Happy Reading
"Kamu belajar yang rajin yah. Fokus pada dosen di depan. Jangan malah mengkhayal," perintah Arcel setelah mereka turun dari mobil.
Hari ini Kaila mempunyai kelas pagi tapi Arcel tidak memiliki jadwal kuliah apa pun. Jadi Arcel hanya mengantari Kaila ke kampus saja.
"Iya, Arcel. Aku ngerti," jawab Kaila
"Oh ya, jika masih ada orang yang membullymu, kamu harus cepat kasih tau aku ya," tambah Arcel
"Siap bos," balas Kaila seraya menaikkan tangannya ke kening.
"Kalau gitu, aku pergi dulu yah. Bye, my K," pamit Arcel seraya mencium kening Kaila.
Kaila melambaikan tangannya pada Arcel.
"Dorr"
"Ahh!"
Sontak Kaila terkejut karena tepukan dari seseorang. Ia langsung berbalik untuk melihat pelakunya. Kaila melebarkan matanya ketika melihat pelakunya itu.
"Davira! Kamu ini ya lama-lama makin jahil. Sini kamu," omel Kaila seraya mengejar Davira yang telah lari duluan.
"Ampun! Ampun Kaila. Janji deh enggak akan ulangi lagi," ujar Davira yang telah lelah berlari.
"Huh, kemarin juga ngomongnya gitu," keluh Kaila seraya membuang wajahnya.
"Iya deh, suer kali ini," balas Davira cengengesan.
"Okey, kali ini kau kumaafkan karena suasana hatiku sedang baik," ucap Kaila dengan senyuman.
Davira langsung menyadari sesuatu.
"Oh ya, bener juga! Kaila, kau berjanji akan memberikan PJ padaku, kan?" tutur Davira seraya menaikturunkan alisnya.
"Iya, aku tau. Makanya habis kelas ini kita pergi. Oke?" balas Kaila seraya mengacungkan jempolnya.
"Oke. Ayo kita masuk kelas," ajak Davira
***
Akhirnya kelas itu pun selesai. Sesuai janji, Kaila akan memberikan PJ pada Davira. Di sinilah mereka sekarang. Di sebuah mall di dekat kampus mereka. Sedari awal mereka sampai Kaila menarik tangan Davira ke sana ke mari. Ke toko pakaianlah, aksesorislah, sampai ke toko sepatu.
Tentu saja Davira terkejut karena bukan PJ ini yang dia inginkan. Ia hanya meminta PJ berupa traktiran di tempat makan. Ia juga tidak berharap mereka akan ke sini. Ia sudah berusaha untuk menghentikan Kaila. Namun, Kaila sama sekali tak mendengarkannya.
"Stop!"
Kaila langsung menghentikan langkahnya karena sahutan Davira.
"Kenapa Davira?" tanya Kaila
"Kai, untuk apa kau membelikan aku ini semua?" tanya Davira
"Bukannya kau meminta PJ dariku yah?" tanya Kaila kembali.
Davira menghela napas kasar.
"Bukan PJ ini yang aku maksud. Apa kau enggak pernah berikan PJ saat dirimu dan Irsyad pacaran?" tanya Davira
"Pernah. Ini yang aku lakukan," jawab Kaila
"Ini? Siapa yang memintanya? Kau atau temanmu?" selidik Davira
"Mereka yang meminta ke sini. Makanya saat kau bilang minta PJ, aku mengajakmu ke sini," jelas Kaila
Davira menepuk jidatnya. Ia tak menyangka kalau Kaila akan diperalat seperti ini oleh mereka. Davira jadi menyimpulkan kalau Kaila adalah orang pintar di pelajaran tapi bodoh di bidang pertemanan.
"Kai, ini bukan PJ namanya. Asal kau tau, PJ itu hanya sekedar kau mentraktir mereka makan. Enggak sampai kau harus menguras dompetmu dengan membelikan semua ini. Apa kau enggak menyadari sedang diperalat oleh mereka?" komentar Davira
"Aku juga enggak tau. Saat itu aku baru pertama kali yang namanya pacaran. Jadi apa mereka katakan aku percaya aja," ungkap Kaila
Davira menghela napas kembali.
"Udahlah, kita ke restoran aja yuk. Lagipula aku udah laper daritadi kau ajak keliling," ajal Davira
"Ayuk"
Kaila dan Davira memilih salah satu restoran makanan Korea. Mereka mulai menyantap makanan itu setelah memesan.
'kring-kring'
Kaila yang sedang asik makan seketika terhenti karena bunyi dari ponselnya. Ia meraih ponsel di saku celananya. Tatapannya sedikit terkejut melihat nama dari penelpon.
"Halo Pa"
["Halo Kaila. Kamu di mana Nak?" tanya Emran dengan nada lembut.]
Kaila terheran karena suara Papanya berubah terhadapnya. Kaila jadi berpikir ada sesuatu yang terjadi.
"Aku di tempat makan bersama teman. Kenapa Pa?" tanya Kaila
["Papa dan Mama ingin mengajakmu makan malam hari ini. Bisa kamu datang bareng Arcel?" tanya Emran]
Baru saja ia merasa kalau Papanya itu sudah menerimanya kembali. Ternyata ada udang dibalik batu.
"Hmm, aku enggak bisa janji Pa. Soalnya Arcel itu cukup sibuk," jawab Kaila
["Yah, coba saja kamu bujuk dulu. Kamu kan pacarnya. Pasti dia mau," tampik Emran]
"Iyah, Pa. Nanti aku coba ya. Aku tutup dulu," balas Kaila serta menutup panggilan telpon itu.
"Ada apa Kai?" tanya Davira
"Papaku mau aku datang makan malam di rumah bareng Arcel," jelas Kaila
"Hmm? Kenapa papamu mau ketemu juga dengan Kak Arcel?" tanya Davira
Kaila lupa menceritakan kejadian itu pada Davira.
"Nanti deh, aku ceritakan. Aku mau telpon Arcel dulu yah," ucap Kaila seraya keluar dari restoran untuk menelepon Arcel.
"Halo Arcel"
["Halo sayang. Ada apa?" tanya Arcel]
Kaila berusaha menutupi kegugupannya karena kata 'sayang' yang dilontarkan Arcel. Padahal waktu bersama Iryad ia tak seperti ini.
"Aku mau kasih tau sesuatu. Papaku ngajak kita pergi makan malam di rumah nanti. Kamu mau datang enggak?" tanya Kaila
["Kalau kamu mau kita bisa pergi," jawab Arcel]
"Ya udah, nanti aku akan kabarin Papa kalau kamu setuju untuk datang," timpal Kaila
["Kamu ada di mana?" tanya Arcel]
"Di restoran bareng Davira. Kenapa?" tanya Kaila kembali.
["Nanti aku akan menjemputmu di apartemen," jawab Arcel]
"Oke. See you," balas Kaila seraya menutup panggilan itu.
Kaila kembali duduk di kursi.
"Bagaimana? Kak Arcel mau datang?" tanya Davira begitu Kaila telah duduk di kursinya.
"Iyah, dia mau datang," jawab Kaila
"Menurutku ada sesuatu deh yang akan terjadi," duga Davira dengan tatapan berpikir.
Kaila tak menanggapi ucapan itu. Ia merasa kalau yang dikatakan Davira itu benar adanya.
***
Tepat pukul tujuh malam, mobil milik Richard sudah sampai di depan rumah Emran Gajendra, Papa Kaila.
Seperti biasa, Arcel akan membukakan pintu mobil untuk Kaila dan menggandeng tangannya. Pakaian yang mereka pakai itu semu formal karena ini cuma makan malam biasa.
"Assalamualaikum, selama malam Tuan Gajendra," sapa Arcel
"Waalaikumsalam, selama malam juga Tuan Andhra," sapa Emran balik dengan senyum sopan.
"Wah, kalian sudah datang. Ayo mari masuk," ajak Devi menyambut kedatangan Kaila dan Arcel.
Arcel menoleh pada Kaila dan tersenyum. Lalu ia menggenggam erat tangan Kaila dan mengikuti langkah pasangan suami istri itu ke meja makan.
Kaila sedikit terkejut karena di sana ada Irsyad. Begitu pula Irsyad yang sangat terkejut melihat kedatangan Kaila dan Arcel.
"Nah, karena Kaila dan Arcel sudah datang. Mari kita mulai makan malamnya," celetuk Emran
Mereka semua menyantap makanan itu dengan tenang. Namun, ada dua manusia yang nampak tak tenang. Dia adalah Irsyad dan Dianti. Irsyad memandang tajam pada Kaila yang begitu perhatian dengan Arcel. Begitu pula Arcel yang dengan sikap prianya membukakan cangkang udang untuk Kaila.
Dianti pun memandang tajam pada Kaila karena berhasil mendapatkan pria yang lebih hebat dari Irsyad. Dianti sangat iri dengan semua yang dimiliki Kaila. Apalagi saat ia menoleh pada Irsyad, nampak sekali Irsyad sedang menatap ke arah pasangan kekasih itu. Hal itu membuat darah Dianti seketika mendidih.
"Manja banget sih. Pake dibukain segala," sindir Dianti ketika melihat Irsyad membukakan cangkah udang untuk Kaila.
Kaila menaikkan alisnya satu.
Emran langsung memandang tidak enak.
"Iya, Kaila. Jangan menyusahkan Tuan Andhra. Kamu kan bisa membukanya sendiri," celetuk Emran
Di saat Kaila ingin menyela langsung ditahan Arcel dengan menggenggam tangannya.
"Enggak apa-apa Tuan Gajendra. Lagipula Kaila itu pacar saya. Udah seharusnya saya melakukan hal ini untuknya. Kalau kita mempunyai seorang yang kita cintai, harusnya kita menjaganya dengan baik," jelas Arcel seraya melirik ke arah Irsyad yang nampak tersindir dengan ucapannya.
"I-Iya Tuan Andhra bener juga. Kita harus menyayangi orang yang kita cinta. Oh ya, sejak kapan kalian pacaran?" tanya Emran yang sedikit salah tingkah.
Tak pernah ia merasa seperti ini ketika berdekatan dengan orang-orang besar. Padahal Arcel bukan orang yang terlalu besar, tapi aura ya sangat membuatnya menjadi tunduk.
"Kami pacaran belum lama kok. Tapi kalau berkenalan, kami udah sangat lama," jawab Arcel
Irsyad sedikit memandang terkejut pada perkataan Arcel. Kaila juga menjadi terkejut dengan perkataan Arcel. Sejujurnya ia dan Arcel belum lama kenal. Kaila bisa melihat kalau Arcel memandangnya tajam.
Quote of the day:
Semua yang kau lakukan membuat semua orang terpana melihatmu. Tak tau sihir apa yang kau gunakan untuk menaklukkan itu semua.
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!!
See you in next chapter!!!