Langkah seorang pria memasuki gedung tua dengan penerangan yang gelap. Pria itu berjalan mendekati beberapa orang lelaki yang terikat dengan wajah yang babak belur. Menyadari kehadiran pria itu, orang-orang suruhannya pun berhenti menghajar ke lima lelaki itu. Mata biru itu seakan menandakan warna es yang dingin dan tanpa perasaan. Tangannya terangkat dan mencengkram wajah lelaki itu, membuatnya semakin mengerang kesakitan. Dia ingin menyiksanya hingga lelaki ini menganggap kehidupannya hanyalah di tangan dirinya. “Apa kalian masih ingin menutup mulut?” tanya pria itu dingin. Kelima laki-laki itu sudah kehabisan tenaga untuk mengelak. Bahkan untuk menjawab saja mereka sudah tidak memiliki tenaga. Darah mereka sudah banyak terbuang dan seluruh tulang mereka seperti sudah remuk

