannya di tengah-tengah meja makan. Setelahnya, ia mengajak Arcel untuk duduk di meja makan.
"Selamat makan!"
Keduanya langsung memulai makanan mereka itu.
"Bagaimana rasanya? Apa kau menyukainya?" tanya Kaila
Arcel menganggukkan kepalanya. "Tentu saja! Ini benar-benar sangat enak tau. Kalau kayak gini kau lebih cocok jadi seorang Chef aja daripada seorang desainer," timpal Arcel
Kaila mengulum senyum malu. Mereka kembali melanjutkan memakan makanan mereka.
***
Suara ponsel yang berdering, membuat Kaila yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya langsung saja mengambil ponselnya itu. Ia melihat nama 'Mama' di sana. Awalnya ia ragu untuk menjawab panggilan itu. Karena ia berpikir jika orang tua angkatnya itu pasti akan menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama kembali.
Namun, ponselnya itu terus berdering. Membuat Kaila akhirnya mengambil ponsel itu dan menjawabnya.
"Halo, Ma. Ada apa?" tanya Kaila
Ia masih memanggil orang tua angkatnya itu dengan sebutan seperti biasa karena ia masih punya etika untuk tak melupakan apa yang telah mereka lakukan selama ini.
["Halo Kaila. Kamu lagi di mana Nak?" tanya Devi]
"Aku ada di apartemen saat ini. Ada apa?" tanya Kaila kembali.
["Begini, Mama dan Papa ingin bertemu denganmu saat ini. Apakah bisa?" tanya Devi]
Kaila menghela napas kasar. "Kalau Papa dan Mama hanya ingin membicarakan hal yang sama, maaf saja. Aku enggak akan melakukannya," tolak Kaila
["Bukan kok, Kaila. Ini benar-benar sangat penting. Kami butuh bantuan darimu untuk melakukannya," sanggah Devi]
"Aku enggak akan bisa keluar saat ini karena Arcel tak akan mengizinkanku keluar dari apartemen malam-malam begini," timpal Kaila
["Bagaimana kalau kami datang ke apartemen kalian saja?" tanya Dianti]
Kaila melirik ke arah Arcel yang sedari tadi ada di sampingnya. Ia menanyakan pada Arcel lewat sebuah isyarat mata. Arcel pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya deh, Ma. Kalian datang saja ke sini. Aku akan menunggu," ujar Kaila
["Terima kasih yah, Kaila. Papa dan Mama akan ke sana sekarang," ucap Dianti]
Kaila menutup panggilan itu dan kembali menatap ke arah Arcel.
"Menurutmu, untuk apa mereka datang ke sini? Apa mungkin mereka akan memintaku melakukan hal itu kembali?" tanya Kaila dengan wajah yang bingung.
Arcel merangkul bahu istrinya itu dan menyandarkannya pada bahunya.
"Kita tunggu dan lihat saja, kenapa mereka datang ke sini. Yang pasti, mereka tak akan bisa memaksamu lagi. Karena ada aku di sini," timpal Arcel
Kaila menganggukkan kepalanya pelan.
To be continued....