Seorang wanita masuk dengan langkah terburu-buru menuju sebuah rumah. Wajahnya nampak menahan amarah saat ini.
"Bibi! Zeline di mana?" tanya wanita itu dengan wajah yang tak sabaran.
"Eme?! Kamu datang bareng Ibu kamu?" tanya Nara dengan wajah sedikit terkejut.
"Itu enggak penting dulu, Bi. Sekarang kasih tau aku di mana Zeline," ucap Emerald
"Zeline ada di kamarnya sih dari tadi. Dari kemarin dia tak mau keluar dari kamarnya. Bibi jadi agak khawatir saat ini," jelas Nara dengan wajah cemas.
"Apa Bibi udah tau masalah Zeline yang hamil itu?" tanya Emerald dengan hati-hati.
Nara menghela napad kasar dan mengangguk kecil. "Iyah! Bini udah tau hal itu. Kemarin Zeline udah cerita semuanya," jawab Nara dengan wajah sendu.
Terlihat Emerald yang menggeram kesal. "Apa dia udah kasih tau kepada Richard Park itu tentang masalah ini yah? Karena aku yakin, Bi. Aku yakin jika Richard adalah orang yang membuat Zeline hamil," papar Emerald
Nara kembali mengangguk pelan. "Iyah, emang Richard yang melakukannya. Tapi, itu bukan suatu paksaan. Kemarin Zeline bilang pada Bibi kalau dia akan memberitahu kehamilannya itu pada Richard. Tapi, kemarin saat dia pulang dan Bibi tanya, Zeline enggak jawab apa-apa, dia langsung masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun," ungkap Nara dengan wajah khawatir.
Emerald menghela napas kasar.
"Apa yang udah terjadi yah? Kalau gitu, aku akan masuk ke kamar Zeline yah Bi. Aku akan tanya tentang apa ubah terjadi," ujar Emerald
Nara mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. "Iyah! Kamu masuk aja ke dalam kamarnya. Enggak dikunci kok," timpal Nara
Emerald segera masuk ke dalam kamar Zeline. Saat masuk, ia melihat Zeline yang tengah duduk membelakanginya. Emerald berjalan perlahan mendekati Zeline dan duduk di samping wanita itu.
Sepertinya Zeline tak menyadari kehadirannya. Lihat saja wanita itu yang fokus mengelus perutnya. Hal itu membuat Emerald tersenyum miris. Apalagi melihat ekspresi Zeline yang tertumpuk antara bahagia dan sedih.
"Zeline?" panggil Emerald sambil menyentuh bahu Zeline dengan pelan.
Zeline sedikit tersentak dengan sentuhan tiba-tiba di bahunya. Ia cukup terkejut melihat Emerald yang duduk di sampingnya.
"Eme?! Se-Sejak kapan kau di sini?!" pelik Zeline dengan wajah terkejutnya.
Emerald menghela napas kasar. "Sejak kau sibuk mengelus perutmu itu. Kenapa? Kau udah periksakan kandunganmu di rumah sakit?" tanya Emerald
Sontak Zeline melebarkan matanya kala mendengar pertanyaan dari Emerald. Melihat Zeline yang nampak terkejut ketika ia bertanya, membuat Emerald kembali menghelakan napas kasar.
"Aku udah tau masalah kehamilanmu itu. Kau enggak perlu lagi menutupinya dariku. Aku hanya perlu kau ceritakan kenapa kau bisa sampai hamil saat ini. Apa itu kehendakmu sendiri yang memang ingin hamil?" tanya Emerald
Seketika Zeline menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tentu saja itu bukan keinginanku. Aku juga sangat stok tau karena hal ini. Aku bahkan enggak tau harus ngapain saat ini," jelas Zeline dengan wajah sendu.
"Apa kau udah kasih tau Richard Park masalah kehamilanmu ini?" tanya Emerald kembali.
Pertanyaan Emerald membuatnya kembali mengingat di mana Woozi yang melarang keras agar dirinya tak terlalu terlibat dengan Richard. Zeline menyentuh perutnya itu.
Melihat Zeline yang hanya terdiam saja, Emerald langsung menyentuh tangan anak itu.
"Mau kehamilan itu disengaja atau bukan, kau harus katakan semuanya pada Richard, Zeline. Dia adalah Ayah dari anak itu. Dia wajib tau. Terserah apa keputusannya nanti. Yang penting kau udah kasih tau yang sebenarnya," papar Emerald
Zeline tersenyum miris. "Sepertinya itu enggak bisa deh, Eme. Aku enggak akan bisa kasih tau hal ini pada Richard. Kau tau sendiri Richard itu siapa. Akan hancur kalau banyak orang sampai tau hal ini," tolak Zeline
Emerald menghela napas kasar. "Itu enggak bisa, Zeline. Kau harus mengatakan hal ini pada Richard. Dia harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah ia perbuat. Mau tak mau, suka tak suka, dia harus tau masalah ini," tegas Emerald
Zeline menutup wajahnya karena terlalu frustrasi saat ini. Ia bingung harus ngapain, di sisi lain dia memang sangat ingin memberitahu masalah kehamilannya pada Richard. Tapi, sebuah kenyataan kembali menamparnya kalau antara dirinya dan Richard tak akan mungkin bisa bersama. Mau sekeras apa pun dia mencoba.
"Zeline? Kenapa diam aja? Aku tanya, apa kemarin kau udah kasih tau Richard masalah ini? Kata Bibi, kau udah kasih tau. Terus, bagaimana reaksinya? Apa dia menerima atau justru menolak?" tanya Emerald bertubi-tubi.
Zeline kembali terdiam dan hal itu membuat Emerald jadi sedikit jengah.
"Zeline! Kok malah diam sih?! Ayo jawab!" sentak Emerald dengan wajah yang tak sabaran.
Zeline menggeleng pelan. "Enggak! Aku belum kasih tau apa-apa pada Richard," jawab Zeline dengan wajah yang ia tundukkan.
Mata Emerald seketika melebar mendengar jawaban Zeline.
"Apa?! Kau belum bilang padanya?! Aduh, Zeline! Jangan gitu dong. Kau harus kasih tau Richard Park itu mengenai masalah ini. Kau enggak bisa terus menutupi hal ini darinya," protes Emerald
Zeline kembali menggeleng pelan. "Aku engga bisa, Eme. Seperti yang aku bilang tadi. Aku enggak mungkin kasih tau Richard masalah ini disaat profesinya sebagai artis. Orang-orang akan banyak yang menggunjing dirinya nanti. Aku enggak mau!" tolak Zeline dengan tegas.
Emerald menghela napas kasar. Sikap keras kepala Zeline terkadang membuatnya kesal. Seperti sekarang ini. Emerald bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Zeline.
Melihat Emerald yang nampak kesal, membuat Zeline merasa bersalah. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia memang tak mungkin mengatakan kehamilannya pada Richard. Apalagi mengingat apa yang dikatakan Woozi kemarin.
"Maafin aku yah, Eme. Aku tau kau seperti ini untuk mendukungku. Tapi, aku enggak bisa egois," lirih Zeline sambil mengelus perutnya.
Di luar kamarnya, Emerald seperti sedang menunggu seseorang. Tadi, dia nampak menghubungi seseorang. Jadi, dia akan menunggu orang yang dihubunginya tadi.
Sekitar lebih dari sepuluh menit, orang yang ditunggu Emerald datang ke rumah. Terlihat wajah panik dari orang yang ditelpon Emerald tadi.
"Eme?! Bagaimana keadaan Zeline?"
"Kenapa dia enggak bilang yang sebenarnya?"
"Kalian semua tenang dulu yah. Aku mengajak kalian semua ke sini untuk membujuk Zeline supaya dia bisa mengatakan tentang kehamilannya itu pada si Richard Park," ungkap Emerald
Ternyata yang ditelpon oleh Emerald tadi adalah para sahabatnya Zeline. Menurut Emerald, mungkin Zeline akan mendengarkan apa yang dikatakan para sahabatnya. Terlebih semakin banyak orang yang memaksa, akan semakin bagus.
"Aku pikir dia udah kasih tau ke Kak Richard mengenai kehamilannya itu," pikir Rona
"Iyah! Kita udah jelasin bukan pada Zeline supaya mau kasih tau ke Kak Richard," timpal Jessica
"Udahlah, ayo! Kita liat Zeline ke kamarnya. Kita semua bujuk dia lagi buat katakan kehamilannya pada Kak Richard," ujar Ayana seraya berjalan duluan.
Ketiga wanita lainnya segera mengikuti langkah Ayana menuju kamar Zeline.
Saat Zeline bangkit dari duduknya untuk menuju kamar mandi, ia langsung melebarkan matanya kala melihat para sahabatnya yang datang.
"Ka-Kalian ada di sini?!" pekik Zeline dengan wajah terkejutnya.
Ayana berjalan duluan menuju Zeline. Ia menarik tangan Zeline untuk duduk di ranjang. Ayana menatap serius pada Zeline. Tatapan serius Ayana membuat Zeline mengira-ngira apa yang terjadi.
Ia pun segera menoleh ke depannya dan melihat tatapan yang sama pada Rona dan Jessica.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" tanya Zeline dengan wajah bingung.
Ayana menghela napas kasar. "Kenapa kau belum bilang tentang kehamilanmu pada Kak Richard?" tanya Ayana
Sontak Zeline melebarkan matanya. Ia melihat ke arah Emerald yang kini juga menatap serius padanya.
"I-Itu bisa aku jelaskan," tutur Zeline
"Okey! Kau emang harus jelaskan semuanya," ujar Ayana
Zeline menarik napas yang dalam sebelum menceritakan alasannya.
"Aku emang belum cerita apa pun pada Richard mengenai kehamilan ini. Kalian semua tau bukan profesi apa yang dimiliki Richard. Dia itu seorang artis. Kalau aku mengatakan hal ini padanya, bagaimana nasib karirnya nanti. Aku enggak mau jadi beban untuknya. Orang-orang akan menjauhi dirinya. Terlebih lagi para memberi AERIS lainnya akan terkena imbasnya. Aku enggak mau hal itu sampai terjadi. Jadi, aku lebih memilih untuk tak mengatakan apa pun mengenai kehamilan ini," papar Zeline
Mereka cukup terkejut dengan penjelasan Zeline.
"Kau enggak bisa kayak gitu, Zel. Kak Richard berhak tau masalah kehamilanmu ini. Jangan menyimpannya sendiri, okey!" komentar Rona
Zeline menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku tetap enggak bisa. Aku enggak boleh egois dengan hanya memikirkan diriku sendiri. Jika saja Richard bukan seorang artis, aku pasti bakal akan langsung mengatakan kehamilanku ini pada Richard. Tapi, sekarang aku beneran enggak bisa mengatakannya," papar Zeline dengan wajah sendu.
Keempat wanita di sampingnya, kompak menghela napas kasar.
"Kalian liat sendiri bukan? Aku enggak bisa lawan kekeras kepalaan Zeline. Dia enggak mau mengatakannya," keluh Emerald dengan wajah lelah.
"Zeline, kau itu bukan egois yah. Tapi, ini udah wajib kau beritahu. Ini hubunganmu dengan Kak Richard. Dia sebagai pria wajib bertanggung jawab atas apa yang udah dia lakukan. Kau harus mengatakan semuanya pada Kak Richard. Atau kami yang akan mengatakan semuanya pada dirinya," tukas Ayana dengan tatapan tajam.
Sontak Zeline melebarkan matanya mendengar nada ancaman dari Ayana. Ia pun menggeleng kuat.
"Jangan Aya! Jangan mengatakannya pada Richard. Baik, baik! Aku yang bakal mengatakan semuanya pada Richard. A-Aku akan menjelaskannya nanti," timpal Zeline
Mereka semua akhirnya bisa tersenyum lega. Terutama Emerald yang merasa bahwa keputusannya untuk membawa para sahabatnya Zeline adalah hal yang tepat.
"Kau harus menepati janjimu iyi, Zeline. Kalau kami sampai tau kau belum mengatakannya pada Kak Richard, awas aja! Saat itu juga kami akan langsung mengatakan semuanya pada Kak Richard. Kau mengerti?" tegas Ayana
Zeline mengangguk pasrah. "Iyah! Aku ngerti," ujar Zeline
To be continued....