"Anak-anak cewek! Kalian semua lepas bajunya. Terus suruh dia mandi! Jijik banget, deh. Aku mau ganti baju dulu. Baunya nempel terus di bajuku!" titah Ardi. Wajahnya mengernyit tanda jijik ketika bertatapan lagi dengan Estri. Sungguh, ketika mereka berdua pertama kali bertemu tadi, Ardi adalah sosok yang jauh berbeda. Jika memang semua sikap manisnya tadi adalah akting semata, maka ia patut mendapatkan penghargaan.
"Siap, Bos!" Anak-anak perempuan itu kompak membalas Ardi. Ketika Ardi telah sepenuhnya pergi, wajah bengis mereka kembali. Tatapan mereka seperti tengah memindai Estri dari atas ke bawah. Seolah tengah memberikan penilaian.
"Eh, kalau dilihat-lihat. Sebenarnya anak ini cantik. Kalau misalnya dia kita mandiin terus diganti pakaian bagus, nanti Mas Ardi malah enggak mau main sama kita lagi," celetuk salah satu dari anak-anak perempuan itu.
"Iya juga, ya. Badannnya juga langsing gitu. Ardi emang sukanya main sama yang badannya tipe-tipe gitu juga, 'kan?" Yang lain menimpali.
Salah satu dari mereka yang tampak dituakan tengah berpikir. Ia pun lantas berkata, "Ardi juga enggak suka sama cewek yang kelihatannya enggak terawat. Kita siram aja pakai air sama sampo seadanya. Nanti kita ganti pakai baju seadanya. Toh, dia cuma buat mainan, 'kan?"
Anak-anak perempuan lain mengangguk mengiakan. Daripada mereka kena masalah karena tidak mematuhi perintah, lebih baik menurut saja. Walaupun sebenarnya mereka sendiri tidak terlalu menyukai perintah Ardi barusan.
"Yang badannya besar nanti tahan dia, jangan sampai kabur. Kamu ambilkan sampo sama baju yang ada di mobilku. Nanti biar aku yang lepas baju sama mandiin dia, sepakat?" Anak perempuan yang dijadikan pemimpin itu melakukan segalanya dengan baik. Tak heran jika ia dituakan.
Momen ketika anak-anak itu menahan tubuhnya, Estri menjerit. Kata-kata nya hilang. Ia tidak memiliki kosa kata selain menjerit. Ia teringat akan kondisi yang dialami sang ibu sebelum dirudapaksa.
"Aku akan sumpal mulutnya pakai kaus kaki." Perempuan pemimpin itu lagi-lagi mengatasi semuanya tanpa banyak kata. Ia melepas sepatu, lalu melepas pula kaus kakinya yang entah akan seperti apa baunya. Kaus kaki itu digulung lalu dimasukkan ke dalam mulut Estri tanpa permisi. Tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisinya yang sekarang, ia hanya bisa pasrah.
Perempuan itu berbisik tanpa bersuara, berkata dengan gerakan bibirnya saja, Maaf, tapi kami sama sekali enggak bisa melawan. Ini demi keluarga kami juga. Maaf.
Estri pun paham akan hal itu. Bahwa mereka di sini memang harus menjilat Ardi. Bahkan panggilannya saja bos. Sudah jelas bahwa lelaki itu berasal dari keluarga yang terpandang dan punya kuasa. Mungkinkah bahwa Ardi memiliki semacam korelasi dengan Atamajaya? Jika memang benar begitu, Estri akan tamat di sini. Pria keji itu mungkin masih mengingat wajahnya.
Anak perempuan itu kembali bertanya tanpa suara, Nama kamu siapa? Selagi melucuti satu per satu pakaian di tubuh Estri dengan mantap tetapi di saat yang sama juga lembut dan seolah tidak ingin menyakiti. Ia perempuan yang lembut dan baik. Estri mungkin menilai demikian hanya karena perlakuan perempuan tersebut yang paling baik di antara lainnya. Namun, jika memang perempuan ini pada dasarnya baik, ia mungkin hanya terpaksa bergaul dengan Ardi dan juga kawan-kawan sombongnya.
"Wah ... Adelia jago, nih. Ini anaknya sampai diam," ujar salah satu dari mereka.
"Yah ... namanya juga udah pro. Dia kan dulu—"
Anak yang baru saja bicara tiba-tiba saja disikut agar tidak melanjutkan perkataannya. Suasana mendadak canggung.
"Enggak apa-apa. Aku dulu emang tinggal di panti asuhan makanya udah biasa banget sama hal kayak gini. Kalian enggak perlu canggung."
Oh, itukah alasan anak perempuan ini begitu lemah lembut dan penyabar. Tak berselang lama, anak yang disuruh membawa baju ganti dan sampo pun datang. Adelia, yang cekatan lantas menitahkan agar Estri dibawa ke sungai. Ia memandikan Estri dengan baik. Sementara yang lainnya diam saja menyaksikan. Karena dimandikan dan dikeringkan dengan alat seadanya, Estri masih belum kelihatan terlalu rapi. Namun, saat itulah Ardi datang dengan wajah arogannya bersama anak-anak lelaki yang lain. Jumlah mereka bertambah dan Estri dibuat makin takut karenanya. Ia buru-buru bersembunyi di balik punggung Adelia.
"Wah, wah, wah, ada apa ini? Kenapa anak kayak monyet ini nurut banget sama Adel? Pasti ngerasa kalau mereka dari tempat yang sama buruknya." Ardi menjenggut rambut basah Estri. Matanya yang bengis lantas bergulir ke Adelia. "Senang karena ketemu sama yang sama jeleknya dengan kamu?"
Adelia urung menjawab, ia malah menolehkan wajah. Enggan membalas.
Seperti tak puas, Ardi melepaskan jambakannya pada Estri. Tak cukup sampai di sana, ia mendorong tubuh Estri hingga jatuh menghantam tanah. "Ah enggak asik. Harusnya kamu marah, dong. Kalau tahu kamu enggak tertarik kayak gini harusnya enggak usah bawa mainan baru."
Sementara Adelia berusaha tidak menghiraukan Ardi dan Estri, perempuan itu menahan tangis. Sebagai anak yang terlahir dari perempuan simpanan, ia pernah mengalami bagaimana rasanya hidup di bawah. Ketika mendapatkan kesempatan merasakan kehidupan di atas, tidak diduga akan seperti ini.
"Karena si monyet sudah mandi. Kita bisa main-main sama dia sepuasnya! Ayo gas!"
Estri tidak ingin menduga-duga bagaimana arti main-main di sini. Anak-anak laki-laki yang kesemuanya memiliki postur lebih tinggi dan besar daripada Estri itu mengerubung seperti kumbang berebut nektar bunga. Padahal baru saja dimandikan dan diganti bajunya, tapi Estri lagi-lagi diseret, dijambak, dan dipukul sesuka hati. Ketika mereka mulai mengerubung, semua keberanian dalam dirinya lenyap. Seolah didorong ke dalam lubang gelap dan dalam, Estri tidak bisa melakukan apa pun selain berteriak histeris.
Adelia memalingkan wajah. Pipinya dialiri air mata. Namun, anak-anak perempuan lain bersorak sorai, seolah sangat menikmati ketika perempuan lain dijadikan objek kekerasan. Estri sungguh menyesal karena datang ke sini. Ah, ia harusnya datang ke sini untuk mencari bantuan. Mbah Aji bisa saja masih hidup, 'kan? Iya, 'kan? Ia bisa menyelamatkan nyawa kakek tersebut. Kakek yang telah menyelamatkan hidupnya.
Ardi yang sedari tadi hanya menyaksikan kini berpindah tempat. Mencari tempat duduk sementara Estri dibawa ke mana-mana. Pontang-panting dijadikan objek mainan. Di tahap ini, ia masih bisa tahan. Namun, ketika salah satu anak laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam celana Estri, saat itulah kesadaran Estri menghilang. Ia menjerit dengan kencang. Bahkan sangat melengking hingga mereka yang berada di sana menutup telinga dan memejamkan mata.
Namun, lengkingan lain yang lebih kencang anak laki-laki yang bertubuh paling gempal di sana memberikan tanda bahwa Estri telah membalikkan keadaan. Anak yang tubuhnya besar karena lemak itu menjerit dan panik karena Estri menggigit lengannya dengan kencang.
"Dia ngapain?! Wah dia menggila!"
"Bos Ardi! Tangannya Ben sampai berdarah gitu. Kita harus ngapain?!"
Anak bernama Ben itu sontak menangis ketika menyadari bahwa tangannya dikunyah lebih kencang. Keadaan sangat buruk karena tidak ada satu pun yang berani mendekat. Bahkan Adelia dan Ardi yang dianggap ketua di sana. Di satu sisi, Ardi seolah terhibur dan terpukau. Ia bertepuk tangan dengan antusias sembari menatap Estri dalam-dalam.
"Hei anak monyet. Aku akan kasih kamu uang banyak kalau kamu melakukan semua yang aku suruh." Tatapan bengis Ardi tidak menakuti Estri, sebaliknya, ia menakuti semua anak di sana.
Ketika Estri membuka suara, semua anak di sana ketakutan. "Aku enggak butuh uangmu. Tapi aku butuh bantuanmu."