Esperanza School
.
.
Pemuda bertubuh tinggi dengan rambut coklat dan manik mata yang senada dengan rambutnya, tampak berlari cepat menuju ruang kelas. Koridor sekolah yang sepi menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar telah dimulai. Dan itu berarti dia akan mendapat masalah yang besar-menurutnya. Karena sebelumnya ia tak pernah terlambat seperti ini. Dalam hati dia memaki adiknya yang minta dibacakan dongeng semalaman suntuk.
Tepat di depan pintu yang terbuka langkahnya terhenti, semua pasang mata menatap ke arahnya. Dan jangan lupakan tatapan membunuh dari seorang pria yang tengah berdiri di depan kelas sambil menenteng buku tebal.
“Kau terlambat 10 menit anak muda, jangan harap kau bisa masuk kelas di jam pertama kali ini. Silahkan tunggu di luar sampai jam pelajaran saya selesai!” ucap pria yang diduga seorang guru itu dengan nada tenang namun penuh penekanan.
Pemuda itu mendengus, menekuk wajah tampannya. Dengan perasaan gondok luar biasa ia berbalik dan melangkah menjauhi kelas. Hatinya menggerutu, tak terima dengan perlakuan gurunya itu. Padahalkan tadi dia sudah berusaha datang tepat waktu walau hasilnya sia-sia.
Pintu kayu menuju rooftop ia banting dengan keras. Kerikil-kerikil kecil ia tendang dengan emosi. Jika tahu akan seperti ini dia tidak usah lari-larian menuju kelas, sangat membuang-buang tenaga.
Sambil menarik napas panjang ia terdiam, mencoba menenangkan kembali perasaannya dan mendinginkan kembali pikirannya. Kemudian dia membaringkan tubuh di atas lantai semen rooftop, sama sekali tidak peduli meskipun seragamnya kotor terkena debu. Baginya saat ini, melihat langit dengan hiasan awan-awan putih lebih penting ketimbang seragam yang kotor.
Semilir angin sejuk bisa dia rasakan dengan jelas. Begitu lembut dan menenangkan. Seakan-akan sedang menggoda dirinya untuk berlabuh ke alam mimpi. Cukup lama dia merasakan itu, hingga akhirnya dia pun tidak tahan dan membiarkan dirinya tertidur di sana.
Hingga waktu berlalu begitu cepat, matahari pun sudah mulai berubah warna menjadi jingga. Tanpa sadar, dia sudah membolos seharian hingga jam pulang sekolah saking lelapnya.
Sampai tiba-tiba, samar-samar dia bisa mendengar suara seseorang menyerukan namanya berulang kali. Sebuah suara asing yang belum pernah dia dengar sebelumnya itu terus menyerukan namanya tanpa lelah.
“Thomson Traveers.”
Tom, pemuda itu diam saja meski suara tersebut terus memanggilnya. Dirinya masih tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia mimpi saking pulasnya tidur. Tom menganggap bahwa kejadian ini adalah mimpi. Sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.
“Thomson Traveers, aku harus membawamu bagaimanapun caranya.”
Selagi Tom sibuk berkelana ke dunia mimpi, sebuah bola cahaya yang entah datang dari mana tampak melayang mendekat. Sedangkan Tom yang masih mengganggap bahwa seruan tadi berasal dari mimpi, membiarkan dirinya lenyap bersama cahaya putih begitu saja.
Dia diam saja saat bola cahaya tersebut melebur membuat suasana di sana menjadi serba putih. Kemudian memudar bersamaan dengan Tom yang ikut hilang dari sana.
=»«=
Afeccion School
.
.
Teng... teng... teng...
Suara bel tanda akhir pelajaran berbunyi nyaring memekakan telinga. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar dari kelas, termasuk gadis blonde bercepol dua yang tengah menenteng tasnya berjalan menuju gerbang sekolah. Dengan riangnya ia berjalan keluar dari lingkungan sekolah sambil bersenandung pelan. Sesekali dia tersenyum atau menjawab, menanggapi sapaan dari teman-temannya.
Di pikirannya, dia sudah merencanakan berbagai macam kegiatan yang akan dia lakukan sesampainya di rumah nanti. Mungkin dia bisa memasak berbagai macam makanan dengan sang ibu tercinta. Atau mungkin ia bisa menanam beberapa bunga di taman kecilnya bersama sepupu tersayangnya. Ah, membayangkannya saja sudah membuat hatinya senang.
“Holly Emillson.”
Panggilan asing itu membuat khayalan indah gadis blonde tersebut buyar seketika. Secara naluriah, gadis bernama Holly ini langsung celingak-celinguk mencari sumber suara. Akan tetapi, setelah beberapa saat menyisir area sekitar dengan manik aquamarine-nya, Holly sama sekali tidak mendapati siapapun di sana selain dirinya.
Tentunya hal ini membuat Holly merinding. Dia jadi berpikiran yang tidak-tidak apalagi saat suara gaib itu terdengar lagi. Kali ini bahkan suaranya terasa begitu dekat.
"Holly Emillson, ikutlah denganku.”
Benaran deh, Holly jadi takut. Rasanya seperti diikuti makhluk halus yang hanya kedengaran suaranya saja, tapi wujudnya tidak ada. Namun karena tidak ingin panik, Holly pun memeriksa sekali lagi keadaan di sekelilingnya. Kali ini dengan lebih teliti, sampai-sampai Holly harus memicingkan mata agar tidak salah lihat.
Tapi tetap saja, sebanyak apapun Holly memeriksa semua yang ada di sekitarnya, dia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan manusia lain selain dirinya. Setelah memastikan berulang kali pun, hanya ada Holly seorang. Tidak ada yang lain.
“Holly Emillson, ayo ikut denganku.”
Saat suara tersebut terdengar lagi, Holly jadi tersentak. Karena pikirannya yang terus mengingat hal-hal gaib, alhasil Holly memilih kabur dari sana. Gadis blonde itu berlari sekuat tenaga sambil berharap dia tidak mendengar suara gaib itu lagi.
“Hiii, seram, seram, seram.” Sepanjang jalan dia terus menggumam, bahkan berdoa untuk keselamatannya.
Dia terus berlari tanpa lelah, berusaha menjauhi area tersebut sejauh mungkin. Saking fokusnya berlari, Holly sampai tidak memperhatikan keberadaan bola cahaya yang mengikutinya secara diam-diam. Benda bulat bercahaya itu terus mengikuti Holly ke manapun dia pergi.
Hingga kemudian sang bola cahaya berpendar menjadi butiran sinar samar tepat di punggung gadis blonde itu. Membuat Holly merasa pusing secara tiba-tiba tanpa penyebab. Lalu karena tidak kuat menahan rasa pusing yang dideritanya, dia jatuh tak sadarkan diri. Ketika itulah cahaya putih mengelilinginya, menutupi seluruh tubuh Holly.
Dan sesaat setelah cahaya putihnya meredup, Holly yang sebelumnya hilang kesadaran, mendadak tidak terlihat di manapun. Keberadaannya lenyap begitu saja bersama sang bola cahaya.
=»«=
Amizade School
.
.
Pemuda berambut hitam pekat itu bergegas memasukkan buku-bukunya ke dalam tas saat suara bel pulang sekolah berdering. Dengan langkah cepat ia berjalan keluar dari kelasnya. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk menemui seseorang yang uhm... mungkin bisa dikatakan seseorang yang dikagumi atau apalah itu sejenisnya.
Manik mata abu-abunya berbinar saat membayangkan gadis itu tersenyum padanya. Jantungnya berdetak cepat tiba-tiba, hal yang sering dia rasakan akhir-akhir ini ketika sedang memikirkan gadis satu ini. Memang terasa aneh, tapi entah kenapa dia menyukai sensasinya.
“Rega!”
Teriakan keras itu sukses menghentikan langkah pemuda tadi yang hendak pergi ke parkiran. Dengan cepat ia memutar badan ke belakang, dan mendapati tiga orang pemuda seusianya sedang menyunggingkan cengiran lebar mereka.
“Apa?” tanya Rega dengan wajah datarnya.
“Aish, jangan pasang ekspresi menyebalkan itu saat berbicara dengan kami!” protes pemuda bertubuh pendek.
Rega hanya memutar bola matanya tanpa berniat membalas. Kedatangan mereka membuang-buang waktu. Lagipula, Rega yakin tujuan mereka memanggilnya bukan hal yang begitu penting. Sejujurnya Rega tidak suka pada orang yang mengganggu kesibukannya seperti ini.
“Anak kelas tiga mengajak kita tanding baseball sore ini. Apa kau mau ikut?’ ucap pemuda berkaca mata, mengucapkan tujuan mereka menghampiri Rega.
“Kuharap kau mau ikut karena kau kartu AS kami. Kumohon...” tambah pemuda yang satunya lagi dengan tatapan penuh harap.
“Aku tidak bisa. Maaf. Sudah ya, aku harus pergi!” ujar Rega bergegas untuk pergi tapi ketiga orang itu dengan cepat menghadangnya.
“Kau mau ke mana?”
Rega mendelik tajam, “Itu bukan urusan kalian bukan?” jawabnya ketus, lalu melengos pergi begitu saja.
Ketiganya dengan kompak mengelus d**a, merasa tersakiti oleh ucapan Rega yang sangat pedas itu. Pantas saja semua orang segan padanya, Rega mempunyai semacam aura yang bisa menghalangi orang lain untuk tidak dekat-dekat dengannya.
“Dia sangat kejam,” ucap si pemuda berkaca mata.
“Dia baru saja mengabaikan kita,” tambah pemuda yang satunya.
“Yeah, itu wajar saja. Kita juga tidak boleh menghalangi orang yang akan pergi kencan,” ujar pemuda bertubuh pendek.
Kemudian pemuda berkaca mata mengangkat kepalan tangannya seperti seorang pejuang, “Kau benar. Itulah yang dinamakan semangat merah muda. Berjuanglah, Rega. Kami mendukungmu,” katanya dramatis yang langsung diangguki dua pemuda lainnya seraya melakukan hal yang sama.
=»«=
Paz School
.
.
“Kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?” tanya seorang gadis bersurai indigo dengan wajah yang menekuk sebal.
“Aku ada janji pergi ke perpustakaan kota,” jawab gadis berambut coklat yang diikat pony-tail sambil tersenyum penuh sesal.
Gadis berambut indigo itu sontak merengut, membuat bibirnya mengerucut maju beberapa senti, “Dengan siapa?”
“Menurutmu?” gadis berambut coklat itu menaikkan sebelah alisnya.
Seolah tahu jawabannya, gadis berambut indigo tersebut tersenyum miring menatap manik mata abu-kebiruan milik si gadis berambut coklat. Itu tebakan yang mudah. Hanya ada satu orang yang mampu membujuk si gadis berambut coklat ini, yang notabene dikenal sebagai pribadi antisosial.
“Pasti si tampan Rega! Benarkan?” tebaknya sambil menaik-turunkan alis, berniat menggoda.
Gadis berambut coklat itu hanya menggumam sebagai jawaban. Pandangannya kini tertuju pada seorang pemuda yang tengah melambaikan tangannya sembari terus mengayuh sepedanya mendekat.
“Hai,” sapa si gadis berambut coklat sembari tersenyum tipis saat pemuda itu sudah berada dihadapannya.
“Hai Lavender, ayo kita berangkat sekarang!” ajak pemuda itu dengan semangat. Senyum hangat menghias paras rupawannya, sebuah senyum lebar yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Lavender a.k.a gadis berambut coklat itu menggangguk seraya duduk di boncengan sepeda pemuda tadi. Hal tersebut menandakan bahwa ia sudah siap berangkat. Membuat si pemuda tak dapat menahan senyum lebarnya.
“Ugh, Rega. Kapan kau akan mengajakku pergi bersama?” gadis berambut indigo itu bertanya sembari memasang muka masam.
“Lain kali saja ya, Lea.” Rega menjawab sambil tersenyum tipis. Lantas iapun mengayuh sepedanya meninggalkan si gadis berambut indigo.
Lavender melambaikan tangan pada sahabat sejak kecilnya itu. Dan Lea membalas lambaian tangannya dengan semangat sambil tersenyum kelewat lebar. Tak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat sahabatnya bersenang-senang dengan hal yang dia sukai.
Selama diperjalanan mereka hanya bercakap-cakap singkat. Mengingat keduanya memang bukan tipikal orang yang banyak bicara. Sekitar 15 menit kemudian mereka sudah sampai di depan sebuah gedung klasik yang amat megah. Rega segera memarkirkan sepedanya di parkiran khusus sepeda dan berjalan beriringan bersama Lavender memasuki gedung perpustakaan kota tersebut.
Mereka berdua berjalan pelan menelusuri rak-rak besar yang terisi oleh buku-buku. Melihat-lihat berbagai jenis buku yang tebalnya jangan ditanyakan lagi. Hingga Rega mengambil sebuah buku bersampul biru dongker, lalu membaca judulnya.
“Misteri gunung Greenom.”
Manik mata abunya sontak melirik ke arah Lavender yang juga sedang melirik ke arahnya. Saling tatap seolah tahu apa yang lawannya pikirkan. Selama ini mereka bisa nyambung karena memiliki kegemaran yang sama terhadap hal-hal misterius. Jadi kebanyakan waktu mereka dihabiskan untuk mendiskusikan sesuatu yang misterius.
“Apa kau tahu kenapa gunung Greenom menjadi gunung yang paling ditakuti, selain karena selalu memakan korban?"
Lavender baru saja hendak menjawab, tapi ia mengurungkan niatnya saat tiba-tiba sebuah bola cahaya sebesar kepalan tangan muncul dari buku itu. Refleks, Rega langsung menjatuhkan buku tersebut.
“Akhirnya aku menemukan kalian, Rega Wolaston dan Lavender Vauquelin.” Cahaya itu bersuara.
Seketika mereka berdua terlonjak kaget, secara refleks keduanya melompat mundur ke belakang menjauhi sang bola cahaya. Ini seperti mimpi, bola cahaya yang terbang di hadapan mereka dan berbicara seperti manusia. Itu merupakan hal yang aneh sekaligus hal yang mustahil terjadi di dunia. Sebab menurut mereka, sihir maupun keajaiban tidak pernah benar-benar ada.
“Apa benda itu baru saja berbicara?” tanya Lavender was-was. Rega hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Tidak perlu takut, aku tidak akan menyakiti kalian.” Bola cahaya itu kemudian melayang mendekat, membuat Rega dan Lavender sontak melangkah mundur.
“Makhluk apa kau sebenarnya?” Rega bertanya sembari menatap nyalang ke arah bola cahaya itu. Ia merasa terancam sekarang. Cahaya melayang yang ada di hadapannya pasti memiliki kekuatan magis yang dapat membahayakan keselamatan mereka.
“Kalian akan tahu jika kalian mau ikut bersamaku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan!” ucap sang bola cahaya dengan tenang.
Tentunya manusia seperti Rega dan Lavender yang merupakan pribadi introvert, tidak akan percaya begitu saja. Terlebih lagi yang mengatakannya adalah bola cahaya, bukan manusia ataupun makhluk hidup lainnya. Jadi jelas saja jika mereka tidak akan percaya.
“Apa kau pikir kami akan percaya, huh?” sinis Rega sambil menatap bola cahaya tersebut dengan penuh intimidasi.
“Entahlah, tapi kupikir ini adalah sesuatu yang penting untuk kalian ketahui.” Bola cahaya itu bicara lagi, mengatakan sesuatu yang semakin membuat kedua remaja tersebut curiga.
Belum sempat Rega dan Lavender membuka mulut untuk menjawab, bola cahaya itu meledak, membuat seluruh pandangan mereka tertutupi cahaya putih yang menyilaukan.
=»«=
Rega dan Lavender membuka matanya perlahan. Kala itu samar-samar mereka dapat melihat ada dua orang remaja yang seumuran dengan mereka, yang satu perempuan dan yang satunya laki-laki. Rega serta Lavender mengerjapkan matanya tidak percaya, karena tiba-tiba saja mereka ada di tempat ini. Disebuah ruangan yang amat besar, terkesan klasik dan kuno tapi tetap mewah seperti istana jaman dulu.
“Oh, kalian sudah sadar?” tanya si perempuan tatkala melihat Rega maupun Lavender bergerak bangkit dari posisi berbaring mereka.
Dengan bingung Lavender mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mengenali tempat dia berada sekarang. Diperhatikannya sekeliling tempat itu. Dan setelahnya dia malah mengkerut, semakin merasa bingung karena ini bukan tempat yang dikenalnya. “Di mana ini?”
“Tidak tahu, kami juga baru saja muncul,” si gadis blonde menjawab sambil mengedikkan bahunya. Semuanya terasa begitu tiba-tiba, dan terasa sulit dipercaya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” pemuda berambut coklat bertanya dengan wajah polos. Diamatinya wajah-wajah yang ada di sana satu per satu.
Namun dengan cepat Rega menggeleng, “Tidak. Siapa namamu?”
Detik itu, si pemuda berambut coklat langsung mengulurkan tangannya dengan semangat. “Aku Thomson Traveers, panggil saja Tom.”
“Rega Wolaston,” jawab Rega sambil menerima uluran tangan Tom, lalu mereka pun berjabat tangan. Setelahnya perhatian Rega teralihkan pada seragam sekolah yang dipakai pemuda berambut coklat tersebut, “Kau murid Esperanza School?”
Tom mengangguk antusias, “Iya, benar. Kau pasti dari Amizade School, sekolah ter-favorit dan ter-elit itu 'kan?” tebaknya dengan penuh semangat. Tak percaya bisa bertemu dengan salah satu murid dari sekolah yang sangat dia idamkan.
Rega hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu melirik Lavender yang sebelumnya tampak masih berusaha mengenali tempat itu. “Ini Lavender Vauquelin.”
Sadar bahwa Rega baru saja memperkenalkan dirinya, Lavender pun mengulas senyum tipis. “Panggil saja Lave. Aku dari Paz School,” tambahnya.
“Kalian terlihat akrab, padahal tidak satu sekolah.” Tom bergumam seraya memperhatikan Rega dan Lavender yang sepertinya sudah mengenal baik satu sama lain. Itu terlihat jelas dari bahasa tubuh mereka yang tidak lagi kaku maupun canggung ketika berinteraksi.
“Oh, itu karena rumahnya dekat dengan rumah nenekku,” jawab Rega terus terang.
Tom pun mengangguk paham, pemuda itu kembali membuka mulut hendak bertanya lagi. Tapi, terhenti karena ada satu suara cempreng yang tiba-tiba menginterupsi.
“Apa kalian baru saja mengabaikanku, huh?”
Celetukan itu membuat mereka bertiga memalingkan wajah pada seorang gadis blonde di samping Tom. Benar juga, mereka bertiga terlalu sibuk memperkenalkan diri hingga melupakan satu makhluk yang berada di sana, berada dalam lingkaran yang sama.
“Oh, maaf. Siapa namamu pirang?” tanya Tom dengan santainya, bahkan ia terlihat tidak menyesal sedikitpun karena telah memanggil gadis tersebut dengan sebutan pirang.
Si gadis blonde berdecih, lalu menjawab, “Pirang? Panggilan yang buruk. Namaku Holly Emillson, aku dari Afeccion School. Senang berkenalan dengan kalian,” ujarnya yang disusul senyum lebar.
Ketiganya dengan kompak membulatkan mulut membentuk huruf 'O'. Akhirnya mereka telah mengetahui nama masing-masing. Itu cukup untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.
“Bagaimana kalian bisa ada di sini?” Tom kembali bertanya, merasa penasaran dengan cara ketiga orang di hadapannya bisa masuk ke sana.
Tapi sejujurnya, Tom sendiri pun tidak ingat bagaimana dia bisa sampai di tempat itu. Karena seingat Tom, dia sedang tidur di rooftop sekolah, tapi begitu membuka mata dia malah ada di tempat antah berantah seperti ini.
“Aku dan Rega bertemu sebuah bola cahaya yang bisa berbicara?” cerita Lavender tidak yakin yang malah membuatnya terdengar seperti pertanyaan.
“Kalau aku, saat itu aku pingsan karena merasa pusing, tapi saat sadar aku sudah berada di tempat ini.” Holly bercerita, memberitahu kejadian yang menimpanya.
Sedangkan Tom, dia langsung mengusap dagu dengan dahi berkerut. “Ceritaku hampir mirip dengan Holly. Seingatku, aku sedang tidur di rooftop, lalu saat bangun aku malah berada di sini. Aneh bukan?”
Rega sontak mengkerut bingung. Semakin tidak mengerti pada alasan kenapa mereka bisa ada di tempat itu. Keberadaan mereka di sana sekarang terasa begitu misterius. Sebuah hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Jika mereka sama-sama tidak sadarkan diri dan ditemukan oleh warga sekitar, bukankah mustahil mereka bisa ada di tempat yang sama? Jelas-jelas masalah ini jika diteliti lebih dalam akan merujuk pada suatu kasus penculikan.
Benar, sepertinya mereka baru saja diculik oleh seseorang yang mencurigakan untuk alasan yang masih menjadi misteri.
“Sepertinya-“ baru saja Rega akan mengutarakan pendapatnya, namun tiba-tiba tanah bergoyang secara mengejutkan. Guncangan yang lumayan besar itu berhasil membuat mereka panik. Terlebih lagi ketika benda-benda yang ada di sekeliling mereka mulai bergerak tak teratur dan sebagiannya lagi berjatuhan lalu pecah.
“Ada apa ini?!” teriak Holly histeris. Dia benar-benar takut sekarang. Tubuhnya terombang-ambing ke sana kemari sampai dia tidak bisa berdiri dengan benar.
Suasana di sana pun mendadak kacau karena gempa tersebut. Bumi yang berguncang cukup hebat nyaris saja merobohkan bangunan tersebut jika saja tidak segera berhenti setelah bergoyang selama satu menit.
Swuuushh. . .
=»«=