Mbah Aji seolah mendapatkan serangan jantung di atas dipan reyot miliknya ketika sosok ular besar tersebut mendekati keranjang. Ia bahkan sampai terjatuh dari dipan. Estri yang khawatir, tetapi di saat yang sama tidak bisa mengabaikan perkataan Mbah Aji bergetar sekaligus berkeringat dingin. Terlebih ketika moncong ular tersebut semakin dekat dengannya. Bahkan embusan napas dan lidahnya yang bergerak-gerak menyentuh kain. Menghalangi lubang, satu-satunya tempat untuknya melihat. Jeritan Mbah Aji meledak ketika ular tersebut menyibak kain dalam satu kali percobaan, menyisakan Estri yang lemas tanpa kain untuk menutupi dirinya.
“Wah … rupa-rupanya kamu menyembunyikan tumbal yang bagus di sini. Wajahnya cantik, kalau saja tidak hitam, pasti lebih cantik,” ujar ular tersebut. Melihat ukuran sebesar itu saja sudah menyeramkan, mendengarnya bisa bicara selayaknya manusia, tentu saja ketakutan itu menjadi berganda.
“Ti-tidak! Dia tidak ada hubungannya dengan saya. Di-dia masih muda, masih kecil. Tolong … tolong jangan sakiti dia. Dia bukan—“ Mbah Aji yang kepayahan bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Batuk parah yang keluar dari mulutnya. Bahkan tak berselang lama, kesadarannya menghilang.
“Mbah! Simbah Aji ….” Estri menangis di tempatnya. Dengan posisi sedang diawasi oleh ular besar tersebut, ia tidak bisa ke mana-mana. Menyaksikan bagaimana kakek yang telah menyelamatkannya berada dalam bahaya dan ia tidak bisa melakukan apa pun, Estri luar biasa kecewa pada dirinya sendiri. Ketika nyawa kedua orang tuanya juga dihabisi dengan biadab pun ia tidak bisa melakukan apa pun. Pada akhirnya, ia hanyalah beban.
“Nduk … kamu mau menyelamatkan Mbah itu? Kasihan sekali dia, loh. Kenapa enggak kamu bantu dia? Yah … bakalan sia-sia juga, ‘kan? Umurnya tidak lama lagi. Kamu pasti juga akan aku jadikan tumbal cepat atau lambat. Jadi … kamu anteng saja selagi aku melakukan hal yang sudah seharusnya aku lakukan.” Ular tersebut menjulurkan tubuhnya mendekati tubuh Estri. Menggunakan lidahnya yang panjang dan berair, ia menyentuh tubuh Estri perlahan. Seperti anak yang tengah mencicipi es krim.
Estri yang tidak berdaya semakin meringkuk ketakutan. Air matanya beranak pinak. Ia pasrah saja, bagaimanapun juga, ia tidak memiliki kekuatan melawan.
“Estri ….” Suara lirih Mbah Aji merayap menelusup telingnya. Saat itu pula ular tersebut menghentikan aksinya. Beberapa kali pula terdengar batuk lemah darinya. Kendati Estri merasa sedikit lega karena Mbah Aji belum meninggal, tetapi apa yang harus ia lakukan saat ini?
“Huh … masih hidup saja kakek satu itu. Kenapa tidak mati saja. Toh … kalaupun dia mati, aku juga tidak bisa mengambil rohnya.” Ular tersebut mundur, menjauhi tubuh Estri lalu berganti mendekati Mbah Aji. Moncongnya seolah tengah mengendus tubuh lemas kakek tua tersebut. “Sudah berapa tahun orang ini tidak mandi?! Sialan, baunya busuk sekali. Memang sudah seharusnya aku matikan saja dia. Tidak dapat rohnya, aku masih bisa dapat daging buat dimakan walaupun alot.”
“Tidak! Jangan lakukan!” Entah dapat kekuatan dari mana, Estri dengan berani mencegah si ular besar berniat mencaplok tubuh Mbah Aji.
“Haha, lihat siapa yang mau jadi pahlawan kesiangan. Eh, ini sudah malam, ya? Hmm … memang sebaiknya aku menggunakan tubuhmu dulu sebelum menghabisi pak tua itu. Tapi … kau masih terlalu kecil untuk bisa mengandung dan melahirkan. Hmm … sebuah dilemma.”
“Ja-jangan lakukan itu. Tolong jangan ….”
Ular tersebut menyeringai—walaupun sebenarnya Estri tidak begitu paham bagaimana mulut si ular bisa menampilkan seringai. “Bagaimana anak sekecil kamu ketakutan ketika aku mengatakan soal itu hmm? Apa anak sekecil ini sudah tahu bagaimana caranya makhluk hidup bereproduksi?”
Estri bergeming. Lidahnya seperti habis dicolong kucing. Ketika ia sedang memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Mbah Aji sekaligus kabur dari ular besar tersebut, tubuhnya tiba-tiba saja seperti disengat oleh sesuatu. Entah dari mana asal sengatan tersebut. Satu hal yang jelas, tubuhnya menjadi kaku. Sama sekali tidak bisa bergerak.
“Izinkan aku menyelam ke dalam pikiran dan ingatanmu, Nduk. Jangan takut, karena aku tidak akan melukaimu sama sekali.”
Seperti sebongkah batu yang kokoh. Tubuh Estri menegang ketika ular tersebut menempelkan kepalanya pada dahi Estri. Itu adalah salah satu momen paling mengerikan dalam hidup Estri selain malam di mana keluarganya habis terbantai oleh orang-orang biadab beberapa waktu silam. Tubuhnya menjadi ringan, ketika seperti dibawa ke dalam sebuah lorong panjang. Kilasan-kilasan ingatannya berjejer seperti potongan film. Dan ketika si ular sudah selesai dengan urusannya, tubuh Etsri lemas. Ia tergolek lemah di tanah.
“Genduk kecil ini punya pengalaman hidup yang cukup gelap, ya? Sungguh kasihan di usia semuda ini sudah mendapatkan kemalangan seperti itu. Kalau misalnya aku memberikan kesempatan padamu untuk membalas dendam, apakah kamu mau? Kamu tentunya ingin orang-orang yang menyiksa ayah dan ibumu mendapatkan ganjaran yang setimpal atas apa yang sudah mereka lakukan bukan?”
Estri menegang. Mengingat kembali kematian menyedihkan orang tuanya, seakan-akan menghidupkan bara api yang telah tertimbun abu. Orang-orang biadab itu memang pantas mendapatkan balasan atas apa yang sudah mereka perbuat.
“Nduk, apa pun yang terjadi … meskipun kamu membenci mereka. Jangan pernah biarkan kebencian itu memakanmu juga. Kebencianmu akan menjadi minyak tanah, sedangkan balas dendam itu adalah api. Jika kamu tidak bisa mengendalikan diri. Pada akhirnya kamulah yang akan habis dan terbakar.”
Tanpa diduga, suara lirih Mbah Aji terdengar. Pria renta yang sudah kepayahan itu masih hidup dan mampu bicara walaupun nyaris tidak terdengar lagi. Si ular besar berdesis kesal. “Kukira betulan sudah mati. Sudah mendekati ajal pun masih bisa memberikan nasihat tidak berguna. Kau sendiri memanfaatkanku untuk balas dendam juga, ‘kan? Ujung-ujungnya kau menyesal.”
“Ya … aku menyesal melakukannya. Lebih baik bunuh saja aku. Jangan bawa-bawa anak tidak berdosa dalam menyelesaikan keinginanmu. Jangan manfaatkan kepolosannya. Dia bukan anak yang sejahat itu.” Mbah Aji balas menatap Estri lembut. Sisa-sisa binar kehidupan di matanya tertangkap oleh Estri. Namun, di saat bersamaan, anak perempuan itu masih memiliki bara api yang belum terpadamkan.
“Kalau aku ingin balas dendam atas kematian orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan Estri menerbitkan seringai lagi di wajah ular tersebut, sedangkan Mbah Aji syok dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Estri, Nduk! Jangan lakukan! Kamu akan menyesal nantinya.”
Mbah Aji mendapatkan serangan dari ular tersebut. Estri mendelik, menatap balik ular tersebut dengan tatapan garang. “Jangan sakiti Mbah Aji lagi!”
“Haha, lihatlah betapa galaknya anak perempuan ini. Aku suka dengannya. Hei … anak manusia. Kalau kau ingin berguru denganku. Bukalah bagian terbawah dipan orang tua itu. Kau akan menemukan sebuah kitab. Di sanalah semua langkah-langkah untuk berguru denganku tertulis. Kau hanya perlu mengikuti semua arahannya lalu panggil namaku. Maka aku akan datang padamu.”
“Siapakah namamu?” balas Estri dengan mata yang masih diselimuti keinginan balas dendam.
“Sarpa Wijaya. Itulah namaku, Genduk manis.”