24. Menyiapkan Hati – II

1012 Kata
Berbeda dengan kuburan orang tuanya yang sama sekali tidak terawat, kuburan Mbah Aji kebalikannya. Memiliki sebuah rumah kecil, disandingkan dengan makam mendiang istri, kuburan tersebut bahkan memiliki karyawan sendiri yang rutin bersih-bersih setiap seminggu sekali. Dan kedatangan Juwita bersamaan dengan hari bersih-bersih tersebut. Ia bukan orang asing lagi karena telah menjadi bagian dari keluarga Mbah Aji. Dan lagi, karena petugas kebersihan ini tidak terlalu mengenalnya lebih jauh, maka ia hanya mengenal Juwita sebagai salah satu dari sekian banyak cucunya Mbah Aji. Membawa kembang tujuh rupa dan melilitkan kerudung secara sembarang, Juwita berjongkok di depan pusara pria tua tersebut. Ia menaburkan bunga sembari memikirkan hendak mengirimkan doa seperti apa. Sebagai perempuan penganut ilmu hitam, ia sendiri tidak yakin diizinkan pura-pura berdoa sebagaimana orang-orang lain betulan berdoa di kuburan. Pertemuannya dengan Mbah Aji memang tidak lama. Namun, pertemuan singkat itu telah mengubah jalan hidupnya hingga di titik ini. Walaupun kakek tersebut telah mewanti-wanti agar jangan masuk ke dalam lubang yang sama, Juwita malah tersandung dan terperosok ke dalamnya. “Kalau Mbak datangnya agak lamaan dikit, nanti sore, pasti bakal ketemuan sama cucu-cucunya Mbah Aji yang lain,” celetuk penjaga makam ketika Juwita telah menyelesaikan pencitraannya berdoa. Juwita tersenyum tipis sebelum menjawab, “Ah … saya agak terburu-buru, Pak. Masih ada urusan di tempat lain. Ini juga mampir karena searah aja. Emangnya hari ini kenapa pada datang? Saya enggak tahu, enggak dikabarin Ibu soalnya.” “Itu Mbak … saudara yang dari Sumatra mau datang ke sini. Saya kurang tahu daerahnya mana. Tapi pokoknya bakalan datang ke sini sebelum jalan-jalan ke rumah saudara-saudara. Makanya hari ini saya bersih-bersihnya lebih rajin, hehe.” Saudara dari Sumatra adalah salah satu dari saudara yang tidak terlalu menyukai keberadaan Juwita sendiri. Kabar bagus karena ia bisa meninggalkan tempat ini lebih dulu sebelum mereka datang. Membayangkan betapa canggungnya ia saat berhadapan mereka saja sudah sangat menyebalkan. Sebelum mereka betul-betul datang, ia harus segera pergi dari sini. Setelah mengukuti beberapa barang yang ditinggalkan, Juwita pamit kepada pria tersebut. Namun, sebelum Juwita betul-betul pergi, ia dipanggil kembali oleh pria tersebut. “Maaf, Mbak … tapi kalau saya boleh tanya … apa Mbak belakangan ini diganggu sama sesuatu? Bukannya saya sok tahu atau gimana, tapi saya bisa lihat yang kayak gitu. Dan Mbak ini kayaknya dikelilingi sama sesuatu yang hitam. Maaf, Mbak … bukannya saya lancang saya cuma ….” Pria tersebut telanjur tidak melanjutkannya. Dengan nada yang menggantung dan tatapan dalam penuh arti, Juwita sudah tahu ke mana arah pertanyaan ini. Ia tersenyum kepada pria tersebut lantas berkata, “Saya emang dekat sama hal-hal kayak gitu. Ya … ini alasan kenapa saya enggak bisa dekat-dekat sama keluarga asal Sumatra itu. Mereka kalau sama saya bakalan tahu dalam sekali lihat ada yang enggak beres sama saya. Ya … sama dengan reaksi masnya. Saya enggak menyalahkan masnya sendiri atau saya. Sayalah yang bermasalah di sini. Sebelum mereka datang, saya harus pergi. Kalau begitu, mari … saya pergi dulu.” Pada akhirnya, ia berhasil melepas topeng di luar makam. Sejak awal pun kedatangannya di makam tersebut telah disambut banyak sosok. Mereka tentu senang ketika menemukan seseorang seperti Juwita. Ada pocong yang menungguinya di pohon pisang, perempuan yang sengaja menggeletakkan diri di tanah, ada pria besar yang kepalanya saja sebesar kijing. Dengan keberadaan mereka yang mengincar sepanjang waktu, satu-satunya tempat aman adalah mobil. Mereka tidak berani masuk ke dalam karena mobil itu sendiri telah dipasangi jimat. Lain lagi kalau misalnya di tengah jalan mereka menjatuhkan diri di kap mobil atau semacamnya. Dan kejadian seperti itu bukan hanya sekali dua kali. Arwah-arwah penasaran putus asa sering kali melakukan itu ketika tidak memiliki tempat untuk meminta bantuan. Makam Mbah Aji sendiri belum cukup. Ia harus pergi ke hutan yang jaraknya sendiri cukup jauh dari tempat ini dan mungkin memakan lebih banyak waktu. Sepanjang perjalanan pun, beberapa kali pula di dicegat sosok-sosok seperti itu. Ia berusaha mengabaikan mereka. Perjalanan panjang itu diisi dengan banyak hal. Ia khawatir dengan Diah, bagaimana cara menolak permintaan perempuan itu, apakah dengan menyelesaikan permintaan itu ia bisa menyelesaikan masalah? Pada akhirnya keraguan kembali merayapi Juwita. Jika anak perempuan yang masih bayi itu betulan meninggal, mungkin saja posisinya sebagai pewaris bisnis keluarga akan goyah. Mungkin nama Ardi akan kembali muncul. Dan pria itu akan memanfaatkan momen ini untuk membersihkan nama. Walaupun ia sendiri yakin bahwa kecil kemungkinan Ardi akan kembali mendapatkan dukungan dari keluarga setelah rangkaian skandalnya yang buruk. Sebagaimana malam di mana keluarganya dihabisi tanpa pandang bulu dan ibunya yang dilecehkan, suasana hati Juwita sama buruknya. Pembahasan tentang Ardi adalah topik yang tidak baik untuk kesehatan. Juwita memarkirkan mobil di pinggir jalan. Hutan yang cukup luas ini sebenarnya mulai mendapatkan banyak campur tangan manusia beberapa tahun belakangan. Momen-momen pembangunan di Indonesia yang kembali digencarkan sedikit banyak mengubah hutan tersebut menjadi lebih manusiawi. Tidak seperti kali pertama ia masuk di dalamnya yang penuh akan makhluk-makhluk mistis. Gubuk yang waktu itu masih ada. Bahkan semakin menyatu dengan alam karena ditumbuhi tanaman rambat dan rerumputan tinggi. Apa yang diharapkan dari sebuah tempat yang nyaris tidak pernah dikunjungi? Dipan reyot yang mulai dimakan rayap itu dulu menjadi tempat Mbah Aji berbaring menunggu kematian, sedangkan Juwita akan duduk di kursi kayu seadanya sembari memeluk lutut jika malam datang. Jika lapar atau haus, lebih banyak ditahan daripada mengisinya dengan apa pun, bahkan sekadar air. Mereka tidak mempunyainya di gubuk ini. Jika hujan datang, akan lebih banyak basah daripada kering. Bukan sekali dua kali pula mereka kedatangan tamu. Hewan-hewan hutan sesekali mampir untuk melihat siapa spesies berbeda dengan mereka yang menghuni hutan sepi dan merana ini. Semua ingatan akan hari-hari itu datang kepadanya seperti ombak. Pria itulah yang memperkenalkannya pada Sarpa Wijaya. Walaupun tidak secara langsung. Pria tua malang. Ada kalanya Juwita membayangkan. Seandainya ia tidak datang ke Sarpa Wijaya, apakah ia tidak akan berada di posisi ini? Andai waktu itu Mbah Wijaya tidak menyelematkannya, apakah dunia menjadi sedikit lebih mudah? Ah … ia kembali lagi dengan semua pemikiran rumit itu. Ini adalah tempat yang tenang untuk banyak menjernihkan pikiran sebenarnya. Namun, pemikiran-pemikiran itu sering kali muncul, datang, dan mengusik. Hari ini ia akan banyak berandai-andai sembari membayangkan masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN