Ini adalah part yang sebenarnya dari part 67 karena yang part 67 salah publish.
Pembalasan
"Apakah kau akan pergi sekarang?" tanya Kaila pada Arcel.
Arcel yang baru saja habis memakai jaketnya langsung melihat ke arah istrinya itu. "Iya, aku akan pergi sekarang. Maaf yah sayang, aku harus meninggalkanmu sebentar. Aku enggak akan lama kok, hanya mengantarkan berkas soal ini pada Rektor," jelas Arcel sambil mengelus kepala Kaila dengan lembut.
Kaila menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Iya, enggak apa-apa kok. Kau hati-hati di jalan yah," timpal Kaila dengan senyuman lebar.
"Oh ya, aku sudah menelepon Davira untuk datang ke sini dan menemanimu," ujar Arcel
Kaila menganggukkan kepalanya kembali. "Okey, kabari aku jika urusanmu telah selesai yah," balas Kaila
Arcel pun menganggukkan kepalanya. Ia mencium dahi Kaila lalu beranjak keluar dari apartemennya itu.
Sekitar lima menit Arcel pergi dari apartemen, bel pintu apartemen terdengar. Kaila yang sedang berada di ruang tengah segera menghampiri pintu depan. Saat ia membuka pintu apartemen sosok Davira muncul di hadapannya.
"Wah, akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu dari tadi," sapa Kaila
Davira terkekeh pelan. "Aku disuruh ke sini oleh kak Arcel," ucap Davira
"Iya, aku tahu kok. Ayo masuk," ajak Kaila seraya menarik tangan Davira untuk masuk ke dalam apartemen.
"Wah, apartemen ini sangat besar yah," puji Davira sambil melihat ke sekelilingnya.
"Kau benar! Bahkan apartemen ini jauh lebih besar dari apartemen milikku," timpal Kaila
"Kak Arcel benar-benar kaya yah," puji Davira kembali.
Kaila mengangguk setuju akan hal itu.
Sedangkan di tempat lain, pada sebuah ruangan yang cukup mewah, nampak Arcel dan Tony yang duduk dengan tatapan serius.
"Apa kau sudah melakukan semua yang kupinta?" tanya Arcel
Tony menampilkan senyum miringnya. "Masalah seperti itu sangat kecil Lihatlah ini, tinggal tunggu persetujuan darimu saja," jawab Tony sambil memperlihatkan layar laptopnya.
Arcel pun langsung menampilkan senyum miringnya pula. "Ini sangat bagus! Dengan cara ini mereka akan tau bahwa yang mereka lakukan itu salah. Dan mereka telah salah mencari lawannya," desis Arcel dengan kedua tangan yang ditumpu.
"Terus apalagi yang akan kau lakukan? Bukankah kau tinggal melakukannya saja? Ayolah lakukan, aku juga sudah cukup muak dengan kelakuan orang-orang itu," timpal Tony
"Kau tenang saja. Akan n ada pertunjukan bagus setelah ini," balas Arcel dengan senyum miringnya.
***
"Tuan!" teriak seorang pria yang memasuki sebuah ruangan kerja.
Pria yang tengah fokus pada laptopnya itu langsung melihat ke arah pria yang berteriak tersebut.
"Apa yang kau lakukan Dimas? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanyanya dengan nada protes.
Pria bernama Dimas itu mengatur napasnya yang tersengal. "Beberapa perusahaan membatalkan kerjasamanya dengan kita. Sekarang saham perusahaan kita sangat jatuh ke bawah, bahkan terlalu turun. Bahkan kita saat ini tidak bisa membayar pinjaman bank untuk bulan ini," jelas Dimas dengan wajah panik.
Pria yang di meja kerja itu langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang panik pula.
"Apa?! Kenapa bisa sampai seperti itu? Apa yang terjadi sampai semua perusahaan membatalkan kerjasamanya dengan kita?" tanyanya dengan wajah yang mulai emosi.
Dimas menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Saya juga tidak tahu, Tuan Emran. Tiba-tiba saja hal itu terjadi. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dimas dengan wajah khawatir.
Wajah pria bernama Emran itu semakin panik. Tak lama kemudian sosok pria lainnya muncul dalam ruangan itu.
"Tuan! Saham kita benar-benar anjlok. Keuangan kita juga semakin menipis. Kalau seperti ini terus-terusan, kita benar-benar akan mengalami defisit yang besar," ucapnya
"Sial! Bagaimana ini bisa terjadi begitu cepat?! apa yang terjadi sehingga mereka melakukan ini semua? Kalian berdua tolong hubungi kembali perusahaan yang melakukan pembatalan kerjasama itu. Tanyakan pada mereka, apa yang terjadi sehingga mereka membatalkan kerjasamanya dengan kita. Jika mereka meminta hal yang lebih, langsung kabari padaku," perintah Emran
"Baik Tuan!" ucap keduanya secara bersamaan seraya meninggalkan ruangan itu.
Selepas perginya kedua karyawannya itu, Emran terduduk kembali di kursinya Wajahnya begitu frustasi mendengar apa yang terjadi. Ia tak menyangka jika ini akan terjadi secara bersamaan.
Sekitar sejam kedua pria tadi kembali ke ruangan Emran.
"Bagaimana? Apa yang mereka katakan? Apa mereka membutuhkan sesuatu yang lebih?" tanya Emran
Kedua pria itu saling tatap sejenak sebelum kembali menatap ke arah Emran.
"Maaf Tuan. Mereka tak menjelaskan alasan jelasnya. Mereka hanya mengatakan jika perusahaan mereka tidak akan cocok bekerja sama dengan perusahaan kita, makanya mereka membatalkan semuanya," jelas Dimas
Emran langsung mengacak rambutnya dengan kasar. Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Saham perusahaannya benar-benar sudah anjlok. Ia juga memikirkan bagaimana caranya membayar utang ke bank untuk saat ini.
"Apakah kalian memikirkan cara yang bagus untuk mengatasi semua masalah ini?" tanya Emeran pada dua orang di depannya.
"Bagaimana kalau kita menjual sebagian saham kita pada perusahaan lain? Atau kita meminta suntikan dana pada perusahaan lain?" tawar pria di samping Dimas, Andi.
"Pada perusahaan mana kita harus minta suntikan dana? Lagipula apa mereka mau melakukannya, perusahaan kita sedang mengalami defisit seperti ini?" tanya Emran dengan wajah tak yakin.
"Tuan tenang saja. Saya akan membantu mencarikannya. Jika sudah ketemu, saya akan segera mengabari Tuan kembali," ucap Andi
Emran menganggukkan kepalanya paham. "Baiklah! Aku akan mengikuti saranmu saja. Kabari aku jika kau sudah menemukan perusahaan itu," timpal Emran yang sudah tak memiliki cara lain lagi untuk menyelamatkan perusahaannya.
Kedua pria itu langsung beranjak keluar kembali dari ruangan Emran.
"Apa yang akan aku katakan pada Devi dan Dianti? Mereka pasti akan terkejut jika perusahaan ini akan mengalami kebangkrutan. Mereka pasti tidak akan menerima semua ini," gumam Emran dengan wajah yang khawatir.
***
Beberapa orang yang berjas memasuki kawasan perusahaan milik Emran. Semua orang nampak memperhatikan orang yang berjas itu.
"Ada apa ini? Siapa kalian?" tanya Dimas pada orang-orang itu.
"Perkenalkan, nama saya Tony Cashel. Saya adalah asisten Tuan Xavier. Perusahaan ini telah diakuisisi oleh Skylight Group. Sekarang perusahaan ini di bawah Skylight Group," jelas Tony
Semua orang langsung nampak terkejut mendengar hal itu, terutama Dimas.
"A-Apa?! Itu tak mungkin terjadi? Kalian pasti berbohong kan?" sanggah Dimas dengan tatapan tak percaya.
Tony menggelengkan kepalanya pelan.
"Berikan aku surat pengakuisisannya," perintah Tony pada orang di sampingnya.
Orang di sampingnya itu mengeluarkan kertas pada sebuah tas kerja dan langsung memberikannya pada Tony.
Tony menerima kertas itu dan menunjukkannya pada Dimas. Dimas pun langsung melihat isi dari kertas itu. Sontak matanya langsung melebar melihat isi dari kertas itu. Di kertas itu tertera dengan jelas bahwa perusahaan milik Emran, Gajendra Group telah diakuisisi oleh Skylight Group.
"Bagaimana? Sudah jelas bukan yang tertera di perusahaan itu. Sekarang, tunjukkan pada saya di mana CEO perusahaan ini," ujar Tony
Dimas langsung menunjukkan jalan menuju ke ruangan Emran.
"Tuan, ada orang dari Skylight Group datang," ucap Dimas saat masuk ke ruangan Emran.
Emran yang mendengar nama Skylight Group langsung saja terkejut. Siapa yang tak mengenal perusahaan nomor satu di Indonesia itu. Ia berpikir mungkin perusahaan itu datang untuk memberikan suntikan dana pada perusahaannya.
"Oh? Suruh mereka duduk di sofa," perintah Emran
Dimas mengangguk pelan. Ia mempesilahkan orang-orang dari Skylight Group untuk masuk.
Tony dan pengikutnya berjalan untuk duduk di sofa pada ruangan itu. Emran segera menyusul untuk duduk di sofa pula. Tatapan bahagia ia berikan karena mengira ia akan segera mendapatkan suntikan dana.
"Perkenalkan, saya Emran Gajendra. CEO dari perusahaan ini. Karyawan saya pasti sudah memberitahukan pada Tuan kondisi keuangan perusahaan kami bukan?" tanya Emran
Tony hanya terdiam saja. Dari tatapan pria paruh baya itu ia sudah tahu niat dari matanya. Jangan salahkan dirinya yang cukup tahu tentang psikologi manusia. "Saya Tony Cashel, asisten dari Tuan Xavier. Saya ke sini karena...."
"Saya sudah tau hal itu Tuan Tony. Anda semua ke sini karena akan memberikan suntikan dana pada perusahaan saya bukan?" timpal Emran
Tony dan para pengikutnya saling tatap saat Emran mengatakan hal itu. Seperti yang diduga oleh Tony. Sedangkan Dimas di sana, hanya bisa mengeluarkan keringat dingin.
Tony tersenyum tipis.
"Sayangnya kami datang ke sini bukan karena itu, Tuan Gajendra," sanggah Tony
Emran langsung menatap bingung. "Terus, untuk apa kalian semua datang ke perusahaan saya?" tanya Emran
"Perusahaan ini bukan lagi perusahaan milik anda, Tuan Gajendra. Perusahaan ini sudah menjadi milik Skylight Group," jelas Tony
Sontak Emran melebarkan matanya atas apa yang dikatakan oleh pria di depannya itu. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya.
"Itu tak mungkin! Ini adalah perusahaan milikku. Enggak mungkin! Kalian semua pasti telah melakukan penipuan bukan?!" geram Emran dengan wajah yang penuh emosi sambil menunjuk ke arah Tony dan yang lainnya.
Tony menghela napas kasar. Ia bangkit dari duduknya.
"Asisten anda akan menjelaskan segalanya pada anda," ucap Tony sambil melirik ke arah Dimas.
Emran langsung melihat ke arah asistennya itu. "Dimas, apa yang dia katakan? Apa ini semua benar?" tanya Emran dengan rahang yang mengeras.
Dimas nampak takut untuk menjelaskan yang sebenarnya. Keterdiaman Dimas membuat Emran jadi kesal.
"Dimas katakan padaku apa yang dia katakan itu benar?!" bentak Emran dengan keras seraya menarik kerah kemeja Dimas.
"I-Iya, Tuan. Apa yang dikatakan olehnya itu benar. Perusahaan kita sudah diakuisisi oleh Skylight Group," ujar Dimas dengan kepala yang ia tundukkan.
Emran dengan sekali gerakan menghempas kerah kemeja Dimas hingga membuat pria itu hampir saja terjatuh.
Emran menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Enggak! Ini enggak mungkin! Ini perusahaan milikku. Kalian enggak boleh mengambilnya dariku," murka Emran dengan wajah yang penuh emosi.
Tony menghela napas pelan. "Kami permisi dulu. Besok, anda tak boleh lagi datang ke perusahaan ini karena akan ada CEO baru untuk perusahaan ini. Ayo kita pergi," jelas Tony seraya berlalu bersama para pengikutnya.
Selepas perginya Tony dan yang lainnya, Emran meluapkan kekesalannya dengan membanting semua barang di ruangannya itu.
To be continued....