Cerita Diah berhenti di sana. Arwah perempuan tersebut menangis. Keberadaan mereka saja sudah membawa hawa buruk, dengan menunjukkan emosi akan memperburuk suasana. Termasuk pula menarik hawa-hawa buruk lain masuk ke rumah. Bisma bahkan berhenti mencatat ketika menyadari keberadaan Diah telah memancing arwah-arwah lain yang telah susah payah diusir beberapa hari lalu. Pria itu memberikan tanda bahwa rumah ini telah dikepung dengan mengetuk-ngetukkan pena pada papan kayu yang jadi alasnya menulis.
Ekor mata Juwita menemukan para arwah tengah mengerubungi jendela. Mereka berhak marah karena diusir, serta penasaran dengan sosok hantu perempuan yang malah dibiarkan masuk ke dalam rumah. Tak ingin memperkeruh suasana, Juwita bangkit dari kursinya. Mendatangi jendela tanpa bermaksud buruk, arwah-arwah tersebut telanjur menganggap si dukun hendak melakukan hal berbahaya. Seperti mengsusir menggunakan air yang telah dijampi, mungkin. Walaupun sebenarnya Juwita datang dengan tangan kosong. Perempuan itu membuka jendela, membuat mereka semua mundur bersamaan dan nyaris bersamaan.
“Aku tahu kalian pasti kesal karena sudah aku usir. Tapi yang satu ini, tolong jangan diganggu. Dia bakal jadi salah satu senjata berhargaku buat ya … itu. Kalian pasti sudah hafal di luar kepala siapa yang selama ini aku incar. Jadi … selagi dia enggak buat masalah, tolong jangan diganggu. Kalian masih banyak tempat buat ngalor ngidul ke sana kemari, jadi jangan di sini terus, oke?” Bak sedang melakukan tantangan rap dalam satu kali hitungan napas, Juwita menyelesaikan kalimatnya lalu membanting jendela dengan keras sebelum masuk ke dalam rumah. Tak lupa pula menarik gorden, menutup akses para arwah tersebut dengan bagian dalam rumahnya.
Yang sebenarnya, hal itu terkesan agak sia-sia karena hantu, arwah, makhluk halus apa pun jenisnya bisa menembus tembok dan benda padat apa pun. Namun, tidak menjadi sia-sia karena Juwita yang melakukannya. Buktinya, sampai paranormal itu kembali ke tempat duduk, tidak ada salah satu dari para makhluk-makhluk itu masuk ke dalam rumah. Sebenarnya, Bisma juga sudah memantrai rumah, tapi terkadang masih saja ada yang keras kepala bisa masuk. Untungnya yang satu itu juga tidak ngeyel.
“Seperti yang kamu lihat, keberadaanmu di sini seperti memancing hantu-hantu lain yang iri. Aku tidak minta hal berat, kok. Tolong selesaikan ceritamu dengan lebih cepat. Menangis seperti itu tidak akan menyelesaikan semuanya. Malah kau membuat kami berdua jadi makin tidak enak,” ujar Juwita kemudian.
Bisma bahkan mengimbuhi, “Kalian para makhluk yang membawa hawa negatif pada dasarnya bisa membuat manusia terkena pengaruh buruk juga. Dengan menangis seperti ini, hawa buruk yang ada padamu semakin membesar dan meluas. Kami, manusia yang hidup jadi kena dampaknya juga. Kau tahu itu bukan? Karena kau juga sudah menguntit Ardi selama berbulan-bulan.”
Diah terpaksa menghentikan tangisnya. Tersisa mimbik-mimbik saja. Walaupun dengan penampilan itu saja bisa menakuti gajah sekalipun, ternyata hantu ini cengeng. Sa-saya masih belum bisa melupakan bagaimana pria itu menyiksa saya hingga meninggal. Tapi kalau disuruh mengingat dan menceritakannya lagi. Seluruh tubuh saya bergetar karena takut. Padahal tidak ada lagi hal yang perlu saya takutkan di dunia. Tapi pria itu jauh lebih menakutkan daripada apa pun. Dia betul-betul titisan iblis!
Bisma mencetikkan kembali bolpoinnya, sedangkan Juwita memilih bersandar pada kepala sofa. “Ya … itu terserah padamu. Aku hanya bisa membantu jika kau mau memberikan keseluruhan cerita. Aku bisa membuatnya menderita sebelum meninggal dengan melakukan banyak hal? Membuatnya jadi buronan seluruh Indonesia, menjadikannya topik pembicaraan di seluruh media massa, atau menyiksanya perlahan-lahan dengan metode sama seperti yang kamu lakukan? Aku bisa melakukan semuanya, itu jika kau mau.”
Kalau saya membeberkan semua yang ia katakan, apakah Mbak bisa membuatnya lebih banyak menderita daripada yang saya rasakan? Setiap kali kembali ke kampung halaman, saya selalu melihat Nenek bersedih. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada saya. Biarpun Nenek saya kasar, tetapi dia sangat bersedih atas kehilangan saya. Sampai saat ini pun ia tidak tahu kalau saya meninggal.
“Ya, aku bisa melakukannya. Akan aku buat dia menderita sampai di tahap ia sangat bergantung padaku, meminta belas kasihku, lalu ketika saatnya datang, ia akan aku tendang ke jurang yang dalam. Lihatlah asistenku, pria di sana itu,” ujar Juwita sembari menunjuk Bisma. “Dengan tulisannya yang luar biasa dan kemampuan menguasai media sosial, ia bisa melakukan apa pun untuk membuat rumor. Dia tidak pernah main-main dalam menciptakan gosip dan membuat pandangan orang berbalik dalam satu malam.”
Bisma patut bangga karena dipuji. Ia memang asisten serba bisa. “Seperti yang dikatakan oleh Nona saya. Apa pun yang Anda inginkan, akan saya kabulkan lewat kata-kata. Terkadang para dukun pun juga bergantung dengan kemampuan bersosialisasi yang bagus dan sedikit adu domba. Internetlah yang menjadi sarana utama.”
Maka dengan begitu, Diah setuju dan memantapkan hati melanjutkan cerita. Pandangannya seolah tengah menelusuri jalanan di masa lalu tempat semuanya terjadi. Saya mungkin sangat beruntung waktu itu karena tiba di salah satu kelab malam tempat Ardi biasa menghabiskan waktu. Ia yang waktu itu dikelilingi para wanita tentu saja kaget waktu saya datang kepadanya hanya memakain gaun lusuh dan pakai sandal jepit. Singkat kata, setelah beberapa kali adu mulut, ia memesankan saya sebuah kamar di hotel melati. Ketika saya jujur mengatakan hamil anaknya, pria itu malah menampar saya. Mengatai saya bodoh karena tidak bisa menjaga diri. Padahal ia sendiri yang menghamili saya.
Tak cukup sampai di sana, saya ditampar berulang kali, ditendang, bahkan dipukul dengan asbak. Perut saya seperti hendak meledak waktu itu. Tapi, meskipun saya mengiba seperti apa, dia tidak berhenti melakukannya. Sampai di satu titik, pria biadab itu memaksa saya meminum sebuah cairan. Yang saya kira pastinya minuman untuk meluruhkan janin. Memang benar itu ramun peluruh janin, saya dikurung di kamar itu semalaman. Tanpa diberi apa pun, sementara ia berada di sana mengawasi saya. Saya betul-betul sudah dekat dengan kematian. Ia sempat keluar sebentar, lalu ketika masuk, ia ternyata dipergoki oleh adik perempuannya yang juga pebisnis.
Mungkin di situlah awal mengapa keluarganya perlahan memutus semua dukungan kepada Ardi sendiri. Apa yang dilakukan Ardi kepada saya mungkin akan memberikan dampak buruk pada keluarga mereka suatu saat nanti. Lalu … atas suruhan adik perempuannya itulah, saya betul-betul dihabisi. Saya yang pada dasarnya sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi, dibekap dengan bantal hingga meninggal.
Itu adalah kematian paling menyedihkan. Saya tidak hanya dibunuh oleh Ardi, tetapi juga karena perempuan itu. Adiknya Ardi, Asmana. Yang baru saja melahirkan anak keduanya itu.
“Lalu, apa yang kamu inginkan karena nama perempuan itu dibawa-bawa?” tanya Juwita langsung pada intinya.
Saya minta agar perempuan itu juga sama menderitanya dengan saya yang kehilangan anak, saya minta agar anak perempuan itu juga mati.
Baik Juwita dan Bisma telah menduga permintaan ini. Hanya saja, mereka berdua tidak siap hati betul-betul melakukannya.