28. Estri dan Sarpa Wijaya - II

1144 Kata
Mbah Aji membuka mata dengan napas yang satu-satu ketika merasakan hawa dingin menembus kulitnya. Tanah hutan yang selalu berselimutkan daun-daun kering kini basah oleh guyuran hujan. Biasanya hujan akan menembus lapisan kayu gubuk yang tipis dan atap rombengnya tidak bisa menahan guyuran air. Namun, hujan kali ini berbeda karena tidak meninggalkan jejaknya di dalam gubuk. Mungkinkah Estri yang bertanggung jawab atas perbaikan gubuk? "Mbah Aji?" Estri baru saja tiba di ambang pintu. Tubuhnya basah oleh air hujan kendati telah berpayung daun pisang. Daun pisang yang tak seberapa ukurannya itu memang tidak akan bisa melindungi tubuh Estri dari hujan dan angin. "Nduk ... kamu tidak apa-apa, 'kan? Kamu tidak dilukai siluman itu, 'kan? Kenapa kamu hujan-hujanan di luar? Kita tidak punya tungku atau penghangat apa pun kalau kamu kehujanan begini, kalau sakit terus kedinginan, nanti gimana?" Kalau bukan karena batuk yang tiba-tiba datang. Rentetan pertanyaan Mbah Aji tidak akan menemukan akhir. "Estri enggak apa-apa, Mbah. Mbah enggak perlu khawatir." Kebohongan itu meluncur dari bibir Estri. Ia tidak akan pernah bisa jujur telah membuat kesepakatan dengan Sarpa Wijaya. Mereka akan bertemu lagi. Namun, ekspresi penuh keraguan yang tersirat di wajah renta Mbah Aji mengatakan sebaliknya. Ia tidak mempercayai satu kata pun yang baru saja Estri katakan. Seolah memiliki intuisi yang kuat, ia berusaha membuat Estri jujur melalui tatapan dalam. Estri sendiri tidak bisa menghindar lagi dari tatapan Mbah Aji. "Mbah ... Estri sudah membuat kesepakatan dengan Sarpa Wijaya." Mendengar nama tersebut keluar dari bibir mungil Estri, Mbah Aji tidak bisa melakukan apa pun selain menangis. Ia telah gagal melindungi Estri. "Maaf ... maafkan Mbah karena tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan kamu. Mbah minta maaf ...." Estri balas menggenggam tangan Mbah Aji, meremasnya pelan. Ia menggeleng lalu berkata, "Ini keputusan yang sudah Estri buat sendiri, Mbah. Estri akan membalas apa yang sudah orang-orang biadab itu lakukan sama Ayah dan Ibu. Juga sama Estri." Pupil Mbah Aji membesar ketika menyadari alasan yang diberikan oleh anak perempuan tersebut. "Nduk ... kenapa kamu jatuh ke perangkapnya? Balas dendam bukan sebuah solusi. Sudah sejauh mana yang kalian lakukan. Kalau belum terlalu jauh, mari kita batalkan saja. Mbah akan bantu kamu. Sebelum semuanya terlambat." Estri menggeleng-geleng. Tatapannya menunjukkan keyakinan yang tidak akan goyah. "Estri sudah yakin dengan keputusan Estri sendiri, Mbah. Estri hanya melakukan hal yang sudah seharusnya seorang anak lakukan untuk berbakti pada orang tuanya. Membalas kejahatan yang dilakukan orang lain kepada Ayah dan Ibu." Tangis Mbah Aji semakin tidak terkontrol. Ia menangis sejadi-jadinya. Karena tangis itu pula ia sampai terbatuk cukup lama. Estri dengan sigap mengambil segelas air dari samping dipan. Dibimbingnya Mbah Aji meminum tersebut dengan lemah lembut dan perlahan. "Mbah jangan khawatir sama Estri. Estri sudah bikin perjanjian dan kesepakatan yang tidak akan terlalu merugikan Estri ke depannya. Estri hanya akan belajar melalui kitab perlahan, dia juga tidak bisa menyentuh tubuh Estri sampai Estri dewasa dan menyelesaikan semua dendam Estri. Dia mau bersabar, asalkan tiap bulan purnama, Estri harus datang menghiburnya," terang Estri kemudian. Mbah Aji pada akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menatap lurus jalinan daun kelapa kering yang menjadi atap mereka. "Kamu mungkin belum mendengar ini dari mulut Sarpa Wijaya langsung. Tapi kamu harus tahu bahwa dia adalah siluman yang cacat. Dia tidak sempurna," ujar Mbah Aji kemudian. Estri mengernyit, baru saja mengetahui hal ini. "Maksud, Mbah apa?" "Sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Ia dikalahkan oleh orang sakti. Orang itu mengambil alih sebagian besar kekuatan Sarpa Wijaya. Walaupun tidak cukup untuk membunuh siluman ular tersebut tetapi berhasil membuatnya kehilangan kekuatan. Termasuk pula berubah menjadi wujud manusia dan melakukan reproduksi. Hanya di malam bulan purnama sebagian besar kekuatannya bangkit. Itulah mengapa ia memilih malam purnama untuk bersetubuh dengan manusia yang jadi membuat kontrak dengannya." Kening Estri makin mengerut. "Ia tidak mengatakan itu sama sekali." "Orang bodoh mana yang akan membongkar kelemahannya. Mbah saja mengetahui ini sendiri, tidak ada yang tahu selain Mbah." "Tapi ... Mbah kan bisa minta bantuan kontrak—“ "Dengan tubuh tidak sempurna dan cacat seperti itu. Ia hanya punya satu kontraktor. Meminjamkan kekuatan kepada banyak orang sama saja dengan membuka dirinya perlahan pula." Estri tercenung cukup lama. Tidak mampu berkata-kata. "Itulah sebabnya dia mau menerima Estri dan melepaskan Mbah Aji dengan mudah." "Betul, Nduk. Nanti peranmu jika sudah cukup dewasa adalah mengandung telurnya. Dari telur itulah kamu akan melahirkan sosok baru, sebuah tubuh yang lebih sempurna untuk dia pergunakan ke depannya. Jika tubuhnya sudah sempurna, ia bisa melakukan apa pun dengan tubuh baru itu." Estri kembali terdiam cukup lama. "Kalau begitu ... Estri bisa menunda cukup lama. Estri masih terlalu kecil pula untuk bisa mengandung. Menstruasi saja belum." Mbah Aji mengangguk lemah. "Kamu sudah terlanjur. Menunda-nunda adalah pilihan terbaik, Nduk. Mbah hanya bisa membantu sampai di sini." Petir yang menggelegar di luar tidak mampu menakuti Estri dan Mbah Aji. Mereka berdua kembali larut dalam pikiran masing-masing. "Estri ... hanya ingin orang-orang biadab itu menerima pembalasan yang pantas. Apa yang sudah mereka lakukan kepada orang tua Estri tidak boleh terjadi kepada orang lain." "Mbah melihat terlalu banyak orang di malam itu. Apa kamu tahu semua namanya? Tanpa nama, kamu tidak akan bisa membalas mereka kecuali Sarpa Wijaya sendiri yang menyerang secara langsung." Estri menggeleng. "Estri hanya ingin membunuh tiga nama. Selebihnya, biar mereka merasakan sendiri apa itu dosa." Mbah Aji tidak ingin terlibat lebih banyak. Ia menarik sarung yang menjadi selimut untuknya. Tunggu ... ia tidak pernah ingat memiliki sarung ini. Juga kebocoran yang biasanya tidak bisa dihindari kala hujan, kenapa mereka tidak merasakan bocor itu? "Apakah ada orang yang datang ke sini, Nduk? Kalau ada orang yang datang ke sini. Sebaiknya kamu ikut saja mereka dan tinggalkan Mbah. Kamu masih punya masa depan cerah. Jangan habiskan untuk orang tua tidak berguna seperti Mbah," ujar Mbah Aji lirih. Estri menggeleng untuk ke sekian kalinya. "Tidak ada orang yang ke sini, Mbah." "Jadi ... kamu yang memperbaiki atap dan bawa sarung ini untuk Mbah?" Estri kembali menggeleng. "Itu semua, Sarpa Wijaya yang melakukan. Dia memanjat ke atap sendiri. Estri kurang tahu apa yang dia lakukan. Tapi dia berhasil memperbaiki atap sama bisa dapatkan sarung buat Mbah." Mbah Aji bengong. Loh ... siluman ular pelit itu bisa berusaha seperti ini untuk mendapatkan hati Estri. Tumben. "Estri akan belajar perlahan buat menyempurnakan ilmu." "Ritual bulan purnamanya? Kamu terlalu muda buat melakukan hal semacam itu, 'kan? Apa yang dia minta darimu? Dia tidak mungkin memintamu melakukan hal macam-macam." Estri tampak mengingat-ingat hal-hal apa saja yang diminta oleh Sarpa Wijaya. "Ayam jantan dan daging sapi. Estri masih bingung carinya di mana." Mbah Aji menepuk punggung tangan Estri pelan. "Nduk ... Mbah sudah gagal mencegahmu masuk ke dalam lubang kehancuran. Tapi setidaknya kamu bisa menunda-nunda waktunya memberikan siluman ular tersebut apa yang dia mau. Untuk sekarang, Nduk . . . buatlah dia jatuh hati padamu sehingga ia mau melakukan apa pun untukmu." Estri mengangguk. Mungkin hanya inilah wejangan dari Mbah Aji yang bisa dilakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN