Permohonan(2)

1619 Kata
Bel pintu apartemen berbunyi. Kaila dan Arcel yang tengah saling berpelukan segera menoleh ke arah depan. Keduanya saling bersitatap sekejap. "Itu pasti mereka," ucap Arcel Kaila menganggukkan kepalanya pelan. Ia melepaskan pelukan Arcel dan bangkit dari duduknya. "Aku akan membukakan pintu untuk mereka. Kau tunggu aja di sini," ujar Kaila Arcel menganggukkan kepalanya juga. Setelahnya, Kaila langsung beranjak menuju ke depan untuk membukakan pintu. Saat oa membuka pintu apartemen, terlihatlah sosok kedua orang tua angkatnya itu. Beserta seseorang yang tak ingin ia lihat. "Oh? Kalian sudah datang? Silahkan masuk," ucap Kaila seraya mempersilahkan kedua orang tuanya beserta Dianti untuk masuk ke dalam apartemennya. Baru saja mereka duduk, sosok Arcel muncul ke hadapan mereka. "Selamat malam, Arcel. Maaf kami datang malam-malam begini," ujar Emran Arcel menghela napas kasar di dalam hatinya. Huh, benar-benar alasan klasik yang sering dipakai oleh orang ~ batin Arcel Arcel menampilkan senyum tipisnya. "Enggak apa-apa. Silahkan saja. Walaupun kalian bukan orang tua kandung Kaila, tapi kalian telah merawat istriku ini sejak kecil bukan," jelas Arcel Emran dan Devi mengangguk kaku. Sedangkan Dianti nampak memandang sinis pada Arcel yang perhatian dengan Kaila. Lihatlah, tangan Arcel memeluk pinggang Kaila dengan erat. Seakan-akan tak membiarkan istrinya itu pergi darinya. "Jadi, ada hal penting apa kalian datang ke sini untuk menemui istriku?" tanya Arcel dengan tatapan serius. Emran dan Devi saling tatap sejenak untuk mengutarakan niatnya. Melihat kedua orang tuanya yang tak kunjung berbicara, membuat Dianti jadi jengah. Ia menatap dengan angkuh pada Kaila. "Hei, Kaila! Orang tuaku sudah banyak berkorban denganmu selama ini bukan? Seharusnya kau tau artinya balas budi pada orang yang menyelamatkan hidupmu selama ini bukan," sindir Dianti Kaila memandang bingung pada Dianti. "Maksud kakak apa?" tanya Kaila Dianti berdecih keras. "Kau ini emang enggak peka yah atau kau hanya pura-pura bodoh. Saat ini Papa terlilit hutang di bank. Perusahaan Papa telah diambil alih. Rumah juga sudah akan disita oleh bank karena hutang Papa," ungkap Dianti Kaila melebarkan matanya atas apa yang ia dengar. "Ba-Bagaimana perusahaan Papa bisa diambil alih? Siapa yang melakukan hal itu?" tanya Kaila dengan wajah yang agak khawatir. "Perusahaan Skylight Group, tempat kamu bekerja yang telah mengakuisisi perusahaan Papa. Tadi pagi mereka datang dan mengambil perusahaan Papa," jelas Emran Kaila cukup terkejut saat tahu yang melakukannya adalah tempat ia bekerja. Pantas saja di grup para karyawan terdengar ramai. Pasti mereka membicarakan tentang pengakuisisian itu. "Terus, apa yang kalian minta aku lakukan? Aku tentunya enggak bisa mengambil kembali perusahaan itu," timpal Kaila "Kamu kan karyawan di sana. Apa kamu enggak bisa menemui CEO dari Skylight Group. Bicarakan baik-baik dengannya dan katakan jangan mengakuisisi perusahaan Papa. Minimal janganlah pecah Papa sebagai CEO Gajendra Group," jelas Emran Kaila mengeraskan rahangya. Lagi dan lagi ia disuruh melakukan hal yang tak mungkin ia lakukan. "Aku enggak bisa, Pa," tolak Kaila dengan wajah serius. "Kenapa kamu enggak bisa? Walaupun kami ini bukan orang tua kandungmu, tapi kami yang telah merawatmu selama ini. Apa kamu enggak bisa berbalas budi pada kami?!" protes Devi dengan wajah yang mulai emosi. "Bukannya aku enggak ingin melakukannya, aku hanya seorang desainer biasa di sana. Hanya jajaran penting saja yang bisa menemui CEO. Aku bahkan tak pernah melihat wajahnya. Bagaimana bisa aku meminta hal itu padanya?" keluh Kaila "Kamu bisa melakukan apa pun bukan? Kamu bisa mendekati salah satu jajaran penting di sana agar dapat bertemu dengan Tuan Xavier," timpal Emran "Papa! Aku...." "Apa kalian tak melihat keberadaanku di sini? Aku ini suami dari Kaila. Aku yang berhak menentukan apakah Kaila boleh melakukannya atau enggak. Lagian, permintaan kalian itu sangat tak berdasar. Kalian menyuruh istriku ini mendekati salah satu jajaran penting perusahaan? Kalian benar-benar tak bermoral saat meminta hal ini. Apa kalian tak memikirkan perasaan Kaila saat meminta hal itu? Oh, maaf saja. Kalian memang tak pernah memikirkan perasaan Kaila. Sebaiknya kalian pergi saja dari sini dan terima nasib kalian yang baru," murka Arcel dengan tatapan tajam. Emran langsung bangkit dari duduknya. Tatapannya jadi emosi. "Walaupun kamu adalah suaminya, tetap saja kami adalah orang tua yang telah merawatnya dari sejak dulu. Dia harusnya bisa berkorban sedikit," geram Emran Arcel melipat kedua tangannya dengan tatapan sinis. "Berkorban, huh? Menurutku Tuan Gajendra perlu memperbaiki kalimat itu. Kaila sudah banyak berkorban demi keluarga kalian. Dari sejak ia bersekolah, dia selalu mendapatkan juara hingga membuat kalian bangga. Dia bahkan tak pernah meminta apa pun pada kalian. Biaya sekolah juga bukannya beasiswa kan? Sampai dia harus merelakan hubungannya kandas hanya karena kesalahan yang dibuat oleh anak kalian itu. Kaila bahkan tak menuntut apa pun bukan? Apa lagi yang perlu dikorbankan?" geram Arcel dengan tatapan dingin. Kaila menyentuh bahu suaminya itu untuk menghentikannya. Ia juga agak terkejut saat mendengar Arcel yang mengetahui segalanya tentang dirinya yang dulu. Padahal ia tak pernah cerita pada pria itu. Dianti bangkit dari duduknya. "Kalau kau enggak bisa dengan cara itu, gunakan saja cara lain. Bukankah Arcel seorang pria yang hebat. Dia pasti punya banyak uang untuk melunasi hutang-hutang Papa bukan? Atau kau bekerja saja sebagai seorang jalang biar bisa dapat banyak uang," hina Dianti dengan tatapan remeh. Sebuah tamparan yang keras langsung mengenai wajah Dianti. Yang melakukan hal itu adalah Kaila sendiri. Ia menatap dengan geram pada wanita itu. "Jangan sekali-sekalinya kau berani mengatakan hal itu. Aku sudah menahan diri untuk tak main fisik denganmu. Kalau kau emang tau bagaimana cara melakukan hal itu, kenapa enggak kau saja yang melakukannya. Bukankah kau ahli dalam melakukan hal itu?" timpa Kaila dengan nada sinis. Wajah Dianti langsung saja terkejut mendengar hal itu. Terlihat wanita itu yang nampak gelagapan dengan apa yang dikatakan oleh Kaila. "Kenapa? Takut yah kenyataannya terbongkar?" sindir Kaila kembali. Emran dan Devi langsung memandang dengan bingung terhadap apa yang dikatakan oleh Kaila. "A-Apa yang kau maksud, Kaila? Aku enggak mengerti maksudmu!" kilah Dianti Kaila menghela napas kasar. "Sepertinya kau emang mau semua ini terbongkar yahh? Hmm, baiklah aku akan memberikan buktinya pada Papa dan Mama yah," jelas Kaila seraya mengeluarkan ponselnya. Arcel tersenyum miring melihat sang istri yang nampak sangat keren membuat Dianti jadi bungkam. "Nah, aku sudah mengirimkannya. Papa dan Mama bisa melihat sendiri di ponsel kalian," ucap Kaila dengan senyum misterius. Emran dan Devi langsung mengambil ponselnya dan melihat apa yang telah dikirimkan oleh Kaila. "Apa sih?! Aku enggak melakukan apa pun kok. Kaila, kau jangan memfitnahku yah," geram Dianti sambil menunjuk ke arah Kaila. Kaila hanya diam saja dan menunggu reaksi dari orang tua angkatnya itu. "Apa ini?! Ini Dianti kah?!" tanya Emran dengan wajah yang sangat terkejut. "Dianti, apa maksudnya ini? Apakah ini kamu?" tanya Devi Dianti langsung mengambil ponsel di tangan Mamanya itu dan melihat apa yang dikirimkan Kaila. Sontak matanya terkejut melihat sebuah video yang menampilkan dirinya pada sebuah kamar dan tengah bersetubuh dengan seorang pria yang nampak tua. Gelengan kuat ia berikan pada kedua orang tuanya itu. "Enggak! Itu bukan aku. Dia pasti telah menuduhku. Aku enggak pernah melakukan hal itu. Kalian harus percaya padaku," sanggah Dianti Kaila sudah tahu jika wanita itu pasti akan menyanggah apa yang ia tunjukkan. Emran dan Devi kembali melihat ke arah Kaila. "Kaila, apa yang kamu kirimkan ini benar? Apa ini benar Dianti?" tanya Emran Kaila menghela napas pelan. "Terserah kalian mau percaya atau enggak. Yang penting aku sudah menunjukkan pada kalian bukan. Jadi, itu keputusan kalian untuk menerimanya atau enggak. Oh, aku punya nomor dari pemilik bar itu. Apa kalian mau aku menghubunginya untuk menanyakan keaslian dari video itu?" tanya Kaila "Kaila, hentikan! Jangan merusak hidupku lagi. Kau telah mengambil semuanya dariku. Kau membuat Irsyad pergi dariku. Jangan melakukan hal itu lagi," geram Dianti Kaila terkekeh pelan seraya bertepuk tangan. "Sepertinya Kak Dianti udah ingat semuanya yah? Baguslah! Berarti kakak tak akan meminta Arcel lagi kan dariku," timpal Kaila dengan smirk di wajahnya. Dianti nampak gelagapan dengan apa yang dikatakan oleh Kaila. Emran dan Devi langsung menatap ke arah Dianti. "Iyakah, Dianti? Apa kamu udah ingat semuanya?" tanya Devi yang terlihat senang. Dianti hanya bisa mengangguk dengan kaku. Ia menatap tajam pada Kaila. Yang hanya dibalas Kaila dengan senyum miringnya. "Papa dan Mama jangan lagi memintaku untuk membuat Arcel bersama dengan Kak Dianti lagi yah. Dia kan udah ingat semuanya," timpal Kaila Tatapan Dianti semakin geram pada Kaila. Sebenarnya ia ingin lebih lama untuk menyimpan kebohongan amnesianya itu. Ia sengaja mengatakan dirinya amnesia untuk menjerat Arcel bersamanya. Seperti yang ia lakukan pada Irsyad dulu. Sayangnya pria itu tak pernah bisa melirik dirinya. Hanya ada Kaila di mata pria itu. Mungkin tak akan pernah. "Baiklah! Ini sudah sangat malam. Sebaiknya kalian pergi saja dulu. Kalian tau kan kalau pengantin baru itu perlu waktu berdua," celetuk Arcel dengan nada sindiran. Kaila menepuk bahu Arcel pelan. "Arcel! Jangan gitu dong. Aku jadi malu," ujar Kaila dengan semu merah di wajahnya. Dianti mengepalkan tangannya dengan kuat. "Ayo, Pa, Ma! Lebih baik kita pergi dari sini. Karena anak tak tau terima kasih itu tak akan mau membantu kita," tukas Dianti seraya keluar dari apartemen itu. Emran dan Devj langsung dengan cepat menyusul perginya Dianti. "Sampai jumpa!" ucap Kaila saat ketiganya pergi. Kaila menghela napas kasar. Arcel tertawa dengan lepas. Hal itu membuat Kaila langsung memandangnya dengan bingung. "Hm? Kenapa kau malah tertawa gitu?" tanya Kaila Arcel menghentikan tawanya. "Apa kau tak liat ekspresi mereka daritadi? Mereka benar-benar sangat ketakutan. Terutama Dianti yang sudah berkeringat dingin sedari tadi karena apa yang kau tunjukkan. Aku sangat suka sifatmu yang seperti ini. Sangat berani," jelas Arcel sambil memeluk pinggang Kaila dengan kuat. Kaila terkekeh pelan sambil mengalungkan lengannya pada leher Arcel. "Ouhh, aku kan belajar banyak darimu bukan? Aku sangat puas melihat ekspresi dari Kak Dianti tadi," timpal Kaila dengan senyum lebar. Arcel memeluk tubuh Kaila dengan erat. Ia mencium dengan penuh aroma dari istrinya itu. "Kau sangat harim, sayang. Aku menginginkanmu," ucap Arcel dengan nada lirih. Kaila tersenyum malu seraya menganggukkan kepalanya dengan kecil. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN