HELLO I'M BACKK!!!
Bagaimana kabar kalian reader???
Tetap stay di ceritaku ini yah!!!
Aku akan selalu usahain untuk update cerita ini!!!
Jadi jangan lupa vote dan comment nya reader!!!
Hargailah karya aku ini untuk kalian!!!
Happy Reading
Seorang wanita tampak sedang mengintrogasi kedua pria yang tengah duduk di hadapannya. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain. Satu pria menatap tajam dan pria lainnya hanya memberikan senyum cengiran.
"Jadi kalian ini sahabatan?" tanya ya dengan tatapan mengintimidasi.
"Iyap, betul sekali"
"Kenapa kamu enggak pernah cerita kalau ada sahabat?" tanya wanita itu pada pria yang menatap tajam.
Tatapan pria seketika melunak ketika bersitatapan dengan wanita itu.
"Kaila, bukannya aku enggak ingin cerita. Hanya saja aku belum punya waktu yang pas untuk cerita sama kamu," jelas pria itu seraya duduk di dekat Kaila.
"Hmm, Arcel emang gitu. Dia enggak peduli dengan sahabatnya ini sampai berita pacarannya pun enggak dia kasih tau," sindir pria dengan kacamata.
"Tony! Kau sepertinya semakin berani yah," desis Arcel
"Kan emang gitu. Coba aja aku enggak datang hari ini, aku enggak akan tau kalau kau udah ada pacar," keluh pria berkacamata, Tony.
"Udah! Udah! Kok pada berantem sih. Oh ya, aku boleh tanya lagi enggak?" tanya Kaila
"Tanya saja"
"Hmm, apa yang kakak lakukan di TM Group. Apa kakak ini pegawai di sana?" tanya Kaila dengan tatapan sedikit mengintimidasi.
Tony tampak sedikit tertegun dengan pertanyaan itu walau ia bisa menutupi dengan mudah. Ia sedikit melirik ke arah Arcel yang nampak menatapnya juga. Arcel tampak menganggukkan kepalanya sekali dengan pelan.
"Hmm, iya. Saya pegawai di sana," jawab Tony seperti berusaha menutupi kegugupannya.
"Oh, berarti kakak jajaran atas perusahaan itu ya?" tanya Kaila
"Iya, seperti itu. Emang kenapa?" tanya Tony
Wanita ini sangat cocok dengan Arcel. Mereka sama-sama memiliki tatapan yang dapat membuat orang mati kutu ~ batin Tony
"Soalnya saya melihat kakak keluar dari ruangan CEO perusahaan itu. Kakak sekretarisnya yah?" tanya Kaila lagi.
"Hmm, bukan. Saya bukan sekretarisnya," jawab Tony yang nampak semakin gugup.
Arcel tersenyum puas dengan Tony yang nampak tersiksa dengan pertanyaan Kaila. Siapa suruh Kaila itu orang kritis.
"Terus apanya? Hmm, pastinya kakak udah sering ketemu kan dengan CEO itu. Bagaimana rupanya? Apa dia benar tampan seperti rumornya?" tanya Kaila bertubi-tubi.
Tony mengeluarkan smirk licik.
"Sering. Eh?! Malah setiap hari saya bertemu dengannya. Asal kau tau, dia memang lumayan tampan tapi dia sedikit gila," jawab Tony sambil melirik sedikit ke arah Arcel yang nampak menatapnya tajam.
"Wah, iyakah? Gila di mananya?" tanya Kaila yang nampak semakin penasaran.
"Gilanya itu di...."
"Udah! Udah! Ngapain kita bicarakan CEO itu. Kau ini banyak omong juga ya. Mending kau pulang deh. Ganggu me time orang aja. Ayo," tukas Arcel seraya menarik tangan Tony keluar.
"Eh?! Kau ini enggak setia kawan sekali. Saya pulang ya. Bye Kaila," keluh Tony seraya keluar dari apartemen itu.
Arcel menutup pintu itu dan menatap sedikit dingin pada Kaila. Kaila yang ditata seperti itu hanya memberikan tatapan bingung.
"Kenapa?"
"Huh, aku enggak suka tau kamu terlihat antusias gitu dengan CEO itu," keluh Arcel dengan wajah cemberut.
Kaila terkekeh geli dengan Arcel yang cemburu.
"Kamu cemburu?" duga Kaila
"Iya, mestilah. Mana ada pria yang akan tahan saat pacarnya malah terlihat antusias dengan pria lain," protes Arcel
Kaila tertegun dengan penuturan Arcel. Ia mengira kalau Arcel akan menyangkal pertanyaannya.
"Kamu tenang aja, Arcel. Hanya kamu yang bisa membuatku antusias. Hanya kamu yang bisa membuatku tersenyum lebar," celetuk Kaila seraya memeluk tubuh Arcel.
Arcel tersenyum dan membalas pelukan itu.
"Iya, kamu benar. Kamu harus ingat kalau kamu itu adalah milikku. Enggak boleh ada pria lain yang bolej mendekatimu. Aku akan pergi masak dulu. Kamu tunggu aja aku masak di sini. Oke?" papar Arcel
Kaila mengangguk kuat. Arcel mencubit sedikit hidung Kaila. Ia pun bergerak menuju dapur.
Kaila duduk di soda lagi dan menonton acara tv dengan random. Sekitar tiga puluh menit Kaila menunggu. Akhirnya ia mati kebosanan. Ia segera beranjak menuju dapur untuk melihat Arcel. Siapa tahu dia bisa membantu sedikit.
'grep'
Arcel dibuat terkejut dengan pelukan Kaila yang tiba-tiba di belakangnya. Setelahnya ia tersenyum lembut.
"Kenapa sayang?" tanya Arcel
"Aku bosan. Aku mau bantu kamu," tutur Kaila
Arcel segera membalikkan badannya dan menggendong tubuh Kaila ke atas meja makan.
"Kamu enggak perlu membantuku. Lagipula udah hampir selesai kok. Kamu duduk di sini aja, ya," jawab Arcel
Kaila pun menganggukkan kepalanya.
Arcel kembali menyiapkan makanannya. Setelahnya ia segera menaruh di atas meja makan.
Kaila nampak antusias dengan makanan dengan aroma enak itu. Ia dan Arcel segera memakan makanan itu dengan tenang.
***
"Arcel, bisakah aku minta sesuatu?" tanya Kaila
"Minta apa?" tanya Arcel kembali seraya mengelap tangannya yang basah sehabis mencuci piring.
"Aku ingin denger kamu memainkan piano itu," jawab Kaila dengan tatapan memohon.
"Kamu udah liat piano di ruangan itu?" tanya Arcel
"Iyah, aku enggak sengaja liat saat melewati ruangan itu," balas Kaila
"Okey, aku akan memainkan satu lagu untukmu," timpal Arcel
"Wah, ayo sekarang juga," ucap Kaila seraya menarik tangan Arcel dengan cepat.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang terletak di samping kamar Arcel. Waktu itu Arcel lupa untuk menguncinya, alhasil Kaila melihat piano itu. Sejujurnya ia tak ingin masuk ke ruangan ini. Ada sedikit kenangan buruk yang membuatnya tak mau masuk ke ruangan ini.
Namun, saat ini Kaila ingin melihatnya memainkan piano itu. Baginya permintaan Kaila itu sangat penting. Ia akan mengabulkan apa saja yang diingkan Kaila.
Mereka berdua duduk di kursi yang terletak di depan piano. Arcel membuka penutup piano itu.
(Play song: All Of Me - Chanyeol ver.)
What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
Kaila tersenyum lebar kala lagu itu berhenti. Ia menatap Arcel dengan mata penuh kebinaran.
"Arcel, kami hebat banget nyanyinya. Suaramu merdu banget tau," puji Kaila
"Haha, makasih pujiannya sayang," balas Arcel seraya mencium pipi Kaila.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini Kaila dan Arcel tengah menonton televisi bersama. Dengan Kaila yang menyender pada bahu Arcel dan Arcel yang nampak mengelus rambut Kaila dengan lembut.
Tanpa tersadar Kaila tertidur dalam pelukan Arcel. Arcel melihat ke arah Kaila yang nampak telah tertidur lelap. Seketika ia tersenyum lebar dan mengecup sekilas bibir Kaila. Setelahnya ia mengangkat tubuh Kaila menuju kamarnya dan membaringkannya di atas ranjangnya.
Arcel menatap dengan lembut pada Kaila yang nampak terlihat damai dalam tidurnya. Sekali lagi ia mencium Kaila tepat di keningnya.
Aku sangat mencintaimu, Kaila. Kamu adalah alasan aku berada di sini. Maaf jika aku banyak menyembunyikan sesuatu padamu. Aku akan melewati segala rintangan itu. Meskipun harus melanggar aturan yang ada ~ batin Arcel
Quote of the day:
Hanya dirimu yang dapat membuatku tersenyum bahagia. Kau adalah duniaku. Jika kau pergi maka aku tak punya alasan lagi untuk berada di dunia ini
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Semoga kalian makin suka yah dengan cerita ini!!!
Jangan lupa untuk vote dan comment nya reader!!!
See you in next chapter!!!