26. Estri dan Mbah Aji – II

1195 Kata
Hidup sebatang kara di dalam hutan, sendirian, dengan segala keterbatasan, Estri selalu penasaran mengapa Mbah Aji memilih hidup terpencil dan jauh dari peradaban manusia. Ketika Estri bertanya apakah pria tua tersebut memiliki anak, ia tidak pernah mendapatkan jawaban. Sang kakek tua lebih banyak berkeliaran di hutan kendati langkahnya sendiri saja tidak stabil. Sesekali pula terjatuh dan tersungkur. Jika tak ada Estri yang menolong, entah bagaimana nasibnya. Bagi anak berusia delapan tahun, hidup di dalam hutan saja sudah menakutkan. Tapi ia malah menjalaninya. Sudah hampir seminggu dan rasa-rasanya ia tidak akan pernah bisa beradaptasi. Tinggal di hutan dan gubuk bersama dengan Mbah Aji tidak lebih dari mengalihkan pikiran tentang nasib buruk yang menimpa mendiang ayah dan ibunya. Walaupun terkadang ia masih berharap bahwa mereka berdua masih hidup, tetapi di satu sisi ia juga tidak bisa terlalu optimis setelah mendengar cerita Mbah Aji dan melalui ingatan yang waktu itu tersisa. Ayahnya tertembak. Tidak mungkin terselematkan lagi jika dibakar di dalam mobil. Anak umur delapan tahun dipaksa menerima keadaan bahwa orang tuanya meninggal, terutama dibunuh dengan cara paling sadis. Apakah ia bisa menerima itu semua? Tidak! Bahkan sampai sekarang pun, ketika terbangun di pagi hari, ia masih merasa bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. “Estri, Nduk … tolong ambilkan Simbah air minum,” pinta Mbah Aji lirih di atas dipan. Sudah dua hari belakangan ini si kakek tidak beranjak dari sana. Semenjak acara jatuh yang terakhir, Estri tidak mengizinkan Mbah Aji berkeliling lagi. Estrilah yang mencari minum, makan, dan kayu bakar untuk kebutuhan sehari-hari selama dua hari ke belakang. Apakah ia mahir melakukan semua itu sendirian? Tentu saja tidak. Keterpaksaan menjadi alasan mengapa ia bisa menemukan buah-buahan lebih jauh ke dalam hutan, menemukan mata air segar, lalu ketika pulang memungut ranting-ranting kayu. Mbah Aji sendiri telah mengajarkan kepada Estri bagaimana caranya membuat api dari bahan-bahan seadanya di hutan. Estri tinggal mengikuti langkah-langkah tersebut dan selalu berhasil dalam satu kali percobaan. Untuk makan hari ini, ia berhasil menemukan beberapa buah pisang yang matang di pohon. Tak ingin keduluan oleh kalong atau monyet, ia mengambil satu sisir. Mungkin cukup untuk tiga atau empat hari ke depan. Toh, Mbah Aji juga tidak makan banyak. Dengan berkurangnya nafsu makan kakek tersebut, ia merasa lebih khawatir. Bukankah kata orang-orang, jika orang tua mulai kehilangan nafsu makan, artinya ajal mereka makin dekat? Ia enggan berprasangka, tetapi mengapa semua tanda yang diberikan oleh tubuh tua Mbah Aji seolah-olah sangatlah nyata? Bahkan air putih yang disodorkan oleh Estri pun tidak semuanya ditelan dengan baik. Mbah Aji beberapa kali terbatuk dan tidak menelan dengan benar. Kalau sudah begini, apa yang harus ia lakukan? Mencari pertolongan dokter? Ia bahkan tidak yakin jika di desa terdekat yang disebutkan Mbah Aji ada dokter, atau paling tidak mantri. Ia semakin khawatir jika keadaan pria renta ini semakin bertambah buruk. Jika benar Mbah Aji telah mendekati ajal, lalu ia akan bersama siapa nantinya? “Estri … Nduk. Nanti malam bulan purnama, ‘kan? Malam ini kamu enggak udah ke mana-mana, ya. Kalau malam nanti datang, tolong kamu sembunyi. Tidur di dalam keranjang yang ada di sudut sana. Tutupi tubuhmu pakai kain yang ada. Simbah enggak mau kamu melihat sesuatu yang menyeramkan,” ujar Mbah Aji dengan susah payah. Apakah Mbah Aji sedang memperingatkannya tentang hantu, arwah penasaran, lelembut, atau hal-hal sebangsa itu? Ketika malam mendatangi hutan ini, semua menjadi sangat berbahaya. Hewan-hewan liar yang bisa muncul kapan saja. Ular-ular terkadang menelusup masuk melalui celah-celah dinding kayu ini. Jika sedang apes, mungkin bisa bertemu dengan hewan yang memiliki tubuh lebih besar. Kalau kata Mbah Aji, sesekali ada harimau yang berkeliling. Itu bukan harimau penunggu, akan tetapi harimau betulan yang memang sesekali mencari mangsa ke perkampungan warga. Kalau kamu takut diserang, lebih baik diam saja sampai pergi. Kalau kamu banyak bergerak, bakal dimakan nanti. Estri tidak tahu apakah saran itu berhasil. Ia sendiri tidak belum pernah melihat hewan yang lebih berbahaya dari ular. “Ke-kenapa, Mbah?” tanya Estri berusaha memastikan tentang keberadaan makhluk halus yang mungkin saja akan mendatangi gubuk ini. “Pokoknya kamu menurut saja sama perkataan Simbah. Simbah enggak mau kamu kenapa-napa. Kali ini kamu nurut saja.” Mbah Aji tidak ingin kata-katanya dibantah. Padahal ia biasanya tidak seperti ini. Karena tidak ingin melukai hatinya dan mungkin terlibat pada masalah lain, Estri menurut saja. Bagaimanapun juga, di posisi ini Mbah Aji lebih paham mengenai seluk beluk hutan. Ketika malam telah turun, Estri masuk ke dalam keranjang sebagaimana perintah Mbah Aji. Meskipun ia tidur lebih awal daripada biasanya, tetapi rasa kantuk tak kunjung datang. Malah ia semakin bersemangat. Sosok yang tidak boleh dilihatnya itu apa? Ia betul-betul penasaran karenanya. Walaupun telah memantapkan hati agar tidak tidur, nyatanya rasa kantuk tetap datang merayap. Estri yang terkantuk-kantuk sesekali berusaha mengintip dari lubang kain. Hingga ia merasakan hawa dingin tidak terkira. Pada dasarnya dinding kayu gubuk ini tidak bisa menahan hawa dingin, tetapi dingin yang datang kali ini berbeda. Seperti selubung yang menutupi gubuk. Estri menggigil padahal tadi ia merasa cukup gerah masuk ke dalam kain usang tersebut. Telinganya mendengar sebuah suara pergerakan. Seperti suara benda panjang yang diseret. Dan suara itu terdengar sangat jelas. Daun-daunan kering di luar saling bergesekan dengan sesuatu itu. Mata Estri memicing ketika mendapati pergerakan di luar gubuk melalui lubang kecilnya. Sosok itu betulan datang! Seekor ular yang ukurannya lebih besar daripada manusia biasa! Ia pun melata dengan cepat, tidak seperti ular dengan ukuran besar yang bergerak lambat. Di kepalanya, ada sebuah gundukan. Kalau mata Estri tidak salah lihat, itu seperti sebuah mahkota! “Sudah lama tidak bersua, Aji … kamu masih menyedihkan seperti sebelumnya,” ujar ular besar tersebut sebagai pengganti salam sapaan. Dengan wujudnya yang berukuran sangat besar, lalu sesuatu yang aneh di kepala, ular itu sudah cukup aneh. Ditambah lagi bisa bicara. Wah … luar biasa. Semua bulu kuduk di tubuh Estri meremang. Wajar jika Mbah Aji tidak ingin dirinya berurusan dengan makhluk yang satu itu. “Pergilah … kita sudah tidak ada urusan lagi. Aku sudah menyerahkan semua tumbal terakhir sejak lama. Seharusnya urusan kita juga sudah berakhir bukan,” balas Mbah Aji lirih. Suaranya bergetar, entah takut kepada ular tersebut atau karena memang suaranya yang akhir-akhir ini juga begitu. Ular tersebut kelihatan marah. “Aku memintamu memberikan perempuan muda yang sehat dan bisa melahirkan sebuah telur untukku! Tapi kau malah memberikan perempuan sakit yang bahkan linglung ketika bertemu denganku! Jangan ingkar janji wahai kau manusia! Itu adalah tumbal terakhir yang aku minta, jangan kau ingkar janji!” “Itu karena kau yang lebih dulu membuat anak-anakku mandul! Kalau kau mengangkat penyakit itu dari mereka, aku akan memberikan tumbal terakhir.” “Haha, sungguh manusia yang tidak tahu diri. Lari dari tanggung jawab karena menyepelekan siluman kecil sepertiku. Anak-anakmu pasti sekarang kalang kabut karena bapaknya yang sesat menghilang entah ke mana. Penuhi saja tumbal terakhir itu, lalu anak-anakmu bisa memiliki keturunan. Kalau tidak salah ada anakmu yang belum menikah, ‘kan? Berikan saja dia padaku.” “Kau—“ Mbah Aji tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena terhalang batuk. Estri yang kasihan kepada Mbah Aji, ditambah lagi menahan rasa takut luar biasa, pada akhirnya tidak bisa menahan tangis. Di saat itulah mata ular besar itu seolah menemukan tikus kecil. Ia bergerak pelan ke arah Estri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN