"Naga, kamu di dalam, Nak? Ini bunda." Sedari tadi Rima mengetuk pintu apartemen Naga, tapi si pemilik kamar tak kunjung membuka, padahal Rima juga terus menghubungi nomor Naga, ia menempelkan telinga ke permukaan pintu dan mendengar jika nada dering ponsel yang berbunyi karena telepon dari Rima berada di dalam apartemen. Bisa saja Naga di dalam sana, kan? Tok-tok-tok! "Naga, buka sebentar, Nak. Bunda mau bicara, jangan buat bunda khawatir. Kamu di dalam kan?" Rima masih berusaha, ia terus mengetuk pintu unit Naga, mungkin lima belas menit sudah ia berdiri di sana dengan rasa ketar-ketir sebab sejak semalam Naga sama sekali tak memberi kabar. Ponselnya memang aktif, tapi Naga tak mengangkat ratusan panggilan yang dilakukan banyak orang—termasuk Kinta, gadis itu sudah sadar. Rima menundu

