Estri tidak tahu sejauh mana ia berlari. Bahkan arah tujuannya pun tidak jelas. Beberapa kali tersandung, berguling, dan terpeleset, ia tidak peduli lagi. Dengan kondisi Mbah Aji yang saat ini ditinggalkan di gubuk seorang diri, Estri tidak punya pilihan selain mencari bala bantuan. Mbah Aji … apakah pria itu sudah meninggal atau masih hidup? Estri sendiri tidak yakin. Ia belum pernah melihat orang meninggal secara langsung tepat di depan mata. Bisa saja Mbah Aji hanya pingsan dan masih bisa diselamatkan bukan? Iya, ‘kan? Itulah alasannya berlari sepanjang jalan hutan menuju tempat yang sebenarnya tidak tahu akan berakhir di mana.
Estri berlari menuju sungai itu lagi. Tempat di mana beberapa pria saling mengobrol tadi dan anak lelaki asal kota bersama ibunya. Mungkin ia bisa menemukan bantuan di sana. Sampai di tepian hutan, tanda-tanda peradaban terlihat. Sungai yang alirannya panjang itu dikelilingi orang-orang dalam jumlah lebih banyak daripada biasanya. Mendadak Estri merasa mual. Orang-orang itu … ia tidak mengenal mereka semua. Bagaimana caranya meminta bantuan? Dan lagi, apakah mereka semua orang baik? Bagaimana jika ada penjahat di antara mereka. Sebagaimana orang-orang biadab yang telah menghabisi nyawa orang tuanya dengan cara paling kejam?
Estri tidak berani mendekat. Orang-orang dalam jumlah banyak itu terdengar berisik. Mereka berbicara dengan keras, ada beberapa yang saling mengejek, memarahi, mengatakan hal-hal tidak senonoh. Tunggu … apa ia berhalusinasi? Kenapa bisa mendengar semua itu? Oh tidak … kepalanya pusing seperti baru saja dihantam martil. Estri mundur selangkah demi selangkah. Ia tidak berani mendekat. Namun, jika ia tidak mencari bantuan … bagaimana dengan Mbah Aji? Ia harus ke sana. Melawan rasa takutnya. Tapi isi perutnya seolah dikocok ketika melihat orang-orang itu.
Tak bisa berpikir dengan jernih, pada akhirnya Estri memilih mundur. Mungkin ia bisa pergi ke arah lain. Biasanya ada beberapa pria yang menggembala kambing atau mencari pakan ternak. Ia bisa saja menemukan mereka sepulangnya dari sini. Dengan begitu, ia tidak akan melihat orang-orang ini. Entah sial atau beruntung, Estri malah bertemu dengan anak lelaki dari kota ketika berbalik badan. Bocah lelaki itu tampan dengan pakaian mahal, berkulit bersih, dan tidak terlihat seperti anak nakal.
“Kamu yang balikin sandal aku tadi, ‘kan?” tanya anak lelaki itu, yang namanya kalau tidak salah ingat adalah Ardi.
Estri mengangguk pelan. Ia memalingkan wajah. Tidak berani bertatap muka secara langsung dengan orang baru. Selama beberapa minggu ini ia hanya berkomunikasi dengan Mbah Aji. Karena insiden di malam mengerikan itu, rasa percayanya terhadap manusia lain telah berkurang banyak.
“Aku mau bilang terima kasih karena udah bantu balikin sandalku. Itu sandal mahal. Kalau sampai hilang, aku bisa dimarahi. Jadinya aku mau kasih kamu hadiah, sama aku kenalin ke teman-teman aku. Mau enggak?” tawar bocah lelaki tersebut. Ia bahkan mengulurkan tangan kepada Estri walaupun tidak kunjung ditanggapi.
Estri yang awalnya ragu, sempat beberapa kali menengok kanan kiri tidak yakin pada akhirnya menyambut uluran tangan tersebut. Anak lelaki ini mungkin orang yang baik sehingga Estri sendiri yakin dan menyambut uluran tangannya. Kendati tidak tahu ke manakah anak lelaki ini akan membawanya, tetapi Estri menurut saja. Walaupun diajak ke kerumunan orang di sungai itu, setidaknya jika ada seseorang yang dapat dipercaya, ia tidak akan merasa takut lagi.
Melihat tangan mereka yang saling bertautan, Estri menyadari bahwa mereka berdua seperti berasal dari dunia yang jauh berbeda. Dari perbedaan warna kulit, kentara sekali. Estri yang sejak kecil hobi bermain dengan anak-anak lelaki memiliki warna kulit lebih gelap. Bahkan sangat jauh berbeda dengan Ardi yang berkulit bersih dan kuning langsat. Seperti anak tuan muda yang kesehariannya berada di rumah dan lebih banyak bermain gim daripada keluar rumah. Estri lupa kapan terakhir kali mandi. Rambutnya yang kusut menutupi wajah seperti tirai usang. Pakaian yang ia kenakan sekarang pun masih sama dengan terakhir kali meninggalkan rumah bersama orang tuanya. Jika dibandingkan … penampilannya seperti gembel, sedangkan Ardi adalah tuan muda yang tampan dan terpelajar.
“Wah … Ardi bawa siapa itu?!”
“Ardi dari mana aja, sih. Kita cariin ke mana-mana loh.”
“Ih, Ardi! Itu siapa kok jelek banget sih?!”
Mendadak Estri merasa menyesal karena menurut saja ketika diajak oleh Ardi. Teman-teman yang dimaksudkan oleh Ardi setidaknya memiliki level yang sama. Anak-anak kota yang kira-kira masih sepantaran. Semua yang mereka kenakan dari atas hingga bawah adalah barang bermerek. Kontras dengan penampilan Estri. Melihat bagaimana buruknya penampilan Estri saat ini, wajar saja jika mereka protes. Bahkan salah satu anak perempuan di antara gerombolan itu mual-mual.
“Ih, Ardi bawa hewan peliharaan, ya? Bau banget! Jijik!”
Apakah ekspresinya harus seburuk itu ketika menggambarkan Estri? Orang-orang kaya memang menyebalkan karena hanya melihat dari penampilan fisik saja. Tapi, omong-omong, kenapa Ardi diam saja? Kenapa ia tidak mengatakan sesuatu sama sekali? Jika ia betulan mengajak Estri untuk berterima kasih, bukankah paling tidak ia menjelaskan kepada mereka tentang itu? Mengapa ia malah terdiam saja dari tadi?
“Aku bawain mainan buat kalian nih! Terserah mau diapakan!” Sebagai pelengkap kalimat itu, Ardi tiba-tiba saja menggeret Estri dan mendorongnya ke tanah. Wajah ramah dan baik hati yang tadi ia tunjukkan ke Estri hilang ke mana? Wajah bengis khas anak berkuasa yang nakal menggantikan wajah baik hatinya.
“Nah … begini dong Ardi yang asli. Kalau enggak dirayu pasti enggak mau datang, ‘kan? Haha, perempuan kampung emang semuanya murahan!” balas yang lain.
“Kalau udah gini, kita mainin aja kali, ya? Kalian mau apain dia, woi?” Ardi lantas menarik Estri dengan paksa. “Kalau udah bau kayak gini harusnya dimandiin kan ya? Jijik banget dari tadi pegangan sama dia. Harus bersih-bersih ini.”
Padahal mereka semua anak-anak yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Estri maupun Ardi. Tapi kenapa mereka semua arogan seperti ini? Estri berjongkok lalu meringkuk. Kepalanya seolah kembali dihantam dengan martil. Anak-anak itu malah mengelilinginya. Menghajarnya dengan cacian dan makian sementara Ardi menikmati momen tersebut seperti sedang menonton film. Saat itulah ingatan Estri tentang malam di mana ibunya dirudapaksa kembali berputar. Waktu itu pun si bos, dalang atas semua perbuatan keji itu hanya menyaksikan semua perbuatan kotor anak buahnya selagi ia duduk dan tidak melakukan apa-apa.
Ardi … mengingatkan Estri akan pria b***t itu. Atmajaya.