31. Estri dan Ardi – IV

1204 Kata
Ketika Estri dan Ardi saling bertatapan dengan intens itulah, anak-anak lain menyingkir. Tak ingin terlibat lagi dalam masalah. Terutama Ben yang tangisnya makin meledak dan tak kunjung berhenti. Anak berbadan tambun itu sempat mengatakan bahwa ia akan melaporkan Estri kepada orang tuanya, tetapi Ardi sudah lebih dulu melarang. Lebih tepatnya melarang semua yang berada di sana meninggalkan lokasi ini dan tetap tutup mulut. “Kalau kalian buka mulut soal apa yang terjadi di sini hari ini, jangan harap kalau keluarga kalian bakal baik-baik aja sehabis ini. Aku selalu punya alasan yang membuat Ayah bisa menjugkirbalikkan bisnis keluarga kalian. Kalian mau begitu? Mau jadi gembel kayak Adel itu atau lebih buruk lagi jadi kayak anak monyet ini?” Itu adalah ancaman yang cukup kuat untuk membungkam mulut mereka. Tidak ada satu pun di antara anak-anak itu yang berani membantah perkataan Ardi. Sungguh, sebenarnya ini perkumpulan anak-anak apa? Tidak satu pun di antara mereka yang setidaknya lebih normal daripada Adelia. Apakah semua anak-anak orang kaya melakukan hal seperti ini alih-alih melakukan permainan normal sebagaimana anak sebaya mereka seperti main bola atau masak-masakan? Anak-anak ini malah bermain dengan cara yang lebih esktrem menggunakan manusia lain yang derajatnya dianggap lebih rendah. Jadi … apakah Estri sudi menjadi mainan mereka? Sebenarnya tidak. Ia akan mendapatkan kesempatan meminta bantuan atas Mbah Aji dan membalas anak-anak yang telah menyakitinya. “Nah … anak monyet. Bentar … masak dari tadi aku panggil kamu anak monyet gara-gara hitam dan jelek kayak gini. Hmm ... gimana kalau Ireng? Kamu hitam dan gosong kayak p****t panci. Haha … cocok banget sama wajah dan tubuh kamu.” Ardi menjatuhkan pandangannya ke setiap lekuk tubuh Estri yang mana membuat anak perempuan itu lantas menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Adelia. “Hei, tadi kamu berani sekali gigit anak orang. Kenapa sekarang kamu mengkeret kayak gitu?! Aku belum kasih kamu perintah. Kamu pasti mau semua keinginan kamu terpenuhi, ‘kan? Jadi cepat kemari biar aku bisa kasih kamu perintah!” titah Ardi sembari menggoyangkan-goyangkan jarinya, seperti sedang memanggil hewan peliharaan. Estri dengan ragu-ragu beringsut dari punggung Adelia perlahan. Ia melihat perempuan itu menggeleng kecil, memberikan tanda agar jangan menuruti perkataan Ardi. Anak laki-laki itu jauh lebih menyeramkan dan menjijikkan daripada yang mereka semua bisa bayangkan. Jangan sampai melakukan sesuatu yang akan membuatnya terlalu senang. Tidak akan ada yang tahu kegilaan macam apa yang akan dilakukannya kepada Estri nanti. Namun, Estri tidak menggubris kode Adelia. Ia berpegang pada harapan bahwa Ardi akan membantunya nanti. Menuruti satu atau dua perkataannya tidak akan terlalu berat bukan? Maka, Estri mendekat dengan perlahan. Ardi sendiri menyuruh Estri agar mendekat dengan cara merangkak seperti hewan berkaki empat. Adelia betul-betul menahan amarah ketika melihat Estri diperlakukan seperti seekor binatang. Anak-anak yang lain di sisi lain kembali menikmati apa disuguhkan Ardi kepada mereka. Kali ini apa yang diminta lelaki itu? Mereka semua haus akan hiburan. Ben yang sedari tadi merasa kesal dan marah karena perbuatan tidak terduga Estri merasa sedikit terhibur. Ardi akan memberikan pertunjukkan untuk membalas luka di lengganya tadi dengan sesuatu yang mungkin lebih gila lagi. Di luar bayangan mereka semua. “Tunggu …,” ujar Ardi sembari melihat ke sekeliling. “Kayaknya enggak asik kalau kalian ikut lihat. Kali ini aku mau simpan dia buat aku sendiri. Kalian balik aja ke orang tua kalian daripada mengganggu.” Itu adalah sebuah tindakan yang tidak seperti Ardi sama sekali. Biasanya Ardi akan melakukan hal-hal aneh untuk dibagi dengan yang lain. Ia pernah menyuruh seorang anak yang tidak disukai di sekolah untuk makan mi yang sudah diludahi oleh Ardi sendiri. Aksi itu menjadi perbincangan panas di sekolah selama berhari-hari. Ardi bahkan sampai dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Namun karena ia memiliki bekingan dari sang ayah, lolos dari jerat hukuman bukan hal susah. Ia sendiri memang senang mempermalukan orang lain di hadapan orang banyak. Maka, ketika menyimpan Estri untuk diri sendiri diutarakan di depan orang banyak, tentu saja menimbulkan lebih banyak pertanyaan. “Sebaiknya kamu enggak melakukan hal-hal aneh ke dia.” Adelia menjadi satu-satunya yang membuka suara. “Aku mengatakan ini bukan karena aku mau melindungi anak itu. Aku mengatakan ini untuk melindungi kita semua. Kalau kamu sampai melakukan hal nekat lain, kali ini aku enggak akan segan-segan melapor ke orang tuamu langsung.” Sebelumnya, Adelialah yang dijadikan mainan oleh Ardi. Tentu saja ia akan lebih banyak didengarkan daripada anak lain. Namun, karena Ardi telah menemukan mainan baru, Adelia tak lagi menjadi pusat perhatiannya. Ardi malah menunjuk Estri dengan wajah arogannya. “Kamu mau ikut aku, ‘kan? Ingat … aku bisa mengabulkan semua yang kamu minta. Kalau kamu diam saja di sana, kamu enggak akan mendapatkan apa yang kamu mau. Jadi … datanglah ke sini dan jadi anak baik.” Estri tidak peduli lagi dengan peringatan Adelia. Bagaimanapun juga, ia membutuhkan bantuan Ardi. Di posisi ini, ia tidak akan banyak mengeluh. Dengan menuruti Ardi, akan ada kesempatan menyelamatkan Mbah Aji. Tanpa pikir panjang lagi, ia betul-betul merangkak seperti seekor kucing dan menggelayut manja di kaki Ardi. Adelia mungkin sudah gila karena melihat pemandangan di depannya. Sungguh mengerikan sekaligus menjijikkan ketika melihat seorang anak laki-laki yang bahkan belum akil baligh itu memperlakukan perempuan lebih buruk daripada binatang dan tentu saja perempuan yang kelihatannya lebih muda dari mereka mau-mau saja diperlakukan seperti hewan. Ia mungkin satu-satunya yang normal di sana. “Kita semua balik aja. Biarkan mereka berdua main sesuka hati. Ayo kita main ke tempat lain. Jangan katakan apa pun soal ini kalau enggak mau dapat masalah. Kita cari amannya saja.” Adelia mengajak anak-anak lain meninggalkan Ardi dan Estri sendirian kendati dalam hatinya masih berharap tidak akan ada hal buruk atau sesuatu yang menggila di luar akal sehat anak-anak di bawah dua belas tahun terjadi. Tersisalah Estri dan Ardi berdua saja di sana. Estri yang menjadikan tangan kakinya sebagai alat jalan tidak bisa berkutik ketik Ardi memberikan titah, “Buka sepatu dan kaus kakiku. Ingat … jangan pakai tangan. Pakai mulutmu saja. Lalu … jilat semuanya.” Estri ingin mengumpat. Bagaimana caranya melepaskan sepatu dan kaus kaki lelaki ini hanya menggunakan mulut? Namun, sebelum memberikan protes, Ardi sudah memberikannya tatapan penuh arti. Seolah sedang mengatakan, Kamu mau melakukannya, ‘kan? Kalau kamu enggak mau, ya sudah. Selesai semuanya. Balik sana ke tempatmu sama monyet-monyet yang lain. Dengan berat hati, Estri menjulurkan kepala untuk meraih kaus kaki Ardi dengan mulut dan giginya. Bagaimana Ardi sekarang? Jangan tanya. Ia sungguh menikmati melihat bagaimana Estri kesulitan melepaskan kaus kaki itu. Alih-alih merasa jijk karena air liur Etsri membasahi betisnya, Ardi justru merasa bersemangat. Sudah lama sekali ia menunggu momen seperti ini. Membuat perempuan seolah sedang bersujud di kakinya. Bahkan Adelia yang selalu ia buat menuruti setiap perkataannya, tidak akan pernah berbuat demikian. Perempuan itu tidak mau. “Sudah …,” ujar Estri menyadarkan lamunan Ardi. Laki-laki itu cukup kaget mendapati Estri yang semula kesulitan melepaskan kaus kaki, kini sudah sepenuhnya melepaskan sepatu beserta kaus kakinya. Ah … sudah berapa lama ia melamun sampai-sampai tidak tahu kapan tepatnya Estri melucuti sepatu dan kaus kakinya. Dan perempuan itu melakukannya hanya dengan menggunakan mulut dan lidah saja. Tepat seperti yang Ardi katakan. Mata anak laki-laki itu berkilat bengis. “Kalau sudah dilepas, jilat sekarang!” Dan Ardi tidak pernah merasa seantusias ini, karena Estri segera menjilati kakinya seperti seekor anjing menjilati tulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN