bc

On That Day When I Met You

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
friends to lovers
mafia
brilliant
musclebear
like
intro-logo
Uraian

On that day when i met you, semuanya berubah. Ia melihat seorang wanita yang begitu sempurnanya namun tidak dengan kisah hidupnya. On that day when i met you, semua berubah. Ia melihat seorang ayah yang begitu tanggung jawab terhadap hidupnya dan perlahan menghapus pikiran bahwa tidak semua lelaki itu b******n.

Memilih untuk bersatu. Apakah bisa? Apakah boleh? Apakah cocok? Entahlah. Semua dijalani hingga hanya Aktas dan Zalina yang menentukan takdir akhir mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
1 - Pertama
"Ada apa kita dipanggil pagi-pagi gini?" Tanya seorang pria yang berumur 30 tahun itu. Pria yang berada didepannya mengangkat bahu. "Kita lihat saja, ayo kita masuk." Salah satu pria itu membuka pintu dan masuk. Seorang komandan duduk bersila dikursi kerjanya, menatap jauh pemandangan di jendela. Dua pria tadi hanya berdiri menunggu instruksi dari komandan. Komandan menoleh mereka berdua. "Mana sejawat kalian satu lagi?" Kedua pria itu bersitatap. Siapa yang mau ditunggu? Seorang pria dengan badannya yang besar, masuk dengan tenang dan sedikit terdengar sesak dari alur nafasnya. "Maaf terlambat komandan." Komandan berdiri. Menatap mereka bertiga. "Aktas, Nadim dan Mufit. Kalian tidak bertanya-tanya kenapa kalian disini?" "Siap, ada tugas komandan." Ucap Mufit. Lencana nama yang bertuliskan Sinan tersenyum. "Besar badanmu, sebanding dengan inimu." Mengetukkan jarinya ke kepala. "Ingat Yasser Albani?" Ketiga pria itu sedikit terjingkat ketika mendengarkan nama itu. Siapa yang tidak terjingkat? Seorang mafia jual beli n*****a, penyelundupan, cuci uang, perjudian dsb. Tentu kasus ini tidak mudah. Sedikiti challenging dibanding kasus-kasus sebelumnya. "Aku mau Aktas jadi kapten kalian selama bertugas." Aktas mengangguk dan menyanggupi permintaan komandan. "Tugas dimulai minggu depan. Selama kalian tidak bisa menangkap dan melumpuhkan bisnis serta pelakunya, kalian tidak akan ke kantor. Lakukan dengan cepat, matang dan penuh perhitungan." Jari telunjuknya keatas memperingatkan. "Sebab ada nyawa. Nggak boleh dibunuh. Tapi jika itu mengharuskan, maka kalian bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan." Nadim yang paling takut diantara ketiga nya, menelan salivanya. Komandan menyuruh Mufit dan Nadim kembali, namun tidak dengan Aktas. "Ingat Aktas , ini tugas yang mulia. Aku tau ini berat dan penuh amanah. Tapi kau tetap harus melakukannya. Beri kabar jika kau butuh sesuatu. Apalagi berkaitan dengan Ayanna, anakmu." Aktas mengangguk. Hatinya berat sekali menerima kasus pekerjaan ini, namun sebagai Komando Pasukan Khusus beroperasi penangkapan sindikat kriminal. Komandan Sinan menepuk pundaknya dan Aktas pun kembali ke meja kerjanya. "Gimana Aktas? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Aktas menghela nafasnya dan menoleh ke Nadim. "Hal pertama, kita harus pindah ke rumah aman, aku bersama Ayanna dan kau Nadim di rumah satu lagi-" "Oh tuhan jangan Aktas. Mufit itu akan membawa istri perawatnya tinggal bersama dengannya. Izinkan aku tinggal bersamamu dan Ayanna." Aktas menghela nafasnya dan mengangguk. "Selanjutnya aku harus memindahkan sekolah Ayanna, agar lebih dekat dengan rumah aman untuk sementara waktu." Nadim menatapnya. Ia tau sejawatnya ini sedikit berat hati menerima tawaran tugas ini. "Mungkin ada hikmah dibalik ini kapten. Ayo kita melakukannya bersama." Aktas mengangguk dan sedikit semangat memabar dalam dirinya. *** Aktas mengenakan jaket trucker dan turun menunggu Ayanna, sang buah hati yang sudah berumur 10 tahun itu keluar pulang sekolah. Sekitaran 15 menit ia menunggu, Ayanna keluar berlari menghampiri Aktas. "Papa!" Aktas tersenyum lalu sedikit menundukkan badannya untuk membantu mengambil tas Ayanna yang berat itu. "Gimana sekolahnya nak?" Ayanna tersenyum. "Seperti biasa Papa. Capek." Tertawa dan bergeleng mendengar respon Ayanna. Ayanna naik mobil dan Aktas pun juga. Selama perjalanan Ayanna hanya diam sambil melihat pemandangan dari balik jendela mobil ditemani dengan suara radio. "Ayanna." Panggil Aktas dan Ayanna hanya berdeham sambil melihat jendela mobil. "Disini sekolahnya enak? Udah pada banyak ya temennya?" Ayanna mengangguk dan Aktas hanya menoleh sekilas lalu berfokus dengan jalanan. "Kalau kita pindah sekolah, Aya mau?" Topik ini mampu membuat Ayanna menoleh dari pemandangan kota dari jendela mobil itu. "Kenapa pindah, Pa? Papa ada tugas lagi ya?" Aktas mengangguk dan menatap Ayanna yang sedikit sedih. "Kalau Ayanna nggak pindah ikut Papa, Papa nggak bisa jagain kamu, Nak. Sama siapa Aya disini? Om Nadim juga ikut Papa, Om Mufit dan istrinya, Tante Jihan. Masih ingat mereka? Mereka juga ikut pindah sama Papa. Nggak ada yang jagain Ayanna disini." Ayanna pun sedikit sedih dan mulai mengalah untuk ikut Ayahnya pindah. "Sekolahnya juga tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Lebih bagus. Ada ekskul teater dan balletnya Papa Lihat." Ayanna sedikit tertarik. Aktas mengangguk meyakinkan Ayanna dengan ucapannya. Menghela nafas dan kembali menatap pemandangan kota dari balik jendela mobilnya. "Kita kapan pindah, Papa? Kemana?" Memutarkan stirnya ke kanan untuk berbelok memasuki perumahan komplek dinas militer. "Minggu depan Aya. Nanti udah mulai dicicil ya pakaian, barang dan alat-alat yang mau dibawa pindah." Ayanna mengangguk. *** Malam hari, Aktas dan Ayanna tidak terlalu banyak melakukan kegiatan. Ayanna yang menemani ayahnya masak makan malam, membantu pekerjaan rumah Ayanna, bagi Ayanna harus menyusun roster mata pelajaran, selebihnya bersantai menghabiskan waktu sejenak sebelum beristirahat. Aktas mengenakan kacamata anti radiasi agar tidak merusak mata ketika melihat layar komputer, handphone atau tablet yang terlalu lama. Ayanna bersandar di lengan ayahnya sambil menonton televisi. "Papa, apakah Ayanna akan berpindah sekolah terus? Dalam 5 tahun ini sudah 3x Aya pindah." Aktas menoleh dari tablet dan melihat anaknya. Aktas hanya mengelus kepala Ayanna dengan lembut. Mendaratkan pipinya ke kepala Ayanna. Ah sayangnya rasanya. Anak semata wayangnya yang sebentar lagi semakin gadis. Cepatnya berlalu. Ketika ia baru lahir, begitu kecilnya ia digendong ibunya. Namun takdir berkata lain, ia tidak sempat beranjak besar dengan ibunya. Ardiana, Istri Aktas yang meninggal tak lama setelah melahirkan Ayanna. Tak kuasa membendung air mata, Aktas menitikkan satu tetes air matanya. Buru-buru ia buka kacamata, menyekanya. Takut membasahi rambut Ayanna. "Mudah-mudahan ini yang terakhir ya sayang." Ayanna mengangguk sambil menonton tv didepannya. "Papa, kenapa kakak-kakak yang ada di tv itu cantik sekali?" Aktas menatapnya sekilas dan kembali fokus ke tablet. "Banyak perawatannya, dari rambut, kuku, badannya juga." "Berarti kalau besar, Aya bisa perawatan gitu juga, Pa?" Aktas mengangguk mengiyakan pertanyaan Ayanna. Ayanna duduk dan menghabiskan segelas s**u yang sudah Aktas buat tadi. Rutinitas malam bagi Ayanna untuk meminum s**u. Kenapa malam hari? Karena ketika di pagi hari ia minum s**u, ia sakit perut dan mual. "Papa, Aya tidur duluan ya." Aktas mengangguk. "Iya sayang, pergilah tidur dulu. Sebentar lagi, Papa akan tidur juga." Ayanna beranjak untuk menggosok giginya dan berganti baju tidur. Sementara Aktas ia masih sibuk menelusuri dan membaca riwayat hidup seorang Yasser Albani. Semakin ia pelajari, semakin menarik isinya. Sungguh mafia yang luar biasa dia ini. Banyak sekali bisnis kotornya. Jual-beli n*****a, judi, pencucian uang. Aktas menghela nafasnya ketika ia mengetahui total kekayaan yang ada. Merasa sudah cukup mengetahui tentang Yasser, Aktas mematikan tv dan lampu ruangan. Ia membuka perlahan pintu kamar Ayanna. Melangkah masuk, ia perhatikan anaknya sejenak dan ia kecup keningnya. Menarik selimut hingga ke leher Ayanna agar tidak kedinginan. Kembali ia ke ruang kamarnya. Merebahkan dirinya dan beristirahat hingga matahari menyingsing di pagi hari. *** Nadim menghampiri Aktas yang baru saja sampai di kantor. "Cari tahu mengenai lokasi, tempat, alamat rumah, kantor, bisnisnya Albani Group. Aku tau ini keahlian mu Nadim." Nadim mengangguk dan langsung mencatat apa yang harus dikerjakannya. "Satu lagi, Nadim." Langkah Aktas terhenti dan membuat Nadim hampir menabrak tubuh Aktas. "Apakah ia sudah menikah? Istri? Anak? Cucu? Simpanan?" Nadim bergidik ngeri ketika ia mengucapkan kata simpanan. "Mafia identik dengan hal seperti itu." Aktas melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang kerjanya. "Segera kabarin aku mengenai info lebih lanjut. Bagi tugas dengan Mufit." Nadim mengangguk. "Nadim, satu lagi." Hampir saja ia terpeleset karna ia tertiba menghentikan langkahnya yang hendak berjalan keluar. "Coba hubungi sekolah yang ada ekskul ballet dan teater semalam mengenai penerimaan siswa baru. Agar aku urus berkas perpindahan dan pendaftaran sekolah Ayanna." Nadim lagi-lagi mengangguk dan menyanggupi semua permintaan Aktas. *** Setiba mengenai info berkas pendaftaran siswa baru di sekolah yang dimaksud, Aktas dengan segera berkunjung ke sekolah tersebut. Membawa berkas formal seperti akta kelahiran dan kartu keluarga yang sudah ia persiapkan semalam. Mengambil jaket truckernya dan segera ia kemudikan motornya. Sengaja ia menggunakan motor hari ini, karena ia ingin lebih sat-set. Memakan waktu setengah jam untuk sampai ke sekolah baru Ayanna. Membuka helm dan neck gaiter nya. Rambut yang berserakan itu ia rapikan kembali. Turun dengan jaket yang masih ia pakai untuk menutupi seragam dinas yang sedang ia kenakan hari ini. Namun kali ini jaket yang ia pakai, ia buka resletingnya dan mengambil map berisikan berkas sekolah Ayanna dari dalam jaketnya. "Pak Aktas? Mari, Ibu Retna sudah menunggu di dalam." Seorang guru menuntun Aktas ke dalam ruangan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. "Selamat siang, Pak Aktas." Perempuan paruh baya menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Aktas dipersilahkan untuk duduk. Ia pun menanyakan seputaran pendaftaran siswa baru di waktu pertengahan semester sedang berlangsung. Untungnya hal itu tidak jadi masalah, karena kurikulum yang diajarkan sama sehingga kemungkinan Ayanna untuk bisa mengikuti pelajarannya, bisa mengikuti. Ibu Retno selaku kesiswaan pun dengan sabar dan senang hati menjelaskan secara rinci kepada Aktas. Tanpa bertele-tele, Aktas langsung mendaftarkan segala administrasi, pembayaran maupun seragam Ayanna ke sekolah tersebut. "Terima kasih, Pak Aktas. Senin depan Ayanna sudah bisa bergabung dengan kami Pak." Lagi-lagi bersalaman. Aktas pun berlenggang keluar dan hendak balik ke kantornya. Mengancingkan kembali resletingnya dan bergegas ke motornya. Sebuah mobil Audi R8 berwarna putih terparkir dengan sempurna di tempat khusus yang sudah tersedia disini. Seorang wanita mematikan mesin mobilnya dan turun. Kacamata hitam yang melekat tegak di wajahnya dengan hidung yang mancung, tinggi badan yang semampai dan lekukan tubuh yang sempurna mampu menyihir lelaki manapun ketika melihat perawakan wanita tersebut. Termasuk Aktas. Bahkan ia memakai neck gaiter dan helm pun tidak mengalihkan pandangan didepannya. "Beliau pemilik sekolah ini, Ibu Zalina." Impressive. Info menarik. Bahkan ia sendiri tidak bertanya kepada siapapun mengenai wanita tersebut. Seseorang dengan sukarelanya menginfokan tentang sosok wanita tersebut? Lebih impressive. "Mari pak." Ucap Aktas dan motornya pun berlenggang pergi menuju kantornya kembali. *** Halo wee! Maaf ini direpublish lagi ceritanya Aktas dan Zalina, karena mungkin takut bingung readers bacanya.. so aku mulai dari awal yaa siapa, dimana, kapan, dan kenapa! so stay tune yaa untuk kelanjutan ceritanya. Jangan lupa untuk VOMMENT yaa! Xoxo.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.5K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
3.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.6K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.0K
bc

After We Met

read
187.3K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook