"Halo anak piton"
Sherina yang baru saja masuk kelas lalu mendapatkan sambutan dari Destia langsung menatap Destia dengan nyalang "Halo anak konda"
"Masih pagi tolongg jangan ribut" timpal Alda masuk kedalam pembicaraan mereka
Ohh ayolah ini masih terlalu pagi untuk mendengarkan perdebatan sengit antara Sherina dengan Destia yang isinya hanya hujatan antar satu sama lain. Memang sih terkesan seru dan nikmat untuk ditonton, tapi tetap saja untuk mendengar sebuah pertengkaran dipagi seperti ini tidak enak.
"Temen temen, kata pak Budi disuruh ganti baju dari sekarang yaa jam olahraga sama kimia tukeran jadi olahraga yang pertama"
dan seisi kelas bersorak senang mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Sinta bersamaan dengan kedatangan Sinta. Seisi kelas mendadak bubar beraturan, mengambil totebag mereka dan lekas berganti pakaian
Sinta menghampiri Destia, Alda dan juga Sherina dengan senyum cerah "Ganti pakaian bareng yuk?"
Alda mengangguk menyetujui ajakan Sinta "Ayok Sher, Des kita tunggu di depan kelas"
"Sama si anak piton? Ogah deh kita aja bertiga gimana?"
tidak terima, Sherina lekas memukul paha Destia menggunakan totebagnya "Anak konda s****n!"
"Udah ah buruan kita tungguin, berempat!"
***
Jika Alda sudah mengatakan mereka akan pergi berempat, maka mereka benar benar akan pergi berempat. Namun, jangan lupakan ketidak akuran antara Sherina dan Destia.
"Geser!" mulai Sherina memancing keributan
"Jalan lebar, bodoh!"
"Yaa karena lebar, makanya geser bodoh!"
"Heh itu kata kata gue anak piton!"
"SSMG dong!"
"Apaan lagi ituuu"
"Suka suka mulut gue!"
"Gak jelas najis"
"Lo yang gak jelas!"
"Lo lah anjir tiba tiba minta geser! Padahal jalan lebar!
"Yaa karena lebar, makanya geser b**o!"
"GULET YULAH!"
"HAYUK LAH!"
Posisi Sherina dan Destia sudah sama sama saling memegang rambut satu sama lain, namun tidak ada pergerakan ketika Alda sudah menatap keduanya dengan sinis membuat nyali keduanya ciut sehingga akhirnya saling melepaskan genggaman mereka pada rambut lawan.
"Mata Alda kaya mau copot anjir"
"Mau gak mau nih anak konda, gue setuju"
"Jalan yang bener nyampe toilet, tanpa perdebatan atau kalian gak gue kasih contekan"
"Sepakat"
"Sepakat"
***
semua anak kelas keluar dengan tergesa gesa dari kelas saat peluit kematian dari pak Budi menggema mengisi kekosongan sekolah yang baru saja bell masuk. Beberapa siswa bahkan saling menabrak karena terburu buru oleh suara peluit pak Budi yang tak kunjung berhenti jika siswanya belum juga lengkap.
"s**t harus banget lepas nih tali sepatu?" kesal Sherina ketika kakinya sendiri tidak sengaja terinjak tali sepatu yang ia kenakan sendiri
Sherina lantas membungkuk ditengah derasnya murid kelas berhamburan keluar, tidak sempat menepi beberapa kali Sherina terserempet oleh kawan kawannya yang berlarian keluar kelas. Membuat Sherina mengaduh sembari membenarkan tali sepatunya.
selesai
Sherina lantas mencoba berdiri dari posisi jongkoknya, namun ternyata tubuhnya tidak kuat menopang derasnya ombak murid kelas Sherina yang tengah buru buru keluar dari kelas sehingga membuat Sherina jatuh terduduk.
"s**t!"
"Bangun janda bukan ngumpat" bantu Sadam yang datang tiba tiba sembari membantu Sherina berdiri
"Makasih nih buta udah di bantuin"
"Buta?"
"Bujang Tua"
Sadam lantas membelakkan matanya "Kreatif, gue suka"
malas berbasa basi, Sherina langsung meninggalkan Sadam yang masih berdiri ditempatnya jatuh tadi
"Sherinaaaa nanti lo jajan gak?" teriak Sadam yang membuat Sherina berhenti dari jalannya
"Jajan kalo dibayarin duda kere kek lu"
"Anying laaah"
***
"Volly?"
Alda mengangguk, kemudian merongos melihat anggota kelompoknya "Ini kebetulan apa rencana penulis sih bikin Destia sama Sherina sekelompok terus?"
Merasa namanya disebut membuat Sherina dan Destia saling tatap kemudian bergedik ngeri menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh Alda, sedangkan Sinta? Sudah terkekeh geli, bagi Sinta berteman dengan Alda, Sherina dan juga Destia sangat menyenangkan. Tidak ada yang mendominasi kecuali pertengkaran Sherina dengan Destia.
"Tangan lo abis dimandiin kembang tujuh rupa kan nyet? Bersyukur lu sekelompok ama gue"
Oke, jika sudah seperti ini terdapat pancingan oleh Sherina maka sudah dapat Sinta simpulkan bahwa akan ada perdebatan lagi antara Sherina dan Destia
"Lo lah anying napa gue? tangan lo abis disiram air suci kan? makanya bisa sekelompok ama bidadari"
"Najis bidadari dari mananya lu"
"Khayangan laaah"
"Khayalan kali ahh"
"Bodo, yang penting gue cantik"
"Cantengan kali ahh"
"b*****t ya lo ngajak ribut mulu!"
"Gulet yuu lah Des!"
"Hayulah anying!"
"Ekhm" deham Alda saat sudah mencium bau peperangan fisik antara Destia dan juga Sherina
"Des, lanjut nanti aja pas gak ada Alda" bisik Sherina mendekat kearah Destia
Destia mengangguk setuju "Iyaa, cari timming yang tepat aja" balas Destia ikut berbisik
"Mulut lu bau jiggong des"
"b*****t Sherina!"
***
Suasana kantin dijam istirahat pertama benar benar dipenuhi oleh kawanan kelas Sherina yang baru saja selesai jam olahraga. Berbekal istirahat lebih dulu sebelum jamnya, Sherina dan kawan kawan sudah memesan makanan lebih dahulu tanpa mengantri.
"Haah? masa iya Sher?"
Sherina mengangguk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Sinta
Mata mereka berempat langsung menatap kearah Aquarius and the g**g yang berada dikantin.
"Kenapa lu gak lawan?" tanya Alda
Destia mengangguk sepakat dengan Alda "Tenaga lu gede anying, mana hobi ngajakin gue gelut masa lawan cewe cewe kemanyu kek gitu gak bisa"
"Gak tahu, badan gue tiba tiba gak bisa gerak" jawab Sherina pasrah sembari menghembuskan nafasnya perlahan
"Kesemutan maksud lo?" tanya Sinta bingung
Sebenarnya, Alda sudah tahu ini. Surya yang memberi tahu, namun Alda menunggu Sherina yang akan bercerita. Alda tahu, bahwa Sherina akan cerita suatu saat nanti.
and see? Sherina benaran bercerita
"Lawan yuk lah Sher"
Alda menatap Destia yang tengah menggebu emosi "Kok lu yang emosi anjrot"
"Iyalaaah Aldaa" seloroh Destia kesal yang membuat Sherina tersenyum "Yang boleh bully anak piton ini cume gue!" lanjut Destia yang membuat senyum Sherina langsung hilang
"Anak anjing Destia!"
Kekehan lepas dari mulut Sinta dan gelengan tidak habis fikir dari Alda pun ikut
"Kita take video volly dirumah siapa nih? ada yang rumahnya deket lapangan?" ajak diskusi Sinta mengingat mereka memiliki tugas kelompok penjasorkes
"Rumah gue jauh dari lapangan, malah gak pernah liat" jawab Destia
"Gue juga gak tahu lapangan dimana di rumah gue" ikut Sinta memberikan jawaban
"Rumah Sherina aja, belakangnya lapangan" usul Alda membuat Sherina yang tengah meminum teajus gula batunya tersedak
"Kok---"
"SEPAKAT"
"SEPAKAT"
mendengar keputusan sepakat tiba tiba membuat Sherina membelakkan matanya menatap Destia, Sinta kemudian Alda dengan kesal
"Gak ada penolakan ye anying, deadline 3 hari lagi!" peringat Destia yang akhirnya membuat Sherina mau tidak mau harus mau
Belum selesai keapesannya karena rumahnya terpilih menjadi tempat kerja kelompok, tiba tiba Sadam datang dan ikut minum disedotan yang sama dengan milik Sherina, membuat Sherina membelakkan matanya kemudian reflek memukul kepala Sadam sehingga membuat Sadam batuk, tersedak
"Woi anjir Sherina, sakit!"
memilih abai, Sherina melotot didepan wajah Sadam dengan kesal "Lo!" jedanya sembari menunjuk wajah Sadam "Kalo mau minum, nih es jeruk gue aja, s****n! Jangan teajus gula batu gueeeee!"
Sadam yang melihat wajah kesal Sherina langsung terkekeh kemudian mengacak acak pelan kepala Sherina dengan gemas "Gak apa apa, nanti gue ganti 10 galon"
"Seriuss?"
Sadam mengangguk "Ada syaratnya"
"Anying, kan lo yang minum minuman gue onta!"
"Temenin gue berjuang buat jadi taruna di akmil"
"Ogah"
"Yaudah jadi cewek gue aja"
Byuurrrr
Minuman yang tadinya ada dimulut Sherina, lolos dengan bebas menyembur Sadam yang berada dihadapannya. Sadam? hanya bisa pasrah sembari memejamkan matanya
"Lo, salting nya bissa lebih estetik gak?"
"Siapa yang salting! Gue mual malah!"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~