bc

Balas Dendam Sang Istri

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
serious
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Uraian

Anindya, istri yang setia, hidup menderita karena kehadiran Sari cinta pertama suaminya, Raka. Sari tidak hanya merusak rumah tangga, tetapi juga memfitnah, menyiksa batin dan fisik, serta berusaha merebut seluruh harta dengan memalsukan dokumen. Terjebak, dikucilkan, dan nyaris kehilangan haknya, Anindya berjuang mengumpulkan bukti untuk membongkar kedok Sari. Namun, Sari memiliki rencana terakhir yang lebih kejam: menjebak Anindya agar dipenjara selamanya. Akankah Anindya mampu membuktikan kebenaran sebelum ia terjerat selamanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Masa Lalu
Matahari pagi baru saja menyelinap lewat celah jendela kamar tidur, menyinari sudut-sudut ruangan yang selama tujuh tahun menjadi saksi pernikahan Raka dan Anindya. Udara pagi biasanya terasa sejuk dan damai, tapi hari ini terasa berbeda. Ada ketegangan halus yang menggantung, seperti benang tipis yang siap putus kapan saja. Anindya duduk di tepi tempat tidur, memandangi punggung suaminya yang sudah rapi berdiri di depan cermin. Raka mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda, rambutnya disisir rapi sesuatu yang jarang ia lakukan belakangan ini. Biasanya ia hanya bergegas pergi, tanpa banyak bicara. Tapi hari ini, ia tampak terburu-buru sekaligus gelisah. "Kau mau sarapan dulu, Ra? Aku sudah siapkan nasi goreng kesukaanmu," tanya Anindya lembut, berusaha memecah keheningan. Raka menoleh sebentar, senyum tipis yang terasa dipaksakan terukir di bibirnya. "Tidak usah, Din. Aku harus cepat ke kantor. Ada rapat penting pagi ini." Sebelum Anindya sempat menjawab, Raka sudah berjalan cepat menuju pintu. Suara pintu depan yang tertutup agak keras membuat hati Anindya sedikit bergetar. Ia menghela napas panjang, tangan terasa dingin memegang ujung selimut. Sudah hampir tiga bulan, perubahan sikap suaminya terasa semakin nyata. Yang tadinya perhatian, sekarang menjadi dingin dan tertutup. Ponselnya selalu dijaga ketat, tidak pernah ditinggal terbuka. Sering pulang larut malam dengan alasan lembur atau bertemu rekan kerja. Anindya mencoba berpikir positif. Mungkin memang pekerjaan Raka sedang banyak tekanan. Mereka sudah membangun rumah tangga ini dengan susah payah, dari nol hingga bisa memiliki rumah sederhana yang nyaman di Denpasar. Tidak ada masalah ekonomi yang berat, tidak ada pertengkaran besar sebelumnya. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan sampai beberapa minggu lalu. Saat sedang membereskan meja makan, ponsel Raka yang tertinggal di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk muncul di layar kunci, dan tanpa sengaja mata Anindya menangkap isinya: "Sudah tidak sabar menemuimu hari ini, Raka. Tempat yang biasa ya? Aku sudah kangen." Napas Anindya tertahan. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga d**a. Siapa yang mengirim pesan itu? Mengapa nadanya begitu akrab dan penuh perasaan? Tangannya gemetar, ingin mengambil ponsel itu tapi ia sadar itu bukan haknya. Namun rasa penasaran dan ketakutan menggerogoti hatinya. Tiba-tiba, ingatannya melayang pada percakapan yang tidak sengaja ia dengar saat Raka berbicara di telepon beberapa hari lalu. Ia menyebut nama Sari. Nama yang pernah ia dengar dulu cinta pertama Raka semasa SMA, yang dikabarkan pergi merantau ke luar negeri bertahun-tahun yang lalu. Apakah benar itu Sari? Hari itu terasa berjalan sangat lambat. Anindya tidak bisa berkonsentrasi melakukan pekerjaan rumah tangga. Pikiran terus berputar, mencoba mencari jawaban atas perubahan sikap suaminya. Ketika malam tiba, Raka pulang lebih larut dari biasanya. Aroma parfum wanita yang tidak ia kenal menempel di bajunya. "Kau pulang terlambat sekali," kata Anindya berusaha menahan emosi. Raka menatapnya dengan pandangan dingin. "Sudah kubilang ada urusan kantor. Kenapa kau selalu menanyai aku seperti ini? Seolah-olah aku tidak boleh punya kehidupan sendiri!" "Aku hanya khawatir, Ra. Belakangan ini kau berubah. Kau tidak pernah mau bicara, selalu marah-marah. Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Pertanyaan itu seolah memicu kemarahan Raka. Ia mendekat, suaranya meninggi. "Menyembunyikan apa? Kau terlalu banyak berkhayal saja! Istri mana yang tidak percaya pada suaminya sendiri? Mulai sekarang, jangan pernah menanyai aku lagi soal ke mana aku pergi dan dengan siapa!" Anindya terkejut dengan reaksi berlebihan suaminya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku hanya ingin rumah tangga kita baik-baik saja. Kita sudah tujuh tahun bersama, Ra. Apa yang salah dengan kita?" Raka terdiam sejenak, lalu membuang muka. "Tidak ada yang salah. Kau saja yang terlalu peka. Aku lelah, mau istirahat." Ia berjalan menuju kamar tamu, memilih tidur terpisah dari istrinya. Anindya duduk sendirian di ruang tengah, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit yang mendalam menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi firasat buruk terus menghantuinya. Beberapa hari kemudian, saat Anindya sedang berbelanja di pasar, ia melihat sesuatu yang membuat kakinya terasa lemas. Di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah, ia melihat Raka duduk berhadapan dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, dengan senyum yang manis, dan tangan mereka saling berpegangan di atas meja. Dari deskripsi yang pernah diceritakan Raka dulu, ia yakin itu adalah Sari cinta pertama suaminya. Hati Anindya terasa hancur berkeping-keping. Ia berdiri terpaku di pinggir jalan, tidak bisa bergerak. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. Selama ini ia berusaha berpikir positif, menolak percaya pada firasat buruknya. Tapi kenyataan ada di depan matanya sendiri. Saat ia berniat mendekat, tiba-tiba Sari menoleh dan melihatnya. Ekspresinya berubah seketika, dari manis menjadi dingin dan penuh kebencian. Ia berbisik sesuatu pada Raka, yang kemudian menoleh juga. Wajah Raka memucat, lalu berubah menjadi marah. Ia berdiri dan berjalan cepat mendekati Anindya. "Kau mengikutiku? Apa maksudmu ini, memata-matai aku?" bentak Raka keras, membuat beberapa orang di sekitar menoleh. Anindya gemetar, air mata mengalir deras. "Aku tidak sengaja lewat. Aku melihatnya sendiri, Ra. Apakah dia benar Sari? Mengapa kalian bersama seperti itu?" "Kau tidak tahu apa-apa! Dia hanya teman lama! Kau yang memiliki pikiran kotor! Cepat pulang dan jangan buat keributan di sini!" Raka menarik tangan Anindya dengan kasar, menariknya menjauh dari kafe. Sari yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum tipis senyum yang penuh kemenangan dan kebencian. Sesampainya di rumah, Raka mendorong Anindya hingga terjatuh di lantai. "Lihat apa yang kau buat! Kau mempermalukan aku di depan orang banyak! Mulai sekarang, jangan pernah kau mengganggu aku lagi!" Anindya duduk di lantai, tubuhnya terasa sakit dan hatinya lebih sakit lagi. Ia melihat Raka masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Di tengah kesunyian yang menyakitkan, ia tidak tahu bahwa ini baru permulaan. Bahwa wanita bernama Sari itu tidak hanya akan merebut suaminya, tapi juga akan melakukan hal-hal yang jauh lebih kejam untuk menghancurkan hidupnya. Di dalam kamar, Raka menerima pesan dari Sari: "Dia mulai curiga. Kita harus bertindak lebih cepat, supaya dia pergi dari hidupmu selamanya." Raka memandangi layar ponselnya, lalu menatap pintu kamar dengan ekspresi bingung dan bimbang. Ia masih ingat cinta lamanya pada Sari, tapi di sisi lain ia juga merasa bersalah pada Anindya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
724.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
960.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.8K
bc

Not just, the Beta

read
342.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook