Sepertinya, ia habis dihajar habis-habisan. Seluruh tubuh seolah mati rasa, lalu tiba-tiba saja pegal tidak terkira seperti baru saja dilemparkan dari ketinggian yang tidak cukup untuk membunuh, hanya membuat tulang-tulangnya patah. Lalu kilasan akan tubuh polos sang ibu dijamah beramai-ramai oleh para pria tidak dikenal muncul. Tubuh ayahnya yang bermandikan darah. Pria durjana yang mengusik keluarganya. Semua itu mimpi, ‘kan? Estri terengah-engah di atas dipan kayu. Matahari pagi hangat menyentuh kulitnya. Barulah saat itu ia tersadar tengah berada di tempat asing. Air mata yang mengering di wajah, aroma menyengat yang tersisa dari malam itu, Estri buru-buru melompat dari dipan tinggi lalu memuntahkan isi perutnya di luar gubuk.
Seperti baru saja dipukul menggunakan palu. Ia tersadar bahwa kilasan hal-hal buruk di kepalanya itu bukan mimpi semata. Kedua orang tuanya telah meninggal di tangan manusia-manusia biadab. Tangis Estri pecah. Seluruh dunianya hancur berkeping-keping dalam satu malam. Mendadak ia meluruskan tubuh, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak menemukan siapa pun atau apa pun yang bisa dimintai tolong. Siapa pula yang telah membawanya ke sini? Lalu ke manakah orang itu? Saat ini pun, bertahan di tempat ini tidak akan menyelamatkan orang tuanya.
Estri memantapkan langkah. Ia berlari secepat yang dibisa. Tidak peduli jika kakinya yang tanpa sandal itu mengenai batuan cadas, tergores duri dan ranting-ranting tajam, termasuk pula nyaris digigit ular. Larinya yang putus asa terhenti karena tersandung oleh akar pohon. Ia yakin hidungnya berdarah. Namun, mimisan tidak akan menghentikan apa pun. Ia terus saja berlari tanpa tahu arah. Hingga akhirnya, ketika merasa setiap inchi hutan sama, ia merasa tersesat.
“Nduk … kamu sudah terlalu jauh dari orang tuamu. Seharusnya kamu ikhlas.” Sebuah suara yang berasal dari bibir kakek tua renta yang menggunakan tongkat sebagai alat bantu. Dengan langkahnya yang satu-satu dan sering kali kehilangan keseimbangan, ia tampak lebih menyedihkan daripada Estri.
Anak perempuan tersebut mundur beberapa langkah. Merasa takut dengan keberadaan si kakek yang datang secara tiba-tiba. Dan tentunya tidak ia sadari. Namun, melihat bagaimana sang kakek kepayahan berdiri dengan kaki-kakinya yang bergetar sepanjang waktu, Estri mendekat lebih dulu. Digandengnya lengan si kakek agar bisa membantu menopang tubuh.
“Kakek ini … siapa? Kenapa Kakek tahu soal orang tua saya?” tanya Estri masih dengan mempertahankan kewaspadaannya. Sementara itu sang kakek yang kepayahan tak kunjung menjawab. Ia sendiri saja kepayahan mengatur napas.
“Kakek yang bawa kamu pergi dari lokasi itu. Waktu kamu pingsan, Kakek bawa kamu pergi dari sana. Kamu beruntung karena Kakek ada di sana,” jawab sang kakek. Kentara sekali bahwa sang kakek sebenarnya tidak kelihatan sehat dan Estri sendiri sangsi apakah kakek ini betul-betul menyelamatkan dirinya. Untuk melindungi tubuh sendiri saja sudah tidak meyakinkan. “Orang-orang itu sudah tidak punya waktu buat cari anak perempuan yang bahkan sama sekali tidak berdaya ketika kedua orang tuanya diperlakukan sebejat itu. Jadi mereka melemparkan jasad orang tuamu ke mobil dan menyulutnya dengan api. Tentu saja orang tuamu tidak akan pernah selamat dari kobaran api itu.”
Estri tercenung. Hal yang baru didengarnya sama sekali tidak ia duga. Estri bergetar, tubuhnya seorang baru saja diguyur dengan air es. Lalu tanpa sadar, air matanya telah jebol. Seorang anak delapan tahun yang mendapati orang tuanya meninggal, terlebih lagi dengan cara menyedihkan seperti itu, mana bisa tidak menangis. Hanya itulah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini. Sang kakek sendiri pun juga tidak memiliki solusi. Maka, selama beberapa saat, ia hanya menunggui Estri sampai tangis anak perempuan tersebut reda.
“Kalau sudah agak mendingan, kita kembali ke gubuk, ya. Kamu yang tuntun Kakek. Biar Kakek yang beri arah.” Seolah tidak memberikan ruang bagi Estri tenang, sang kakek memberikan instruksi ke mana saja Etsri harus mengambil langkah. Tentu saja Estri kecil melakukannya masih dengan diliputi perasaan sedih. Sepanjang perjalanan pun ia banyak menangis.
“Nduk … kamu menangis pun tidak akan menyelesaikan masalah. Jalan saja, jangan pikirkan apa pun, kamu harus tetap hidup. Itu yang terpenting.” Kakek kembali menyemangati Estri. Tentu saja kata-kata semangat itu nyaris tidak membantu sama sekali. Semenjak tadi pun tangis Estri tak kunjung mereda. Malah karena matanya yang tertutupi oleh air mata, beberapa kali pula gadis cilik itu tersandung atau menabrak sesuatu. Dan si kakek juga selalu terlambat memberikan peringatan.
Setelah perjalanan panjang dan tangisan yang mampu membengkakkan mata dan wajah Estri, mereka berdua berhasil kembali ke gubuk. Si kakek buru-buru duduk pada dipan panjang di halaman depan. Ia memijati kaki ketika menyadari Estri tengah berjongkok dengan tatapan kosong. Gadis itu tidak bergerak dan melakukan apa pun selama beberapa menit. Hingga akhirnya sang kakek memberikan sedikit peringatan, “Hutan ini angker. Kalau kamu melamun seperti itu, cepat atau lambat, akan ada arwah gentayangan yang datang dang mengambil alih tubuhmu. Kamu mau mengalami kesurupan seperti di film-film?”
Estri yang tersentil dengan kata angker dan arwah, buru-buru bangkit dari tempatnya. Ia beralih duduk di samping kakek tanpa mengatakan apa-apa. Estri lantas menutup hidung ketika mereka berdekatan. Sedari tadi merangkul si kakek, ia tidak menyadari bahwa aroma sang kakek betul-betul mencerminkan orang tidak terawat. Dan si kakek juga tidak tersinggung karena gestur Etsri. Ia sendiri memang baru tersadar, kapan terakhir kali mandi?
“Nduk … Kakek tahu kalau kamu tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Kamu juga tidak punya tempat untuk dituju. Kembali ke orang tuamu juga tidak mungkin. Apa kamu mau kembali ke rumahmu? Kalau kamu mau, nanti Kakek bisa bantu cegatkan truk di pinggir jalan,” ujar si kakek. Sedari tadi hanya ia yang banyak bicara sementara Estri diam. Di posisi saat ini, ia tidak memiliki tenaga, bahkan sekadar banyak bicara.
Estri menoleh kepada kakek tersebut, lalu menggeleng. “Saya enggak tahu ini di mana. Kalau saya pulang nanti apa saya juga bakal dibunuh seperti orang tua saya? Kenapa orang-orang itu juga jahat sama ayah dan ibu saya padahal mereka sama sekali enggak berbuat jahat. Orang-orang itu yang jahat.”
Tangis Estri kembali pecah. Dan si kakek juga tidak bisa menghibur anak perempuan tersebut karena tidak yakin bau badannya bisa diterima. Ia lantas berkata, “Nduk … manusia memangnya tempat luput dan salah. Manusia yang paling alim sekalipun pasti pernah melakukan hal buruk. Begitu juga sebaliknya, penjahat yang dibenci satu dunia pun juga pernah melakukan hal baik. Saat ini, daripad kamu merasa sedih atau benci, sebaiknya kamu berusaha tetap bertahan hidup. Hanya itu yang bisa kamu lakukan.”
“Ta-tapi … kenapa harus ayah sama ibu? Ayah dan ibu enggak jahat, mereka dibunuh karena jadi orang baik, orang-orang itu harusnya ditangkap polisi!” sentak Estri.
Si kakek mengangguk-angguk, memahami maksud Estri. Namun, apa yang terjadi pada keluarga Estri tidak sesimpel itu. “Mereka adalah tipe-tipe orang yang kebal dengan polisi, Nduk. Semakin kamu mencari keadilan untuk orang tuamu. Semakin memyedihkan nanti pula hidupmu. Untuk saat ini, sebaiknya kamu fokus bertahan hidup saja. Tinggal di hutan seperti Kakek ini, seperti menunggu kematian datang. Sebaiknya kamu pergi minta bantuan ke jalan raya. Jalan yang tadi kita ambil, kamu bisa putar balik. Ada pohon besar danyang di ujung, kalau kamu mau meneruskan perjalanan mumpung masih terang. Kamu akan menemukan perkampungan kecil. Mintalah bantuan orang di sana.”
“Kakek sendiri .gimana?”
Tersisa jeda keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya sang kakek menjawab, “Kakek adalah salah satu orang jahat dan berdosa. Kakek memilih mati di tempat ini. Kamu yang masih muda harus jadi anak baik.”
Estri menggeleng. “Kakek menolong Estri, Kakek orang baik.”
Sang kakek ingin menyangkal, tapi pada akhirnya ia tidak jadi melakukannya. “Nama kamu Estri ya … cantik sekali. Ini Mbah Aji. Kalau kamu mau pergi sekarang, Mbah bakal tuntun jalan—“
“Estri mau di sini temani Mbah Aji dulu. Estri sudah enggak punya siapa-siapa. Tapi Estri masih muda. Masih bisa melakukan apa-apa. Mbah buat jalan saja enggak bisa, harus Estri tuntun. Lebih baik Estri di sini, bantuin Mbah.”
Maka, begitu awal mulanya Estri mengenal Mbah Aji. Seorang pria renta tidak berdaya yang sebenarnya memiliki masa lalu kelam melebihi orang tua Estri sendiri.