••• “Kubur dia di halaman belakang!” paksa Daniel pada Aga yang sedari tadi hanya diam menatap nanar tubuh tak bernyawa anak kecil yang teronggok di sudut kamar, wajahnya sangat pucat tanpa aliran darah, Aga juga manusia—yang memiliki empati, ia pun bisa kasihan terhadap siapa pun—apalagi anak kecil tak berdosa seperti Elmira. Aga baru menyadari kalau sikapnya selama ini benar-benar menjijikan, ia terlalu memikirkan caranya mendapat uang banyak dengan mudah tanpa memikirkan nasib anak-anak itu. Matanya tertutup kabut tebal hingga tak bisa bedakan mana yang salah dan benar, sekarang Aga merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Raga itu menolak untuk menyentuh Elmira, bukan karena ia jijik dengan mayat seseorang, hanya saja Aga berharap kalau ada mukjizat yang bisa menghidupkan gadis mungil

