23. Menyiapkan Hati – I

1108 Kata
Jika Juwita sedang dalam masalah atau kesulitan dalam pekerjaan, berkunjung ke makam orang tua dan Mbah Aji yang menjadi penyelamatnya di masa lalu adalah cara terampuh perempuan tersebut menyiapkan hati. Termasuk pula mencari solusi atas permintaan Diah tanpa harus melanggar idealisme mereka atau mungkin saja ketika tidak menemukan cara lain, maka nonanya sedang menguatkan hati untuk menghabisi nyawa anak tidak berdosa. Pria itu masih bau bantal ketika sang nona sudah memasukkan semua barang yang dibutuhkan dan mempersiapkan mobil untuk bepergian sendiri. Bisma biasanya bangun lebih pagi jika dibandingkan dengan Juwita, tetapi kali ini ia kalah cepat. Sebenarnya bukan karena pria itu bangun kesiangan, sang nonalah yang bangun terlalu pagi. Atau malah di situasi seperti ini, tidak tidur sama sekali. Mengingat dengan banyaknya hal-hal terjadi belakangan ini, tidak mungkin bagi sang nona yang perasa dan sering overthinking bisa tidur, apalagi tidur nyenyak. “Nah, Bisma … ini akan jadi perjalanan mendadak. Jadi untuk sementara, semua akses ke rumah ini termasuk pula ponselku, semuanya jadi di tangan kamu. Aku udah selesaikan bab-bab yang diminta editor. Ada juga cerita baru. Pokoknya semua udah siap di studio. Itu cukup buat dikerjakan dua atau tiga harian,” ujar Juwita setelah memasukkan tas terakhir ke dalam bagasinya. “Uhm … Mbak Juwita bangun jam berapa kok bisa siapin ini semua?” Pertanyaan itu dilontarkan semata-mata untuk menjawab terkaan Bisma sendiri. Perempuan itu menggeleng sebelum menjawab, “Ya … aku sama sekali enggak tidur semalam. Jadi waktu yang ada aku manfaatkan buat menulis dan itu … beres-beres, berbenah, pokoknya supaya aku bisa capek terus tidur. Tapi malah keterusan, jadinya bablas enggak tidur.” “Terus … semua aktivitas itu juga belum bisa bikin Mbak Juwita agak lega. Atau setidaknya punya keputusan buat permintaannya Diah?” Lagi-lagi Bisma melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sudah memiliki jawaban pasti. Juwita mengangguk saja, bibirnya agak terkulum. Ia resah. “Ya … mau gimana lagi. Kalau keadaan udah gini, satu-satunya cara ya … pergi refreshing sedikit. Aku juga udah lama enggak ke kuburan Bapak sama Ibu. Ke kuburan Mbah Aji juga. Ya … pokoknya anggap ini sebagai healing. Kalau habis dari perjalanan healing ini, kita sama-sama enggak dapat solusi, semuanya akan berjalan sesuai permintaan Diah. Kayaknya itu aja yang bisa aku bilang ke kamu.” Bisma mengangguk-angguk patuh. Bagaimanapun juga, semua keputusan kali ini berada di tangan sang nona. Tak butuh waktu lama sampai sang nona betul-betul meninggalkan rumah. Ia sempat memberikan salam klakson pada satpam. Dan ketika satpam rumah baru saja selesai menutup pagar, Bisma baru teringat sesuatu. Ia menjadi orang yang bertanggung jawab atas rumah untuk saat ini, satu-satunya asisten rumah tangga sedang pulang kampung, tukang kebun pun belum datang membereskan halaman, satu-satunya yang tersisa hanyalah ia, dan pak satpam tentunya. Kalau begitu … ialah yang akan bertanggung jawab mengurus rumah ini selama Juwita pergi dan sebelum asisten rumah tangga mereka pulang, sendirian. *** Kecelakaan yang menewaskan orang tua Juwita sejatinya menjadi buah bibir di desa kelahiran. Tidak ada orang yang tidak membicarakan tentang kecelakaan tersebut. Bahkan sempat merasa heran karena jasadnya tidak ditemukan bersama dengan jasad kedua orang tuanya. Tentu saja karena ia masih hidup dan sehat wal afiat sampai sekarang. Namun, kendati kecelakaan tersebut menjadi insiden yang cukup disesalkan di kampung halamannya, tetapi tidak ada satu pun media mengunggah insiden tersebut sebagai bagian dari berita mereka. Baik itu koran atau radio lokal. Apalagi televisi nasional. Jika ditanya siapakah yang bertanggung jawab atas ketiadaan kabar kecelakaan maut tersebut, tentu saja Atmajaya. Kebencian Juwita kepada pria tersebut memang lebih besar jika dibandingkan dengan pria yang telah merudapaksa ibunya, ataupun menghajar mereka hingga benar-benar keok. Sungguh … ia sebenarnya ingin menyiksa pria tersebut dengan cara paling menyakitkan. Melebihi apa yang dilakukan dukun-dukun lain di luar sana dalam menyakiti target pasiennya. Atmajaya adalah orang paling biadab, durjana, dan jahat, maka dari itu, sebelum Juwita melakukan balas dendamnya, pria itu sudah lebih dulu mencicipi azab yang diberikan oleh Tuhan. Penyakit tanpa sebab ketika pulang dari luar negeri. Virus mungkin. Dan tanpa adanya kecanggihan medis, nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Padahal sudah tua, kenapa tidak mati saja sekalian? Sesekali ia akan berpikir seperti itu, di lain kesempatan ia akan merasa tidak adil. Seharusnya ia bisa lebih dulu mengakhiri nyawanya. Dan itu tidak terlalu menyenangkan karena terasa seperti memitas semut dengan satu jari saja. Lantas, ketika Ardi datang dengan tujuan menyingkirkan ayahnya sendiri, semangat Juwita kembali. Sebuah semangat berapi-api. Seorang anak akan menghabisi nyawa ayah kandung sendiri. Bukankah sangat menyenangkan? Menyaksikan anak bermaksud membunuh ayah kandungnya sendiri? Dan itu juga menjadi azab kepada Atmajaya sendiri. Di depan puasara ayah dan ibunya yang telah lama tidak tersentuh, ditumbuhi semak dan rumput-rumput tinggi, Juwita kembali menjadi Estri. Setiap kali mengunjungi tempat tidur abadi mereka, hati Estri seolah dikoyak. Bukan hanya karena kematian mereka berdua yang menyedihkan, tetapi karena makam mereka tidak ada yang sudi merawat dan tidak ada seseorang yang mendoakan. Semenjak mematikan identitas sebagai Estri, ia pun memutus segala ikatan dengan keluarga orang tuanya. Maka dengan begitu ia bisa melakukan balas dendam tanpa mendapatkan intervensi dari pihak mana pun. Suatu hari ketika ia sudah cukup besar untuk menghasilkan uang sendiri dan membayar seseorang untuk merawat makam orang tuanya, ia mendapatkan penolakan mentah-mentah. Itu makamnya orang kualat. Pantas begitu, orang-orang juga enggak berani ke sana soalnya bawa bala. Saat mendengar itu, Juwita berniat mengirimkan teluh kepada siapa pun yang telah mengatai makam orang tuanya demikian. Bahkan jika itu dari keluarga mendiang ayah dan ibunya. Ia memang sempat mendengar bahwa pernikahan mereka berdua pernah ditentang dulu sekali. Memisahkan diri dari keluarga dan hidup sendiri adalah jalan terbaik. Walaupun masih mengunjungi acara keluarga, tetapi ia sadar betul bahwa keluarganya memang tidak mendapatkan sambutan baik. Walaupun begitu ia masih bisa menahan diri jika tentang ini. Meneluh keluarga sendiri juga bukan solusi utama, karena mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kematian kedua orang tua Juwita sendiri. Setelah selesai membersihkan makam kedua orang tuanya, Juwita alias Estri tidak banyak melakukan apa-apa. Ia hanya tersenyum kecut menatap puasara tersebut. Ia selalu mengajak mereka berkomunikasi, tetapi tidak bisa memberikan doa yang terbaik bagi mereka. Sudah berapa lama ia tidak beribadah? Sudah berapa lama ia tidak berdoa? Jika begitu … bukankah orang tuanya sungguh kasihan karena tidak memiliki orang yang mendoakan untuk keselamatan mereka di akhirat nanti. Malah memiliki seorang putri yang ahli ilmu hitam. Haha, lawakan macam apa ini? “Yah … Bu … sebentar lagi Estri bakal membalaskan kematian kalian. Tapi Ibu, Ayah, Estri enggak bisa kalau harus menyakiti seorang anak. tolong Ayah dan Ibu bantu Estri, ya.” Sebuah angin kencang berembus membelai kepalanya. Apakah itu perwakilan omelan kedua orang tuanya? Estri kembali tersenyum kecut. Lagi-lagi merasa kasihan kepada kedua orang tuanya yang tidak memiliki siapa pun untuk mendoakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN