Gagah duduk di atas closet yang tertutup pada bagian atasnya, tatapannya tajam mengikuti gerak tubuh Yasmin yang sedang mengambil keperluan untuk membersihkan oli di kakinya. Setelah semuanya siap, wanita itu berjongkok.
"Yang bener aja kamu, Mimin! Masa iya pakai rok gitu mau jongkok di depan aku, emang dasar kamu itu, ya." Seolah belum hilang kekesalan di hati Gagah, sehingga apa pun yang dilakukan Yasmin selalu saja salah di matanya.
"Terus saya harus gimana, Tuan?"
"Kayang! Ya duduklah, Mimin gayung! Ambil bangku kecil."
"Ba-baik, Tuan, kalau gitu saya permisi dulu," pamit Yasmin segera melesat mengambil benda yang disebutkan tuan muda tadi.
Melihat tingkah pelayannya yang oon, Gagah geleng-geleng kepala. Sebenarnya Rahayu juga patut disalahkan atas insiden ini, tapi lelaki itu segan jika harus mengomeli wanita paruh baya tersebut hanya gara-gara hal sepele begitu, banyaknya jasa Rahayu membuatnya maklum dan meluapkan kekesalannya pada Yasmin yang jelas-jelas teledor atau mungkin bisa jadi disengaja, Gagah memang curiga pelayan barunya memang kembali ingin mengerjainya setelah percobaan nasi goreng kemarin gagal.
"Awas kamu, Mimin! Aku kerjai balik nanti," gumam Gagah seraya memperhatikan kakinya yang belepotan oli.
Selang beberapa menit kemudian Yasmin kembali membawa bangku kecil di tangan, setelah itu ia kemudian menaruhnya di hadapan Gagah. Tanpa banyak bicara dan tanpa berani menatap wajah sang majikan, ia mulai melakukan apa yang seharusnya.
Kaki Gagah dibasuhnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel yang disambung selang, perlahan Yasmin menggosok-gosok betis juga telapak kaki dengan tangannya.
"Kamu sengaja, 'kan?" selidik Gagah sembari bersandar dan melipat kedua tangannya di d**a.
Yasmin menggeleng dan menjawab, "Ampun, Tuan! Habis kejadian nasi goreng kemarin, saya kapok."
"Mustahil ada orang yang gak tahu kaya apa minyak zaitun."
"Gak mustahil, Tuan. Buktinya ada, saya orangnya."
"Jawab aja, kamu, udah tahu salah juga. Harusnya kamu tunggu sampai Bu Rahayu selesai di kamar mandi, baru kamu tanya dan unjukin udah bener belum itu minyak zaitun. Untung yang kamu ambil itu oli, kalau air keras gimana? Bisa melepuh kulit aku, Mimin!"
"Kulit saya juga pasti melepuh, Tuan, kalau memang itu air keras." Lagi-lagi Yasmin membela diri.
"Sekali lagi kamu jawab, beneran aku bakalan pecat kamu, Mimin!"
Mendengar ancaman itu seketika membuat Yasmin menutup rapat mulutnya, kini ia fokus pada kedua kaki mulus Gagah yang sedang digosoknya dengan sabun cair dan spon mandi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Gagah saat sadar jam tangannya sudah ia lepas.
Yasmin bergeming dan terus menggosok dengan fokus.
"Hei, Mimin, aku tanya kamu. Kamu ada ponsel kan, tolong lihat jam berapa sekarang."
"Maaf, Tuan, tadinya saya juga mau jawab tapi saya takut dipecat. Kata Tuan tadi, kalau saya berani jawab Tuan, maka Tuan bakal pecat saya."
"Hadeuh, Mimiiiiiiiiiiiinnnnnn!" Teriakan Gagah yang memekakan telinga, pertanda bahwa emosinya sudah sampai pada tingkat buyutnys dewa, mata lelaki itu terbelalak sempurna dengan kedua tangan mengepal di udara.
?
"Mas Gagah, ibu minta maaf, ya atas kejadian minyak zaitun kemarin," ucap Rahayu saat majikannya itu sedang menyantap sarapan.
"Lupakan, Bu. Si Mimin juga salah, kenapa ceroboh."
"Ibu janji hal tersebut gak akan terulang lagi."
"Iya, Bu. Aku gak marah kok."
"Syukurlah, makasih Mas."
Gagah mengangguk lalu kemudian ia bangkit dari kursinya, berpamitan pada Rahayu karena sarapannya sudah selesai.
Gagah berjalan menuju kamarnya di lantai dua untuk memakai pakaian kerja dan berangkat ke kantor, memang sudah jadi kebiasaan lelaki itu sarapan dahulu baru bersiap katanya supaya lebih santai.
Ia membuka lemari berisi khusus kemeja-kemeja di dalam ruangan wadrobenya, ia sedang bingung memilih warna yang akan dikenakannya hari ini ke kantor. Di saat dirinya sedang khusyuk dengan isi lemarinya, tiba-tiba di ambang pintu seseorang memanggil namanya. Gagah terkejut bukan main saat melihat Claudia dengan genitnya sudah berdiri dengan pose bak foto model, punggungnya bersandar dengan kaki sebelah diangkat sedikit dan ditempelkan ke dinding.
"Morning, Gagah!"
"K-kamu, Clau. Ngapain di sini? Sepagi ini," tanya Gagah gelagapan saking terkejutnya.
"Aku kan sekretaris kamu, jadi aku mau berangkat kerja sama kamu. Om Bimo yang nyuruh," jawabnya tanpa sungkan berjalan mendekat dan mengambilkan sebuah kemeja berwarna biru langit kemudian menempelkannya pada d**a bidan Gagah. "Pakai yang ini, pak wakil direktur! Hari ini cerah, secerah hati aku yang siap memulai pekerjaan."
"Thanks, kamu boleh keluar, aku mau bersiap."
"Oke, hihi. Jangan lama-lama, ya."
"Iya, hush-hush!" usir Gagah seraya mendorong tubuh Claudia keluar dari ruangan tersebut.
Sepeninggal Claudia, Gagah mencari cara agar bisa terbebas dari wanita itu. Dia muak dengan tingkah lakunya yang over.
Bak setrikaan, Gagah berjalan mondar mandir sembari mencari ide.
"Si Mimin! Ya, cuma dia yang bisa bikin si Claudia gagal ngantor hari ini," katanya tiba-tiba teringat pada sosok pelayan ceroboh yang kemarin sore habis melumuri kakinya dengan oli.
Melalui interkom dia menghubungi ruang laundry, karena ia tahu Yasmin kini sedang berada di sana.
"Halo, Mimin, aku mau kasih kamu tugas penting!"
"Ya, Tuan. Tugas apa?"
"Buatin segelas jus jeruk dengan pencahar, bawa ke kamarku segera!"
"Tuan sembelit? Makan pepaya aja, ya, saya kupas dan potongin kalau memang Tuan mau."
"Bawel kamu, ah! Udah buruan lakuin apa yang aku suruh barusan, gak pake tapi-tapian. Maksimal 10 menit, kamu paham?"
"Baik, Tuan."
"Bagus, segera bawa ke kamarku dan taruh di meja setelah siap jus jeruknya."
"Siap, Tuan."
Usai bicara dengan Yasmin, Gagah tersenyum lega. Sebentar lagi ia akan bebas dari cengkeraman Claudia yang lebay bin gelay.
Setelah rapi, Gagah keluar dari ruang wadrobe. Ia melihat Claudia sedang duduk bersantai di sofa sembari menonton televisi.
"Santai saja, ya, Clau. Aku udah suruh ART buat bikinin jus jeruk untuk kamu," ujar Gagah berlagak baik.
"Oke, Gah! Kamu baik banget, hihi."
Tak lama kemudian Yasmin datang dengan jus jeruk pesanan Gagah.
"Ini Tuan, jus jeruknya."
"Taruh di meja kaca itu," titah Gagah menunjuk meja di hadapan Claudia.
"Makasih," ucap Claudia hendak menyambar gelas yang baru mendarat di meja tapi secepatnya dicegah oleh Yasmin.
"Jangan diambil, Non! Itu punya Tuan muda, kalau Nona mau biar saya bikinin," cegah Yasmin menarik gelas ke tepi meja.
Melihat hal tersebut, Gagah terkejut bukan main. Ia memberi isyarat pada Yasmin agar memberikan gelas itu pada Claudia, tapi sayangnya gadis itu tak paham apa maksudnya.
"Gah! Kok ART-mu larang aku minum jus jeruknya? Kata kamu tadi—"
"Nona, jangan salah paham dulu ya. Ini jus jeruk pesanan untuk Tuan muda, beliau sedang sembelit jadi minta dibuatkan khusus karena sudah saya campurkan obat pencahar. Jadi kalau Nona mau, saya akan buatkan. Nona tunggu sebentar ya," potong Yasmin panjang lebar, membuat Gagah menganga tak percaya.
Claudia bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Gagah. "Maksud dari semua ini, apa, Gah?" tanyanya penuh dengan rasa curiga.
Alih-alih menjawab, Gagah melotot ke arah Yasmin dan kemudian berteriak, "Aaaaarrrrgh, Mimiiiiiiiiinnnn! BEGOOOOOOO!"
?
Bersambung