"Makasih yah Pak!" ucap Zeline seraya keluar dari taksi yang ia naiki.
Zeline berhenti tepat di depan sebuah restoran bintang tiga yang bernama 'Dalcom Restaurant'. Ia menarik napas yang dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam restoran itu. Di sinilah ia diminta untuk datang oleh Francis.
"Permisi! Ruangan untuk Zeline Park di mana yah?" tanya Zeline pada salah satu pelayan di sana.
"Oh? Ruangan untuk Zeline Park yah? Mari, saya akan antarkan," ucapnya seraya berjalan duluan.
Zeline pun mengangguk pelan seraya mengikuti langkah pelayan itu. Zeline tahu kenapa Francis memesan ruangan dengan sebutan namanya. Tak mungkin bukan dia akan menggunakan namanya dia sendiri.
"Ini ruangannya, Nona. Kalau gitu, saya permisi dulu," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Zeline.
Zeline menatap sejenak pintu bercat marmer itu. Pintu yang bertuliskan nama 'VIP 1'. Zeline kembali menarik napas yang dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan itu.
Di sana, ia bisa melihat Francis yang sedang duduk sambil membelakanginya.
"Maaf jika saya datangnya lama," celetuk Zeline seraya duduk di hadapan Francis.
Francis menurunkan kaca mata hitam yang ia kenakan. "Enggak apa-apa. Justru aku yang mau minta maaf karena mengajakmu ketemuan secara tiba-tiba," ujar Francis
Zeline menggeleng pelan. "Enggak apa-apa, Kak. Oh ya, hal penting apa yang mau kakak katakan sekarang?" tanya Zeline
Terlihat Francis yang menarik napas dalam. "Aku tau sesuatu tentangmu. Tentang kau yang hamil anak Richard," ujar Francis
'deg'
Zeline melebarkan matanya. Jantungnya berdegup dengan kencang kala mendengar pengakuan Francis. Francis juga tahu kehamilannya?!
"Ka-Kakak tau dari mana hal ini? Apa seseorang menceritakannya padamu?" tanya Zeline dengan gugup.
Francis membenarkan cara duduknya. "Tak ada yang memberitahuku. Aku dengar tadi saat di rumah sakit. Kau mungkin enggak sadar kalau aku ada di situ tadi pagi. Aku mendengar semuanya," ungkap Francis
Zeline merasakan lidahnya kelu saat ini. Pikirannya benar-benar kosong saat ini. Francis sudah tahu masalah kehamilannya. Ia hanya takut jika pria di depannya ini akan mengatakannya pada manajernya, Woozi Song, terlebih lagi pada Richard.
"K-Kak, hal ini bisa aku jelaskan semuanya. Kejadian ini benar-benar di luar kehendakku. Aku enggak tau kenapa aku bisa tiba-tiba hamil saat ini," jelas Zeline dengan wajah cemas.
Francis menghela napas kasar. "Aku tau kalau kau enggak salah di sini, Zeline. Aku mau tanya satu hal. Apa kau menyukai Richard?" tanya Francis dengan wajah serius.
Zeline menundukkan kepalanya sejenak. Ia memberikan respon dengan anggukan pelan.
"I-Iya, Kak. Aku menyukai Richard," jawab Zeline seraya mengangkat kepalanya perlahan untuk melihat reaksi dari Francis.
Terlihat Francis yang menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Okey, aku udah tau. Apa kau berencana memberitahukan kehamilanmu ini pada Richard?" tanya Francis kembali.
Zeline tergugu di tempatnya. Ia pun memggelengkan kepalanya lemah.
"Sepertinya aku enggak akan kasih tau Richard masalah kehamilanku ini," jawab Zeline dengan wajah sendu.
"Kenapa? Kenapa kau enggak mau kasih tau Richard masalah itu?" tanya Francis
Zeline tersenyum miris. "Aku masih sadar diri kalau antara aku dan Richard terdapat kemustahilan. Enggak mungkin aku bisa bersama dengannya. Lagipula, dia itu seorang artis. Jika orang tau masalah ini, apa yang bakal terjadi dengan karirnya. Aku enggak mau sampai kapan itu terjadi," papar Zeline
Francis menghela napas kasar.
Wanita ini ternyata memikirkan masa depan Richard sebagai artis. Aku pikir ia akan egois dengan mengatakan pada Richard. Apalagi sampai memberitahukan pada publik mengenai masalah kehamilannya itu ~ batin Francis
Francis menatap serius pada Zeline.
"Tapi, kau tau bukan kalau kehamilanmu itu enggak selamanya bisa kau tutupi dari Richard. Cepat atau lambat dia pasti bakal tau. Jujur, bukannya aku melarang hubunganmu dengan Richard. Aku malahan senang melihat Richard yang berubah agak lembut akhir-akhir ini. Tapi, kau harus tau Zeline. Ini enggak mudah. Seperti yang kau bilang barusan. Kalau sampai orang-orang tau masalah kehamilanmu yang disebabkan oleh Richard, bisa-bisa semuanya hancur. Bukan hanya Richard, melainkan semua anggota AERIS lainnya. Aku hanya enggak mau liat Alex maupun Stephen terkena imbasnya. Aku sangat memperhatikan kondisi mereka. Kau tau kan apa maksudku?" papar Francis
Zeline menarik napas yang dalam dan mengangguk pelan.
"Aku tau hal itu, Kak. Makanya aku enggak akan pernah katakan kehamilan ini pada Richard. Aku tau kalau kehamilanku ini enggak bakal bisa aku sembunyikan terlalu lama," timpal Zeline
"Bagus kalau kau mengerti semuanya. Apa kau bisa kabulkan satu saja permohonanku?" pinta Francis dengan wajah memohon.
Zeline mengangguk kaku. "I-Iya, Kak. Apa itu?" tanya Zeline
"Bisakah kau pergi dari Seoul sampai anakmu lahir? Aku enggak mau Richard sampai tau tentang kehamilanmu ini. Bukannya aku membencimu Zeline. Aku sangat tau bagaimana sifat Richard yang gegabah itu. Dia pasti akan langsung keluar dari AERIS dan akan langsung bertanggung jawab padamu. Aku enggak bisa pikirkan bagaimana nasib Alex dan Stephen nanti," jelas Francis dengan wajah sendu.
Zeline dapat melihat raut frustrasi di wajah Francis. Hal itu membuatnya timbul perasaan iba. Ia kembali menarik napas yang dalam.
"Baik! Kakak tenang aja, aku bakal pergi dari Seoul sehingga Richard tak akan pernah tau masalah kehamilanku ini. Aku bakal pergi ke tempat di mana Richard tak akan pernah tau keberadaanku," timpal Zeline
Francis langsung tersenyum lega. "Makasih yah Zeline. Kau adalah wanita yang baik dan tak egois. Kau katakan saja padaku ke mana kau akan pergi. Aku bakal bantu membiayaimu nanti," balas Francis
Zeline menggeleng lemah. "Enggak perlu, Kak. Aku masih cukup untuk membiayai diriku sendiri. Kalau gitu, aku pamit duluan yah," tolak Zeline seraya berlalu dari hadapan Francis.
Zeline berlari kecil untuk keluar dari dalam kafe itu. Zeline berlari hingga ia sampai pada sebuah taman. Ia mendudukkan dirinya pada salah satu bangku di sana.
'tes' 'tes'
Bulir demi bulir air mata mulai berjatuhan dengan cepat menuruni permukaan wajahnya. Zeline menutup mulutnya untuk menahan isakan yang keluar. Ia memukul-mukul dadanya yang berdenyut sakit.
"Ini sakit! Sangat sakit! Tapi, aku harus menahan ini semua. Aku enggak boleh egois. Aku enggak boleh katakan hal ini pada Richard," lirih Zeline
Ia mengangkat wajahnya ke atas sambil menghapus air mata yang masih mengalir. Ia mengelus perutnya dengan pelan. Senyuman lirih ia tampilkan.
"Maafin Ibu yah sayang. Ibu enggak bisa kasih tau pada Ayahmu kalau kamu itu ada di perut Ibu. Maafin Ibu yang enggak bisa kasih keluarga lengkap untukmu. Ibu janji, bakal kasih kehidupan yang layak untukmu. Ibu sayang kamu, Nak!" lirih Zeline seraya memeluk tubuhnya sendiri.
"Aduh, kau ini! Kenapa sekarang kembali ke yang dulu sih?! Setiap ketemu pasti lagi nangis. Ada apa lagi?"
Sosok Ronald kembali muncul di hadapan Zeline. Pria itu mengambil langkah untuk duduk di samping Zeline. Zeline mendengus kesal mendengar perkataan Ronald.
"Kau ini ganggu banget sih! Orang lagi sedih juga," keluh Zeline
Ronald menghela napas kasar. Ia meraih sapu tangan dalam saku jaketnya. Ia meraih wajah Zeline dan mengusap pelan air mata itu. Zeline sedikit tertegun dengan perlakuan Ronald saat ini.
"Makanya, kau cerita sekarang padaku. Ada apa denganmu? Kenapa sampai menangis gini?" tanya Ronald
Zeline nampak berpikir sejenak. "A-Aku mau pergi dari Seoul, Ronald," ujar Zeline dengan suara pelan.
Sontak Ronald melebarkan matanya karena terkejut. "Mau pergi dari Seoul?! Emang kenapa? Kau diusir yah oleh Ibumu?" tanya Ronald
'bats'
Zeline memukul bahu Ronald dengan wajah kesal. "Aku enggak diusir tau! Aku emang mau pergi karena ingin menghindari Richard," ungkap Zeline melipat kedua tangannya.
Ronald mengangguk paham. "Nampaknya kau udah memikirkan semuanya yah. Tapi, kau belum bilang pada Richard bukan masalah ini?" tanya Ronald
"Iyah, aku belum bilang padanya. Aku enggak mau mendengar respon darinya. Terlepas dari dia menerima atau enggak. Yang pasti, dia enggak boleh tau mengenai kehamilanku ini," timpal Zeline
"Apa Ibumu tau kalau kau mau pergi?" tanya Ronald kembali.
Zeline menggeleng pelan. "Belum. Nanti aku bakal bilang pada Ibuku. Aku akan jelaskan semuanya. Karena seperti katamu dulu, aku emang enggak mungkin bisa selalu menyembunyikan kehamilanku ini dari Richard. Jalan satu-satunya adalah aku harus pergi darinya," jelas Zeline dengan senyum sendu.
Ronald mengangguk pelan.
"Iyah! Aku mengerti maksudmu. Bagaimana kalau kita jadi pergi ke Perancis besok? Soalnya Chef Houtton adakan les memasak lagi di sana. Bagaimana?" tanya Ronald
Zeline melebarkan senyumnya. Ia jadi teringat saat beberapa bulan lalu di mana dirinya tak jadi pergi karena ada suatu masalah. Sehingga Ronald hanya bisa pergi sendiri waktu itu. Ternyata saat ini ia memiliki kesempatan lagi.
Zeline pun langsung menganggukkan kepalanya dengan kuat.
"Mau! Aku mau banget! Oh ya, aku mau minta maaf lagi yah soal yang waktu itu aku jadi enggak pergi denganmu," timpal Zeline dengan wajah bersalah.
Ronald tersenyum manis. "Kau enggak usah minta maaf yang sudah lama. Lagipula, kau udah minta maaf kan waktu itu. Jadi, karena kau udah menerimanya. Sekarang, kau pulang ke rumah dan katakan pada Ibumu mengenai rencanamu itu. Jelaskan secara detail kenapa kau melakukan semua ini. Kalau perlu, aku akan bantu dirimu nanti," papar Ronald
Zeline menganggukkan kepalanya.
"Iyah! Aku bakal cerita dengan runtut pada Ibuku nanti. Makasih yah Ronald. Kau masih mau membantuku saat ini," timpal Zeline dengan senyum manis.
Ronald terkekeh pelan. "Kau enggak perlu terima kasih soal itu. Lagipula, bagus bukan kalau aku ada teman. Soalnya kemarin aku kesepian tau enggak ada teman yang aku ajak ngomong. Oh ya, pesawat yang berangkat itu pukul delapan pagi. Persiapkan segalanya yah," papar Ronald dengan runtut.
"Siap! Aku bakal persiapkan segalanya di sana," balas Zeline
Entah bagaimana hal itu bisa terjadi dengan sangat cepat. Hingga ia tak menyadari apa pun yang telah terjadi. Hingga mereka tak menyadari seperti apa pun yang telah terjadi.
To be continued....