Sherina dan Surya turun dari mobil dinas milik Raden, walaupun saat untuk pergi kesini ada kendala yaitu Dino menanyakan Surya siapa dan mengapa mereka akan pergi ke pemakaman. Namun syukurlah semuanya dapat Sherina tangani. Cukup dengan mengatakan kepada Dino bahwa Surya adalah sanak saudara dari teman jauhnya yang meninggal satu tahun lalu dan kini Sherina ingin mengunjunginya. Saat ditanya bagaimana Sherina ingat, ponsel adalah jawabannya.
Cukup mudah mudah sulit sih, namun akhirnya mereka berhasil berada dipemakaman ini. Cukup jauh dari komplek perumahan milliter.
Terpaku, saat ini adalah kondisi Sherina. Matanya menatap batu nisan yang ada dihadapannya kini. Tertulis namanya disana
Sherina Arimajaya
Binti
Haris Arimajaya
Lahir : 02-10-1993
Wafat : 22-01-2019
Deru nafas Sherina tidak sedikit teratur, sesak kini yang ia rasakan. Jadi, tubuh Sherina sudah benar benar menghilang?
Sherina Arimajaya sudah tidak ada didunia ini?
Bahkan, sejak satu tahun yang lalu?
"Bu?" Panggil Surya saat melihat gerakan tubuh atas deru nafas tidak teraturnya Sherina
"Saya sudah benaran tidak ada didunia yaa?"
Pertanyaan Sherina membuat Surya menghela nafasnya panjang, bingung ingin menjawab apa. Namun saat ini Surya merasa senang karena masih dapat berbicara dengan Sherina.
Tak lama, air mata Surya menetes, isakan tangisnya terdengar membuat Sherina beralih menatap Surya dengan tatapan bingung.
"Bu, saya gak apa apa tubuh ibu tidak ada, yang terpenting ibu ada disini, berbicara dengan saya dan dapat memulihkan kembali perusahaan. Kasihan saya bu, banyak karyawan di phk karena kerugian yang banyak ini" jeda Surya yang masih terisak "Dan juga, saya rindu dengan ibu yang hobi memarahi saya, yang hobi merepotkan saya. Karena bagi saya, ibu sudah seperti kakak saya sendiri"
Jika tadi air mata Surya yang turun, kini air mata Sherina ikut turun. Terharu bahwa masih ada yang merindukannya.
"Makasih Surya, kini saya sudah disini"
✨✨✨
Manajer Surya : Ibu, semua paket sudah terkonfirmasi sampai di pos penjagaan.
Manajer Surya : Ohh iya bu, melihat seragam sekolah ibu, sepertinya ibu satu sekolah dengan anak dari kakak saya bu
Manajer Surya : Kebetulan kakak pertama saya adalah tentara juga, sepertinya satu kesatuan dengan ibu
Alda Cahyani
Kirim Pesan || Tambah Kontak
Manajer Surya : Ini kontaknya bu, ibu dapat bertanya bagaimana soal Sherina di sekolah. Dari info yang saya dapatkan dari keponakan saya, Sherina yang tubuhnya ibu tempati adalah korban bully bu disekolah
Manajer Surya : Alasannya apa saya juga belum tahu bu
Sherina Putri : Oke, thanks yaaa sur
Sherina Putri : Nanti saya cari tahu sendiri deh keknya
Sherina Putri : Ohh iya, surat wasiat buatan saya tadi tolong dikasih liat ke nilam
Sherina Putri : Enak saja si b******k itu ingin memegang perusahaan ku
Manajer Surya : Baik ibu
Manajer Surya : Ohh iya bu, kebetulan ATM dan kartu kredit ibu tidak pernah dibekukan, dan sudah saya kirimkan bersama paket paket yang lain. Ada paket berwarna hitam yang isinya adalah barang barang penting ibu.
Sherina Putri : Ahh okey terimakasih Surya
Manajer Surya : Baik ibu sama sama
✨✨✨
Mobil dengan warna hijau tua tersebut membelah jalanan jakarta pagi itu, terdapat Sherina dengan Dino yang tengah saling terdiam.
Sherina yang kurang tidur karena menonton youtube dan Dino yang terlampau canggung memulai obrolan terlebih dahulu.
Mobil sudah semakin mendekat ke arah pagar sekolah, Dino memperhatikan Sherina dengan seksama saat mobil dinas Raden sudah mendekati halte.
Sherina yang sadar kecepatan mobil mulai menurun, membuka matanya kemudian berpendar "Lah? Kok pelan om?"
Dino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus bagaimana "Mbak gak mau turun disini?"
"Hah? Kenapa?" Tanya Sherina sembari menyeritkan kedua keningnya, bingung
"Biasanya gitu mbak"
Ahh, Sherina paham. Sherina memejamkan matanya, kemudian menarik nafasnya lelah. "Alasannya?"
"Mbak gak mau di tahu anak tentara"
Agak sedikit gemas sih mendengar nada suara Dino yang datar namun masih ada rasa cemas.
"Masuk aja deh sampe depan gerbang, sampe depan kelas kalo bisa. Males banget aku jalan om, panas"
Dino mengangguk semangat, kemudian mulai melajukan kembali mobilnya.
✨✨✨
Sherina turun dari mobil dinas tersebut dengan wajah datarnya, tak lama Dino mengendarai mobilnya meninggalkan Sherina yang masih diam menatap palang sekolah baru bagi jiwanya namun sekolah lama bagi tubuhnya.
SMA Chatelir
Tanpa mau menunggu lama, Sherina akhirnya mengangkat kakinya untuk melangkah memasuki area sekolah. Rambut yang digerai dengan kedua bagian ujung sebelah kanan dan kirinya disatukan ditengah menggunakan jepitan badai.
Angin seakan mendukung penampilan Sherina yang menurut Sherina sendiri sudah sangat memukau pagi itu, seragam yang sudah tidak kebesaran lagi, rok yang sudah tidak terlalu panjang lagi.
Semua pakaian yang ada di tubuh Sherina lama sudah berubah karena Sherina yang baru.
Semua mata yang berada di lorong sekolah memperhatikan penampilan Sherina yang tidak seperti biasanya, semuanya berubah. Dari seragam, gaya rambut, hingga sepatu serta tas sekolah.
Bahkan, Sherina yang sekarang sudah sedikit memberikan polesan diwajah polos tersebut.
"Itu Sherina kan?"
"Heh siputtt"
"Siput siputt"
"Hahah nama kok siput"
"Abis ngejual diri sama om om mana lagi tuh"
"Iya anjir turun dari mobil"
"Sok tuan putri banget najis dahal namanya aja siput"
"Cocok lah sama sama lelet"
"Sok cantik banget iyuuhh"
Sherina memberhentikan langkahnya, kemudian menatap perempuan yang baru saja mengatakan dirinya sok cantik. Sherina berjalan mendekati wanita tersebut, saat sudah dekat, Sherina menampilkan senyum smirknya.
"Makasih, emang gue cantik!" Tegas Sherina sembari mengibaskan rambutnya kearah siswi tersebut lalu berjalan meninggalkan siswi tersebut yang berdiri dengan wajah terperangah
Akibat dari keberanian Sherina menjawab olok olokan tersebut serta penggunaan aksen bahasa Sherina yang mulai berubah, membuat seisi lorong semakin membicarakan Sherina.
Memilih abai, kini Sherina berada di depan kelasnya. Untung saja tidak sulit ditemukan kelasnya ini.
Saat kaki Sherina sudah masuk kedalam kelas, matanya membelak kaget saat melihat gerombolan murid kelasnya yang berkumpul disebuah meja yang satu satunya tersisah kosong dikelas tersebut.
Mereka tengah mencoret coret meja yang Sherina yakini itu adalah meja si Sherina sang pemilik tubuh.
Mata Sherina menyipit kesal, tanpa ba-bi-bu lagi Sherina melayangkan tas jinjingnya ke semua kepala yang tengah mengerubung untuk mencoret meja tempatnya duduk.
"Ngapain lu semua, k*****t!"
Kaget dengan tindakan Sherina, beberapa memilih bubar namun ada beberapa siswi yang sepertinya geng berpengaruh dikelas ini yang menatap Sherina nyalang.
Merasa di tatap seperti itu, Sherina balas menatap dengan mata yang membelak lebih besar "Apa lo!"
Salah satu siswi yang berada di paling depan sedikit tersentak kaget dengan sikap Sherina, kemudian mencoba menetralkan wajah terkejutnya.
"Wah songong lu ye, udah mulai berani?!" tantang pemimpin geng tersebut
Sherina memunculkan senyum yang meremehkan, kemudian membaca nametag siswi tersebut, Destia.
"Iyaa" galak Sherina tidak kalah berani "Emang berani, masalah buat lo?" Keki Sherina
Tanpa aba aba, Sherina berjalan maju, berjalan membelah kerumunan geng Destia tanpa rasa takut dan kepala tertunduk "Minggir lo pada, sebelum gue selebet pake piso!"
Beberapa merasa takut dengan ancaman Sherina, kemudian bubar. Beberapa ada yang langsung menarik Destia untuk kembali duduk.
Destia yang tidak terima menatap Sherina nyalang, seakan mengatakan awas aja ye lu. Namun, Sherina abaikan.
Mata Sherina menatap meja yang penuh dengan coretan tersebut, beberapa kata ada yang benar benar menyakiti hati Sherina. Jika jiwanya yang biasanya saja berani merasa sakit hati dengan kalimat di meja, bagaimana dengan Sherina sang pemilik tubuh?
Tiba tiba, sebuah tisu dengan minyak kayu putih muncul di sisi kanan Sherina, membuat Sherina melihat siapa yang memberikan tisu dan minyak kayu putih tersebut.
Siswi yang memberikan itu tersenyum menatap Sherina, senyum sangat sopan dan bersahabat "Pagi bu Sherin, saya Alda keponakan manajer ibu, om Surya dan syukurlah kita sekelas"
Mata Sherina berbinar senang, setidaknya ia memiliki teman disekolah serta dikelasnya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~