Sang fajar baru saja menampakkan dirinya ke permukaan bumi. Cahayanya mulai masuk menelusup ke dalam celah-celah sebuah kamar dan membangunkan seorang pria. Dia adalah Arcel, yang mulai mengerjapkan matanya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Arcel menolehkan kepalanya ke samping, di mana sang istri yang masih tertidur pulas di dalam pelukannya itu. Wajah lelah terlihat pada wajah istrinya itu. Hal itu membuatnya agak terkekeh pelan. Karena dialah yang menyebabkan sang istri harus merasakan kelelahan akibat permainan panas yang mereka lakukan kemarin malam.
Rasanya ia tak akan pernah cukup untuk melakukaw, karena rasa nikmat yang diberi oleh istrinya itu. Tapi ia tak boleh egois untuk terus melakukannya disaat istrinya sudah kelelahan.
Tampang polos istrinya itu membuat jadi gemas. Ia mencium pelan kening istrinya itu. Mengelus dengan pelan rambut istrinya yang masih nampak agak basah oleh keringat.
"Kaila, sayang. Ayo bangun, ini udah pagi," ucap Arcel seraya mengelus dengan lembut pipi chubby istrinya itu.
Kaila menggeliat di dalam pelukan Arcel.
"Eghh! Bentar lagi, aku masih mengantuk. Lima menit lagi yah," gumam Kaila dengan suara khas orang tidur.
Arcel menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Enggak boleh sayang. Ayo bangun cepat," timpal Arcel
Arcel menciumi wajah istrinya bertubi-tubi hingga membuat Kaila harus menahan kesal.
"Ihh, Arcel! Hentikan itu geli tau," keluh Kaila yang akhirnya mengerjapkan matanya.
Kaila memanyunkan bibirnya sambil menatap wajah Arcel yang cukup dekat dengannya. Arcel yang melihat itu langsung mencium bibir Kaila secara kilat. Hingga membuat wanita itu langsung mendelik tajam disertai mulut yang ia tutupi.
"Arcel, apa yang kau lakukan?! Aku belum gosok gigi tau," protes Kaila
Arcel malah tertawa keras. "Aku enggak peduli. Aku sedang mengambil morning kiss-ku," timpal Arcel
Kaila langsung mendorong tubuh Arcel tuk menjauh. "Ihh, kau ini enggak tau waktu aja," keluh Kaila lagi, tapi wajahnya seperti menahan malu.
Arcel memeluk erat tubuh istrinya itu. "Aku mencintaimu sayang," ucap Arcel dengan senyum lebar.
Kaila terkekeh pelan. "Aku juga mencintaimu," balas Kaila
"Bukankah sebaiknya kita mandi bersama saat ini?" tawar Arcel dengan senyum menggoda.
Kaila langsung dengan cepat melebarkan matanya. Belum saja ia menjawab ajakan Arcel itu, suaminya itu sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kamar mandi.
"Ahh, Arcel! Turunkan aku!" jerit Kaila yang tak digubris sama sekali oleh Arcel.
Suara guyuran dari air shower berpadu dengan suara desahan dari keduanya.
***
"Dasar Arcel! Bisa-bisanya dia melakukannya lagi di kamar mandi. Auch! Pinggangku rasanya akan remuk saja. Tapi lihatlah dia yang tak merasakan apa pun. Malahan dia nampak sangat segar. Aihh! Aku jadi iri dengan stamina suamiku itu," keluh Kaila di dalam dapur sambil membuatkan sarapan untuk dirinya dan suaminya itu.
Tadi Arcel ingin membantu membuatkan sarapan, tapi suara teleponnya berdering dan menampilkan nama dari Tony. Arcel pun maunya tak ingin menerima panggilan itu. Tapi Kaila langsung menyuruhnya untuk menjawab panggilan itu, karena siapa tahu ada hal penting.
Setelah sarapan itu jadi, Kaila segera membawa sarapan itu ke atas meja makan.
"Sudah siap! Sekarang aku tinggal panggil Arcel untuk sarapan," gumam Kaila yang berjalan untuk memanggil sang suami.
Namun, baru saja ia akan menaiki tangga, tiba-tiba saja suara bel dari pintu apartemen terdengar. Kaila jadi urung untuk menaiki tangga. Ia lebih memilih untuk berjalan ke arah pintu depan.
Sebelum membuka pintu, ia terlebih dahulu melihat siapa yang datang lewat intercome. Ternyata seorang pengantar paket. Segera ia membukakan pintu.
"Permisi Nona. Paket untuk Nona Anulika Kaila," ucapnya
"Oh, itu saya. Tapi saya tak ada pesan apa pun," timpal Kaila dengan wajah bingung.
"Saya juga tak tau Nona. Tapi di sini tertulis untuk Nona Anulika Kaila. Ini, Nona bisa lihat sendiri," ucapnya kembali seraya menyerahkan paket di tangannya pada Kaila.
Kaila pun menerimanya dan benar saja, tertulis nama dirinya di sana. Tapi tak ada nama dari si pengirim. Hal itu membuat Kaila jadi terheran.
"Bagaimana Nona? Itu benar kan?" sentaknya
Kaila mengangguk kaku. "Yah, ini untuk saya. Di mana saya harus menandatanganinya?" tanya Kaila
"Di sini Nona"
Kaila pun menandatanganinya.
"Terima kasih Nona. Saya permisi," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Kaila.
Kaila menutup pintu apartemen dan berjalan menuju dapur. Ia menaruh paket yang ia bawa ke atas meja pantry. Setelahnya, Kaila mengambil sebuah gunting untuk membuka paket itu.
Sebuah kotak saat ia membuka paket yang tadi dibungkus dengan banyak plastik. Dengan perlahan ia membuka kotak itu. Sontak matanya melebar saat melihat isi di dalam kotak itu.
"AHH!" teriak Kaila dengan histeris. Bahkan tubuhnya terjatuh ke bawah lantai.
Kaila menutup matanya karena saking takut ia pada apa yang ia lihat di dalam kotak itu.
Sosok Arcel berlari menuruni tangga dengan cepat saat mendengar sang istri yang berteriak kencang. Ia langsung saja terkejut melu sang istri yang meringkuk ketakutan di ujung dapur.
"Sayang, kau kenapa?! Apa yang terjadi padamu?" tanya Arcel dengan wajah yang panik sambil memegang kedua bahu Kaila.
Kaila membuka matanya dan melihat suaminya di depannya. Sontak ia langsung memeluk erat tubuh Arcel. Ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher suaminya itu.
"A-Aku takut, Arcel. Aku takut," lirih Kaila dengan suara gemetar.
Arcel membalas pelukan itu sambil mengelus dengan lembut rambut istrinya itu. "Kau takut apa sayang?" tanya Arcel
Kaila melepaskan pelukan itu sambil menunjuk ke arah kotak yang tadi dikirimkan padanya. Arcel menolehkan kepalanya ke belakang untuk mengikuti arah pandang Kaila. Di sana ia melihat kotak di atas meja pantry. Arcel pun membantu Kaila untuk berdiri dan ia berjalan sendiri menuju kotak itu.
Ia pun langsung juga terkejut saat melihat isi di dalam kotak itu. Bagaimana tidak, di dalam kotak itu terdapat bangkai kucing dan sebuah foto pernikahan mereka yang dicoret dengan warna merah. Arcel mengambil sebuah surat di sana. Ia membaca tulisan yang ada di surat itu.
"LEPASKAN ATAU MATI!!!"
Tentu saja Arcel tahu apa arti dari kalimat itu. Arcel mengepalkan tangannya dengan kuat. Emosinya langsung naik sampai ke ubun-ubun. Ia tentu tahu siapa orang yang melakukan semua ini.
Arcel mengambil kotak itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah. Ia kembali berjalan ke arah istrinya dan langsung memeluknya dengan erat.
"Tenang yah, sayang. Udah enggak ada lagi. Ada aku di sini yang akan melindungi dirimu. Enggak akan ada yang berani untuk melukai dirimu. Tenang yah," ucap Arcel sambil mengelus dengan pelan rambut istrinya itu untuk menenangkannya.
Kaila pun memeluk dengan erat tubuh suaminya itu. Pelukan Arcel benar-benar membuatnya tenang. Ia menutup matanya untuk menikmati kenyamanannya itu. Sekitar lima menit, ia melepaskan pelukan itu dan mengusap pipi Kaila dengan lembut.
Ia mencium dengan lama kening Kaila. Kaila menit matanya untuk menikmati sentuhan lembut itu.
"Tenang yah. Enggak apa-apa yah. Ada aku di sini," ujar Arcel dengan lembut.
Kaila menganggukkan kepalanya pelan. "Iyah. Makasih yah, Arcel. Aku sudah agak tenang saat ini," balas Kaila
"Oh ya, tadi aku mencium bau yang sangat enak. Apa istriku ini sedang memasak?" tanya Arcel
Kaila menganggukkan kepalanya. "Iyah! Aku buatkan sarapan untuk kita berdua. Ayo," ajak Kaila seraya menarik tangan Arcel menuju meja makan.
Arcel menatap makanan di atas meja makan dengan senyum lebar. "Wah, baunya sangat enak yah. Istriku ini hebat yah," puji Arcel
Kaila terkekeh pelan. "Okey! Sudah cukup pujiannya yah Tuan Arcel. Ayo duduk," ujar Kaila seraya menarik suaminya itu untuk duduk di kursi.
Akhirnya keduanya mulai memakan sarapan itu. Rasa tegang yang tadi Kaila rasa sudah menghilang dari dirinya. Arcel benar-benar ampuh menghilangkan semua ketegangan itu. Ia sangat bersyukur karena memiliki Arcel di hidupnya itu. Ia tak pernah sebahagia dan senyaman ini dengan siapapun, bahkan saat ia bersama dengan Irsyad, mantan pacarnya itu.
Mengenai teror yang tadi dikirimkan padanya, ia jadi mulai berpikir tentang siapa yang melakukan semua ini. Hingga akhirnya ia menemukan siapa yang melakukan semua ini. Namun, ia tak mau membicarakan tentang hal itu dulu pada Arcel. Ia lebih memilih untuk melupakan segalanya.
Namun, beda halnya dengan Arcel yang memilih untuk tak melupakan hal itu. Ia berencana untuk membalas apa yang orang itu lakukan pada istrinya itu. Ia tak mau istrinya itu jadi kenapa-kenapa. Karena bagi siapa saja yang berani mengganggu istrinya, ia akan membalasnya lebih berat.
***
"Halo Tony. Bagaimana? Kau sudah menemukannya?" tanya Arcel di balik teleponnya.
["Halo Arcel. Iyah, aku sudah menemukan yang kau pinta. Aku akan mengirimkan file-nya padamu sekarang," jawab Tony]
"Baguslah! Kau memang bisa diandalkan. Aku akan tunggu yang kau kirim padamu," timpal Arcel dengan senyum lebar.
["Okey! Aku akan tutup dulu. Oh ya, kau harus lebih menjaga istrimu itu yah. Tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Jangan lupakan obatmu," balas Tony]
Arcel merotasikan bola matanya seraya menghela napas kasar. "Iyah, iyah, Dokter Tony. Kau ini cerewet banget sih. Kau sudah berulang kali mengatakan itu padaku tau," keluh Arcel
["Hei, aku memberitahukan ini padamu karena aku ini peduli padamu. Ingat itu," tegur Tony]
Arcel kembali menghela napas kasar.
"Iyah, iyah, aku tau hal itu. Udah yah, aku tutup dulu. Sampai jumpa," ujar Arcel seraya mematikan panggilan telepon itu.
Arcel menghela napas lega. Akhirnya ia bisa berhenti mendengar ocehan dokter pribadinya itu. Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Itu adalah file yang ia minta dari Tony tadi. Arcel segera membuka file itu untuk melu isi di dalamnya. Sebuah senyum miring tercetak di wajahnya.
"Cih, aku tau kalau kau yang melakukannya. Kau telah salah membuat urusan dengan orang seperti aku," desis Arcel dengan tatapan tajam.
To be continued...