Gagah mengempaskan diri di atas sofa di dalam kamarnya, melepas lelah setelah seharian dibuat pusing oleh kelakuan Claudia yang agresif sehingga membuatnya sulit untuk menghindar.
Wanita yang usianya dibawah 1 tahun dibawahnya itu akhirnya ia terima sebagai sekretaris, keputusan tersebut terpaksa diambil karena desakan sang ayah yang merasa tidak enak pada sahabatnya.
Mengingat kembali sosok Claudia membuat kepala Gagah berdenyut, ia memijat pelipisnya berharap setelahnya merasa enakan. Usahanya tak berhasil, karena semakin lama moodnya turun.
Untuk memulihkan perasaannya yang suntuk, Gagah memutuskan menelepon Rahayu dan meminta dibuatkan minuman hangat entah air manis atau wedang jahe.
Melalui saluran interkom ia bicara pada kepala pelayan, setelah itu ia beranjak dari sofa dan berpindah ke atas ranjang. Tak lama pintu diketuk, enggan bangun dari posisinya yang pewe, Gagah meminta seseorang yang pasti pelayan itu untuk masuk tapi dengan suara yang pelan.
Tok ... tok ... tok!
Suara ketukan pintu terdengar kembali, lagi-lagi Gagah menyahut pelan.
Tok ... tok ... tok!
Pelayan di luar kembali mengetuk tapi kali ini lebih nyaring dari sebelumnya, Gagah berdecak kesal kemudian ia bangkit dari peraduan gontai melangkah malas untuk membukakan pintu kamar.
"Ah, kamu lagi!" gerutu Gagah saat tahu yang mengantar minumannya adalah Yasmin. "Kenapa gak masuk aja, sih? Segitu udah aku sahutin suruh masuk, dasar bubang!"
"Saya gak dengar, makanya saya ketuk-ketuk lagi. Bubang apaan, Tuan?"
"Budeg banget!"
"Maaf, Tuan. Ini lemon tea hangatnya, kata Bu Ayu ditambahkan sesendok madu," kata Yasmin seraya mengangsurkan nampan kecil dengan cangkir keramik di atasnya.
"Idih, tarolah di meja," titah Gagah segera berbalik dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup. Entah mengapa petang itu mood Gagah terjun bebas, hingga membuatnya jadi lesu dan tidak bersemangat.
Di belakang Gagah, Yasmin mengacungkan kepalan tangan. Tingkah laku si tuan muda menurutnya semakin lama semakin menjadi, tapi posisinya yang hanya seorang jongos pun menjadi penghalang dirinya untuk tidak boleh terpancing, masalah kelangsungan hidup jadi taruhannya kalau sampai itu terjadi.
Sabar, Yas! Tahan sampai cicilan hutang lu lunas, abis itu mah bodo amat dah mau resign juga. Kasarnya kalau udah gak punya sangkutan wajib mah, mau kerja di tempat lain yang gajinya kecil juga gak masalah.
Nampan sudah ditaruh oleh Yasmin di meja, setelah itu ia berpamitan untuk kembali ke dapur tapi Gagah memintanya untuk tetap tinggal di kamar.
"Jangan macam-macam, Tuan!"
"Dasar m***m kamu, Min! Yang mau macam-macam sama kamu itu, siapa? Kurang kerjaan amat, wew. Aku minta kamu gak pergi, mau nyuruh kamu mijitin kaki aku. Seharian jalan-jalan keliling kantor bikin betis sama telapak kaki aku pegel."
Yasmin bernapas lega dan cengengesan, dengan polosnya dia menjawab, "Oh!"
"Bulet!" sungut Gagah.
"Urutnya pakai apa, Tuan?"
"Ya pakai tangan, Min! Masa pakai kaki kamu, heuh, kamu itu nanyanya gak mutu."
"Maksud saya ... pakai minyak urut kah mijitnya?"
"Ogah, ah. Pakai minyak zaitun aja, kamu minta sama Bu Rahayu. Biasa ada dia simpan."
"Oke, Tuan. Saya ke Bu Ayu dulu."
"Ya!"
Yasmin berlalu meninggalkan kamar, sepuluh menit kemudian ia kembali membawa apa yang dibutuhkan.
Gagah yang sudah membuka pakaian kerja dan menggantinya dengan celana boxer juga kaus oblong putih tanpa lengan, pun sudah bersiap.
Tanpa banyak bicara, Yasmin mulai menuangkan cairan dalam botol ke telapak tangannya.
Dahi gadis itu sempat mengernyit saat melihat warna cairan yang berada di tangan, warnanya kuning kecokelatan dan agak lengket. Penasaran Yasmin mencium baunya, ia meringis dan memanyunkan bibirnya karena aroma yang terhidu tidak sedap rasanya.
Apa enaknya pakai minyak zaitun ini? Udah lengket, bau lagi. Huwek! Mendingan pakai minyak klentik atau minyak urut, harumnya khas.
Tanpa banyak bicara, Yasmin segera membalurkan minyak tersebut ke betis dan telapak kaki Gagah, setelah itu ia mulai mengurut serta memijat-mijatnya.
"Bisaan kamu mijit, Min! Untung kemarin aku gak jadi mecat kamu," puji Gagah meski ujung-ujungnya tidak sedal didengar.
"Untung Tuan baik hati," jawab Yasmin tenang tapi sebenarnya ia meledek dengan menjulurkan lidah pada Gagah yang mulai memejamkan mata saking nikmatnya dipijit.
"Ya, dong. Walaupun kamu hampir bunuh aku."
"Tuan lebay, ah. Orang cuma pakai pencahar doang."
"Pencahar doang juga, kalau aku kena diare akut dan dehidrasi, itu bisa bikin aku mati tau!"
"Iya, maaf, Tuan. Saya kapok, gak lagi-lagi kaya gitu."
"Aku itu punya mata-mata di mana-mana, kamu jangan macam-macam!"
"Iya, enggak akan, ampun dah ah!"
Yasmin memutar bola mata dan menjebewkan bibirnya, meledek diam-diam sang majikan yang sok baik padanya.
"Bagus!"
Seketika suasana menjadi hening, baik Gagah maupun Yasmin tidak ada yang bicara. Tak lama, dari luar seseorang mengetuk pintu yang sengaja tidak ditutup.
Yasmin dan Gagah menoleh, ternyata itu Rahayu. Wajahnya panik saat menghampiri keduanya.
"Maaf, Mas, ganggu."
"Ada apa, Bu Rahayu?"
"Tadi, Yasmin tanya saya soal minyak zaitun katanya mau pijat kaki Mas Gagah, saya tadi sedang di toilet jadi hanya kasih tahu tempat penyimpanannya."
"Oh, soal itu, sudah kok ini."
"Nah itu dia masalahnya, Yasmin ... emmm dia rupanya tidak tahu rupa minyak zaitun itu seperti apa, dia salah ambil minyak."
"Maksud Bu Rahayu?"
"Maaf sebelumnya, Mas. Yang Yasmin ambil, bukan minyak zaitun, tapi ...."
"Bu! Bicara cepat!"
"Yang Yasmin ambil itu, oli buat ngelumasin yang macet-macet, oli yang saya minta ke Pak Dul dan diwadahin di botol bekas minyak zaitun."
Yasmin dan Gagah sama-sama terperanjat dan saling pandang.
"Mimiiiiiiiiiin!" Gagah berteriak seraya bangkit dari ranjang, ia melangkah cepat meski telapak kakinya terasa lengket menciptakan noda di lantai menuju cermin besar yang menempel di depan tembok ruang wadrobe, matanya terbelalak ketika melihat kedua betisnya kotor belumuran oli.
"Maafin saya, Mas, saya teledor naruh oli di botol bekas minyak zaitun jadi itu bikin rancuh Yasmin yang gak tahu rupa minyak zaitun."
"Bu Rahayu boleh kembali ke dapur, saya mau bicara pada si Mimin."
"Ba-baik, Mas."
Sepeninggal Rahayu, Yasmin berdiri dengan kedua kaki gemetar. Ia ketakutan diamuk oleh si tuan muda yang tampak murka kepadanya.
"Kamu pasti sengaja!" tuduh Gagah menunjuk-nunjuk Yasmin yang tertunduk.
"Sumpah, Tuan. Saya gak tahu itu oli, cuma memang tadi sempet heran kok bau dan lengket."
"Kenapa kamu diem aja? Harusnya kamu tunggu Bu Rahayu atau tanya yang lain kalau memang gak tahu, b**o kok dipiara!"
"Saya kira tekstur minya zaitun kaya gitu, saya gak tahu. Sumpah, Tuan, saya gak bo'kng. Berani sumpah kesamber gledek barengan, kalau saya bo'ong."
"Kamu aja yang kesamber! Kamu harus tanggung jawab, kamu harus bersihkan kaki aku, seprei, dan lantai ini."
"Baik, Tuan, nanti akan saya bersihkan."
"Bukan nanti, tapi ... SE-KA-RANG!" Gagah menghentakkan kakinya di ujung kalimat, hal itu membuat Yasmin panik dan lari tunggang langgang meninggalkan kamar.
"Kamu mau kabur, hah?"
"Mau ambil alat pel," jawab Yasmin ketakutan.
"Bersihin dulu kaki aku!"
"Baik, Tuan. Mau bersihin di mana?"
"Di kantor pos! Di kamar mandilah, gitu aja nanya!"
Gagah yang emosi kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tak lama disusul oleh Yasmin.
"Apes banget hidup gue, b**o Yasmiiiin!" gumam Yasmin.
"Hidup aku yang apes semenjak ketemu kamu," rutuk Gagah yang mendengar gumaman sang pelayan.
"Buruan ke sini, bersihin kaki aku! Sela-sela kukunya juga bersihin, duh kamu ada-ada aja, sih, Min! Kamu itu gak mau dipecat tapi tiap ngerjain apa-apa gak pernah becus. Mau makan gaji buta kamu di sini?" Gagah tepuk jidat, setelah masalah Claudia tadi, kini ditambah soal oli vs minyak zaitun. Hal itu membuat kepalanya semakin nyut-nyutan.
?
Bersambung