22. Sebuah Permintaan – II

1126 Kata
Telah melakukan pekerjaan kotor selama bertahun-tahun, Bisma dan Juwita sama-sama tidak sampai hati jika itu berurusan dengan anak-anak dan bayi, sebenarnya termasuk pula orang lanjut usia. Hanya saja dikecualikan untuk pria-pria biadab yang telah mausk ke dalam daftar balas dendam Juwita sendiri. Dua pria yang telah melecehkan ibunya di masa lalu, lalu ke depannya, Atmajaya. Dua pria yang durjana itu telah mendapatkan harga setimpal, sebanding dengan perbuatan-perbuatan buruk mereka di masa lalu. Dan semua balasan itu menggunakan tangan mereka sebagai penghakiman. Juwita akan menceritakan itu kepada Diah suatu saat nanti, untuk saat ini mari kita ikuti dulu saja permintaan hantu perempuan tersebut. “Jadi … kau ingin anak itu meninggal seperti apa? Anak yang baru lahir memang sangat rentan. Aku bisa membawamu ke sana dan tunjukkan bagaimana kematian bayi itu secara perlahan jika kau mau. Katakan seperti apa dan aku akan melakukan apa pun yang kau mau,” putus Juwita yang lantas segera mendapatkan delikan tajam dari Bisma. Hei, bukankah sejak dulu mereka sudah berjanji tidak akan menyentuh bayi dan anak-anak tidak berdosa? Ke manakah idealisme itu? Juwita memberikan senyum miring kepada Bisma sebelum berfokus lagi pada Diah. Hantu perempuan itu tampak berkonsentrasi sehingga hawa buruk di ruangan tersebut kembali menjadi-jadi. Tentu saja Bisma dan Juwita patut protes, tetapi belum sempat melakukannya, Diah sudah lebih dulu memberikan jawaban. Aku ingin melihat bagaimana adik perempuan Ardi sama sekali tidak berdaya ketika melihat anak perempuan kesayangannya itu kesakitan. Ia akan sangat putus asa sampai-sampai merasa tidak bisa hidup lagi setelah kematian anaknya. Aku ingin ia merasakan seperti itu. Itu adalah jawaban yang cukup luas, Juwita bahkan belum bisa menerka seperti apa siksaan yang akan diberikan kepada bayi berharga keluarga Atmajaya. Itu karena anak pertama dari adik perempuan Ardi mengalami disabilitas, ia kemungkinan tidak bisa melanjutkan bisnis keluarga karena menderita down syndrome. Dan anak perempuan kedua keluarga tersebut akan menjadi satu-satunya penerus keluarga Atmajaya. Mengingat Ardi sendiri tidak bisa diandalkan karena memiliki banyak skandal dengan perempuan dan menimbulkan banyak masalah besar. Membunuh orang misalnya, seperti yang dilakukan pria itu kepada Diah misalnya. Siapa tahu jika masih ada banyak Diah lain di luar sana. “Karena kau sudah memutuskan, maka aku juga akan memikirkan cara terbaik. Tapi sebelumnya, kau pergilah sebentar dari rumah ini. Ya … tahu sendirilah bagiamana jika kau berlama-lama di sini. Para hantu dan lelembut yang berada di luar bisa menerobos kapan saja.” Juwita lantas menunjuk bagian jendela yang gordennya beberapa kali bergoyang, menampakkan sosok dalam kalimat Juwita. Tapi saya tidak ada tempat untuk pergi, Mbak. Kalau tahu bakal disuruh balik seperti ini, mending saya dudukin Ardi terus sampai dia tersiksa banget. Oke, itu juga alasan tepat. Kalau keluar dari tempat ini pun sekarang juga, tidak ada jaminan Diah akan mendapatkan tempat berlindung. Mengingat di luar sana pun juga banyak hantu dan lelembut teritorial lainnya. “Cobalah pergi ke kuburan terdekat di sini, biar aku dan Bisma menunggui mereka yang di luar sampai kamu bisa keluar. Kalau aku dan Bisma menahan mereka, kamu bisa keluar tanpa diganggu. Kuburan itu ada di ujung gang, semua hantu dan lelembut kadang bisa ke sana tanpa saling ganggu. Di sana banyak tempat untukmu beristirahat sejenak.” Bisma bahkan mengantar sendiri Diah menuju tempat yang dimaksud, maka dengan begitu tidak akan dibuntuti oleh hantu lain. Selama kepergian Bisma dan Diah itu pula, kehampaan menyelimuti perempuan tersebut. Di luar jendela yang kali ini dibiarkan terbuka, sosok nenek tua korban tabrak lari tengah menatapnya penuh arti. Jadi, Nduk … kali ini apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan menuruti permintaannya? Seperti balas dendammu? Padahal permintaan itu sendiri telah melanggar idealisme dan pantangan yang kamu sendiri tidak pernah berani melanggarnya? Juwita sendiri belum berani memutuskan. Apakah hatinya siap untuk melukai anak yang bahkan tidak memiliki kaitan dengan dosa orang tuanya. Anak yang bahkan masih terlalu suci untuk menanggung dosa dan beban orang lain. *** Juwita tidak bisa tidur malam itu. Terlalu banyak hal berlarian di kepalanya. Jangankan tidur, memejamkan mata pun tidak bertahan lama. Alih-alih memikirkan rencana atau apa pun itu yang berkaitan dengan permintaan Diah, ia malah teringat kembali akan masa-masa kelam di hutan. Bukan hutannya, tetapi Mbah Aji. Tanpa kakek tersebut, ia tidak akan berada di sini sekarang. “Nduk, apa pun yang terjadi … meskipun kamu membenci mereka. Jangan pernah biarkan kebencian itu memakanmu juga. Kebencianmu akan menjadi minyak tanah, sedangkan balas dendam itu adalah api. Jika kamu tidak bisa mengendalikan diri. Pada akhirnya kamulah yang akan habis dan terbakar.” Terlambat untuk menelaah kembali perkataan Mbah Aji. Bahkan setiap katanya jelas. Nasihat itu telah lama memperingatkannya tentang betapa kejamnya sebuah balas dendam. Namun, ia sudah telanjur jatuh ke dalam lubang balas dendam tersebut. Membayangkan dirinya berada di dalam lubang, diguyur dengan minyak tanah, lalu disulut dengan api … apakah itu gambaran sebuah neraka untuknya? Juwita bangkit dari tempat tidurnya, kembali menghadap pemandangan di luar jendela. Apakah si nenek masih berada di sekitar rumah? Entah mengapa, jika mendengar nenek tersebut berusaha keras menghibur, ia akan menjadi sedikit lebih tenang. Maka dengan begitu ia akan bisa tidur. Namun sang nenek tidak terlihat ketika sedang diharapkan dan dibutuhkan. Selagi pikirannya lari ke mana-mana, ponsel di samping nakas berdering. Ia melirik jam digital di nakas. Demi sisik emasnya Sarpa Wijaya, ini jam tiga dini hari! Siapa pula yang menelepon di jam seperti ini. Pasti orang itu sudah tidak waras. Dan … memang betul jika orang itu tidak waras. Itu adalah nomor Ardi. Juwita tidak perlu menyimpan kontaknya. Nomor pria itu sudah hafal dihafalnya. Yang jadi masalah utama, mengapa pula pria itu meneleponnya di jam tiga pagi? Juwita berusaha tidak menggubris panggilan tersebut, paling-paling hanya satu kali panggilan, lalu tidak akan menelepon lagi karena tidak diangkat. Namun, tidak begitu yang terjadi. Itu adalah panggilan ketiga kalinya ketika Juwita tidak tahan lalu mengangkat panggilan tersebut dengan kesal. “Halo … Mas Ardi? Kenapa telpon say—“ “Haha … kamu betulan angkat telponnya?” Suara pria tersebut tersendat karena bunyi cegukan. “Ya ampun … kenapa si cantik angkat telponnya haha ….” Pria itu mabuk! Juwita bermaksud memutus panggilan tersebut lalu mematikan ponselnya, tetapi ia tidak jadi melakukannya ketika mendengar racauan yang lagi-lagi keluar dari mulut teler Ardi Atmajaya. “Aku lagi enggak bisa tidur, hehe … mau cerita apa gitu ….” “Aku juga enggak bisa tidur.” “Wah … sama dong. Berarti kita jodoh, ya?” Juwita meringis. Kenapa orang mabuk sering kali jadi menyebalkan? “Ada yang ingin saya katakan sama Mas sebelum saya tutup telepon ini. Semoga besok Mas lupa, ya.” “Eh … mau bilang a—“ “KALAU ALAT KELAMINMU TIDAK BISA DIATUR, SETIDAKNYA BIARKAN OTAK DAN AKAL SEHATMU BEKERJA!” Ponsel tersebut dimasukkan ke dalam laci. Entah kenapa setelah berhasil mengata-ngatai Ardi, Juwita merasa sedikit lega dan akhirnya bisa bersiap tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN