Kondisi Mbah Aji makin hari makin memburuk. Ia sudah tidak bisa meninggalkan dipan. Makan, minum, dan buang air semua terbatas di atas dipan itu sendiri. Jangankan melakukan apa pun. Bernapas dengan nyaman pun sudah jadi hal jarang dan bahkan bisa dibilang mewah. Estri yang masih belum cukup umur untuk menghidupi diri sendiri pun pada akhirnya menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan. Ia akan bangun pagi-pagi sekali, mencari air di sungai atau mata air yang jaraknya cukup jauh jika harus ditempuh sendirian dengan berjalan kaki.
Meninggalkan gubuk pun rasanya tidak pernah tenang karena selalu terbayang akan kondisi Mbah Aji. Hari ini pun sebelum berangkat mencari air, makanan, dan kayu bakar, Estri memastikan terlebih dahulu bahwa Mbah Aji setidaknya masih dalam keadaan hidup. Tanpa mengenakan apa pun sebagai alas kaki, ia berjalan menelusuri hutan. Mencari pohon yang tengah berbuah atau semak-semak yang ditumbuhi buah-buahan kecil. Belakangan ini, Estri harus menyelam ke hutan lebih jauh untuk menemukan makanan. Pohon tempat biasanya mendapatkan buah-buahan sudah habis ia petik.
Mbah Aji sendiri juga tidak bisa makan daging ikan—satu-satunya daging yang bisa ditangkap dan dibersihkan dengan mudah—ataupun daging unggas. Jika beruntung, ia akan menemukan telur burung puyuh atau sekalian burung-burung itu. Namun, Estri tidak sampai hati mengonsumsi mereka. Jadilah ia lebih banyak memetik buah dan menangkap ikan.
"Ah, kalau aku menyelama ke hutan lebih jauh, aku mungkin akan tersesat," gumam Estri lelah. Bahkan setelah menelusuri hutan lebih jauh pun, ia nyaris tidak mendapatkan makanan. "Haruskah aku mulai berburu burung puyuh? Uh . . . tapi mereka terlalu kecil dan menggemaskan untuk ditangkap.
Ketika tengah melewati sungai, tiba-tiba saja terdengar suara beberapa orang pria yang tengah memancing. Estri buru-buru menyembunyikan diri. Semenjak malam di mana ibunya dirudapaksa, ia merasa tidak nyaman di depan banyak lelaki. Khawatir kalau-kalau mereka akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan pria-pria durjana itu kepada ibunya. Tidak semua lelaki begitu. Namun, Estri masih belum bisa bertemu dengan mereka.
"Eh, kayaknya beberapa hari yang lalu, aku pernah lihat ada anak perempuan di sekitar sini. Anak mana itu? Bukan anak di kampung kita, 'kan?" Seorang pria tiba-tiba saja membuka suara. Kentara sekali bahwa yang baru saja dijadikan objek pembicaraan itu adalah dirinya.
"Kalau sampai ada yang tahu ada anak di bawah umur tanpa pengawasan orang tua di sini, bisa-bisa kita juga yang kena masalah. Pokoknya kalau sampai anak itu ketemu, harus kita bawa ke balai desa terus dicarikan panti." Yang lain menimpali.
Pembicaraan para pria itu berakhir di sana. Semakin jelas pula nasib Estri jika orang-orang sampai tahu bahwa ia berada di hutan bersama Mbah Aji. Kalau begitu, kemungkinan Mbah Aji mendapatkan perawatan yang lebih baik pun juga akan meningkat bukan? Tunggu ... selama ini berada di hutan, mengapa Estri tidak pernah bertanya satu kali pun tentang alasan kakek tersebut menghabiskan masa tuanya di hutan alih-alih bersama keluarganya? Selama ini, Estri sudah telanjur hidup dengan Mbah Aji tanpa mengetahui sebab musabab mengapa pria tersebut harus tinggal di hutan.
Kalau untuk menjauhi Sarpa Wijaya pun sebenarnya tidak tepat. Siluman memiliki kemampuan untuk menemukan orang lain dalam jarak jauh, sehingga alasan itu benar-benar terbantahkan. Lalu ... kenapa? Estri keluar dari tempat persembunyiannya dengan memeluk erat-erat kain berisi makan siang untuk Mbah Aji. Hanya buah-buahan dari semak belukar dan beberapa buah pisang yang belum habis dimakan codot. Baru saja keluar dari tempat persembunyiannya, kaki Estri tiba-tiba saja bersentuhan dengan sebuah sandal yang hanyut terbawa arus. Itu salah satu sandal merek mahal yang ia lihat di swalayan besar. Sayang hanya satu. Mungkin pemiliknya baru saja kehilangan sandal tersebut.
"Ardi! Mau ke mana kamu, Nak?" seruan tanya seorang perempuan mengejutkan Estri.
"Cari sandal Ardi, Bun. Tadi hanyut terbawa arus."
Estri tidak peduli dengan keadaannya sendiri. Ia buru-buru mengembalikan sandal tersebut. Diletakkannya sandal itu kembali ke batu. Ia bersembunyi, berjongkok di batu lain yang lebih besar untuk menyembunyikan diri. Anak lelaki bernama Ardi yang mungkin lebih tua sedikit jika dibandingkan dengan Estri itu memiliki wajah tampan dan penampilan menarik. Kentara sekali bahwa ia adalah anak kota.
"Loh, ini kan sandalku. Kenapa ada di sini?" Ardi mengambil pasangan sandalnya yang tadi hanyut. Ia melongok ke kanan dan ke kiri. Mungkin mencari seseorang yang menyelamatkan sandalnya.
Estri mendekap kain buluknya erat-erat. Kalau sudah begini, ia jadi tidak berani keluar. Namun, di saat Estri masih memikirkan bagaimana jalan keluar, Ardi sudah lebih dulu melongok dari batu yang menutupi tubuh Estri. Anak perempuan itu ingin menjerit, tetapi ia tidak ingin menarik atensi orang banyak. Tanpa sempat mengatakan apa pun, ia berlari meninggalkan sungai. Bermaksud kembali ke gubuk. Mengabaikan teriakan Ardi yang berusaha memanggilnya kembali.
Estri dengan langkah ragu kembali menyusuri jalan menuju gubuk. Uh ... bertemu lagi dengan manusia setelah sekian lama, entah mengapa seluruh tenaganya habis tersedot. Dengan napas satu-satu dan langkah terseret, ia memilih berjalan santai saja. Toh, Mbah Aji tidak akan ke mana-mana, 'kan?
Ketika ia semakin dekat dengan gubuk, di depan gubuk, beberapa hewan liar seperti tikus dan ayam terlihat berada di depan pintu masuk. Mereka tampak mengendus-endus udara. Mendadak Estri panik. Mungkinkah terjadi sesuatu kepada Mbah Aji.
"Mbah Aji!" Sesampainya di dalam gubuk, betapa terkejutnya Estri ketika mendapati tikus-tikus itu menggigiti daging Mbah Aji sedangkan ayam-ayam liar itu mematuk-matuk wajah tuanya. Estri buru-buru mengusir mereka tanpa perhitungan. Ia bahkan balas dipatuk ayam dan ditabrak tikus-tikus liar yang bahkan lebih besar dari ukuran kucing rumahan.
"Mbah ... Mbah Aji ... Mbah enggak apa-apa?" Estri berjongkok di samping dipan. Menyentuh setiap jengkal tubuh pria tua tersebut, memastikan bahwa ia masih hidup. Tubuhnya semakin dingin.
Pria tua tersebut berusaha membuka mulut. Bahkan mencoba berkata-kata pun sangat sulit untuk dirinya. "Nduk ... kamu jangan ke mana-mana. Temani Mbah di sini sampai akhir Mbah, ya. Ini adalah balasan yang tepat buat orang yang tidak pernah merasa puas. Selalu dikuasai iri. Mbah adalah orang jahat yang mengirim teluh ke orang lain agar usahanya bangkrut. Anak-anak Mbah hidup susah walaupun bertabur harta. Ini ... adalah hukuman yang tepat untuk orang seburuk Mbah."
Mbah Aji yang kepayahan bahkan mengatakan seluruh kalimat tersebut patah-patah. Estri tidak tahan menyaksikan penderitaan Mbah Aji. Namun di satu sisi, Estri belum siap melihat kematian lagi. Kematian orang tuanya saja sudah cukup menyakitkan. Untuk sekarang ia tidak ingin melihat kematian lagi.
"Enggak, Mbah! Mbah Aji orang baik. Kalau bukan orang baik, kenapa mau tolong Estri. Mbah ... jangan tidur dulu, Mbah! Jangan Mbah!"
Kata orang-orang di desanya dulu, jika dalam keadaan seperti ini, nyawa Mbah Aji hanya tinggal berada di leher. Satu tarikan napasnya bisa jadi napas terakhir. Estri tidak sanggup menyaksikan hal seperti ini lagi. Hal yang tidak ia inginkan terjadi di depan mata. Napas pria itu hanya tersisa di leher saja. Momen itu terasa seperti satu kedipan mata. Mbah Aji tidak bergerak lagi ketika Estri tersadar. Dalam kekalutannya, anak perempuan itu menangis sembari mengguncang-guncangkan tubuh Mbah Aji. Walaupun ia tahu bahwa perbuatan itu tidak akan ada gunanya.