Bertemu Kembali Dengannya

1631 Kata
Happy Reading Sedari pulang dari acara itu, Kaila hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata pun. Bahkan hingga di depan pintu apartemennya, Kaila hanya diam saja. Hal itu membuat Arcel jadi terheran. Ia segera menahan tangan Kaila yang hendak masuk ke apartemennya. "Kaila, tunggu!" tahan Arcel "Iya, ada apa?" tanya Kaila "Kamu kenapa?" tanya Arcel balik. "Aku kenapa? Emang ada apa denganku?" tanya Kaila balik dengan pandangan bingung. Arcel menghela napas kasar. "Kamu diem aja daritadi. Kayak ada yang lagi kamu pikirin," ucap Arcel Kaila nampak diam sejenak. "Aku ... hanya masih memikirkan kejadian di acara tadi," tutur Kaila seraya menundukkan kepalanya. Arcel tersenyum maklum. "Aku akan menceritakannya padamu besok. Sekarang kamu harus istirahat. Ini udah larut. Lagipula kamu harus ke TM Group kan besok dengan Davira," jawab Arcel Kaila mengangguk kecil. "Iya, kamu benar. Ya udah, aku masuk dulu yah. Kamu hati-hati pulangnya," balas Kaila seraya membalikkan tubuhnya. Namun, dengan Arcel membalikkan tubuh Kaila dan mencium tepat di keningnya. Kaila terkejut seraya melebarkan matanya. 'cup' "Selamat malam, Kaila. Mimpiin aku yah," ucap Arcel seraya berlalu dari hadapan Kaila. Kaila masih diam terpaku di tempatnya. Detik berikutnya ia langsung buru-buru masuk ke dalam apartemennya. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu seraya memegangi dadanya yang berdetak sangat cepat. Kaila menyentuh pipinya yang terasa panas. "Arcel bener-bener deh. Udah ah! Mau tidur aja, besok harus bangun pagi," gumam Kaila seraya beranjak masuk dalam kamarnya. *** "Iya, aku udah mau sampai di bawah kok. Oke," ucap Kaila seraya menutup panggilan telponnya. Senyum lebar terpatri di wajahnya ketika melihat sosok Arcel yang tengah menunggunya di lobi. "Arcel!" "Hai, Kailaku. Tidurmu nyenyak?" tanya Arcel yang langsung memeluk tubuh Kaila. "Nyenyak" "Kalau gitu, kita berangkat?" tawar Arcel "Ayo" Mobil milik Arcel segera berjalan meninggalkan kawasan apartemen. Sekitar dua puluh menit, mobil itu sampai di depan gedung pencakar langit, TM Group. Saat berjalan masuk ke dalam, Kaila melihat sosok Davira yang tengah bermain ponsel. Kaila segera menghampirinya dengan berlari kecil. "Davira!" Davira segera menolehkan wajahnya ketika seseorang memanggilnya. "Kaila!" Seketika Davira memeluk tubuh Kaila erat. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran Arcel di belakang. Sontak ia memberikan tatapan menggoda pada Kaila. "Enak banget ya, dateng dianterin sama pacar," goda Davira Kaila melebarkan matanya karena malu. "Ihh, Davira apaan sih!" protes Kaila "Haha, kau mau juga ternyata. Pokoknya aku akan minta PJ padamu nanti," ucap Davira "Iyah, siap kalau itu," balas Kaila dengan senyum yang lebar. "Kalau gitu, ayo kita ke atas. Soalnya tadi Tuan Alfred udah dateng ke sini. Dia bilang kalau kau udah dateng suruh langsung aja ke atas," jelas Davira "Ohh, kalau gitu ayo," balas Kaila Kaila dan Davira berjalan beriringan menuju ruangan tempat desain mereka. Arcel mengikuti kedua gadis itu dari belakang. Saat sampai di tempat ruangan yang menggunakan desain mereka, terlihat ada beberapa pekerja yang sedang melakukan konstruksi. "Oh, kalian sudah datang. Mari ikut saya," celetuk Alfred Kaila maupun Davira segera mengikuti langkah Alfred untuk masuk ke dalam ruangan itu. Mereka diberi masker untuk menghindari debu yang masuk. Arcel pun juga ikut masuk ke dalam. "Kalian bisa melihat apa yang kurang dari bahan yang seharusnya dipakai. Atau kalau ada kesalahan dengan cara para pekerja, kalian bisa memberitahukannya pada kami," celetuk Mike "Baik Tuan. Terima kasih," balas Kaila "Kalau begitu kami pamit sejenak karena kami masih ada rapat yang harus dihadiri," pamit Mike Kaila dan Davira hanya mengangguk. Kaila berjalan mengitari ruangan itu sambil melihat para pekerja itu melakukan tugas mereka. "Kaila, hati-hati! Nanti kamu jatuh lagi," tandas Arcel "Iyah, aku tau," balas Kaila Davira yang melihat Arcel begitu perhatian dengan Kaila, tersenyum senang. Ia segera mendekati Kaila. "Aku udah bilang kan Kai. Kalian itu saling mencintai. Pasti akan pacaran," celetuk Davira Kaila tiba-tiba tersentak dengan penuturan Davira. Ia jadi tersenyum lebar. "Aku juga enggak nyangka tau bakal kayak gini," komentar Kaila "Kau ini terlalu merendah. Kau itu pantas dicintai semua orang. Kau orangnya baik," tandas Davira "Makasih yah Dav. Kau orang pertama yang mendukung hubungan kami," timpal Kaila dengan tersenyum manis. "Aku kan udah bilang hal itu padamu. Aku ke sana bentar yah, aku mau liat para pekerja yang lain," ujar Davira Kaila menganggukkan kepalanya. Kaila kembali menyusuri setiap sudut di ruangan itu. Namun sebuah kejadian tak terduga terjadi. "KAILA! AWAS!" Kaila menutup matanya ketika sebuah kayu hampir saja menimpa tubuhnya. Ia membuka matanya dan melihat sosok Arcel yang sedang menatap khawatir padanya. "Kaila! Kamu enggak apa-apa kan?! Katakan ada yang sakit enggak?!" cerca Arcel dengan wajah khawatir. Kaila segera menggelengkan kepalanya. "Aku enggak apa-apa. Apa yang terjadi?" tanya Kaila "Kau hampir saja tertimpa dengan kayu itu. Untung saja Kak Arcel cepat menarikmu untuk menjauh," celetuk Davira Kaila sama sekali tak sadar dengan kayu yang menimpanya itu. "Bagaimana bisa kalian begitu ceroboh?! Apa kalian tidak memikirkan resiko dari ini semua, hah?!" murka Arcel "Arcel, udahlah. Lagipula aku enggak apa-apa kan," tahan Kaila supaya Arcel meredam emosinya. "Enggak bisa Kai. Ini udah hampir mencelakaimu. Aku enggak akan menerimanya," tampik Arcel "Ada apa ini?" tanya Alfred yang tiba-tiba hadir. Arcel langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Alfred. "Apa ini cara kalian bekerja?! Bagaimana hal sekecil ini tidak bisa kalian tangani?! Bagaimana kalau pacar saya kecelakaan?! Kalian mau tanggung akibatnya?!" geram Arcel Alfred terkejut ketika melihat kayu yang terjatuh. "Ma-Maafkan saya Tuan. Saya tidak tahu bakal ada kejadian seperti ini. Mohon maafkan kami yang teledor dengan hal ini. Kami akan menanggung kerugian dari kalian," ujar Alfred seraya menundukkan kepalanya. Kaila ikut berdiri dan memegang tangan Arcel "Arcel, udahlah yah. Aku enggak apa-apa kok. Jangan salahin mereka. Kita enggak tau kejadian ini akan terjadi," tutur Kaila "Tapi kau enggak apa-apa Kai?" tanya Davira "Aku enggak apa-apa kok," jawab Kaila seraya tersenyum. "Kita ke rumah sakit aja. Aku takut ada yang terluka di bagian dalam," ujar Arcel "Arcel. Enggak perlu lah. Aku beneran enggak apa-apa," tolak Kaila "Enggak! Aku akan sangat khawatir kalau belum diperiksa," tampik Arcel "Kak Arcel benar Kai. Kau coba aja periksa dulu. Supaya lebih tenang," timpal Davira Kaila menghela napas pasrah. "Ya udah deh, tapi kau enggak apa-apa nih aku tinggalin?" tanya Kaila "Enggak kok. Tenang aja, yang penting enggak terjadi apa-apa padamu," jawab Davira seraya menyentuh bahu Kaila. "Kalau gitu aku pamit dulu yah," balas Kaila seraya mengikuti langkah Arcel keluar. *** "Anda tenang saja Tuan. Istri anda ini tidak mengalami hal serius" "Oh, terima kasih tah Dok. Kalau gitu kami permisi dulu" "Kok kamu bilang aku ini istrimu sih, Arcel?!" omel Kaila setelah mereka keluar dari ruangan dokter. "Biarin. Lagipula itu pasti akan terjadi kan?" goda Arcel "Ihh, dasar yah sukanya gombal terus," protes Kaila dengan pipinya yang memerah. Arcel hanya terkikik geli melihat Kaila yang tampak salah tingkah. "Mau ke apartemenku enggak? Sekalian ceritain soal itu," ajak Arcel "Soal itu apa?" tanya Kaila dengan pandangan bingung. Arcel tersenyum kecil. "Bulannya kemarin kamu bilang mau tau soal yang di acara amal?" pikir Arcel "Oh, iya juga! Aku sampai lupa hal itu," timpal Kaila "Kalau gitu, ayo kita ke apartemenku," ajak Arcel seraya menarik tangan Kaila. *** "Wah, apartemenmu bagus sekali," puji Kaila yang memandang dengan tatapan kagum pada interior apartemen Arcel. "Hmm, soalnya aku mendesainnya sendiri," timpal Arcel seraya melepas sepatunya. "Iyakah?! Hmm, pantasan aja sebagus ini. Kamu kan juaranya dalam hal itu," puji Kaila lagi. "Tapi aku enggak terlalu suka juara di bidang itu," celetuk Arcel Kaila memandangi Arcel dengan bingung. "Terus kamu mau juara di bidang apa?" tanya Kaila "Aku mau juara di bidang mencintaimu saja," jawab Arcel dengan senyuman lebar. "Arcel! Stop it! Mulutmu itu manis banget ya," protes Kaila dengan wajahnya yang kembali memerah. Kenapa Arcel suka sekali membuat dirinya senam jantung? "Haha, sini-sini duduk denganku," ajak Arcel seraya menarik tangan Kaila untuk duduk di sofa ruang keluarga. "Apakah kamu akan menceritakannya sekarang?" tanya Kaila "Iyah, dengerkan ya. Sebenarnya ... uang yang diamalkan di situ bukan milikku. Tapi milik ayahku," ungkap Arcel "Ayahmu?" "Iyah, ayahku sebelum meninggal memberiku amanat untuk menyedekahkan tanah yang ia miliki untuk kepentingan pembangunan panti asuhan. Dia sangat ingin sekali tanah yang ia miliki itu akan berguna untuk banyak orang. Makanya dia sedekahkan tanah itu," jelas Arcel "Oh, jadi begitu ceritanya," ujar Kaila "Hmm, maaf ya jika aku belum cerita masalah keluargaku padamu," timpal Arcel "Enggak kok. Aku tau kamu akan menceritakannya padaku di saat kamu siap. Aku enggak maksa," balas Kaila "Makasih yah sayang. Aku mencintaimu," ujar Arcel seraya memeluk tubuh Kaila "Aku juga sangat mencintaimu," balas Kaila *Oh ya, aku baru ingat. Kemarin aku membuat kukis untukmu," celetuk Arcel "Kamu bisa membuat kukis?!" pekik Kaila dengan tatapan terkejut. "Mestilah. Aku ini bisa memasak banyak macam. Ayo," tandas Arcel seraya menarik tangan Kaila menuju dapur. Arcel mengambil setoples kukis di dalam kulkasnya. "Ini coba" Arcel menyuapi Kaila dengan satu buah kukis. "Hmm, ini enak banget Arcel. Rasanya pas banget. Kamu hebat," puji Kaila seraya mengambil kembali kukis di dalam toples. Arcel tersenyum lebar karena melihat Kaila menyukai kukis buatannya. 'cup' Kaila melebarkan matanya ketika Arcel secara tiba-tiba menciumnya. "Bibirmu belepotan jadi aku bantu bersihin," celetuk Arcel Kaila tersenyum malu. Di saat Arcel ingin mencium Kaila lagi, suara bel apartemennya berbunyi hingga membuat aktifitas itu harus terhenti. Arcel memandang geram pada orang yang mengganggu kegiatannya. Ia segera menuju ke pintu untuk melihat pelaku yang sudah mengganggunya. "Hello, Ma Bro. Do you miss me?" "Tony?! Kau ngapain ke sini?" tanya Arcel yang sedikit terkejut dengan kedatangan Tony. "Kamu?!" pekik Kaila seraya menunjuk ke arah Tony. Arcel terkejut ketika melihat Kaila sepertinya mengenal Tony. Namun, Tony menampilkan senyum tipis. Quote of the day: Apakah kalian percaya pada takdir? Entahlah, rasanya aku percaya bahwa takdir itu beneran ada. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN